⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari Berat Akan Segera Dimulai
Dua gadis cantik dengan pesona memukau berdiri anggun di hadapan Banyu. Meski raut wajah mereka memancarkan sedikit aura sendu dan cemburu, setidaknya mereka masih terlihat cukup tenang. Namun, bagi Banyu, situasi ini tetap saja jauh melampaui batas kapasitas mentalnya. Jantungnya berdegup gila-gilaan, nyaris melompat keluar dari kerongkongannya. Dengan lidah kelu dan tergagap ia berucap, "Ahaha... cuaca hari ini cerah sekali ya... Mmm, ngomong-ngomong, kok kalian berdua bisa datang ke sini barengan?"
Laras dan Sonia hanya melirik sekilas ke arah para pejalan kaki di luar bandara yang sedang memakai payung untuk berlindung dari rintik hujan, sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan konyol Banyu.
Justru Siska yang berjalan di belakang Banyu-lah yang memecah keheningan. "Aku yang menelepon Laras dan Sonia untuk datang menjemputmu!"
Anehnya, sikap Laras dan Sonia terhadap Siska justru jauh lebih hangat dibandingkan kepada Banyu. Keduanya serempak menyapa dengan sopan, "Halo, Mbak Siska."
"Halo juga, Gadis-gadis," Siska membalas dengan senyuman keibuan. "Aku ada urusan darurat dan harus bergegas pergi sekarang. Kupercayakan pasien ini pada kalian berdua, ya!"
Laras dan Sonia kembali menjawab serempak dengan kompak, "Tenang saja, Mbak Siska! Serahkan pada kami!"
"Laras... Sonia... Mbak Siska?" Banyu bergumam linglung, mengulang-ulang panggilan akrab di antara ketiga wanita itu. Otaknya serasa mengalami blue screen mendadak. Tanpa sadar ia menyeletuk, "Bukannya kalian seharusnya bermusuhan? Kok sekarang malah akrab banget kayak saudari kandung begini?"
Celetukan Banyu itu sungguh tidak tahu situasi. Laras yang biasanya lemah lembut pun langsung memelototinya dengan tajam, apalagi Sonia! Gadis tomboi itu mendelik garang dan mencibir, "Oh, jadi kau lebih suka melihat kami cakar-cakaran dan bikin keributan, begitu?!"
"Eh, salahku, salahku!" Banyu yang baru tersadar langsung mengangkat kedua tangannya dengan pose menyerah. "Kalian bisa rukun dan akur begini adalah berkah terbesar dalam hidupku. Maafkan omong kosongku tadi, kumohon Tuan Putri bertiga jangan dimasukkan ke hati."
Melihat Banyu memasang wajah memelas sok menderita, Siska merasa kesal sekaligus geli. Tentu saja, dialah dalang di balik kehadiran Laras dan Sonia. Karena sangat mengkhawatirkan kondisi Melati, Siska harus meluncur ke rumah sakit detik itu juga. Namun, ia tidak tega membiarkan Banyu yang belum pulih dari luka tembak pulang sendirian. Setelah berpikir keras, satu-satunya solusi yang masuk akal adalah menelepon Laras dan Sonia.
Sebenarnya, Siska punya agenda terselubung di balik keputusannya. Ia ingin memanfaatkan momen ini untuk mempertemukan ketiga 'bidadari' Banyu secara resmi. Sebagai wanita yang paling matang dan dewasa secara umur dan pemikiran di antara ketiganya, Siska merasa harus mengambil inisiatif. Karena mereka bertiga sudah sepakat menoleransi keberadaan satu sama lain, alangkah baiknya jika mereka mulai mencairkan suasana dan membangun hubungan baik demi meringankan beban mental Banyu. Insiden tertembaknya Banyu ini adalah katalis yang sempurna untuk pertemuan perdana mereka. Sebagai yang tertua, Siska dengan sukarela mengambil peran sebagai 'kakak tertua' pemersatu ini.
Laras dan Sonia adalah gadis-gadis yang cerdas. Mereka tentu bisa membaca niat baik Siska dan langsung menyetujuinya tanpa ragu. Namun, karena masih ada sedikit sisa-sisa rasa kesal dan cemburu di hati mereka, ketiganya diam-diam bersekongkol untuk merahasiakan pertemuan ini dari Banyu. Alhasil, Banyu-lah yang kini terjebak dalam kecanggungan level dewa.
Meski sangat penasaran ingin melihat bagaimana Banyu akan mengatasi situasi horor ini, kekhawatiran Siska terhadap putrinya jauh lebih besar. Ia segera berpamitan dan bergegas pergi.
Kini, hanya tersisa Banyu, Laras, dan Sonia. Ketiganya saling bertatapan dalam keheningan, membuat atmosfer di sana terasa semakin canggung dan mencekik. Akhirnya, Banyu yang tak tahan lagi mencoba mencairkan suasana dengan senyum cengengesan, "Mmm... gimana kalau kita pulang sekarang? Kakiku sudah pegal nih berdiri terus."
Laras dan Sonia saling bertukar pandang penuh arti. Tanpa memedulikan Banyu, keduanya langsung berbalik badan dan melangkah menuju pintu keluar bandara. Ditinggal sendirian di belakang, Banyu hanya bisa tersenyum getir. Ia menunduk untuk mengangkat tas kopernya. Namun, gerakan membungkuk itu tak sengaja menarik jahitan lukanya. Ia tak kuasa menahan ringisan sakit, "Aduh!"
Mendengar rintihan itu, Laras dan Sonia baru teringat bahwa pria ini adalah pasien yang baru saja lolos dari maut! Meski tadi mereka sengaja jual mahal, jauh di lubuk hati mereka, keduanya sangat mencemaskan keadaan Banyu. Mengabaikan gengsi dan keanggunan, kedua gadis itu berlari panik menghampiri Banyu dan bertanya serempak, "Kenapa?! Apanya yang sakit?!"
Rasa bersalah langsung menghantam hati kedua gadis itu karena tega membiarkan Banyu yang terluka parah membawa barang bawaannya sendirian. Sonia yang berkarakter ceplas-ceplos terlihat sangat tegang. Sementara itu, mata Laras bahkan sudah berkaca-kaca menahan tangis, membuktikan betapa ia sangat menyesali sikap kekanak-kanakannya barusan.
"Wah? Ada celah nih!" Banyu bersorak dalam hati melihat kepanikan mereka. Ia sengaja memasang wajah pucat menahan sakit, memaksakan senyum getir, dan menggeleng pelan. "Nggak... nggak apa-apa kok. Cuma nggak sengaja menekan lukanya sedikit. Ayo... kita jalan."
Banyu kembali berpura-pura hendak mengangkat kopernya. Sonia langsung menyambar koper itu dengan cepat, mendelik sebal dan mengomel, "Kalau lagi sakit ya jangan sok jagoan! Memangnya susah ya minta tolong sama kami?!"
Laras yang berhati lembut langsung menopang lengan Banyu tanpa banyak bicara, lalu berbisik menenangkan Sonia, "Sonia, sudahlah. Dia kan memang lagi kesakitan, jangan dimarahi terus."
Pada dasarnya Sonia memang tipe gadis yang bermulut tajam namun berhati lembut. Ditegur oleh Laras, ia langsung bungkam dan patuh menyeret koper Banyu berjalan di samping mereka. Laras dan Sonia adalah wanita dengan kecantikan level dewa. Pemandangan dua bidadari mengawal dan memapah seorang pria dengan begitu intim kontan menarik perhatian banyak pasang mata di bandara. Para pria menatap Banyu dengan tatapan iri dengki sekaligus kagum "Gila, pemuda ini pasti suhu tingkat tinggi!"
Hanya Banyu sendiri yang tahu betapa mahalnya harga sebuah 'poligami'. Untuk bisa menikmati momen seperti ini, seorang pria diwajibkan memiliki urat saraf sekeras baja dan tembok muka setebal beton! Tentu saja, Banyu tidak perlu repot-repot mengklarifikasinya pada publik. Di bawah kawalan ketat Laras dan Sonia, Banyu berjalan keluar dari area bandara.
Karena sudah tahu mereka akan menjemput Banyu untuk pulang ke Lahan Mustika, Laras sengaja membawa mobil VW Beetle kesayangannya. Laras mengambil alih kemudi, sementara Sonia duduk manis di kursi penumpang depan. Alhasil, Banyu terasing sendirian di kursi belakang, kembali merasa dianak-tirikan.
VW Beetle itu segera melaju membelah jalan tol menuju ke arah Ciwidey.
Awalnya, Sonia berusaha sekuat tenaga untuk melancarkan aksi mogok bicara pada Banyu. Namun, dengan karakternya yang cerewet dan enerjik, ia akhirnya tak tahan lagi. Begitu mobil memasuki jalan tol, Sonia memutar tubuhnya ke belakang dan mencecar Banyu dengan suara nyaring, "Eh, kudengar dari Mbak Siska, selama di Amerika kau malah kegatalan mendekati cewek bule bernama Jessica, ya?! Ngaku!"
"Hah?! Kau tahu dari mana?!" Banyu terbelalak kaget.
Sonia mengerutkan hidungnya dengan sebal. "Hmph! Mbak Siska sudah menceritakan semuanya padaku dan Mbak Laras! Kau saja yang masih kepedean mau membohongi kami! Dasar buaya!"
Mendengar Sonia dengan sangat fasih dan natural memanggil Siska dan Laras dengan sebutan "Mbak", Banyu benar-benar syok. Ia bertanya dengan sangat hati-hati, "Tunggu dulu... sekarang kau memanggil mereka berdua 'Mbak'?"
Gadis tomboi yang polos itu mengangguk tanpa beban. "Ya iyalah! Umurku kan yang paling muda di antara kalian berdua, sudah sepantasnya aku panggil kalian Mbak! Oh ya, ngomong-ngomong... bule Jessica itu umurnya berapa?"
Banyu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan menjebak Sonia itu. Batinnya menjerit meratap, "Tamat riwayatku! Mereka bertiga benar-benar sudah membentuk aliansi persaudaraan! Ke depannya hidupku pasti bakal menderita ditekan oleh koalisi emak-emak ini!"
Melihat Banyu hanya diam mematung, Sonia mulai meradang. "Woi! Orang nanya malah dicuekin! Jangan mentang-mentang sudah punya pacar bule, terus kau malas ngomong sama kami, ya?!"
Sambil mengomel, pipi Sonia menggembung cemberut tanda mutlak bahwa gunung berapi kemarahannya siap meletus. Melihat tanda bahaya itu, otak Banyu berputar mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Beruntung, Banyu selalu diberkahi dengan kecerdikan instan di saat terdesak. Sedetik sebelum Sonia benar-benar meledak, Banyu tiba-tiba mencengkeram dadanya dengan kuat. Ia memelintir wajahnya menjadi topeng penderitaan, dan berbisik dengan suara yang sangat lemah, "Aduh... lukaku... tiba-tiba ngilu banget. Aku... aku mau tidur sebentar ya."
Melihat Banyu mendadak kesakitan, rasa khawatir Sonia langsung menenggelamkan amarahnya. Ia tak tega melanjutkan interogasinya. Banyu diam-diam bersyukur taktik murahan itu berhasil menyelamatkannya. Ia langsung memejamkan mata dan pura-pura mendengkur halus, memastikan dirinya aman dari situasi canggung sepanjang perjalanan.
Tentu saja, akting tidur itu ada batasnya. Begitu VW Beetle memasuki area parkir Lahan Mustika, Banyu secara ajaib "terbangun" di saat yang tepat.
Para pegawai Lahan Mustika rupanya sudah mendapat bocoran bahwa sang Bos Besar akan pulang hari ini setelah lolos dari maut akibat luka tembak di Amerika. Begitu mobil Laras berhenti sempurna, Mang Ujang memimpin puluhan pegawai berhamburan menyambut kedatangan Banyu. Mereka berebut menanyakan kondisi kesehatannya. Ada yang bersyukur karena Banyu diselamatkan oleh karma baiknya; ada yang mengutuk kebiadaban penjahat luar negeri yang tega menembak bos sebaik Banyu; dan ada pula yang menggerutu soal betapa berbahayanya negara kapitalis Amerika yang melegalkan senjata api secara bebas.
Meski celotehan mereka terdengar bising dan saling tumpang tindih, Banyu bisa merasakan ketulusan dan rasa sayang yang mendalam dari para pegawainya. Hatinya tersentuh. Sambil tersenyum membalas sapaan mereka, Banyu berseru lantang, "Terima kasih atas kerja keras kalian selama aku pergi! Sebagai bentuk apresiasi, bulan ini setiap orang akan mendapat tambahan bonus sebesar tiga juta Rupiah!"
Pengumuman itu langsung disambut sorak-sorai menggelegar dari para pekerja. Wajah mereka berbinar penuh kebahagiaan.
Melihat bagaimana Banyu begitu dipuja dan dicintai oleh bawahannya, Sonia diam-diam menyenggol lengan Laras dan berbisik sinis, "Mbak Laras, lihat tuh kelakuannya! Pintar banget ya dia memanipulasi orang. Para pegawai itu sampai klepek-klepek dipuja-puji pakai bonus!"
Namun, Laras memiliki pandangan yang berbeda. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa loyalitas dan kasih sayang para pekerja itu bukan sekadar karena uang, melainkan tulus dari hati. Fakta ini membuat Laras merasa tenang. Ia meyakini prinsip sederhana: seorang pria yang memperlakukan bawahannya dengan begitu dermawan dan baik, mustahil memiliki karakter dasar yang jahat. Logikanya, pria seperti itu pasti akan memperlakukan pasangannya dengan jauh lebih baik lagi. Yah, walaupun Banyu memang hidung belang, tapi playboy berhati emas tetap jauh lebih baik daripada pria setia yang aslinya bajingan brengsek, bukan?
Melihat Banyu mulai kelelahan melayani antusiasme para pekerja, Mang Ujang yang pengertian segera bertindak. Ia membubarkan kerumunan dengan alasan Banyu butuh istirahat total. Ajaibnya, entah dari mana Mang Ujang berhasil meminjam sebuah kursi roda, dan dengan paksa menyuruh Banyu duduk di sana untuk didorong menuju pesanggrahan.
Banyu tertawa geli namun tak kuasa menolak niat baik sang manajer. Ia pun pasrah duduk di atas kursi roda tersebut. Namun, saat Mang Ujang bersiap mendorongnya, Banyu tiba-tiba tersentak dan melompat berdiri dari kursinya! Mengabaikan rasa nyeri di jahitannya, ia menatap horor ke arah Laras dan Sonia sambil berseru, "Eh, tunggu! Kalian... lagi ngapain?!"
Laras dan Sonia tampak sedang sibuk menurunkan koper-koper besar dari bagasi VW Beetle. Menjawab kepanikan Banyu, Sonia berkata dengan nada super santai tanpa menoleh, "Lagi turunin barang bawaan, lah! Kami sudah sepakat mau menginap dan tinggal di pesanggrahan ini buat merawatmu sampai sembuh total!"
"T-tinggal di sini... menginap berdua bareng aku?!" Banyu seketika lemas. Ia ambruk kembali ke kursi rodanya bagaikan balon yang kempis tertusuk jarum. Sambil menundukkan kepala dengan raut putus asa, ia meratap dalam hati, "Tamat sudah riwayatku... Neraka dunia benar-benar baru saja dimulai!"