Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Benteng kecurigaan yang semula kokoh di mata Kaiden perlahan mulai retak. Sikapnya yang sejak awal penuh perhitungan kini tak lagi setegas tadi. Tatapannya masih tajam, namun tidak sekeras sebelumnya-seolah ia sedang menimbang sesuatu, seperti ingin percaya namun belum benar-benar yakin. Meski pengamatannya terhadap gadis di hadapannya belum berakhir, kewaspadaannya sedikit melonggar.
Siapa orang yang tidak tergiur mendengar nama Harrington?
Nama yang menjadi simbol kemegahan dan kuasa. Puncak dari piramida kekayaan, pemegang kendali tertinggi dalam peta ekonomi global.
Jangankan menjadi bagian dari keluarga inti, hanya menjadi mitra bisnis pun sudah cukup untuk membawa seseorang ke puncak kejayaan. Kekuasaan dan kekayaan yang mengiringi nama besar Harrington bukan sekadar legenda yang bergulir dari mulut ke mulut. Itu nyata. Hidup. Menancap kuat di akar setiap sektor ekonomi dunia.
Jadi, bisa dibayangkan betapa gemilangnya hidup seseorang jika berada dalam lingkaran dalam keluarga itu. Menjadi bagian dari nama besar itu bukan sekadar kehormatan. Itu adalah posisi yang bisa mengubah arah hidup, bahkan takdir.
Keheningan sempat melingkupi mereka. Seperti jeda napas sebelum badai datang. Tak ada kata yang perlu diucapkan. Kaiden masih menatap Alma dengan sorot yang sulit diartikan.
Lalu, suara dering ponsel memecah ketegangan. Tajam dan tiba-tiba. Berasal dari tas kecil bermerek milik Alma yang terletak rapi di atas meja. Suara itu menggema seperti alarm dari semesta.
Alma segera meraih tas itu, dengan gerakan tergesa namun tetap elegan, lalu menarik keluar ponselnya.
Ia menggulir layar, menerima panggilan.
Tak ada sapaan. Tak ada kalimat pembuka dari seberang. Hanya suara isakan. Panik. Terbata. Seperti dunia seseorang sedang runtuh.
Ekspresi Alma seketika berubah. Pupil matanya mengecil. Kedua alisnya berkerut, dan tubuhnya menegang.
"Ibu... jangan panik. Panggil ambulans sekarang juga. Alma akan segera menyusul ke rumah sakit."
Suaranya bergetar. Ia berusaha tetap tenang, namun suara parau di ujung kalimat mengkhianati perasaannya.
Panggilan terputus.
Alma diam sejenak, menunduk, seolah menata ulang pikirannya yang seketika kacau. Lalu perlahan ia menoleh ke Kaiden yang sejak tadi hanya menatapnya dengan ekspresi datar. Tak ada reaksi jelas dari lelaki itu, namun sorot matanya seakan mencatat setiap detik kejadian ini.
Ada keraguan di wajah Alma. Jelas. Ia seperti tak enak hati. Tapi keputusan harus diambil cepat, dan ia memilih untuk jujur.
"Maaf, sepertinya pertemuan kita kali ini harus berakhir di sini." Suaranya lembut namun terburu. "Aku harus pergi. Ada urusan mendesak. Maaf meninggalkanmu sendiri."
Ia segera berdiri. Tangannya meraih tas kecilnya, bersiap melangkah keluar dari restoran. Tapi sebelum sempat berbalik, suara Kaiden menghentikannya.
"Kemana?"
Suara itu membuat langkah Alma terhenti.
"Hah?" Ia menoleh. Bingung. Sorot matanya mencari-cari maksud dari pertanyaan itu. "Maksudmu...?"
"Kau mau ke mana?" Kaiden mengulang, kali ini nadanya lebih tegas, nyaris seperti perintah. "Aku bisa mengantarmu."
Sekilas, Alma mengira ia salah dengar. Kerutan di dahinya semakin dalam. Bibirnya terbuka, seakan ingin menjawab, tapi tak tahu harus mulai dari mana.
"Aku bisa sendiri, tidak apa-apa." jawabnya akhirnya, ragu-ragu.
Tapi Kaiden tetap menatapnya. Tenang "Tidak masalah"
Alma menatapnya, terpaku.
Kaiden berdiri perlahan. Memakai jaketnya lalu meraih kunci mobil di atas meja. "Jadi, kemana kita akan pergi?"
🥀🥀🥀
Alma berjalan cepat. Tidak. Dia berlari begitu kencang. Nafasnya memburu, langkahnya tergesa menyusuri koridor panjang rumah sakit. Setiap detik yang berlalu terasa seperti tikaman, seperti waktu sedang menertawakannya. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh para petugas medis atau pengunjung yang ia salip di lobi. Satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah satu nama. Fero.
Kaiden tertinggal jauh di belakang.
Dengan panik, Alma menyusuri lorong rumah sakit, jantungnya berdentum tak karuan, sampai akhirnya ia menemukan pintu bertuliskan Unit Gawat Darurat. Di sanalah dia melihatnya. Wanita paruh baya dengan pakaian sederhana, dikelilingi oleh beberapa anak berusia antara enam hingga sepuluh tahun. Wajah-wajah kecil itu menyiratkan kepanikan dan kesedihan yang dalam. Beberapa dari mereka masih terisak, tubuh mungil mereka gemetar dalam pelukan satu sama lain.
Raut kecemasan begitu jelas di wajah Hera, wanita paruh baya itu. Ia berusaha menenangkan anak-anak yang masih terguncang akibat kejadian tak terduga yang baru saja menimpa mereka. Tangannya mengelus punggung salah satu anak, sementara matanya terus menatap pintu ruang tindakan di dalam, seolah berharap kabar baik segera datang dari balik sana.
Alma langsung menerobos masuk ke tengah kerumunan itu, napasnya masih belum teratur.
"Ibu, apa yang terjadi? Kenapa Fero bisa sampai keracunan?" tanyanya dengan suara nyaris putus, matanya mencari jawaban, sementara pikirannya melayang pada kemungkinan terburuk.
Hera membuka mulut, ingin menjelaskan, namun sebelum satu kata pun meluncur, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun melangkah maju. Emily. Wajahnya sembab, matanya bengkak karena terlalu lama menangis. Meski suaranya bergetar dan sesekali terisak, dia berusaha bicara dengan jelas.
"Ini semua salah kami..." suaranya pelan, dipenuhi rasa bersalah. "Kak Alma pernah bilang untuk jangan memakan makanan sembarangan. Tapi tadi... saat kami semua pergi ke hutan di belakang panti asuhan... kami menemukan jamur. Jamurnya kelihatan cantik dan segar... warnanya ungu keunguan, bentuknya lucu."
Emily menunduk, menggenggam ujung bajunya erat-erat. "Semua orang tergoda. Kami pikir itu bisa dimakan. Karena cuma ada satu, kami rebutan. Fero yang mendapatkan duluan... dia makan, dan... dan... tiba-tiba tubuhnya kejang, mulutnya mengeluarkan busa, kami panik, Kak..."
Tangisnya pecah kembali, dan suara anak-anak lain ikut terdengar. Beberapa mulai menangis lagi, menyesali kejadian yang baru saja menimpa teman mereka. Suasana menjadi sesak, penuh dengan rasa bersalah dan kecemasan.
"Astaga..." Alma tertegun. Dunia seolah berhenti berputar sesaat. Bayangan Fero kecil yang selalu ceria, sekarang tergolek tak berdaya di dalam ruang UGD, membuat hatinya mencelos.
Emily menunduk makin dalam, tubuhnya gemetar hebat. "Aku minta maaf, Kak... Aku yang paling tua di antara kami... aku seharusnya bisa menjaga mereka..."
Permintaan maaf Emily disambut oleh suara-suara kecil lainnya yang juga terbata-bata meminta maaf. Mereka semua menyesal, benar-benar menyesal karena tidak menggubris nasihat Alma. Ketakutan dan penyesalan membungkus setiap kata mereka.
"Aku juga minta maaf, Alma." Hera akhirnya bersuara, suaranya serak. "Sebagai pengurus panti... aku seharusnya lebih memperhatikan mereka. Aku... lalai." Ia menunduk, matanya berkaca-kaca. "Anak-anak di panti memang tidak sedikit... tapi bukan alasan untukku mengabaikan keselamatan mereka."
Alma menatap wanita itu dalam-dalam. Lalu ia meraih tangan Hera dan menggenggamnya erat, penuh empati. Senyumnya tulus, hangat seperti selimut di musim dingin. "Ibu... semua yang terjadi di luar kehendak kita. Jangan menyalahkan diri sendiri. Tidak sekarang. Fokus kita saat ini adalah kesembuhan Fero. Itu yang paling penting."
Kemudian Alma menunduk menatap anak-anak satu per satu. Meski wajahnya masih tegang, nada bicaranya tetap lembut, penuh kasih seperti kakak sesungguhnya.
"Dan untuk kalian..." ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Kakak tidak marah. Kakak tahu... semua ini tidak disengaja. Tapi lain kali, Kakak ingin kalian lebih hati-hati lagi, lebih mendengarkan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, ya?"
Tak butuh waktu lama, tangis para anak-anak itu berubah menjadi pelukan. Mereka menghampiri Alma satu per satu, memeluknya erat, seolah mencari perlindungan. Beberapa bahkan menangis lebih keras karena merasa dimaafkan. Kehangatan Alma terasa seperti pelabuhan bagi mereka. Aman, sabar, dan mengerti.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Kaiden berdiri diam. Tubuhnya bersandar pada tembok putih yang dingin, namun matanya tak lepas mengamati semua yang terjadi.
Dari posisi itu, ia masih bisa mendengar percakapan mereka. Suara-suara kecil yang menyesal, dan respons Alma yang menenangkan. Setiap detik yang ia saksikan, menjadi jawaban dari banyak pertanyaannya selama ini.
Untuk ukuran putri dari keluarga konglomerat seperti Alma, dia benar-benar berbeda. Tak ada rasa risih, jijik, atau canggung sedikit pun saat berada di antara anak-anak panti yang lusuh dan kumal. Tidak ada. Yang ada justru kehangatan, perhatian yang begitu natural, seolah ia sudah menjadi bagian dari dunia mereka sejak lama.
Kaiden tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Mungkin keterkejutan. Mungkin rasa kagum. Atau keduanya sekaligus. Tapi yang jelas, gambaran tentang Alma di kepalanya retak. Ternyata, dia jauh lebih dari sekadar nama besar dan wajah cantik. Ada empati yang tak dibuat-buat, ada kasih yang nyata.
Tak ingin mengganggu momen itu, Kaiden akhirnya berbalik perlahan. Ia menarik napas dalam, berusaha menetralisir perasaannya yang sedikit bergejolak.
Dari saku jaketnya, ponsel yang sejak tadi bergetar akhirnya ia keluarkan. Layar menyala, menampilkan nama "Mom" berkali-kali. Tapi Kaiden hanya memandangi layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mematikan suara dan memasukkan kembali ke sakunya.
🥀🥀🥀
"Ya ampun… ke mana sebenarnya anak-anak itu?"
Caterina memandangi layar ponselnya yang kembali gelap, lalu dengan gerakan gelisah ia mencoba menghubungi Kaiden sekali lagi. Sudah lima kali panggilan tersambung, namun tidak satu pun dijawab. Bahkan nada sambung yang biasa terdengar kini hanya meninggalkan keheningan yang membuatnya semakin panik.
Betapa terkejutnya dia, saat dirinya dan Isabella keluar dari ruangan privat di restoran tadi, tak menemukan putra dan putri mereka yang semestinya masih duduk manis di meja yang telah mereka pesan.
"Isabella, bagaimana denganmu?" tanya Caterina, berusaha menenangkan diri, meski nadanya terdengar tergesa. Ia melirik ke arah sahabat lamanya yang tengah sibuk menelusuri layar ponsel.
"Dia tidak menjawab panggilanku…" sahut Isabella, terhenti sejenak. Matanya tetap terpaku pada layar, dan alisnya berkerut, mengisyaratkan kecemasan yang mulai tumbuh.
"Ada apa?" Caterina menangkap gelagat aneh itu. Hatinya mencelos, dan kecemasan yang sempat mereda kembali menyeruak.
"Kedua anak itu… sekarang mereka berada di rumah sakit."
"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Alma. Apakah dia terluka?" Caterina nyaris panik, desakan demi desakan keluar begitu saja dari bibirnya, menuntut kejelasan.
"Bukan, bukan Alma…" Isabella menatapnya, mencoba meredakan keresahan. "Ada seorang anak dari panti asuhan yang sering Alma kunjungi. Anak itu keracunan makanan. Alma buru-buru ke sana dan… Kaidenlah yang mengantarnya ke rumah sakit."
Caterina menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari jeratan bayangan terburuk dalam pikirannya. Ia benar-benar sempat membayangkan Alma terluka… dan bahwa pelakunya, secara tidak masuk akal adalah putranya sendiri. Tapi ternyata bukan. Alma baik-baik saja. Ia hanya pergi menolong orang lain.
Namun, butuh beberapa detik bagi Caterina untuk benar-benar memproses semua penjelasan Isabella. Matanya melebar perlahan saat kesadarannya merangkai kembali potongan informasi itu satu per satu.
"Tunggu…" suaranya terdengar ragu, nyaris terbata, "Maksudmu… Kaiden? Kaiden, putraku, yang mengantar Alma ke rumah sakit? Bukan orang lain?"
"Benar." Isabella mengangguk pelan. Ia pun tampak sedikit heran melihat perubahan ekspresi sahabatnya itu. "Alma mengirim pesan, katanya Kaiden yang mengantarnya langsung."
Caterina membeku sejenak, sebelum mendadak tertawa kecil, lalu semakin keras.
"Oh, Isabella! Ini keajaiban. Hahaha… sungguh ini keajaiban yang terjadi pada putraku."
Isabella mengernyit, benar-benar tak mengerti.
“Ada apa denganmu?” tanyanya heran. Sementara Caterina justru tampak begitu heboh sendirian.
Tentu saja ia senang. Tidak, lebih dari itu. Hatinya berdesir, bergetar oleh rasa syukur yang tak ia sangka. Orang-orang di luar sana tahu bagaimana dinginnya sikap Kaiden. Ia seperti gunung es yang menjulang tinggi. Dingin, jauh, dan tak tersentuh. Ia tak pernah peduli, bahkan kepada keluarga sendiri.
Namun kali ini… untuk pertama kalinya… Kaiden berinisiatif. Ia bergerak atas kemauannya sendiri. Ia mengantarkan seseorang dan bukan sembarang orang. Ini seorang gadis.
Seolah-olah, dinding yang selama ini tak bisa ditembus, mulai retak.
Ternyata, tidak sia-sia dia mempertemukan Kaiden dengan Alma.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?