Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beberapa minggu kemudian...
Hari pernikahan Gavin dan Rosita semakin dekat. Rumah Pak Dimas malam itu ramai oleh keluarga besar yang datang untuk membahas pesta yang akan digelar minggu depan. Ruang tamu penuh suara obrolan dan kipas angin yang berdecit pelan.
Di tengah keramaian itu, Iriana duduk paling depan sambil memegang catatan. Gayanya seperti ketua panitia besar.
“Jadi, setiap orang wajib bayar baju seragam,” kata Iriana lantang
Beberapa kerabat langsung saling pandang.
“Kemeja batik pria dewasa tiga ratus ribu. Kebaya wanita dewasa lima ratus ribu. Sedangkan baju anak-anak dua ratus ribu.”
Kartika yang duduk di samping Deva langsung tersenyum kecut. Dadanya mulai terasa tidak enak. Orang hidup pas-pasan, tetapi gaya hidupnya selalu mau terlihat mewah.
“Sebaiknya enggak usah pakai seragaman,” celetuk Kartika tenang.
Semua orang langsung menoleh.
Kartika menyapu wajah semua orang di ruangan itu perlahan. Kemudian, dia melanjutkan sambil tersenyum tipis.
“Mending uangnya buat amplop pengantin. Kan, enggak semua keluarga kita punya uang banyak.”
Kalimat itu langsung membuat wajah Iriana berubah. Begitu juga Bu Hania. Ibu dan anak itu merasa tersindir. Keduanya menatap sinis ke arah istrinya Deva.
Padahal Kartika memang sedang menyindir. Karena sebagian besar keluarga mereka hidup pas-pasan. Bahkan ada yang datang naik motor tua dengan bensin seadanya. Namun, Iriana malah sibuk memikirkan seragam mahal demi terlihat kompak di foto.
Beberapa kerabat mulai mengangguk setuju dengan Kartika. Bagi mereka uang segitu itu sangat banyak. Belum lagi kasih kado atau uang amplop.
“Iya juga, sih! Mendingan buat kasih ke pengantin.”
“Kebaya lima ratus ribu buat dipakai sehari doang. Aku kayaknya enggak dulu, deh!”
“Sekarang ekonomi lagi seret. Jadi, aku harus bijak dalam beli sesuatu. Harus mengutamakan kebutuhan pokok.”
Kebanyakan mereka enggan harus mengeluarkan uang di saat keuangan morat-marit karena harga barang kebutuhan hidup terus naik.
Namun Iriana langsung sewot. “Enggak bisa!” katanya ketus. “Aku udah pesan sama temanku.”
Kartika mengangkat alis. “Pesan?”
“Iya. Bahannya datang besok.”
Kartika langsung menghela napas panjang. “Kenapa kamu main pesan aja, tanpa berunding dulu? Memangnya kamu tahu ukuran badan semua orang?” Nada suaranya mulai terdengar tajam.
Iriana langsung bungkam sesaat. Sedangkan beberapa kerabat mulai saling berbisik. Karena memang benar. Belum tentu baju yang dipesan muat. Dan yang paling bikin kesal mereka bahkan belum ditanya setuju atau tidak.
“Lagian, di mana-mana tuh, orang yang punya hajatan yang kasih seragaman secara cuma-cuma. Enggak diminta bayar,” tambah Kartika.
Niat Iriana, tadinya mau cari untung. Dia kerjasama dengan temannya yang jualan baju batik. Harga dari sananya jauh lebih murah. Dia ambil keuntungan seratus persen.
Deva hendak membuka mulutnya, tetapi Kartika memberi kode untuk diam. Pria itu menyayangkan tindakan Iriana yang tidak terlebih dahulu merundingkan hal itu, dahulu.
Sementara Gavin yang merupakan calon pengantin, hanya diam. Dia tidak mau pusing memikirkan hal lain selain acara pernikahannya.
“Deva, beberapa kerabat dari luar kota akan menginap di rumah kamu. Jadi, jamu mereka dengan baik. Jangan sampai malu-maluin,” kata Bu Hania.
Kartika dan Deva terkejut. Karena hal ini tidak pernah mereka bahas sebelumnya. Biasanya, jika ada kerabat yang datang, tinggalnya di rumah Pak Dimas yang dulu, yang sekarang ditinggali oleh Iriana dan Delisa. Selain rumahnya cukup besar, banyak juga kamar kosong.
Sedangkan rumah Deva ukurannya sedang, hanya ada tiga kamar dan terisi semua. Dahulu, Kartika dan Deva mencari rumah yang cukup luas halamannya, tidak masalah jika rumahnya kecil.
“Kenapa tidak di rumah Iriana saja, Bu? Di sana ada empat kamar kosong. Ruang depan dan ruang tengah juga luas,” tanya Kartika. Dia tahu suaminya enggak akan bisa menolak.
“Karena Deva anak paling besar,” jawab Bu Hania.
Kartika melongo. Karena merasa tidak ada hubungannya anak paling besar dengan menampung kerabat yang datang dari jauh.
Sebenarnya Bu Hania tahu Iriana tidak bisa diandalkan untuk menjamu kerabat mereka. Selain tidak punya uang banyak, masakannya juga kurang cocok di lidah banyak orang.
“Tidak apa-apa sih di tampung di rumahku, paling mereka semua akan di tempatkan di luar, kita pasang tenda. Lalu, Ibu yang menyediakan makan untuk mereka,” ujar Kartika. Dia tahu ini tidak sopan. Namun, dia tahu akal bulus mertuanya.
“Kurang ajar sekali kamu, Kartika!” bentak Bu Hania sambil menunjuk dan membuat orang-orang di sana sampai terkejut.
“Bu, seharusnya hal ini sudah dipikirkan masak-masak. Ibu pikir Mas Deva punya uang, setelah hampir semua gajinya diberikan kepada orang tua dan adik-adiknya. Sekarang saja aku pusing memutar otak biar kebutuhan di rumah bisa terpenuhi,” balas Kartika. “Jika, dulu Ibu bilang sama Deva, uang bulananku yang dipotong tiga juta setengah, bisa buat menjamu tamu."
Orang-orang yang di ruangan itu menggelengkan kepala. Mereka tahu betul akan kelakuan Bu Haina itu dan merasa kasihan kepada Deva yang dituntut harus memenuhi kebutuhan keluarga orang tua dan saudara-saudaranya.
Jam sepuluh malam, Kartika dan Deva pulang ke rumah yang beda komplek dengan rumah Pak Dimas. Kartika menggendong Kaivan, sedangkan Deva menggendong Kalingga. Keduanya jalan dalam diam.
“Perasaan dulu saat kita akan menikah, keluargamu tidak sibuk begini?” tanya Kartika. Karena seingat dia pesta pernikahan mereka dahulu digelar secara sederhana.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝