Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Nara berdiri diam setelah dia turun dari taksi. Matanya menangkap sebuah plang besar bertuliskan APOTEK di hadapannya. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung berjalan masuk ke dalam sana.
"Permisi..." sapanya pelan pada apoteker. "Saya mau beli obat pelancar haid sama obat kb."
Wanita muda yang berjaga di apotek itu menyiapkan pesanannya. Nara membayar dengan terburu-buru, lalu memasukkan bungkusan obat itu ke dalam tasnya, seolah itu adalah barang berharga yang harus disembunyikan.
Nara keluar dari apotek, bernapas sedikit lega. Dia berniat segera mencari taksi lagi untuk pergi dari tempat itu secepat mungkin. Namun baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa langkah, sebuah tangan kuat mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar, menariknya paksa ke arah mobil hitam yang terparkir di sisi jalan.
Punggung Nara menghantam sisi mobil dengan keras. Napasnya tercekat saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Rendra.
Wajah pria itu gelap. Matanya memancarkan amarah yang luar biasa, napasnya memburu, dan rahangnya terkatup rapat hingga otot-otot wajahnya menegang.
"Ren... kamu ngapain di sini?!" Nara panik, berusaha melepaskan tangannya namun cengkeraman Rendra terlalu kuat. "Kamu... kamu mengikutiku?!"
"Jawab aku, Nara!!" bentak Rendra rendah, suaranya menggetarkan hati. Tangannya yang lain dengan kasar merogoh tas tangan Nara, menarik keluar bungkusan obat yang baru saja dibelinya itu.
Mata Rendra menyapu tulisan pada kemasan obat itu, dan setiap kata yang dibacanya membuat tatapannya semakin mengerikan.
Obat Pelancar Haid... Kontrasepsi Or@l...
"Jadi ini rencana kamu?!" Rendra berdecak marah, dia meremas kemasan obat itu hingga hancur di tangannya. "Kamu membeli ini semua karena kamu takut hamil? Kamu takut kalau anakku tumbuh di dalam perut kamu?!"
"Ren, lepaskan! Ini urusanku!" teriak Nara memberanikan diri, "Kamu pikir aku mau hamil di saat keadaan seperti ini?! Aku tidak mau punya anak yang tidak jelas ayahnya! Aku tidak mau punya anak hasil dosa!"
"DOSA?!"
Rendra mendorong tubuh Nara kembali ke sisi mobilnya, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Napasnya panas dan memburu.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi!" desis Rendra tajam. "Bagiku, anak dari kita itu adalah harapan, Nara! Bukan dosa! Itu bukti kalau kamu milikku sepenuhnya!"
"Tapi aku tidak mau!" bentak Nara, air mata mulai menetes di pipinya. "Aku takut, Ren! Kalau aku hamil sekarang, semuanya akan hancur! Aku minta kamu mengerti..."
"TAPI AKU TIDAK MAU MENGERTI!" potong Rendra keras. Matanya menatap tajam ke arah obat-obatan di tangannya, lalu dengan gerakan cepat dia melemparkan seluruh obat itu ke aspal hingga tablet-tablet itu berhamburan keluar, berserakan di aspal kotor, terinjak oleh sepatu Rendra hingga hancur berkeping-keping.
"JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MENGHALANGIKU, NARA!" bentak Rendra lagi tepat di depan wajah Nara, suaranya penuh ancaman dan posesif. "Kamu milikku, Nara. Tubuhmu, rahimmu, semuanya milikku. Kalau aku mau kamu hamil, kamu akan hamil. Dan tidak ada obat di dunia ini yang bisa menghentikan keinginanku!"
Nara gemetar, ketakutan melihat sisi gelap Rendra yang selama ini tersembunyi. Matanya menatap tajam Rendra, berusaha menunjukkan ketegasan meski tubuhnya gemetar tak berdaya di cengkeraman pria itu.
"Aku tidak ingin hamil anak siapapun!" ucap Nara lagi dengan tegas. "Kamu dengar dengan jelas kan, Ren?! Aku tidak mau! Tidak mau hamil anak kamu, tidak mau hamil anak Arga! Aku tidak mau punya anak dari kalian berdua!" suaranya bergetar hebat, campuran antara rasa takut, marah, dan keputusasaan yang memuncak.
Wajah Rendra berubah datar. Sangat datar. Tapi justru ketenangan itulah yang jauh lebih menakutkan daripada amarah yang meledak-ledak. Tatapannya meredup, berubah menjadi gelap dan dingin, seakan ada api yang padam dan berubah menjadi es yang membekukan.
Cengkeraman tangan Rendra di pergelangan tangan Nara semakin kuat, hingga terasa sakit dan membuat Nara meringis.
"Kamu bilang apa? Tidak mau anak siapapun?" suara Rendra pelan, serak, namun setiap katanya terdengar berat seperti batu karang. "Jadi kamu anggap hubungan kita selama ini apa? Hanya main-main? Hanya pelarian sesaat? Aku serius denganmu, Nara. Aku akan bertanggung jawab!"
"Ini bukan soal tanggung jawab!" Nara menangis, air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Ini soal hidupku! Papaku punya riwayat sakit jantung, jika dia mendengar Mas Arga berselingkuh saja mungkin dia tidak akan sanggup dan sakitnya akan kambuh, apalagi jika papa sampai tahu aku memiliki hubungan gelap denganmu!"
"Aku mohon mengertilah, Ren. Aku bisa kehilangan kalian berdua dari hidupku, tapi aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku jika sampai terjadi sesuatu dengan papaku," wajahnya tertunduk dalam-dalam, penuh dengan keputusasaan.
Rendra menatap Nara lama, lalu tiba-tiba menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam pelukannya yang erat. Dia menekan wajah Nara tepat di dada bidangnya, seakan ingin menyatukan getaran mereka berdua.
"Shhh... sudah. Sudah..." suara Rendra berubah drastis, kembali menjadi suara yang lembut, parau, dan penuh penyesalan. Tangannya mengusap punggung Nara naik turun dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku... maafkan aku ya..." bisik Rendra tepat di telinga Nara. "Aku kehilangan kendali. Aku takut kalau kamu benar-benar minum obat itu, kamu akan menjauh dariku. Aku takut kehilangan kamu, Nara."
Nara diam di dalam pelukannya, air matanya terus mengalir membasahi kemeja Rendra, tapi tubuhnya yang semula menolak perlahan mulai lemas. Rasa bencinya, rasa takutnya, bercampur menjadi satu dengan rasa nyaman yang aneh yang hanya bisa diberikan oleh pelukan pria ini.
"Kamu tahu kan betapa aku mencintaimu? Lebih dari siapapun," lanjut Rendra lembut, kali ini tangannya beralih mengusap pipi Nara dan mengusap air mata disana dengan ibu jarinya. "Aku tidak mau memaksamu, tapi aku juga tidak mau berbagi. Dan soal papa kamu, kita bicarakan pelan-pelan ya hubungan kita ini pada mereka."
"Aku tahu ini tidak mudah, Nara. Tapi percayalah padaku. Akan aku pastikan segalanya berjalan sesuai keinginan kita." Rendra mengecup kening Nara lama, menenangkan gejolak yang ada di dalam diri wanita itu.
Nara tak menjawab, tangannya perlahan melingkar di pinggang Rendra, mencengkram erat bagian belakang jas yang dikenakan oleh pria itu. Saat ini, dia benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Zoya duduk di dalam mobilnya dengan wajah bingung dan penasaran. Rendra yang biasanya dia kenal dingin dan susah didekati wanita, kini justru sedang berpelukan dengan seorang wanita di pinggiran jalan.
"Siapa wanita yang bersama Rendra itu? Apa aku kenal?"
-
-
-
Bersambung...