【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Baik, terima kasih untuk hari ini ya, Anak-anak. Sampai jumpa esok hari!" seru Tina, melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan tetap cerah.
"Terima kasih kembali, Ibu Guru!" sahut anak-anak serempak sebelum mereka berhamburan keluar kelas, menyongsong jemputan orang tua masing-masing yang sudah menunggu di luar gerbang.
Tidak terasa, waktu Tina di sekolah berjalan dengan begitu cepat hari ini. Ketika riuh tawa bocah-bocah itu sepenuhnya menguap dari halaman sekolah, keheningan yang tersisa justru terasa mencekik.
Setelah merapikan sisa-sisa buku pelajaran dan mengunci pintu bangunan PAUD, Tina bergegas pulang. Namun, langkah kakinya tidak langsung mengarah ke rumahnya. Ada satu simpul urusan yang harus ia selesaikan hari ini juga agar bebannya tidak semakin menumpuk. Ia memutar arah, melangkah mantap menuju sebuah rumah besar berpagar besi di dekat jalan utama desa—rumah Pak David.
"Assalamu’alaikum," sapa Tina lembut begitu berdiri di depan pintu jati yang terbuka lebar.
"Wa’alaikumussalam. Eh, Tina! Masuk, Nak, masuk," sebuah suara perempuan paruh baya menyambut dengan sangat ramah. Itu adalah Ibu Ira, istri Pak David. Sosoknya yang bersahaja selalu membuat siapa saja merasa diterima di rumah ini.
"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Tina santun, melangkah masuk dengan canggung.
"Ayo duduklah dulu, Ibu ambilkan minum ya," ucap Ibu Ira dengan senyum tulus, bersiap melangkah menuju ruang dapur.
Tina buru-buru mengangkat tangannya kecil, merasa tidak enak hati. "Eh, tidak usah repot-repot, Bu. Saya cuma sebentar."
"Ah, tidak apa-apa, seperti sama siapa saja. Tunggu sebentar ya, ayo duduk dulu," potong Ibu Ira dengan nada keibuan yang tidak bisa ditolak.
Tina akhirnya mengangguk pasrah dan mendudukkan diri di atas sofa empuk yang terasa begitu asing bagi punggungnya yang terbiasa duduk di kursi kayu keras. Tidak lama kemudian, Ibu Ira kembali dengan nampan berisi segelas es sirup berwarna merah merona yang tampak sangat menyegarkan di tengah hari yang menyengat ini.
"Baru pulang mengajar ya, Tin?" tanya Ibu Ira membuka percakapan, ikut duduk di sofa seberang Tina.
"Iya, Bu, baru saja selesai," Tina membenarkan posisi tasnya di pangkuan, mencoba menyusun kalimat terbaik di dalam kepala. "Begini, Bu... kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin menyampaikan titipan amanah terkait obrolan saya dengan Pak David kemarin siang di dekat kantor desa."
Ibu Ira mengangguk-angguk paham, wajahnya menunjukkan ketertarikan. "Oh, masalah tawaran pekerjaan di kantor grosir kecamatan itu, ya? Bagaimana, Nak? Apa kamu sendiri yang mau mengambil posisinya, atau... adikmu, si Fandi, yang mau kerja di sana?"
Pertanyaan itu membuat dada Tina berdenyut perih. Mengingat kembali bagaimana respons dingin dan raut wajah bebal Fandi semalam saat ditawari pekerjaan ini, rasanya seperti memakan buah berduri.
Tina menarik napas dalam-dalam, menatap mata Ibu Ira dengan pandangan penuh rasa bersalah.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu dan Pak David atas tawaran yang sangat baik ini. Tapi... setelah saya pikirkan, saya sepertinya tidak bisa mengambil posisi tersebut karena masih harus fokus mengurus anak-anak di PAUD. Dan untuk adik saya, Fandi... setelah saya bicarakan dengannya semalam, sepertinya dia belum cocok untuk bekerja di tempat seperti itu, Bu."
Tina sengaja memperhalus kalimatnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa adiknya menolak mentah-mentah karena lebih memilih tidur siang dan begadang bermain *game*.
Ibu Ira terdiam sejenak, namun senyum ramahnya tidak memudar sedikit pun dari wajahnya. "Oh, begitu... tidak apa-apa, Nak Tina. Itu sih kembali lagi dari pilihan kamu dan adikmu sendiri. Bapak kemarin menawarkan karena tahu kamu anak yang rajin, dan kebetulan posisinya memang sedang kosong. Jadi jangan merasa tidak enak ya."
Mendengar respons yang begitu bijak, ketegangan di bahu Tina sedikit mengendur, meski rasa sungkannya masih tersisa. "Tapi saya beneran minta maaf ya, Bu, kalau sudah merepotkan Pak David."
"Iya, tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan lagi. Ayo, itu diminum dulu sirupnya. Kamu pasti haus sekali jalan jauh dari sekolah, mana matahari di luar sedang panas-panasnya begini," ujar Ibu Ira hangat.
Tina tersenyum tipis, meraih gelas kaca dingin itu dan meminumnya beberapa teguk. Rasa manis buah yang dingin mengalir di tenggorokannya, sedikit memberikan kesegaran pada tubuhnya yang letih.
Setelah dirasa cukup, Tina bangkit berdiri. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Bu. Terima kasih banyak untuk minumannya. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, Tin," sahut Ibu Ira mengantar Tina hingga ke pintu depan.
"Iya, Bu, mari."
Tina kembali menjejakkan kakinya di luar. Ia berjalan pulang menelusuri tepian jalan aspal desa yang terasa membara, memantulkan hawa panas langsung ke permukaan kulit wajahnya. Angin siang yang berembus tidak membawa kesegaran, melainkan rasa gerah yang lengket. Untuk menyiasatinya, Tina berjalan sedikit melipir, menjadikan deretan pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan sebagai naungan pelindung dari sengatan sang surya.
Pikirannya kembali melayang. Urusan dengan Pak David sudah selesai, namun iya tetap terbebani dan masih memikirkan nya.
Langkah kaki Tina membawanya hingga ke depan halaman rumah Ibu Yuna. Pandangan mata Tina secara otomatis melirik ke arah pekarangan bawah rumah panggung tersebut. Mobil SUV hitam mewah yang tadi pagi terparkir gagah di sana kini sudah tidak ada. *“Berarti orang kota itu sudah pergi dari rumah Ibu Yuna,”* batin Tina, ada rasa lega yang aneh sekaligus hampa yang menyergap hatinya.
Namun, tepat saat Tina hampir melewati batas pagar kayu rumah panggung itu, sebuah suara melengking yang sangat familier memecah lamunannya.
"Tina! Tunggu!"
Tina seketika menghentikan langkah kakinya di atas aspal. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat Ibu Yuna setengah berlari menuruni tangga kayu rumah panggungnya dengan wajah yang penuh dengan senyuman misterius.
"Eh, ada apa, Bu Yuna?" tanya Tina heran, memandangi tetangganya yang tampak begitu terburu-buru.
Tanpa memberikan penjelasan apa pun, Ibu Yuna langsung menyodorkan sebuah bingkisan kain berbentuk *totebag* kanvas yang tampak tebal dan berat ke hadapan Tina. "Ah, ini ambil!"
Tina menerima bingkisan itu dengan ragu, kedua tangannya menahan beban tas yang terasa padat. "Apa ini, Bu?"
"Ah, sudah, ambil saja! Jangan banyak tanya, jangan lupa dimakan ya!" seru Ibu Yuna dengan nada suara yang terdengar sangat riang, bahkan terkesan bersemangat.
Anehnya, belum sempat Tina membuka mulut untuk mengucapkan untaian kata terima kasih, Ibu Yuna sudah berbalik badan dan berlari kecil kembali menaiki tangga rumah panggungnya dengan tergesa-gesa, seolah-olah takut dikejar sesuatu.
"Terimaka... Bu!" kalimat Tina menggantung di udara. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap ke arah pintu atas rumah Ibu Yuna yang kini sudah tertutup. Tina benar-benar merasa heran dan bingung dengan tingkah laku tetangganya yang tidak biasa siang ini. Mengapa wanita paruh baya itu tampak begitu mencurigakan?
Di atas rumah panggung ukiran kayu mahalnya, Ibu Yuna berdiri di balik tirai jendela yang sedikit terbuka. Ia menyembunyikan tubuhnya sambil tersenyum-senyum sendiri, memandangi punggung Tina dari kejauhan yang mulai bergerak menjauh. Di dalam benak Ibu Yuna, ia merasa perannya sebagai makcomblang berjalan dengan sangat baik setelah obrolannya dengan Andry tadi pagi.
Tina menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Ia merapatkan pegangannya pada *totebag* pemberian Ibu Yuna dan melanjutkan beberapa meter lagi sisa langkah menuju rumahnya sendiri.
"Assalamu’alaikum," ucap Tina begitu memasuki pekarangan rumahnya yang berpagar miring.
"Wa’alaikumussalam. Tumben, Nak, kamu pulang telat hari ini?"
Suara serak yang sangat ia kenali menyambutnya. Pak Rahman rupanya sedang duduk di kursi teras rumah yang teduh, sedang membersihkan beberapa bilah bambu untuk memperbaiki kandang ayam di samping rumah.
Tina melangkah mendekat, menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan. "Iya, Bah. Tadi ada sedikit urusan dulu setelah pulang sekolah."
Mata tua Pak Rahman beralih dari pisau rautnya, menatap ke arah benda yang sejak tadi menggantung di tangan anak perempuannya. "Itu... apa yang kamu bawa, Nak?" tanya ayahnya sambil menunjuk *totebag* kain yang dipegang Tina.
Tina mengangkat tas itu sedikit, menatapnya dengan pandangan yang sama bingungnya. "Ina juga tidak tahu, Bah. Ini tadi mendadak dikasih sama Ibu Yuna waktu Ina lewat di depan rumahnya. Katanya jangan lupa dimakan." Tina menyodorkan tas itu ke atas meja kayu di dekat ayahnya. "Nih, Bah, taruh di sini dulu ya. Ina mau masuk ke dalam kamar dulu untuk ganti baju, gerah sekali."
"Oh, ya sudah, ganti baju sana. Biar Abah yang lihat isinya nanti," sahut Pak Rahman ramah.
Tina melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa pengap, meninggalkan tas misterius itu di teras. Di dalam kamar yang remang, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, memejamkan mata perlahan. Dunia di luar sana bergerak begitu cepat, mengayunkan takdirnya ke sana kemari, sementara di dalam rumah ini, waktu seolah berhenti dalam lingkaran kemiskinan dan tanggung jawab yang tak pernah usai. Namun siang ini, lewat penolakan pekerjaan dari Pak David dan bingkisan misterius dari Ibu Yuna, Tina tahu bahwa riak-riak perubahan itu kini sudah mulai mengetuk pintu rumahnya dengan lebih keras.