Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
"Aku tidak akan menunggu seperti barang pajangan, Bambang! Beritahu aku cara menuju ruang komando!"
Alicia melangkah keluar dari bunker melalui lorong rahasia yang biasa digunakan pelayan. Ia harus mendaki tangga darurat karena lift sudah mati total. Setiap langkah membuat perutnya mulas, namun ia terus menelan ludahnya, memaksa dirinya untuk tetap tegak.
Saat ia mencapai lantai dasar, pemandangan di depannya seperti set film kiamat. Castello di Pietra yang megah kini compang-camping. Patung-patung marmer hancur, dan gorden champagne yang ia banggakan kini terbakar.
Di ujung koridor, ia melihat dua pria berseragam tentara bayaran Moretti sedang mencoba mendobrak pintu ruang komando yang tertutup rapat oleh sistem keamanan otomatis.
"Dante ada di dalam," batin Alicia.
Sisi manja Alicia berbisik untuk lari dan bersembunyi, namun sisi "Vallo" yang baru terbentuk di dalam dirinya mengambil alih. Ia mengangkat pistolnya dengan tangan gemetar, teringat instruksi singkat yang pernah diberikan Dante saat mereka di kapal.
"Lepaskan... kunci pengamannya..." bisik Alicia.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan Alicia, tidak mengenai kepala mereka, ia bukan penembak jitu tapi satu peluru mengenai paha salah satu pria itu, dan tembakan lainnya menghantam dinding di dekat mereka, cukup untuk membuat mereka terkejut.
"Siapa itu?!" teriak salah satu tentara.
"Nyonya Vallo," ucap Alicia dengan suara yang bergetar namun lantang.
Sebelum mereka sempat membalas, sesosok bayangan melompat dari langit-langit yang runtuh. Itu Bambang. Dengan gerakan efisien seorang pembunuh profesional, ia menghabisi kedua pria itu dalam hitungan detik.
Bambang menoleh ke arah Alicia, matanya menyapu penampilan Alicia yang kotor dan compang-camping. "Kau seharusnya tetap di bawah, Alicia."
"Buka pintunya, Bambang! Dante di dalam!"
Bambang menggunakan kode akses darurat yang ia dapatkan dari Marcello. Pintu ruang komando terbuka pelan. Di dalamnya, ruangan itu dipenuhi asap dari sirkuit yang terbakar.
Dante tergeletak di lantai, kepalanya berdarah, dan kakinya tertindih oleh panel layar monitor raksasa yang jatuh akibat ledakan bom. Namun, tangannya masih memegang sebuah remot pemicu.
"Dante!" Alicia berlari, menjatuhkan dirinya di samping suaminya. Ia mengabaikan rasa sakit di lututnya saat berlutut di atas serpihan kaca.
Dante membuka matanya perlahan. Saat melihat wajah Alicia yang kotor oleh jelaga, ia tersenyum tipis sebuah senyum yang terlihat meremehkan maut. "Aku... aku bilang akan kembali, bukan?"
"Kau hampir mati, bodoh! Dan kau merusak jas kesukaanku karena darahmu ini!" Alicia menangis, namun tangannya dengan sigap membantu Bambang mengangkat panel berat yang menindih kaki Dante.
"Alicia... ambil remot itu," bisik Dante serak. "Protokol 'Scorched Earth' sudah siap. Jika aku menekan ini, seluruh akses logistik yang diinginkan ayahmu dan Moretti akan terhapus selamanya. Mereka tidak akan punya alasan lagi untuk mengejarmu."
"Jangan bicara seolah kau akan mati!" Alicia mencengkeram tangan Dante. "Bambang, bawa dia keluar dari sini!"
Di luar benteng, helikopter Moretti mulai mendarat untuk serangan final. Namun tiba-tiba, suara deru mesin jet tempur lain terdengar kali ini dengan kode identitas yang berbeda.
"Itu bantuan," ucap Bambang sambil menatap layar monitor yang masih menyala. "Surya Atmadja berhasil menekan pihak otoritas. Serangan udara itu tadi bukan untuk kita, tapi untuk menghancurkan barisan belakang Moretti."
Alicia mengambil remot di tangan Dante. Ia menatap layar yang menunjukkan musuh-musuhnya sedang kocar-kacir di bawah serangan udara baru.
"Dante, kau selalu bilang bahwa aku harus memilih," ucap Alicia. Ia tidak menekan tombol penghancur logistik. Sebaliknya, ia mengakses sistem komunikasi publik benteng yang masih aktif.
Suara Alicia menggema di seluruh lereng bukit Sisilia.
"Kepada klan Moretti dan siapa pun yang mendengarkan. Aku adalah Alicia Vallo. Suamiku masih hidup, dan ahli waris Vallo aman di rahimku. Jika kalian tidak pergi sekarang, aku tidak akan menghapus kode logistik ini. Aku akan memberikannya secara gratis kepada musuh-musuh kalian yang lain, dan membiarkan mereka menghancurkan kalian dari dalam."
Dante menatap istrinya dengan takjub. Ancaman itu lebih cerdas daripada sekadar ledakan. Ia menggunakan keserakahan dunia mafia untuk saling memakan satu sama lain.
"Kau benar-benar... bukan hanya sangat manja tapi juga sangat berbahaya," bisik Dante sebelum ia pingsan karena kehilangan darah.
Beberapa jam kemudian, tim medis pribadi yang dibawa oleh Marcello akhirnya berhasil mengamankan lokasi. Benteng itu hancur, namun posisi klan Vallo kini lebih kuat dari sebelumnya. Musuh-musuh mereka mundur karena takut akan ancaman "distribusi gratis" kode logistik yang diucapkan Alicia.
Alicia duduk di teras benteng yang masih utuh, sementara para perawat sibuk mengobati luka-lukanya. Dante sedang berada di ruang operasi darurat di lantai bawah.
Surya Atmadja turun dari helikopter bantuan, berlari menuju putrinya. "Alicia! Syukurlah kau selamat!"
Alicia menatap ayahnya. Ia tidak lagi memeluk ayahnya dengan manja. Ia berdiri dengan anggun, meski wajahnya masih kotor.
"Ayah," ucap Alicia dingin. "Terima kasih atas bantuannya. Tapi mulai sekarang, jangan pernah kirimkan tentara ke rumahku lagi. Dan pastikan Bambang mendapatkan pengampunan penuh atas jasanya."
Surya tertegun melihat perubahan putrinya. "Alicia, kau... kau ingin tetap di sini? Bersama monster itu?"
Alicia mengusap perutnya yang mulai terasa tenang. Mualnya telah hilang, digantikan oleh rasa lapar yang sangat spesifik.
"Dia mungkin monster untuk Ayah. Tapi dia adalah duniaku," Alicia tersenyum tipis. "Dan sekarang, bisakah seseorang membawakanku jus jeruk yang diperas manual? Aku tidak mau yang kemasan, rasanya seperti pengawet."
Surya tertawa kecil, merasa lega melihat sisi manja Alicia masih ada di sana.
Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Alicia, jauh lebih kuat dari aroma oli yang ia keluhkan tadi siang. Di depan ruang operasi yang lampunya masih menyala merah, Alicia duduk meringkuk di kursi kayu yang keras. Gaun tidurnya yang mahal kini robek di bagian bawah, ternoda debu dan bercak darah kering milik Dante.
"Nyonya, minumlah ini. Anda harus menjaga kondisi demi bayi Anda," Marcello mengulurkan sebotol air mineral. Wajah tangan kanan Dante itu tampak kuyu, lengannya diperban kasar.
Alicia menggeleng lemah. Matanya yang sembab tidak lepas dari pintu baja di depannya. "Marcello... bagaimana jika dia tidak bangun? Bagaimana jika peluru terakhir itu benar-benar menghentikan jantungnya?"
"Tuan Vallo adalah pria yang keras kepala, Nyonya. Dia tidak akan membiarkan maut mengambilnya begitu saja," jawab Marcello berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
Alicia mulai terisak lagi. tangisan yang terdengar sperti ketakutan yang murni.
"Aku tidak bisa melakukan ini sendirian, Marcello," bisik Alicia. "Aku baru berumur dua puluh tahunan. Aku baru saja menikah! Aku tidak mau menjadi janda muda yang harus memakai baju hitam seumur hidup seperti di film-film Italia lama! Dan anak ini..." ia menyentuh perutnya, "...dia akan lahir tanpa mengenal ayahnya yang sombong dan tampan itu."
Alicia membayangkan masa depannya, menggendong bayi di tengah kepungan musuh tanpa ada sosok Dante yang berdiri sebagai perisai. Ia membayangkan harus kembali ke Jakarta sebagai janda mafia, menjadi bahan gunjingan sosialita, atau lebih buruk lagi, diburu oleh faksi pemerintah yang dendam terhadapnya atau keluarganya.
"Aku akan terlihat sangat buruk dengan mata bengkak setiap hari," racau Alicia, otaknya mulai mencampurkan trauma dengan mekanisme pertahanan manjanya. "Dan siapa yang akan membelikanku bantal bulu angsa kutub utara jika dia tidak ada? Siapa yang akan menuruti semua keinginanku bahkan memerintahkan orang untuk mencari bubur ayam di tengah malam? Aku akan menjadi janda paling merana di dunia!"
Bambang, yang berdiri bersandar di dinding koridor, hanya menunduk. Ia belum pernah melihat Alicia sehancur ini di balik racauan-nya. "Dante hidup untukmu, Nyonya, Dia tidak akan mati hanya karena beberapa serpihan bom dan peluru."
Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu padam. Seorang dokter keluar dengan masker yang masih berlumuran darah. Alicia langsung berdiri, nyaris terjatuh jika Bambang tidak sigap menahannya.
"Dokter! Bagaimana suamiku?!" teriak Alicia histeris.
Dokter itu menghela napas panjang, melepas maskernya. "Operasinya sangat sulit. Kami harus mengeluarkan serpihan logam yang hanya berjarak beberapa milimeter dari tulang belakangnya. Dia kehilangan banyak darah."
"Lalu?!" Alicia mencengkeram jas putih dokter itu.
"Dia selamat. Tapi dia dalam kondisi koma induksi. Kita harus menunggu dua puluh empat jam ke depan untuk melihat apakah organ-organnya bisa berfungsi normal kembali."
Alicia lemas. Ia merosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Antara rasa lega yang luar biasa dan ketakutan akan ketidakpastian kondisi suaminya.
Malam itu, Alicia menolak dipindahkan ke kamar VIP. Ia meminta dipasangkan kursi malas tepat di samping tempat tidur Dante di ruang ICU. Ia menatap selang-selang yang masuk ke tubuh suaminya yang perkasa. Dante terlihat begitu rapuh, sangat berbeda dari pria yang biasanya memerintah dengan satu kerutan dahi.
"Dante," Alicia membisikkan kata-kata ke telinga suaminya sambil menggenggam tangannya yang dingin. "Dengar ya... kalau kau tidak bangun dalam sepuluh menit ke depan, aku akan menjual semua koleksi jam tangan mahalmu dan membelikan baju bayi yang warnanya paling kau benci, berwarna neon pink!"
Tidak ada jawaban. Alicia mencium punggung tangan Dante.
"Dan aku akan kembali ke Jakarta, menikahi pria paling membosankan yang bekerja di bank, dan menyuruh anakmu memanggilnya 'Papa'. Kau dengar itu?! Bangun, kau monster sombong! Jangan biarkan aku jadi janda!"
Tiba-tiba, jari Dante bergerak sedikit. Sangat pelan, namun Alicia merasakannya. Monitor jantung di samping tempat tidur mulai berbunyi lebih teratur.
Alicia tersenyum di tengah air matanya. "Bagus. Tetaplah takut padaku, Dante Vallo. Karena hidupmu sekarang bukan lagi milikmu, tapi milikku dan bayi ini."
Tiga hari kemudian, Dante akhirnya membuka mata sepenuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah Alicia yang sedang tidur terduduk di sampingnya dengan masker wajah menempel (ia tetap harus menjaga kecantikan meski berduka) dan sebuah piring berisi buah-buahan di pangkuannya.
"Alicia..." suara Dante sangat serak.
Alicia terbangun, masker wajahnya hampir copot. "Dante! Kau bangun!" ia ingin memeluknya, tapi takut menyakiti luka operasinya.
"Kau... benar-benar ingin memakaikan anakku baju neon pink?" tanya Dante dengan seringai lemah.
Alicia tertegun, lalu tertawa sambil menangis. "Kau mendengarnya? Bagus! Itu ancaman serius!"
"Kau tidak akan jadi janda, Alicia," Dante meraih tangan istrinya, meremasnya pelan. "Aku terlalu posesif untuk membiarkan pria mana pun mendekatimu."
Momen emosional itu ditutup dengan Alicia yang kembali ke mode manjanya. "Baguslah kalau kau sudah sadar. Sekarang, cepat sembuh. Bau rumah sakit ini merusak selera makanku, dan aku ingin segera pindah ke vila di Amalfi yang baru saja kupesan melalui Marcello saat kau tidur beberapa hari ini. Kita butuh suasana baru, Dante. Dan aku butuh shopping therapy untuk menyembuhkan traumaku!"
Dante hanya bisa memejamkan mata sambil tersenyum. Istrinya kembali normal, dan itu adalah tanda bahwa perang sesungguhnya, perang mengurus keinginan Alicia baru saja dimulai kembali.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣