NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Memahami

BUUG! KRAK!

​Suara benturan itu memekakkan telinga, disusul suara mengerikan dari tulang yang bergeser paksa. Energi Qi kuning kecokelatan dari Zhao Kun meledak tepat di kepalan tangan Xiao Chen.

Dampaknya tak terelakkan, tubuh kecil Xiao Chen terpental ke belakang, berguling-guling di atas lantai batu yang kasar sebelum akhirnya berhenti dengan posisi tertelungkup.

​"Ugh... Akh...!" Xiao Chen mengerang, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Ia mencoba menggerakkan jemari kanannya, namun yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang dingin, disusul rasa sakit yang menyengat hingga ke sumsum. Tulang jarinya retak, dan seluruh lengannya mati rasa akibat getaran Qi lawan.

​Di sekeliling mereka, tawa pecah.

​"Itulah bedanya murid baru dan senior! Kau pikir nyali bisa menggantikan kultivasi?" teriak seorang murid luar dengan nada menghina.

​“Dia bahkan belum mencapai Ranah Pemula, tapi sudah berani menantang Tinju Senior Zhao. Benar-benar cari mati!”

​Xiao Chen berusaha bangkit dengan bertumpu pada tangan kirinya. Di saat itulah, sebuah kesadaran pahit menghujamnya. Inilah perbedaan nyata antara manusia biasa dan seorang pendekar.

Zhao Kun mungkin dianggap sampah oleh para jenius di faksi Inti, tapi bagi Xiao Chen saat ini, pria itu adalah tembok tinggi yang mustahil dipanjat hanya dengan otot kasar.

​"Masih mau berdiri? Kau benar-benar bodoh atau memang tidak punya otak!" Zhao Kun tersenyum sinis, matanya berkilat penuh kemenangan. "Seharusnya kau tetap di lantai dan pura-pura pingsan, Nak!"

​Zhao Kun tidak memberi napas. Ia melesat kembali, kakinya menyambar perut Xiao Chen.

​DUAK!

​Xiao Chen terlipat, memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Belum sempat ia jatuh, sebuah pukulan mendarat di rahangnya, disusul sikuan tajam yang menghantam punggungnya.

​"Xiao Chen! Berhenti! Jangan pukul dia lagi!" teriak Bao Hu histeris. Ia berusaha meronta, namun dua pengikut Zhao Kun mencengkeram lengannya dengan kuat.

​"Tahan si babi ini! Biarkan dia menonton bagaimana kita memberi pelajaran pada sahabatnya," ejek salah satu dari mereka.

​Dari atas paviliun wilayah Murid Dalam, Feng Lin melipat tangan di dada. Senyumnya lebar, penuh kepuasan yang mendarah daging. "Lihatlah dirimu, Xiao Chen. Kau pikir dengan masuk ke sekte ini, derajatmu akan naik? Kau akan selalu berada di bawah kakiku, baik di desa maupun di sini!"

​Xiao Chen berdiri lagi dengan goyah. Bibirnya robek, darah merembes ke dagunya. Pandangannya mulai kabur, dunianya berputar. Di tengah kegelapan yang mulai merayap, sebuah suara yang jauh lebih dalam dan lebih gelap dari Roh Pedang bergema di kepalanya.

​"Serahkan tubuhmu padaku... Berikan aku kendali, dan aku akan memberimu kekuatan untuk mencabik-cabik serangga ini..."

​Itu adalah suara dari Pedang Iblis Surgawi itu sendiri, haus darah yang murni.

​Xiao Chen memejamkan mata sesaat. Bayangan ibunya yang tersenyum saat memberinya bekal melintas. "Kekuatan... kekuatan yang hebat tanpa hati yang kuat hanya akan melahirkan monster," gumam Xiao Chen pada dirinya sendiri, mengulang sebuah prinsip yang pernah ia dengar.

​Roh Pedang di dalam jiwanya terdiam sejenak, lalu bergumam pelan, "Kau benar-benar menarik, Nak. Kau lebih memilih hancur daripada menjadi budak."

​Zhao Kun merasa terhina melihat Xiao Chen yang masih terus bangkit. "Kenapa... KENAPA KAU TIDAK TUMBANG?!"

​Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh Qi yang ia miliki ke tangan kanannya. Udara di sekitar tinjunya tampak bergetar hebat. "Teknik Tinju Batu: Penghancur Karang! Mati kau!"

​Mata Xiao Chen membelalak. Ia tidak bisa menghindar. Kecepatannya tidak sebanding.

​BUG!!! KRAAAK!

​Pukulan itu mendarat tepat di tengah dada Xiao Chen. Suara rusuk yang patah terdengar jelas di tengah keheningan aula. Tubuh Xiao Chen terlempar jauh, menghantam pilar batu besar dengan dentuman keras sebelum merosot ke lantai.

​"Uhuk! Cuh!" Xiao Chen memuntahkan gumpalan darah kental. Dunia seolah berhenti berputar.

​"Tamat sudah riwayat bocah itu," gumam seorang murid senior.

​"Ayo, sudah tidak menarik lagi. Dia pasti mati atau cacat permanen," ajak Murid Dalam lainnya sambil berbalik pergi. Feng Lin tertawa puas, bersiap meninggalkan tempat itu untuk merayakan "kematian" rivalnya. Bao Hu jatuh berlutut, tangisnya pecah melihat sahabatnya tak bergerak di bawah pilar.

​Namun... langkah mereka terhenti saat mendengar suara gesekan kain di atas batu.

​"Hei... lihat!"

​Dengan tubuh yang bergetar hebat, Xiao Chen memaksakan diri untuk tegak. Kakinya gemetar, hampir tidak mampu menopang berat badannya.

Saat ia mendongak, matanya tidak memancarkan ketakutan. Ada api yang menyala di sana, mata seorang pejuang yang tidak mengenal kata menyerah.

​"Orang gila ini... bagaimana dia masih bisa berdiri?!" Feng Lin melotot, rasa takut mulai merayap di punggungnya.

​"Xiao, berhenti! Cukup! Kau bisa mati!" teriak Bao Hu, suaranya parau karena tangis.

​Di tengah rasa sakit yang seolah membakar seluruh sarafnya, Xiao Chen teringat akan mimpinya tentang lautan mayat dan pendekar misterius itu.

Ia teringat latihan kerasnya di bawah bimbingan Roh Pedang. Ia menyadari satu hal: jalan kultivasi bukanlah tentang seberapa besar Qi yang kau miliki, tapi seberapa murni tekadmu.

​"Jalan... kultivasi... bukan jalan pintas..." bisik Xiao Chen, darah menetes dari pelipisnya. "...Tubuh, teknik, mental, pengalaman... semuanya harus ditempa perlahan dalam api penderitaan."

​Ia perlahan mengangkat tangan kanannya yang retak. Dua jarinya diacungkan ke arah Zhao Kun. Pada saat itu, ia tidak lagi meniru teknik Roh Pedang. Ia memahami hakikatnya.

​"Pedang... adalah perpanjangan hati," gumamnya pelan.

​Udara di sekitar ujung jari Xiao Chen tiba-tiba menjadi sangat dingin. Udara itu bergetar tipis, bukan karena Qi, melainkan karena Intent atau niat yang murni dari pedang iblis surgawi yang energinya entah bagaimana dapat menjadi murni.

Zhao Kun yang berada beberapa meter di depannya tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri.

​"Apa... apa ini? Kenapa aku merasa takut pada seekor semut?!" Zhao Kun berteriak untuk mengusir ketakutannya, ia kembali berlari untuk serangan terakhir.

​Xiao Chen mengayunkan tangannya perlahan, seolah-olah ia memegang pedang terberat di dunia.

Namun, sebelum serangan itu terlepas sepenuhnya... kesadarannya mencapai batas.

Kegelapan menyergapnya, dan tubuhnya ambruk seketika sebelum jarinya sempat melepaskan tebasan itu.

​BRUK.

​Semua orang tertegun. Suasana menjadi hening.

​"Ck, ternyata hanya gertakan," Zhao Kun mendengus, meski keringat dingin membasahi dahinya. Ia merasa malu karena sempat merasa terancam. "Dasar bocah sombong! Aku akan menginjak kepalamu agar kau tahu siapa tuanmu!"

​Zhao Kun melompat, siap mendaratkan kakinya di wajah Xiao Chen yang pingsan.

​WHOSH!

​Tiba-tiba, sebuah tekanan spiritual yang begitu dahsyat menghantam dari langit, membuat Zhao Kun terpental dan tersungkur di tanah.

​"SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN KERIBUTAN DI DEPAN AULA DISTRIBUSI?!" sebuah suara berat berwibawa menggelegar.

​Para Penegak Disiplin Sekte datang dengan jubah hitam mereka yang menyeramkan. Zhao Kun yang tadinya garang langsung pucat pasi. Para murid yang menonton langsung bubar, tidak ingin terlibat dalam masalah dengan faksi disiplin.

​Bao Hu segera berlari ke arah Xiao Chen begitu cengkeraman pada lengannya terlepas. "Xiao! Bertahanlah! Kau harus hidup!"

​Saat Xiao Chen kehilangan kesadaran sepenuhnya, darah dari pelipisnya menetes ke lantai batu aula. Di dalam jiwanya, Pedang Iblis Surgawi berdenyut pelan, menyerap aroma darah pemiliknya.

​Roh Pedang berdiri di ruang hampa jiwanya, menatap kesadaran Xiao Chen yang meredup. Ia tidak mengejek. Wajahnya serius, bahkan hampir menunjukkan rasa hormat.

​"Bagus... sekarang kau mulai mengerti bahwa pedang bukan tentang logam, tapi tentang jiwa."

​Tiba-tiba, simbol pedang hitam di pergelangan tangan Xiao Chen muncul sesaat, mengeluarkan cahaya merah tipis yang sangat samar sebelum menghilang kembali.

​Jauh di puncak tertinggi sekte, di dalam Aula Pedang Kuno, Sang Patriark kembali membuka matanya dengan sentakan hebat. Kultivasi tertutupnya terganggu untuk kedua kalinya dalam waktu dekat.

​Ribuan pedang kuno yang tertancap di belakangnya bergetar keras secara bersamaan, mengeluarkan suara rintihan logam yang memilukan.

​KRAK.

​Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, satu pedang kuno—pedang yang pernah menyegel kekuatan iblis di masa lalu, retak dengan sendirinya, hancur menjadi debu.

​Sang Patriark menatap ke arah bawah gunung dengan tatapan yang dipenuhi kekhawatiran mendalam. "Segelnya... mulai goyah. Apakah 'dia' telah kembali?"

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!