Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita dibalik telpon
Di dalam kamarnya yang nyaman, Zea baru saja selesai mandi dan berganti baju santai. Ia melempar tubuhnya ke atas kasur, lalu langsung menekan nomor kontak sahabatnya sejak SMA, Mita.
Tuuut... tuuut... tuuut...
"Halo? Halo Zea? Wah aneh banget nelpon malam-malam gini. Ada apaan emangnya?" suara Mita terdengar dari seberang.
Zea langsung menarik napas panjang, lalu menghela napas kasar. Rasanya dadanya penuh sesak mau meledak kalau nggak cerita.
"Mit! Gue gila nih! Gue beneran gila! Lo tau nggak apa yang kejadian sama gue hari ini?!" serunya langsung tanpa basa-basi, suaranya setengah marah setengah panik.
"Lah kenapa emang? Kenapa suaranya panik gitu? Ada masalah kerjaan apa gimana?" tanya Mita kaget.
"Bukan masalah kerjaan Mit! Tapi masalah BOS GUE! Tau nggak sih?! CEO baru yang dateng itu... ITU BARA! KAK BARA YANG DULU ITU!" jawab Zea berapi-api.
JLEB!
Di seberang telepon terdengar suara jeritan kaget yang nyaring.
"HAH?! BARA?! YANG GANTENG, JUTEK, IDOLA SEKOLAH ITU?! SERIUS LO ZEA?! GILA AJA SIH NASIB KAYA FILM!" teriak Mita heboh setengah mati.
"IYALAH! Makanya gue kaget setengah mati! Dia jadi CEO di tempat gue kerja yang udah dua tahun ini! Dan yang paling parah... DIA NGANGKAT GUE JADI ASISTEN PRIBADINYA!" lanjut Zea kesal.
"WAH! BERARTI LO BAKAL DEKETAN TERUS DONG?! WAH REZEKI NOMOR 1 ITU MAH ZEA! DULU LO NGEJAR-NGEJAR, SEKARANG DIA YANG BAWA LO DEKET DIA!" seru Mita girang.
"EHH JANGAN BAPER DULU! Orang dia jail parah Mit! Dari tadi godain gue terus! Sengaja suruh lembur, terus ngomongin masa lalu terus!" potong Zea cepat.
"Terus dia ngomongin apa aja? Dia inget masa lalu lo?" tanya Mita penasaran.
"Ingetlah! Dia inget banget! Dia bilang dulu gue kayak bayangan dia! Tiap lewat depan kelas terus lari! Terus dia juga inget kalau dulu gue sering duduk di pinggir lapangan nonton dia main basket!" jawab Zea dengan nada kesal.
Mita terkekeh di telepon.
"Terus lo ngomong apa? Ngaku?"
"NGGAKLAH! Gue bantah mati-matian! Gue bilang itu kebetulan, gue lagi nunggu temen, panas dalam segala macem! Tapi ya ampun Ra... tatapan dia itu lho... tajem banget, bikin gue gemetar sendiri!" keluh Zea.
"Terus tadi dia ngantar pulang beneran?". Tanya Mita.
"IYALAH! Gue nolak berkali-kali tapi dia ngotot! Pas sampai sini juga dia turun! Dia ngawal gue sampai depan pintu! Dia bilang dia nggak bakal ngelepasin gue lari lagi kayak dulu!" cerita Zea panjang lebar.
Mita berteriak girang di telepon.
"YA AMPUN ROMANTIS BANGET SIH ZEA! DIA ITU SUKA LO DONG! DULU MUNGKIN DIA JUTEK JADI GENGSI, SEKARANG KAN UDAH BOS, JADI BERANI GITU!"
Zea mengacak-acak rambutnya sendiri frustrasi.
"Tapi gue bingung Mit... Dulu gue yang naksir dia, tapi sekarang kok rasanya aneh banget. Dia jadi lebih ganteng, lebih wibawa, tapi juga lebih maksa dan lebih jail! Gue tuh kesel tapi jantung gue berdegup kencang banget tiap dia deket!"
"Itu namanya baper Zea! Namanya juga jodoh, dipisahin bertahun-tahun malah disatuin di kantor! Lo harus manfaatin kesempatan ini! Jangan jutek terus nanti dia ilfil!" jawab Mita tegas.
"Ah mana bisa gue manis! Gue kan tipe yang keras kepala! Lagian gue gak mau kelihatan gampang banget didapetin! Biarin dia usaha dulu dikit!" desis Zea mendecakkan lidah.
"Haha dasar keras kepala! Ya udah pokoknya besok kabarin gue ya kelanjutannya! Gue dukung lo jadi Nyonya Bos! Bye!". Kata Mita.
Telepon pun terputus.
Zea meletakkan HP-nya di dada, menatap langit-langit kamar dengan wajah bingung campur senang.
"Nyonya Bos apanya sih... Tapi... kenapa ya gue jadi nggak sabar pengen ketemu dia lagi besok pagi?" batinnya meleleh.