NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KELAMBU YANG MENYESATKAN

Aku tidak tahu sejak kapan detak jantungku mulai berirama sama dengan napas wanita ini. Mungkin sejak hujan deras bulan lalu, saat atap rumahnya yang bocor memaksa kami duduk berdekatan di bawah satu payung kayu yang rapuh, atau mungkin jauh sebelum itu, sejak aku pertama kali melihatnya berjuang keras membelah kayu bakar dengan lengan yang tampak begitu lelah namun tangguh.

Namanya Laras. Bagi orang-orang di desa ini, dia hanyalah seorang janda yang mencoba bertahan hidup di sela-sela desas-desus. Bagiku? Dia adalah satu-satunya cermin yang tidak memantulkan kegagalanku sebagai seorang pria. Saat aku menatap matanya, aku tidak melihat Rendra Wijaya yang bangkrut, yang dikhianati oleh nasib dan hukum, atau seorang suami yang meninggalkan istrinya dalam kehampaan. Aku hanya melihat pria yang bisa menjadi segalanya bagi mereka.

Malam ini, suasana di ruang tengah rumah Laras begitu tenang. Lampu minyak yang bergoyang ditiup angin masuk dari celah jendela menciptakan bayang-bayang panjang di dinding. Laras duduk di sampingku, tangannya sibuk menjahit kancing baju kecil milik Satria. Sesekali, aromanya—bau tanah basah dan sabun cuci murah—menusuk indra penciumanku, memberikan rasa tenang yang aneh, rasa tenang yang justru seharusnya membuatku takut.

"Kamu terlalu lelah, Rendra," suaranya lembut, memecah keheningan. Ia meletakkan jahitan itu, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahiku. Sentuhannya hangat, dan untuk sejenak, dunia di luar sana—nama Yuni, tangis Arum, wajah Bapak mertuaku yang penuh kecewa—terasa seperti mimpi buruk yang sudah memudar.

Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Aku tidak lelah, Laras. Aku hanya... merasa akhirnya menemukan tempat untuk berhenti berlari."

Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibirku, namun anehnya, aku hampir memercayainya. Saat Laras menyandarkan kepalanya di bahuku, aku merasa seolah-olah aku sedang membangun dunia baru dari puing-puing masa lalu yang kuhancurkan sendiri. Aku tidak lagi memikirkan konsekuensi. Yang aku tahu, di sini, di rumah yang tidak megah ini, aku merasa dibutuhkan.

Lalu, terdengar suara langkah kaki kecil dari sudut kamar. Satria terbangun. Bocah itu mengucek matanya yang mengantuk, lalu dengan langkah gontai menghampiri kami. Tanpa diperintah, dia langsung merayap naik ke pangkuanku, membenamkan wajahnya di dadaku.

"Ayah... aku mimpi dikejar anjing," gumamnya pelan.

Hatiku mencelos. Setiap kali dia memanggilku 'Ayah', ada kilatan tajam yang melintas di benakku—wajah seorang bayi perempuan di Sukorejo yang bahkan belum pernah kupanggil dengan sebutan 'anakku'. Tapi rasa sakit itu cepat sekali tertutup oleh rasa ingin memiliki. Aku memeluk Satria, mencium keningnya, dan memberikan perlindungan yang dulu mungkin terlalu sombong untuk aku berikan kepada keluargaku sendiri.

"Tidak apa-apa, Satria. Ada Ayah di sini. Tidak akan ada yang berani mengganggumu," bisikku.

Laras menatap kami dengan sorot mata yang penuh pemujaan. Di matanya, aku melihat refleksi pria yang selama ini ia idamkan—pria yang lembut, yang menyayangi anaknya, pria yang tidak pergi ke mana-mana. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia cintai ini sedang mencuri waktu dari masa lalu yang belum selesai. Ia tidak tahu bahwa setiap kasih sayang yang aku berikan kepada Satria sebenarnya adalah cara bagiku untuk menebus rasa bersalah yang terus menggerogotiku.

Kami terjebak dalam simpul yang sama. Aku membutuhkan Laras untuk melupakan Yuni, dan Laras membutuhkan aku untuk menutupi lubang dalam hidupnya.

"Kadang aku takut," Laras berbisik, jemarinya memainkan ujung bajuku. "Aku takut jika suatu saat kamu memutuskan untuk pergi seperti suamiku dulu. Aku tidak akan sanggup, Rendra. Satria juga tidak akan sanggup."

Aku menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak akan pergi. Ke mana lagi aku harus pergi? Dunia di luar sana tidak menginginkanku. Hanya di sini, di dekatmu dan Satria, aku merasa memiliki arti."

Itu adalah janji yang paling berbahaya yang pernah aku ucapkan. Saat aku mengucapkan kata-kata itu, aku tahu aku sedang membakar jembatan terakhir yang menghubungkanku dengan kehidupan yang sah di Sukorejo. Aku sedang mendeklarasikan diriku sebagai pria yang telah berpaling sepenuhnya. Malam itu, saat kami beranjak ke kamar, aku merasa seperti seseorang yang sedang mengenakan topeng yang perlahan-lahan menyatu dengan kulit wajahku.

Aku tahu ini salah. Setiap nurani yang tersisa di sudut pikiranku berteriak bahwa aku sedang berbuat keji. Tapi, godaan untuk merasa "normal", godaan untuk memiliki keluarga yang tampak utuh meskipun dibangun di atas fondasi pasir, terlalu kuat untuk kutolak. Aku sudah terlalu lama lelah menjadi narapidana, baik secara fisik maupun moral. Di rumah Laras ini, aku bisa memalsukan kebahagiaan. Aku bisa berpura-pura menjadi ayah, berpura-pura menjadi pasangan yang setia, dan yang paling penting, aku bisa berpura-pura bahwa Yuni dan Arum hanyalah sekadar memori yang tidak pernah benar-benar ada.

Saat aku memejamkan mata di samping Laras, dengan tangan Satria yang melingkar erat di lenganku, aku memohon dalam hati—bukan kepada Tuhan, melainkan kepada takdir—agar tidak pernah mempertemukan mereka denganku. Aku ingin tetap menjadi Rendra yang baru, pria yang dipuja oleh janda desa, pria yang memiliki anak laki-laki yang memanggilnya 'Ayah'.

Aku telah menukar kejujuranku dengan ketenangan semu. Aku telah membuang hakku sebagai seorang suami demi kenyamanan yang hanya bisa kucapai dengan cara berpura-pura. Dan saat aku mulai terlelap, aku tidak lagi merasa seperti seorang pengkhianat. Aku merasa seperti seorang pemenang yang berhasil membangun istana dari mimpi-mimpi yang dicuri. Aku tidak tahu bahwa istana ini, cepat atau lambat, akan runtuh ketika kebenaran dari Sukorejo akhirnya mengetuk pintu rumah ini dengan membawa beban yang jauh lebih berat daripada yang bisa aku tanggung. Namun untuk malam ini, aku memilih untuk tetap tidur, terlelap dalam kelambu yang menyesatkan, menikmati manisnya kasih sayang yang bukan hakku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!