NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Lembaran Baru yang Sempurna

Setahun berlalu...

Suasana pagi di Andini’s Sanctuary terasa begitu hidup dan menenangkan. Pusat kreativitas dan pemberdayaan perempuan yang didirikan Farhan untuk Andini itu kini telah berkembang pesat. Puluhan perempuan dari berbagai latar belakang—mulai dari para ibu tunggal hingga remaja putri yang putus sekolah—tampak antusias mengikuti kelas pelatihan menjahit digital serta manajemen bisnis UMKM yang dibimbing langsung oleh tim dari Nadir Label.

Andini Larasati berdiri di balkon lantai dua, memandangi senyuman penuh harapan dari para perempuan di bawah sana. Penampilannya pagi ini tampak bersahaja, namun tetap memancarkan keanggunan seorang mentor sejati.

"Bu Andini," sebuah suara lembut memanggil dari arah belakang.

Andini menoleh dan mendapati Sarah yang sedang membawa berkas laporan tahunan, didampingi oleh Citra yang berjalan di sisinya.

"Semua draf kerja sama untuk program beasiswa desainer muda dengan kementerian sudah rampung, Ndin. Tinggal menunggu tanda tanganmu saja," ujar Citra dengan wajah cerah dan penuh kebanggaan. Sebagai sahabat yang setia menemani Andini sejak masa-masa sulitnya dulu, Citra merasa seolah sedang menyaksikan sebuah keajaiban yang nyata.

Andini menerima berkas tersebut lalu menandatanganinya dengan mantap. "Alhamdulillah. Terima kasih ya, Cit, Sarah. Tanpa bantuan kalian, tempat ini tidak akan mungkin bisa melangkah sejauh ini."

"Ini semua berkat kegigihanmu sendiri, Ndin. Kamulah yang menjadi inspirasi bagi mereka semua," sahut Citra tulus.

Sore harinya, Andini pulang ke kediaman mereka. Begitu melangkah masuk ke halaman, suara tawa melengking yang menggemaskan langsung menyambut pendengarannya.

Nadir kecil yang kini sudah berusia satu setengah tahun sedang berlari-lari kecil di atas rumput hijau taman belakang. Langkah kakinya yang masih agak limbung dikejar oleh Farhan yang rela merangkak di atas rumput demi menghibur putranya. Kehadiran Nadir benar-benar menjadi pelengkap kebahagiaan mereka, sekaligus bukti nyata dari berkah pernikahan yang penuh rida.

"Ayo, Nadir... tangkap Papa!" seru Farhan dengan tawa lepas yang jarang ia tunjukkan di depan rekan bisnisnya di kantor.

"Papa! Tangkap!" celoteh Nadir dengan bahasa bayinya yang lucu. Sedetik kemudian, tubuh mungilnya menubruk dada Farhan hingga mereka berdua terguling di atas rumput sambil tertawa bersama.

Andini berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tiang pendopo sembari melipat tangan di dada. Matanya menghangat menyaksikan pemandangan indah di depannya.

Farhan yang menyadari kehadiran istrinya langsung bangkit berdiri, menggendong Nadir di pundaknya, lalu melangkah menghampiri Andini. Pria itu mendaratkan kecupan lembut di kening Andini, sementara Nadir ikut-ikutan mencium pipi sang ibu dengan sisa-sisa air liurnya yang menggemaskan.

"Bagaimana acara di Sanctuary hari ini, Sayang?" tanya Farhan lembut sembari menuntun Andini untuk duduk bersama di bangku taman.

"Alhamdulillah lancar, Mas. Semua kelas penuh, dan draf kerja sama dengan kementerian sudah ditandatangani," jawab Andini sembari merapikan rambut Nadir yang sedikit berkeringat. "Oh ya, Mas... tadi siang aku tidak sengaja melihat berita di televisi saat di kantor."

Farhan mengernyitkan dahi. "Berita apa?"

Andini menarik napas pendek, tatapan matanya tenang tanpa menyimpan dendam sedikit pun. "Perusahaan properti milik keluarga mantan suamiku, Reno, dinyatakan pailit total oleh pengadilan. Sisa aset rumah mereka disita untuk melunasi utang bank, dan kabarnya... ibunya kini harus tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggiran kota karena semua fasilitas mewah mereka sudah habis."

Farhan terdiam sejenak mendengarnya. Ia mengusap jemari Andini dengan lembut. "Roda kehidupan selalu berputar, Ndin. Apa yang mereka tanam dulu dengan kesombongan, kini sedang mereka tuai hasilnya. Kamu... tidak merasa sedih atau ingin melihat mereka?"

Andini menggelengkan kepala perlahan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Farhan.

"Tidak, Mas. Hatiku sudah terlalu penuh dengan kebahagiaan yang kamu dan Nadir berikan, sampai tidak ada lagi ruang tersisa untuk mengingat masa lalu. Aku sudah memaafkan mereka demi ketenangan jiwaku sendiri, tapi urusan takdir mereka... biarlah menjadi ketetapan Allah," bisik Andini dengan sangat tulus.

Farhan mempererat rangkulannya, mengecup puncak hijab Andini dengan penuh takzim dan rasa syukur. Namun, keheningan sore itu seolah menjadi batas tenang sebelum sisa-sisa badai masa lalu kembali mencoba mengetuk pintu kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!