NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PENGUSIRAN DARI ISTANA MARMER

PENGUSIRAN DARI ISTANA MARMER

​Matahari siang menyengat pelataran aspal kompleks perumahan elit itu dengan terik yang membakar, memantulkan kilau kemilau dari dinding marmer kediaman mewah milik keluarga Pratama. Namun, kemegahan rumah bernilai belasan miliar itu sirna, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

​Dua unit mobil MPV hitam berpelat dinas kepolisian bersama satu truk engkel besar berhenti tepat di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi.

​Amira turun dari kursi penumpang belakang mobil Mercedes-Benz miliknya. Siang ini, penampilannya benar-benar mencerminkan status barunya sebagai pemilik tunggal Shinta Group. Blazer satin hitam dengan aksen kancing emas besar membungkus tubuhnya dengan sangat pas dan tegas. Di belakangnya, Pak Sanusi berjalan berdampingan dengan seorang pria paruh baya berseragam dinas yang membawa map besar berstempel garuda emas—Juru Sita Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

​"Buka pagarnya," perintah Juru Sita itu kepada dua petugas keamanan kompleks yang berjaga dengan wajah tegang.

​Begitu gembok rantai dibuka, Amira melangkah masuk memimpin rombongan. Langkah kakinya begitu mantap di atas lantai granit halaman depan. Di sana, di dekat pintu utama, tampak sosok Ibu Ratna yang baru saja tiba dari rumah sakit menggunakan taksi konvensional.

​Wanita tua itu menolak dirawat lebih lama di bangsal VIP begitu mendengar kabar dari televisi bahwa anaknya kalah telak di pengadilan agama. Dengan setengah tubuh bagian kanan yang masih kaku dan tangan yang bertumpu pada tongkat penyangga, Ibu Ratna berdiri gemetar di depan pintu rumahnya sendiri, napasnya memburu panik.

​"A-Amira... mau apa kamu bawa orang-orang ini ke rumahku?!" pekik Ibu Ratna dengan suara yang miring dan cadat akibat sisa stroke. Mata tuanya melotot memandang truk engkel dan para kuli angkut yang mulai masuk ke halaman.

​Amira menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga teratas teras rumah. Ia menatap Ibu Ratna dari atas ke bawah dengan pandangan sedingin es.

​"Rumah siapa yang Ibu maksud?" tanya Amira, suaranya terdengar begitu renyah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Rumah ini berdiri di atas tanah mahar milik keluarga Shinta. Dan berdasarkan putusan sidang pleno Pengadilan Agama Jakarta Selatan satu jam yang lalu, rumah ini beserta seluruh aset di dalamnya telah resmi disita sebagai jaminan hak asuh dan nafkah anak saya."

​Amira menoleh ke arah Juru Sita pengadilan, memberikan kode dengan anggukan kepala yang tegas.

​Juru Sita tersebut langsung melangkah maju, membuka map tebalnya, dan membacakan Surat Perintah Penyitaan dan Pengosongan Aset dengan suara yang lantang agar terdengar oleh para tetangga kompleks yang mulai mengintip dari balik pagar.

​"Berdasarkan amar putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, diperintahkan kepada Saudara Aris Pratama dan pihak-pihak yang menempati, untuk mengosongkan objek tanah dan bangunan ini dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Segala bentuk barang pribadi milik Tergugat akan dikeluarkan secara paksa oleh petugas!"

​"Tidak! Tidak boleh! Ini rumah anakku! Aris yang bayar cicilannya tiap bulan!" teriak Ibu Ratna histeris. Ia mencoba memukulkan tongkat penyangganya ke arah Juru Sita, namun dengan sigap dua petugas polwan langsung memegangi lengan kirinya yang sehat, mengunci pergerakannya.

​"Cicilan dari uang perusahaan yang Mas Aris curi dari peninggalan Ayah saya, maksud Ibu?" sela Amira dengan nada meremehkan yang begitu menusuk. "Para pekerja, silakan masuk. Keluarkan semua barang milik Aris Pratama dan Ibu Ratna. Jangan biarkan ada satu pun pakaian atau barang mereka tertinggal di dalam rumah saya."

​"Baik, Bu!"

​Belasan kuli angkut berpakaian seragam langsung merangsek masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Dalam hitungan menit, suasana di dalam rumah berubah menjadi kekacauan massal bagi ego keluarga Pratama.

​Satu per satu barang mewah yang selama ini dibanggakan Ibu Ratna dikeluarkan ke pelataran halaman. Mulai dari set sofa kulit impor ruang tamu, televisi pintar berukuran besar, pajangan-pajangan keramik mahal, hingga lemari pakaian jati berisi barisan jas milik Aris dan kebaya-kebaya sutra koleksi arisan Ibu Ratna. Semuanya ditumpuk begitu saja di atas tanah halaman seperti barang rongsokan.

​Ibu Ratna menangis meraung-raung di atas undakan tangga, menyaksikan seluruh simbol kemewahannya dipreteli tanpa ampun di depan mata kepala tetangganya sendiri. "Amira... kamu kejam! Kamu menantu durhaka! Kamu tega membuang ibu mertuamu yang sedang sakit ke jalanan?!"

​Amira berjalan mendekati Ibu Ratna, menyejajarkan tatapannya dengan mata wanita tua yang kini bersimbuh lemas di lantai teras. Amira meraba perutnya yang terbalut blazer hitam dengan perlahan.

​"Ibu lupa? Dulu Ibu yang membuang barang-barang saya ke dalam kamar pembantu di bawah tanah saat saya keguguran anak pertama?" bisik Amira, suaranya begitu pelan namun sanggup menghentikan tangis Ibu Ratna seketika. "Hari ini, karma hanya sedang mengembalikan semua rasa sakit itu ke alamat yang tepat, Bu Ratna. Nikmatilah sore terakhirmu di istana palsu ini."

​Amira berbalik, berjalan menuju pintu pagar tanpa memedulikan lagi jeritan histeris mantan ibu mertuanya yang kini merangkak di antara tumpukan baju-bajunya yang berserakan. Di belakang Amira, petugas pengadilan mulai membentangkan garis polisi berwarna kuning dan memasang papan pengumuman besar di pagar depan: ASET INI DALAM SITA JAMINAN SHINTA GROUP.

Amira masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan puas yang luar biasa, melihat rumah penuh penderitaannya dulu kini telah bersih dari nama Pratama. Namun, saat mobil baru saja bergerak meninggalkan kompleks, Pak Sanusi menerima sebuah pesan darurat dari jaringan hukum mereka di rutan wanita: mengabarkan bahwa Lista baru saja menyewa seorang pengacara hitam baru dan bersiap mengajukan jaminan penangguhan penahanan dengan menggunakan dokumen rahasia lain yang belum sempat disita.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!