NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah malam hari

Bunyi gesekan ban mobil dengan aspal basah yang masuk ke area parkir rumah terdengar seperti suara kertas yang disobek, sreeet... sreeet.... Agnesa duduk di kursi belakang, menatap pantulan lampu taman yang melintas cepat di kaca jendela. 

Sesi makan malam itu akhirnya selesai. 

Di kursi depan, ibunya sedang sibuk memeriksa ponsel, sementara Pak Satrio fokus memutar kemudi untuk memasukkan mobil ke garasi.

​"Lusa Mama ada arisan di rumah Tante Maya," suara Ibu memecah keheningan kabin.

 "Kamu harus ikut. Tadi Mahendra bilang dia mau pinjam catatan biologi kamu."

​Agnesa tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan setetes air hujan yang merayap turun di kaca luar, bertabrakan dengan tetesan lain, lalu meluncur lebih cepat ke bawah.

​"Agnesa? Kamu dengar Mama?"

​"Iya, Ma. Dengar."

Mobil berhenti sepenuhnya.

 Lampu interior menyala otomatis, memberikan rona kuning pucat pada kulit Agnesa.

 Ia bisa melihat butiran debu kecil yang melayang di udara kabin. Bau parfum ibunya yang beraroma lily terasa sangat berat, memenuhi paru-paru.

 Di luar, suara kodok mulai bersahut-sahutan dari arah kolam ikan, kung-puk... kung-puk..., menandakan hujan baru saja benar-benar berhenti.

 Pintu mobil dibuka oleh Pak Satrio dari luar. 

Klik. 

Udara dingin malam langsung menyusup masuk, membawa bau tanah basah yang jujur.

​Agnesa turun, memegang tas jinjingnya erat-erat.

Ia berjalan masuk ke rumah, melewati ruang tamu yang luas dan sunyi. Sepatunya yang berhak kecil mengeluarkan bunyi tuk... tuk... tuk... yang bergaung di lantai marmer.

​"Langsung tidur, Nes. Besok sekolah," pesan Ibunya sambil berjalan menuju kamarnya sendiri.

​"Iya."

Kenapa lantai marmer ini harus selalu terasa sedingin es? 

Agnesa ingat pernah membaca di sebuah artikel bahwa marmer adalah batu yang sulit menyerap panas. Mungkin itu sebabnya rumah ini selalu terasa seperti kulkas besar.

Kadang ia ingin tahu, apakah jika ia menumpahkan tinta merah di atasnya, noda itu akan tinggal selamanya atau akan hilang saat diseka? Seperti kesalahan-kesalahan kecil. 

Naren tidak punya marmer di rumahnya, mungkin. Mungkin lantainya hanya semen kasar yang hangat karena sinar matahari yang terjebak di sana seharian. Atau mungkin tanah.

Ia belum pernah ke sana. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia memikirkan lantai rumah orang lain saat kakinya sendiri sedang kedinginan.

​Agnesa sampai di depan kamarnya. 

Sebelum masuk, ia berhenti di depan cermin besar di lorong. Ia melihat dirinya sendiri; gaun biru yang tidak ada kusutnya, rambut yang masih rapi meskipun beberapa helai mulai keluar dari tatanan.

Agnesa meraih ponsel di saku gaunnya. Layarnya menyala, menampilkan pesan dari Naren: Ubur-ubur kalau dipaksa makan di darat bisa mati kering.

Ia menatap pesan itu selama hampir satu menit.

 Ibu jarinya bergerak di atas layar, seolah hendak mengetik sesuatu, lalu berhenti. Ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya di atas meja konsol di lorong, dan membiarkannya di sana.

 Ia masuk ke kamar tanpa membawa ponsel itu.

​Di dalam kamar, Agnesa tidak langsung menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu meja belajar yang temaram. Ia duduk di kursi kayu, menatap tumpukan buku yang tadi sore ia susun berdasarkan tinggi.

​Tok tok tok.

​"Non? Ini Bibi, bawa susu hangat."

​"Masuk saja, Bi."

​Sumi masuk membawa nampan. Ia meletakkan gelas susu itu di pojok meja. 

"Tadi ada paket di bawah, katanya buat Non Agnesa. Bibi taruh di sini ya?"

​Sumi meletakkan sebuah kantong plastik hitam kecil yang terlihat lusuh. Agnesa mengerutkan kening. "Dari siapa, Bi?"

​"Enggak tahu, Non. Tadi dititip ke Pak Jaka sama anak laki-laki pakai motor berisik, katanya buat Ketua OSIS yang galak."

​Sumi tersenyum kecil lalu keluar dari kamar. 

Cklek. 

Pintu tertutup.

Agnesa menatap kantong plastik hitam itu. 

Plastiknya berminyak. Bau menyengat dari sesuatu yang digoreng mulai menguar, mengalahkan aroma lavender di kamarnya.

Ia meraih plastik itu dengan ujung jari. Di dalamnya terdapat sebuah kotak styrofoam kecil.

Agnesa membukanya perlahan.

 Krieeet.

Di dalamnya ada dua tusuk sate ayam yang sudah dingin, lengkap dengan bumbu kacang yang mulai mengental dan dua buah kerupuk kaleng yang sudah remuk.

Ada secarik kertas kecil yang diselipkan di balik tutup kotak.

​Agnesa mengambil kertas itu. Tulisannya berantakan, ditulis dengan spidol permanen yang tembus ke belakang kertas.

​Jangan makan steak terus. Nih, sate depan gang. Lebih enak daripada daging mahal lo.

​Agnesa meletakkan kertas itu. Ia menatap sate yang sudah tidak menarik lagi bentuknya.

​"Kotor," gumamnya pelan.

Agnesa berdiri, berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia mulai mengeluarkan satu per satu baju rumahnya, melipatnya kembali, lalu memasukkannya lagi.

Ia melakukan itu berulang-ulang.

Tangannya bergerak cepat, menyisir kain katun itu dengan telapak tangan agar tidak ada kerutan.

Setelah semua baju terlipat sempurna, ia kembali ke meja.

Ia mengambil satu tusuk sate itu, mencium aromanya, lalu meletakkannya kembali ke dalam kotak tanpa memakannya.

Ia menyeka ujung jarinya yang terkena sedikit bumbu kacang dengan tisu sampai kulitnya memerah.

​Ia duduk kembali, kali ini ia mengambil gelas susu hangatnya. 

Sruup. 

Rasanya hambar. Sangat jauh berbeda dengan rasa susu stroberi yang tadi siang ia minum di mobil.

​"Bi Sumi?" Agnesa memanggil pelan, tahu bibinya mungkin masih di dekat situ.

​"Iya, Non?" Sumi mengintip dari balik pintu.

​"Pak Jaka masih di bawah?"

​"Masih, Non. Lagi cuci mobil bareng Pak Satrio."

​"Tolong bilang ke Pak Jaka... terima kasih. Dan... anak motor itu, dia pakai helm apa?"

​Sumi berpikir sebentar. "Helm hitam yang ada stiker tengkoraknya, Non. Kenapa?"

​"Enggak apa-apa, Bi."

​Sumi menutup pintu kembali. 

Agnesa menghela napas. Ia tahu helm itu. Itu helm yang sering digantung Naren di spion motornya saat ia sedang asyik mengganggu anak-anak kelas sepuluh di kantin.

​Agnesa menoleh ke arah jendela yang tertutup gorden. Ia berdiri, menarik kain gorden itu sedikit. 

Di luar, lampu jalanan bergoyang ditiup angin.

Agnesa berjalan menuju pojok kamarnya, tempat ia biasanya menyimpan barang-barang yang tidak terpakai.

Ia duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur, menyisakan jarak yang cukup jauh dari meja belajarnya yang rapi.

Ia memeluk lututnya sendiri.

Di ruangan yang luas ini, ia justru memilih sudut paling kecil untuk duduk diam.

Matanya terpaku pada kotak sate di atas meja yang kini tampak seperti benda asing dari planet lain di tengah kamarnya yang steril.

​Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

 Ia berdiri lagi, berjalan ke meja rias, dan mengambil kotak plester kelinci yang tadi ia beli di apotek. Ia membawanya kembali ke sudut tempat ia duduk tadi.

​Ia membuka kotak plester itu. 

Sret.

​"Gila," bisiknya sendiri. "Saya benar-benar sudah gila."

Agnesa mengambil satu lembar plester kelinci.

Ia memegang ujung plastiknya, hendak membukanya.

Gerakannya berhenti saat ujung jempolnya menyentuh bagian perekat.

Ia menatap plester itu selama beberapa detik, napasnya terdengar sedikit lebih cepat.

Ia menurunkan tangannya, meletakkan plester itu di atas lantai marmer yang dingin di depannya.

Ia tidak menempelkannya di mana pun. Ia hanya membiarkannya tergeletak di sana, sendirian.

​Ia kembali menatap ke arah meja. Sate itu. Pesan Naren tentang ubur-ubur.

​"Ubur-ubur itu nggak punya otak," Agnesa bicara pada dinding. 

"Mereka cuma kumpulan saraf yang bergerak mengikuti arus. Kalau arusnya ke darat, ya mereka mati. Itu logis."

​Ia terdiam sejenak.

​"Tapi mereka transparan. Orang bisa lihat apa yang ada di dalam tubuh mereka."

​Agnesa menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah di sela lutut. Suara jam dinding terdengar makin nyaring, 

tik... tok... tik... tok....

Agnesa bangkit dari lantai. Ia berjalan menuju meja belajar, mengambil kotak styrofoam sate itu.

Ia membawanya ke tempat sampah besar di sudut kamar.

Tangannya sudah berada di atas tutup tempat sampah.

Ia berhenti.

Bukannya membuang kotak itu, ia justru membawanya kembali ke meja.

Ia mengambil satu tusuk sate, dan dengan gerakan ragu, ia menggigit sedikit dagingnya.

Ia mengunyahnya pelan. Wajahnya datar, tidak menunjukkan suka atau tidak suka.

Setelah menelannya, ia meminum susu hangatnya yang sudah mulai dingin untuk menghilangkan rasa bumbu kacang yang tajam.

​Ia mengambil kertas pesan Naren lagi. 

Di bagian belakang kertas itu, ia menulis sesuatu dengan pensil tipis: Satenya dingin. Jangan beli di situ lagi.

​Ia melipat kertas itu menjadi sangat kecil, lalu menyelipkannya ke dalam buku catatan hitam yang tadi ia simpan di laci.

​Pukul sepuluh lewat lima belas menit.

 Agnesa berjalan menuju saklar lampu. 

Tek.

 Kamar menjadi gelap gulita, kecuali cahaya bulan yang menyeruak malu-malu dari celah gorden.

​Ia naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai ke dagu. 

Di bawah bantal, ia bisa merasakan bentuk kotak plester kelinci yang ia selipkan di sana.

​"Besok Jumat," bisiknya. "Laporan baksos harus selesai jam delapan pagi."

​Ia memejamkan mata. 

Di kegelapan itu, ia tidak melihat Mahendra dengan batik rapinya, atau ibunya dengan senyum arisannya.

 Ia justru melihat kepulan asap knalpot motor Ninja yang melaju di antara rintik hujan, membawa aroma sate ayam dingin dan kebebasan yang tidak pernah berani ia sentuh.

Lampu di kamar Agnesa mati total.

Hanya ada suara angin yang memukul-mukul kaca jendela.

Kotak sate di atas meja tertutup rapat kembali.

Isinya tinggal satu tusuk.

​Di luar, Bandung terus berputar. 

Di gang sempit depan panti, abang sate sedang membereskan dagangannya, tidak tahu bahwa dua tusuk satenya baru saja menjadi saksi bisu sebuah retakan kecil di dinding kaca seorang ketua murid paling teladan di SMA Garuda.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Bukan urusan lo," kata Naren dingin, lalu melanjutkan langkahnya.

​"Ada apa sih antara lo sama dia?"

​Naren Makin Tertutup Soal Agnesa? Intip Kelanjutan Rasa Penasaran Abyan di Bab 20: Lingkaran Rahasia

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!