NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Langkah Pertama

...

Lorong rumah sakit swasta itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus dari mesin pendingin ruangan dan langkah kaki para perawat yang berjalan terburu-buru. Di depan ruang Intensive Care Unit (ICU), Zidan duduk sendirian di kursi besi yang dingin. Setelan jas kerjanya sudah tidak lagi rapi, dasinya entah sudah dilempar ke mana, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, menampilkan guratan kelelahan yang teramat pekat di wajah tampannya.

Map plastik biru tua berisi catatan rekam medis dari Pamela didekapnya erat di atas pangkuan. Berkat dokumen itu, tim dokter bisa mengambil tindakan cepat untuk meredakan sumbatan pembuluh darah Papa tanpa salah memberikan dosis obat. Namun, alih-alih merasa lega, dada Zidan justru terasa semakin sesak.

Setiap kali dia melihat tulisan tangan Pamela yang rapi di lembaran kertas itu, rasa bersalah yang tajam kembali menghantam egonya. Pria narsis itu terbiasa mengendalikan segala hal, terbiasa dipuja, namun hari ini dia dipaksa bertekuk lutut oleh kenyataan bahwa nyawa ayahnya sendiri berhasil diselamatkan berkat ketelitian wanita yang selalu dia remehkan.

"Zidan..."

Suara langkah kaki yang diseret terdengar mendekat. Mama berjalan goyah didampingi Keysha yang wajahnya sembap karena terlalu banyak menangis. Keduanya tampak kehilangan keangkuhan yang biasanya mereka pamerkan setiap hari.

"Bagaimana keadaan Papa, Zid? Dokter sudah keluar?" tanya Mama dengan suara bergetar, matanya menatap pintu kaca ICU yang tertutup rapat.

"Papa sudah melewati masa kritisnya, Ma. Tapi harus tetap diobservasi ketat di dalam," jawab Zidan tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat datar dan dingin. "Dokter bilang, Papa gak boleh stres sama sekali setelah ini. Dan makanannya harus benar-benar dijaga ketat sesuai catatan dietnya."

Mama menghela napas panjang, lalu perlahan mendudukkan tubuhnya di samping Zidan. "Syukurlah kalau begitu... Mama bener-bener takut tadi, Zid. Rumah rasanya langsung runtuh pas Papa kamu ambruk."

Keysha ikut duduk di sisi lain, meremas jemarinya yang dingin. "Kak... terus yang bakal masakin makanan diet buat Papa setelah ini siapa? Keysha beneran gak tahu cara takar garam sama kalori kayak yang biasa si Pamela lakuin. Tadi pas di rumah, Bi Sumi malah nangis-nangis karena takut disuruh megang dapur utama lagi."

Zidan tidak langsung menjawab. Dia mencengkeram map biru di tangannya lebih kuat. Sifat dingin dan emosinya yang tertahan sejak pagi membuat suaranya terdengar begitu menusuk saat dia akhirnya menoleh ke arah adiknya. "Kenapa baru sekarang kamu bingung, Keysha? Bukannya selama ini kamu yang paling sering bilang kalau kerjaan Pamela di rumah itu gampang? Kamu yang sering bilang kalau jadi pembantu itu gak butuh otak?"

Keysha tersentak, wajahnya memucat mendengar sindiran tajam dari kakak kandungnya sendiri. "Kak... Keysha kan gak maksud begitu—"

"Diam, Keysha," potong Zidan ketus, menatap adiknya dengan pandangan muak. "Kalian berdua yang bikin dia pergi dari rumah ini dengan membawa semua ketenangan kita. Sekarang, nikmati saja hasilnya. Jangan mengeluh di depan saya." karena emosi, ia sampai melupakan jika dirinyalah yang paling membuatnya menderita. yaitu membawa selingkuhan dan bahkan menghamilinya.

Mama hanya bisa menunduk pasrah, tidak berani membela anak perempuannya. Keangkuhan mereka sebagai keluarga kaya perlahan-lahan mulai terkikis oleh hantaman realitas yang bertubi-tubi. Rumah mewah mereka kini terasa seperti sebuah sangkar besar yang dingin, kosong, dan dipenuhi oleh bayang-bayang penyesalan yang lambat laun mulai mencekik mereka semua dari dalam.

...

Sementara itu, di kota kecil pinggir pantai yang tenang, matahari pagi baru saja naik setinggi galah, memancarkan cahaya hangat yang berkilau di atas permukaan air laut. Aroma udara yang bersih bercampur wangi khas air garam masuk ke dalam rumah panggung kayu tempat Pamela menginap.

Pamela berdiri di depan cermin kecil kamarnya, merapikan kemeja katun bergaris biru muda dan celana kain hitam miliknya. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang dengan gaya ekor kuda yang simpel, menampilkan wajah manisnya yang kini terlihat jauh lebih segar dan bercahaya. Tidak ada lagi gurat ketakutan atau sisa-sisa air mata penderitaan di sudut matanya. Hari ini, Pamela telah memantapkan hatinya untuk mengambil langkah pertama dalam membangun kembali hidupnya yang mandiri.

Dia mengambil tas kain kecilnya, memastikan dompetnya yang berisi sisa uang tabungan dan kartu identitasnya aman, lalu melangkah keluar dari rumah kayu tersebut. Targetnya hari ini adalah mencari pekerjaan. Pamela tahu, dia tidak bisa selamanya menumpang hidup dari belas kasihan Mbok Darmi atau mengandalkan sisa tabungannya yang tidak seberapa. Untuk benar-benar bebas dari bayang-bayang keluarga Zidan, dia harus memiliki penghasilan sendiri, sekecil apa pun itu.

Langkah kaki Pamela membawanya menyusuri jalanan aspal kecil yang membelah kota pinggir pantai tersebut. Di kanan kiri jalan, berjajar toko-toko kelontong, warung makan sederhana, dan beberapa kedai kopi lokal yang mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan atau warga sekitar yang baru pulang dari pasar ikan.

Setiap kali melihat ada lembaran kertas pengumuman lowongan kerja yang ditempel di depan toko, Pamela akan berhenti. Dia memberanikan diri masuk, menyapa pemilik toko dengan sopan, dan menanyakan apakah mereka membutuhkan tenaga kerja tambahan.

"Maaf, Mbak... kami carinya yang minimal lulusan sarjana buat pegang pembukuan kasir," tolak seorang pemilik toko swalayan mini dengan halus setelah membaca sekilas ijazah SMA yang dibawa Pamela dalam map kecilnya.

"Maaf ya, Neng... di warung makan saya sudah ada dua orang yang bantu di dapur. Belum ada anggaran buat nambah karyawan lagi," ucap seorang ibu pemilik warung nasi padang di sudut jalan.

Tiga toko pertama yang dia datangi memberikan penolakan yang sama. Pamela berjalan kembali menyusuri trotoar, menahan rasa lelah yang mulai merayap di kakinya yang terbiasa berdiri berjam-jam di dapur mewah dulu. Namun, tidak ada rasa putus asa di wajahnya. Penolakan-penolakan ini terasa begitu kecil dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan makian dan hinaan verbal yang biasa dia terima dari mulut Mama mertuanya setiap hari. Di sini, meskipun ditolak, orang-orang memperlakukannya dengan rasa hormat yang jujur sebagai sesama manusia yang sedang berusaha mencari rezeki.

Hingga akhirnya, langkah kaki Pamela terhenti di depan sebuah bangunan kedai bergaya semi-tradisional yang terletak agak dekat dengan dermaga kapal wisata. Kedai itu bernama "Selasih", dengan papan nama kayu yang estetik dan area teras terbuka yang langsung menghadap ke arah laut lepas. Di pintu kaca depannya, terdapat selembar kertas putih kecil bertuliskan: ‘Dibutuhkan tenaga bantuan untuk dapur dan juru masak camilan tradisional. Jujur, bersih, dan mau bekerja keras.’

Pamela menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya. Dia mendorong pintu kaca itu hingga menimbulkan bunyi denting bel kuningan yang manis di bagian atas.

Suasana di dalam kedai terasa begitu hangat dan wangi aroma kopi yang pekat bercampur rebusan daun pandan. Di balik meja konter kayu, seorang wanita paruh baya berwajah anggun dengan rambut yang disanggul modern sedang sibuk menata beberapa cangkir keramik. Wanita itu menoleh dan tersenyum ramah melihat kedatangan Pamela.

"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu? Mau memesan kopi atau mencari tempat duduk?" sapa wanita itu dengan nada suara yang sangat tenang dan bersahabat.

Pamela melangkah mendekat ke meja konter dengan sikap sopan. "Selamat pagi, Bu. Maaf mengganggu waktunya. Saya Pamela. Saya ke sini karena melihat kertas lowongan kerja yang ditempel di depan pintu kaca tadi. Apakah posisinya masih tersedia?"

Wanita paruh baya itu menatap Pamela dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai, namun sama sekali tidak ada kesan merendahkan. Dia melihat kebersihan dari pakaian Pamela, kerapian rambutnya, dan yang paling penting, binar mata Pamela yang tampak jujur dan penuh kesungguhan.

"Ah, lowongan juru masak camilan ya? Kebetulan sekali masih kosong, Mbak Pamela. Mari, silakan duduk dulu di kursi sebelah sana biar kita bisa mengobrol lebih enak," ajak wanita itu sambil memberi isyarat ke arah meja kayu kosong di dekat jendela yang menghadap ke pantai. "Perkenalkan, nama saya Ibu Sarah. Saya pemilik kedai ini."

Pamela mengikuti Ibu Sarah dan duduk berhadapan. Dia menyerahkan map kecil berisi berkas ijazah SMA dan data dirinya. Ibu Sarah menerimanya, membukanya sekilas, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan senyuman tipis.

"Mbak Pamela, jujur saja, di kedai ini saya tidak terlalu mementingkan selembar ijazah sarjana tinggi untuk posisi di dapur. Yang saya butuhkan adalah orang yang bener-bener punya rasa memiliki terhadap masakan yang dia buat. Bersih, telaten, dan tahu bagaimana cara menjaga cita rasa," tutur Ibu Sarah dengan lembut. "Sebelumnya, apakah Mbak Pamela punya pengalaman bekerja di bidang kuliner atau dapur?"

Pamela tertegun sejenak. Pengalaman bekerja secara profesional di restoran mewah? Jawabannya jelas tidak ada. Namun, jika pengalaman mengelola seluruh urusan dapur sebuah rumah besar yang dihuni oleh orang-orang dengan selera makan yang sangat menuntut dan pemarah selama tujuh tahun berturut-turut bisa dihitung sebagai pengalaman, maka Pamela adalah ahlinya.

"Secara profesional di rumah makan besar, saya belum pernah, Bu," jawab Pamela dengan jujur, menatap mata Ibu Sarah tanpa ragu. "Tapi selama tujuh tahun terakhir, saya memegang penuh seluruh operasional dapur di sebuah rumah tangga besar. Saya biasa meracik bumbu dari dasar, mengatur menu harian, membuat kue-kue kering tradisional, hingga menjaga kebersihan sanitasi dapur secara ketat. Saya bisa menjamin kalau masakan saya bersih dan dibuat dengan penuh ketelitian."

Ibu Sarah mengangguk-angguk pelan, tampak terkesan dengan ketegasan yang tenang dari cara bicara Pamela. Sifat dingin dan tegar yang terbentuk dari penderitaan masa lalu justru membuat Pamela memancarkan aura kedewasaan yang sangat matang dan dapat dipercaya.

"Menarik," gumam Ibu Sarah sambil mengetukkan jarinya di meja. "Bagaimana kalau kita langsung lakukan tes kecil saja sekarang? Kebetulan bahan-bahan di dapur belakang baru saja datang dari pasar. Saya ingin Mbak Pamela membuatkan satu jenis camilan tradisional yang paling Mbak kuasai untuk menemani minum kopi hitam di kedai ini. Kalau rasanya cocok dengan standar saya, Mbak Pamela bisa langsung mulai bekerja besok pagi. Bagaimana? Apakah Mbak Pamela keberatan?"

Mendengar tantangan itu, sebuah binar keyakinan seketika terpancar di wajah Pamela. Masuk dapur dan mengolah bahan makanan adalah zona nyamannya satu-satunya hal yang selalu dia lakukan dengan sepenuh hati bahkan di saat jiwanya sedang hancur dulu.

"Saya tidak keberatan sama sekali, Bu Sarah. Saya siap," jawab Pamela dengan senyuman percaya diri yang belum pernah dia tunjukkan selama tujuh tahun pernikahannya dengan Zidan. Hari ini, di bawah atap kedai kopi kecil ini, perjuangannya untuk berdiri di atas kakinya sendiri resmi dimulai dengan sebuah langkah yang mantap.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!