NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Bab 20: Pertemuan Tak Terduga

Langkah kaki Ani yang tadinya tegap dan penuh semangat seketika terhenti di tengah jalan. Darah di seluruh tubuhnya seakan berhenti mengalir, napasnya tercekat di kerongkongan, dan jantungnya yang tadinya berdetak tenang kini berpacu kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Pandangannya terkunci pada sosok pria yang baru saja turun dari mobil sedan mewah berwarna hitam yang terparkir rapi di depan halaman kantor.

Pria itu mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak makin berwibawa dan mapan, rambutnya disisir rapi, dan senyumnya yang dulu selalu membuat hati Ani meleleh, kini justru terasa menyayat hati. Wajah itu, tubuh itu, cara berjalannya itu... tidak ada salahnya. Itu adalah Dimas. Mantan suaminya. Laki-laki yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang pernah bersumpah setia sehidup semati, namun justru menjadi laki-laki yang meremukkan hatinya berkeping-keping.

Namun, yang membuat kaki Ani makin terasa tertanam kuat di tanah dan hatinya makin perih bukan hanya kehadiran Dimas, melainkan sosok wanita cantik yang berjalan di sampingnya, berpegangan mesra pada lengan Dimas.

Wanita itu masih sangat muda, wajahnya cantik jelita dengan riasan yang sempurna, tubuhnya ramping berbalut pakaian kerja yang modis dan mahal. Senyumnya merekah indah, menatap Dimas dengan pandangan penuh kekaguman dan cinta, seolah dunia ini hanya berisi mereka berdua. Ani mengenal wanita itu. Itu Rina. Wanita yang menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya, wanita yang direbutkan Dimas dari sisinya, wanita yang rela mengorbankan kebahagiaan orang lain demi keinginannya sendiri.

Mereka berjalan beriringan, tertawa kecil, penuh keakraban dan kebahagiaan yang terlihat begitu nyata. Bagi orang yang melihat, mereka tampak seperti pasangan serasi, pasangan yang sempurna, pasangan yang sangat bahagia. Namun bagi Ani, pemandangan itu bagaikan tamparan keras di wajahnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa laki-laki yang dulu mengaku tidak bahagia, yang bilang rumah tangganya hancur, yang menyalahkan Ani atas segala kesalahan, kini terlihat begitu gembira dan hidup bersama wanita lain.

Rasa sakit yang sudah lama ia coba sembunyikan, rasa sakit yang ia kira sudah hilang dan digantikan oleh kekuatan baru, tiba-tiba kembali menyeruak. Tapi anehnya, rasa sakit itu tidak lagi sepanas dulu. Kini, rasa itu bercampur dengan rasa dingin, rasa keterkejutan, dan rasa jijik yang perlahan tumbuh di hatinya.

Ani berdiri diam di pinggir trotoar, di antara kerumunan karyawan lain yang masuk berbondong-bondong. Ia berusaha menyembunyikan dirinya di balik sekelompok orang, berharap Dimas atau Rina tidak melihatnya. Ia menatap lekat-lekat mereka dari kejauhan, menahan air mata yang berdesakan ingin keluar.

Jadi begini rupanya... batin Ani bergumam getir. Jadi setelah meninggalkanku, setelah menghancurkan hatiku, dia hidup bahagia seperti ini? Dia yang dulu miskin, dia yang dulu menganggur, dia yang dulu aku mohonkan pekerjaan pada Damar... sekarang dia tampak makmur, bergandengan tangan dengan wanita itu, hidup mewah di hasil kerja keras yang dulu kami bangun bersama?

Dimas berhenti sejenak di dekat kolam kecil di depan lobi, melepaskan genggaman tangan Rina sebentar untuk merapikan kerah bajunya. Saat itulah, pandangannya melayap ke sekeliling, dan secara tidak sengaja, matanya bertemu tepat dengan mata Ani yang sedang menatapnya lekat-lekat dari kejauhan.

Wajah Dimas seketika berubah. Senyum di bibirnya lenyap seketika, digantikan ekspresi keterkejutan yang luar biasa. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit menegang, seolah ia melihat hantu. Ia mengedipkan mata berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat itu nyata. Benar. Itu Ani. Wanita yang ia buang, wanita yang ia tinggalkan di kampung halamannya dalam keadaan hancur dan dikasihani, kini berdiri tegak di sini, di depan kantornya, di kota ini.

Rina yang merasakan perubahan sikap Dimas, ikut menoleh dan mengikuti arah pandangannya. Saat ia melihat sosok Ani, senyum kemenangannya perlahan berubah menjadi senyum sinis dan penuh rasa tak percaya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Dimas, berbisik sesuatu yang membuat wajah Dimas makin kaku dan canggung.

Dunia serasa berhenti berputar bagi Ani saat itu. Ia tahu, ia bisa saja menunduk, berpaling, dan pergi menjauh. Ia bisa saja bersembunyi dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Tapi di detik itu juga, ingatan akan semua penghinaan, semua rasa sakit, semua kerja keras, doa orang tua, dan kebaikan Damar melintas cepat di benaknya.

Ani menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh kekuatan batin yang ia miliki. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menegakkan punggungnya, dan menatap balik Dimas dengan pandangan yang tenang, tajam, dan penuh martabat. Tidak ada lagi pandangan rendah diri, tidak ada lagi pandangan sedih atau memohon belas kasihan. Di mata Ani kini terpancar kekuatan wanita yang telah bangkit dari keterpurukan.

Perlahan, Ani melangkah maju. Ia tidak membuang muka. Ia tidak berjalan menjauh. Ia justru berjalan lurus ke depan, melewati sisi samping mereka, menuju pintu masuk kantor. Langkahnya mantap, wajahnya damai, dan senyum tipis namun penuh percaya diri terukir di bibirnya.

Saat melewati mereka berdua, jarak mereka hanya beberapa langkah saja. Ani bisa mencium aroma parfum mahal yang dipakai Dimas, aroma yang dulu sering ia belikan dari uang belanja rumah tangga. Ia bisa melihat dengan jelas kerutan kening Dimas yang bingung dan cemas, serta wajah Rina yang tampak tidak suka dan penuh curiga.

Ani tidak menyapa. Ia tidak menegur. Ia tidak memandang mereka dengan benci atau marah. Ia justru melewati mereka seolah mereka hanyalah dua orang asing biasa, dua orang yang tidak berarti apa-apa lagi dalam hidupnya. Sikap dingin dan acuh tak acuh Ani itu justru jauh lebih menyakitkan bagi Dimas daripada sekadar teriakan atau makian. Sikap itu menunjukkan bahwa bagi Ani, keberadaan mereka berdua sudah tidak ada nilainya lagi.

"Ani..." panggil Dimas pelan, hampir tak terdengar, reflek berniat menghentikan langkah mantan istrinya itu. Suaranya terdengar gugup, berbeda jauh dari nada bicaranya yang tegas dan percaya diri saat bersama Rina tadi.

Namun Ani tidak berhenti. Ia juga tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan masuk ke dalam gedung, melewati pintu kaca yang otomatis terbuka, meninggalkan Dimas yang terpaku berdiri di tempatnya, dan Rina yang menatap bingung antara kekaguman dan kemarahan.

Di dalam lobi yang sejuk dan bersih, Ani baru saja merasa kakinya gemetar hebat. Ia bersandar sejenak di dinding, memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. Pertemuan itu tak terduga, menyakitkan, dan mengejutkan. Tapi di balik semua itu, ada rasa bangga yang meluap-luap di dadanya.

Ia baru saja membuktikan sesuatu. Ia baru saja berhadapan langsung dengan penyebab kesedihannya dulu, dalam kondisi mereka terlihat bahagia dan mapan, namun ia tidak hancur. Justru ia yang tampak lebih berwibawa, lebih tenang, dan lebih berharga.

Dari kejauhan, Damar yang baru saja turun dari lantai atas dan melihat kejadian itu, segera berjalan cepat menghampiri Ani. Ia melihat wajah Ani yang pucat namun matanya berkilau kuat. Damar tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ia menepuk bahu Ani lembut, memberi kekuatan diam-diam.

"Kamu hebat, Ani..." bisik Damar pelan, penuh kekaguman. "Kamu sangat hebat. Kamu sudah melewati ujian pertamamu hari ini dengan nilai sempurna."

Ani menoleh, menatap Damar dengan senyum yang mulai kembali cerah meski masih ada sisa air mata yang ingin jatuh. Ia mengusap dadanya pelan, lalu menarik napas panjang sekali lagi.

"Terima kasih, Damar..." jawab Ani lirih namun tegas. "Terima kasih. Hari ini aku sadar satu hal... Bahwa dia bukan lagi pemilik hatiku, bukan lagi pemilik duniaku. Dia cuma masa lalu. Dan aku... aku sudah jauh meninggalkannya di belakang."

Ani menegakkan badannya kembali, merapikan bajunya, dan menatap lift yang akan membawanya ke ruang kerjanya. Rasa sakit akibat pertemuan tadi perlahan berubah menjadi api semangat yang berkobar. Ia akan bekerja sekeras mungkin. Ia akan sukses setinggi mungkin. Dan suatu saat nanti, Dimas akan sadar sepenuhnya, bahwa wanita yang baru saja ia lewati dengan acuh tak acuh itu, adalah wanita yang paling berharga yang pernah ada dalam hidupnya, wanita yang telah ia buang, namun kini bersinar jauh lebih terang daripada apa pun yang pernah ia miliki.

"Hari kerja dimulai, Ani." kata damar tegas, suaranya kembali ceria dan penuh semangat. "Ayo kita masuk. Masih banyak hal yang harus kamu kerjakan."

Damar tersenyum lebar, mengangguk bangga. Ia tahu, Ani yang lemah sudah mati, dan Ani yang kuat, cerdas, dan sukses baru saja lahir kembali sepenuhnya hari ini, tepat di depan mata mantan suaminya sendiri.

Bersambung,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!