NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Bab 20: Titik Balik

Jam 5 pagi.

Safehouse Garut masih gelap. Hanya lampu minyak yang menyala redup di meja.

Liana duduk di tepi ranjang, memeluk jaketnya.

Di luar, ayam berkokok. Udara dingin menusuk sampai ke tulang.

Maya masuk dengan tas di tangan.

“Kita berangkat 15 menit lagi. KPK udah konfirmasi, persidangan prapenuntutan dimulai jam 9 pagi di Pengadilan Tipikor Jakarta.”

Liana mengangguk pelan.

Ia nggak tidur semalaman.

Bukan karena takut.

Tapi karena rasanya… akhirnya sampai di sini.

Arka masuk dengan dua gelas teh hangat.

“Minum. Kamu butuh tenaga.”

Liana menerima gelas itu.

Tangannya masih sedikit gemetar.

“Beneran selesai hari ini, Arka?”

Arka duduk di sampingnya.

“Belum tentu. Tapi hari ini, kita nggak lari lagi. Hari ini, kita yang nentuin.”

---

Jam 6.30 pagi. Jalan menuju Jakarta.

Konvoi dua mobil melaju di jalur darurat.

Di mobil pertama ada Liana, Arka, Maya.

Di mobil kedua, Bram dan dua petugas KPK bersenjata.

Liana menatap ke luar jendela.

Jakarta masih diselimuti kabut pagi.

Tagar #KeadilanUntukPakDimas masih trending di urutan kedua.

Maya menyerahkan tablet.

“Lihat ini. Hendra udah mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya sakit jantung.”

Liana menatap foto Hendra di layar.

Wajahnya tenang, tapi matanya dingin.

“Dia pikir bisa lolos kayak gitu?”

Maya menggeleng.

“Kita punya rekaman dan data aliran dana. Hakim nggak akan gampang percaya.”

Arka menggenggam tangan Liana.

“Kamu udah lakuin bagianmu. Sisanya biar hukum yang bicara.”

---

Jam 8.45 pagi. Pengadilan Tipikor Jakarta.

Area luar pengadilan penuh wartawan.

Spanduk, kamera, dan barisan polisi berjaga.

Liana turun dari mobil dengan wajah tertutup masker dan kacamata.

Begitu ia muncul, sorak kecil terdengar dari kerumunan.

“Liana! Liana!”

“Keadilan untuk Pak Dimas!”

Maya dan Bram langsung membentuk barisan, mengantarnya masuk.

Di dalam, ruang sidang sudah penuh.

Hendra duduk di kursi terdakwa.

Wajahnya pucat, tapi matanya tetap menatap Liana begitu ia masuk.

Liana nggak mengalihkan pandangan.

Untuk pertama kalinya, ia nggak takut.

---

Jam 9 pagi. Sidang dimulai.

Hakim ketua mengetuk palu.

“Sidang prapenuntutan kasus dugaan korupsi proyek Seroja dengan terdakwa Hendra Wijaya, dibuka.”

Jaksa berdiri.

“Kami memiliki bukti kuat: rekaman pengakuan, data aliran dana, dan keterangan saksi kunci Liana Dimas Putri. Kami meminta hakim menolak penangguhan penahanan.”

Pengacara Hendra berdiri.

“Klien kami sakit. Bukti yang diajukan adalah hasil rekayasa. Kami minta sidang ditunda untuk pemeriksaan kesehatan.”

Hakim menatap Liana.

“Nyonya Liana, apakah Anda siap memberikan keterangan?”

Liana berdiri.

Ia melepas maskernya.

Ruangan mendadak hening.

“Saya siap.”

---

Jam 9.15 pagi. Keterangan Liana.

Liana menceritakan semuanya.

Dari awal.

Dari dokumen yang hilang, ancaman pertama, penganiayaan ayahnya, sampai malam penyerangan di safehouse.

Suara itu tenang, tapi setiap kata memotong udara.

Ia memutar rekaman suara ayahnya.

Ia menunjukkan data rekening yang diverifikasi KPK.

Ia menunjukkan foto luka di tubuh ayahnya.

Ruangan hening.

Beberapa jurnalis meneteskan air mata.

Hendra menatapnya tajam.

Tapi ia nggak bisa menyela.

Bukti terlalu kuat.

---

Jam 10.30 pagi. Putusan sela.

Hakim mengetuk palu.

“Menolak permohonan penangguhan penahanan. Terdakwa tetap ditahan. Sidang dilanjutkan minggu depan untuk pemeriksaan saksi ahli.”

Gedebuk.

Sorak kecil terdengar dari luar ruang sidang.

Liana menutup mata.

Akhirnya.

Maya menepuk bahunya.

“Kita menang, Liana. Ronde ini milik kita.”

Arka menggenggam tangannya.

“Untuk ayahmu.”

---

Jam 12 siang. Luar pengadilan.

Konferensi pers singkat diadakan.

Maya berdiri di podium, di samping Liana dan Bu Indira dari KPK.

“Hari ini, hukum berjalan. Hendra Wijaya resmi ditahan. Proses hukum akan berlanjut. Kami meminta publik tetap mengawal.”

Liana maju selangkah.

Ia menatap kamera.

“Terima kasih. Untuk semua yang percaya. Untuk semua yang nggak menyerah.

Ayahku akan dapat keadilan. Dan saya… saya akan terus berdiri.”

Flash kamera menyala.

Tagar #LianaMenang langsung meledak di media sosial.

---

Jam 3 sore. Rumah Sakit Harapan Bangsa.

Liana duduk di samping ranjang ayahnya.

Kondisi Pak Dimas stabil. Dokter bilang, ia bisa dipindah ke ruang perawatan biasa minggu depan.

Pak Dimas membuka mata pelan.

Ia menatap Liana lama.

“Anak… kuat…” bisiknya pelan.

Liana menggenggam tangannya.

“Ayah… kita menang. Hari ini, mereka tahan Hendra.”

Air mata Pak Dimas jatuh.

Ia mengangguk pelan.

“Bangga… padamu.”

Liana menunduk, mencium kening ayahnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa beban itu lepas.

---

Jam 6 sore. Kantor LBH.

Tim berkumpul untuk evaluasi.

Maya membuka laptop, menampilkan peta kasus.

“KPK udah blokir 14 rekening terkait. 3 yayasan fiktif dibekukan. Penyidikan lanjut untuk 7 orang lainnya.”

Bram bersiul.

“87 miliar. Pantas aja dia nggak mau lepas.”

Rara tersenyum kecil.

“Kita selamat. Semua selamat.”

Liana duduk di sudut, memandangi mereka semua.

Orang-orang yang nggak kenal dia, tapi mau mati buat dia.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Maya mengangkat gelas air mineral.

“Untuk keadilan.”

Semua mengangkat gelas.

“Untuk keadilan.”

---

Jam 9 malam. Apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Liana baru pulang dari rumah sakit.

Ia duduk di sofa, memeluk buku catatan kecilnya.

Arka masuk dengan dua mangkok bakso.

“Makan. Kamu belum makan sejak pagi.”

Liana tersenyum kecil.

“Kamu masih di sini?”

Arka duduk di sampingnya.

“Ke mana lagi? Perang belum selesai. Tapi kita menang ronde besar.”

Liana mengangguk.

Ia menatap layar ponselnya.

Berita utama:

“Hendra Wijaya Ditahan. Proyek Seroja Diselidiki Ulang.”

Komentar di bawahnya penuh dukungan.

Nggak ada ancaman.

Nggak ada fitnah.

Untuk pertama kalinya, ia merasa aman.

---

Jam 11 malam. Kantor Hendra Wijaya.

Ruangan itu gelap.

Semua komputer dimatikan.

File-file dihapus.

Hendra duduk di kursi, tangan diborgol.

Di depannya, dua penyidik KPK.

“Kamu punya hak diam,” kata salah satu penyidik.

Hendra tersenyum tipis.

“Aku nggak diam. Aku akan bicara. Tapi nggak di sini.”

Penyidik mengernyit.

“Maksudmu?”

Hendra menatap kamera rekam.

“Aku akan bicara di pengadilan. Dan kalian akan tahu… siapa yang sebenarnya main di belakang semua ini.”

Penyidik saling pandang.

Perang belum selesai.

Ini baru pembukaan babak baru.

---

Jam 12 malam. Apartemen Liana.

Liana nggak bisa tidur.

Ia duduk di balkon, menatap Jakarta yang malam itu tenang.

Arka keluar dengan selimut.

“Kamu masih mikirin besok?”

Liana mengangguk.

“Aku takut. Takut kalau besok semua berubah lagi.”

Arka menyelimutinya.

“Kalau berubah, kita hadapi bareng. Kamu nggak sendirian lagi.”

Liana menatapnya.

“Janji?”

Arka mengangguk.

“Janji.”

Mereka diam sebentar.

Di bawah, Jakarta tetap berputar.

Tapi untuk Liana, dunia akhirnya berhenti berputar terlalu cepat.

---

Pagi berikutnya. Jam 7 pagi.

Berita utama semua media:

“Hendra Wijaya Ditahan. Kasus Seroja Masuk Tahap Penuntutan.”

Liana duduk di meja makan, membaca berita itu sambil minum teh.

Ayanya sudah dipindah ke ruang perawatan biasa.

Kondisinya stabil.

Maya mengirim pesan:

“Sidang minggu depan. Kita siap.”

Liana tersenyum kecil.

Ia menutup ponselnya.

Arka masuk dengan roti bakar.

“Kamu senyum. Jarang-jarang.”

Liana mengangguk.

“Aku senang. Untuk pertama kalinya, aku merasa… aman.”

Arka duduk di sampingnya.

“Selamat datang di hidup normal, Liana.”

Liana tertawa pelan.

“Hidup normal? Aku nggak tahu rasanya.”

Arka tersenyum.

“Kalau gitu, kita pelajari bareng.”

*Bab 20: Titik Balik*[Lanjutan]

Jam 1 siang.

Kerumunan di depan Pengadilan Tipikor belum bubar.

Orang-orang masih berdiri dengan spanduk kecil bertuliskan “Keadilan Untuk Pak Dimas”.

Liana keluar lewat pintu samping bersama tim LBH.

Begitu wajahnya muncul, sorak kecil pecah lagi.

Ia mengangkat tangan pelan, memberi isyarat terima kasih.

Maya berjalan di sampingnya, suara rendah.

“Jangan lama-lama di luar. Tim Hendra masih punya orang di sini.”

Liana mengangguk.

Ia ngerti. Kemenangan di sidang hari ini bukan akhir.

Cuma jeda.

Di mobil, ponselnya bergetar terus.

500 notifikasi masuk.

Dukungan, doa, dan satu pesan dari nomor tak dikenal:

“Kamu pikir selesai? Ini baru mulai.”

Liana menutup ponselnya.

Arka yang duduk di samping menangkap ekspresinya.

“Ada apa?”

Liana menggeleng.

“Nggak penting. Yang penting, ayahku aman dulu.”

---

Jam 2 sore. Rumah Sakit Harapan Bangsa.

Koridor lantai 4 dijaga dua petugas KPK.

Liana masuk ke ruang perawatan ayahnya dengan langkah pelan.

Pak Dimas sudah dipindah dari ICU.

Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih hidup.

Liana duduk di samping ranjang.

“Ayah… hakim tolak penangguhan Hendra. Dia tetap ditahan.”

Pak Dimas menggenggam tangan anaknya.

Tangannya kurus, tapi genggamannya kuat.

“Anak… hebat…”

Liana menahan air mata.

“Ayah istirahat aja. Urusan lain biar aku yang urus.”

Di luar pintu, Arka berdiri bersama Maya.

Maya berbisik pelan.

“Dokter bilang, kalau nggak ada komplikasi, seminggu lagi dia bisa pulang.”

Arka mengangguk.

“Bagus. Itu yang bikin Liana bertahan sampai sekarang.”

---

Jam 4 sore. Kantor LBH.

Ruang rapat berubah jadi pos komando kecil.

Layar besar menampilkan peta jaringan Hendra yang sudah dibekukan KPK.

Pak Hadi menunjuk satu titik.

“Ini yang paling penting. Rekening di Singapura. KPK udah minta bantuan FIU Singapura untuk blokir. Kalau berhasil, 40 miliar bisa kembali ke negara.”

Maya menyilangkan tangan.

“Dan itu akan jadi pukulan terakhir buat Hendra. Tanpa uang, dia nggak punya apa-apa.”

Rara masuk dengan wajah serius.

“Ada satu hal lagi. Tim IT kita nemu jejak akses ke data Liana dari IP kantor Hendra seminggu lalu.”

Liana mengangkat kepala.

“Mereka masih nyoba cari celah?”

Rara mengangguk.

“Ya. Tapi kita udah perkuat semua sistem. Mereka nggak akan dapat apa-apa.”

Bram berdiri.

“Kalau gitu, kita tutup celah yang lain. Tim lapangan Hendra masih ada 2 orang yang belum tertangkap. Kita cari mereka malam ini.”

---

Jam 7 malam. Apartemen Liana.

Apartemen kecil di Jakarta Selatan ini rasanya asing.

Sudah seminggu ia nggak pulang.

Liana duduk di sofa, memeluk buku catatan kecilnya.

Ia membuka halaman terakhir.

Satu kalimat yang ia tulis malam sebelum sidang:

Kalau aku menang hari ini, aku mau ajak ayah makan soto favoritnya.

Arka masuk dengan dua bungkus soto.

“Pesanan khusus. Soto ayam dari langganan ayahmu.”

Liana tersenyum kecil.

“Kamu inget?”

Arka meletakkan soto di meja.

“Aku inget semua yang bikin kamu tenang.”

Mereka makan dalam diam.

Bukan diam canggung.

Tapi diam yang terasa aman.

Di luar, Jakarta tetap bising.

Tapi di apartemen ini, perang sejenak berhenti.

---

Jam 9 malam. Lapas Salemba.

Hendra duduk di ruang tahanan, tangan diborgol.

Di depannya, pengacaranya berdiri dengan wajah tegang.

“Pak Hendra, KPK punya bukti transfer ke rekening Singapura. Kalau itu terbuka, hukuman bisa 20 tahun.”

Hendra tersenyum tipis.

“20 tahun? Aku bisa keluar dalam 5 tahun dengan uang yang cukup.”

Pengacara itu mengernyit.

“Maksud Anda?”

Hendra menatap kamera pengawas.

“Aku punya satu kartu terakhir. Kartu yang bisa bikin Liana Dimas Putri nggak akan pernah tenang seumur hidupnya.”

Pengacara itu mundur selangkah.

“Kartu apa?”

Hendra menutup mata.

“Tunggu saja sidang minggu depan.”

---

Jam 10 malam. Safehouse Garut.

Tim LBH memutuskan Liana tetap tinggal di Garut sampai sidang berikutnya.

Lebih aman. Lebih jauh dari jangkauan Hendra.

Liana duduk di teras, menatap sawah yang gelap.

Suara jangkrik jadi satu-satunya suara malam itu.

Arka duduk di sampingnya.

“Kamu takut?”

Liana mengangguk pelan.

“Takut kalau besok semua berubah lagi. Takut kalau ayahku… nggak sempat lihat aku menang.”

Arka menggenggam tangannya.

“Dia akan lihat. Aku janji.”

Liana menatapnya lama.

“Kenapa kamu sejauh ini mau bantu aku? Aku bukan siapa-siapa.”

Arka tersenyum kecil.

“Karena kamu ngingetin aku kenapa aku masih hidup. Karena kamu nggak pernah berhenti, meski semua orang bilang berhenti.”

Liana menunduk.

“Terima kasih.”

---

Jam 12 malam. Kantor Hendra Wijaya.

Ruangan itu kosong.

Semua dokumen sudah disita KPK.

Tapi di laci rahasia, masih ada satu flashdisk.

Flashdisk yang belum ditemukan siapa pun.

Di dalamnya ada rekaman suara.

Rekaman suara Liana saat umur 19 tahun, berbicara dengan orang yang nggak pernah ia lihat lagi.

Hendra merekam senyumnya.

“Besok pagi, aku kirim ini ke semua media. Biar publik tahu siapa Liana Dimas Putri sebenarnya.”

---

Pagi berikutnya. Jam 6 pagi.

Berita utama:

“Hendra Wijaya Ditahan. KPK Blokir 14 Rekening.”

Liana duduk di meja makan safehouse, membaca berita itu sambil minum teh.

Komentar di bawahnya penuh dukungan.

Tapi satu komentar membuat ia berhenti:

“Tunggu sidang minggu depan. Ada kejutan besar untuk Liana Dimas Putri.”

Arka yang melihat ekspresinya langsung mendekat.

“Ada apa?”

Liana menggeleng.

“Nggak apa-apa. Cuma… aku rasa ini belum selesai.”

Maya masuk dengan tablet.

“Ada kabar baru. Tim lapangan Hendra yang kabur kemarin malam, tertangkap di Bandung.”

Liana mengangguk pelan.

Satu per satu, lingkaran itu mengecil.

Tapi di hatinya, ia tahu:

Hendra nggak akan menyerah sampai ia benar-benar jatuh.

---

Jam 9 pagi. Rumah Sakit Harapan Bangsa.

Pak Dimas sudah bisa duduk di kursi roda.

Liana mendorongnya pelan ke taman kecil di belakang rumah sakit.

“Ayah lihat,” katanya pelan.

“Orang-orang di luar sana dukung kita.”

Pak Dimas menatap layar ponsel Liana.

Komentar dukungan mengalir deras.

Ia mengangguk pelan.

“Anak… kuat…”

Liana tersenyum.

“Ayah juga kuat. Karena itu aku nggak boleh lemah.”

Di kejauhan, dua petugas KPK berjaga.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam seminggu, Liana bisa bernapas lega.

---

Jam 12 siang. Kantor LBH.

Maya membuka rapat singkat.

“KPK konfirmasi, sidang minggu depan akan masuk tahap pembuktian. Kita butuh saksi ahli forensik digital dan keuangan.”

Pak Hadi mengangguk.

“Aku sudah hubungi dua orang. Mereka siap.”

Rara mengangkat tangan.

“Aku juga nemu satu saksi baru. Mantan karyawan Hendra yang mau buka suara.”

Liana menatap mereka semua.

Orang-orang yang nggak kenal dia, tapi mau mati buat dia.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Maya tersenyum.

“Belum selesai, Liana. Tapi kita selangkah lebih dekat.”

---

Jam 6 sore. Apartemen Liana.

Liana baru pulang dari rumah sakit.

Ia duduk di balkon, menatap Jakarta yang malam itu tenang.

Arka keluar dengan dua gelas teh hangat.

“Kamu masih mikirin sidang minggu depan?”

Liana mengangguk.

“Aku takut. Takut kalau Hendra punya sesuatu yang bisa hancurin aku lagi.”

Arka menyerahkan teh itu.

“Kalau dia punya, kita hadapi. Kamu nggak sendirian lagi.”

Liana menerima teh itu.

Tangannya sudah nggak gemetar lagi.

Ia menatap Arka.

“Janji?”

Arka mengangguk.

“Janji.”

Di bawah, Jakarta tetap berputar.

Tapi untuk Liana, dunia akhirnya berhenti berputar terlalu cepat.

---

Jam 11 malam. Lapas Salemba.

Hendra duduk di ranjang besi, memandangi langit-langit.

Di tangannya, ada secarik kertas.

Di kertas itu tertulis satu nama.

Nama yang bisa mengubah semua.

Ia tersenyum tipis.

“Liana… kamu pikir kamu menang? Ini baru pembukaan.”

Bersambung

🙏🤩🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!