NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: LATIHAN NERAKA DAN TEKNIS ROH BUMI

Malam itu, angin bertiup kencang membawa aroma hujan yang akan turun. Namun, di dalam rumah kayu sederhana itu, suasana terasa jauh lebih berat daripada badai di luar.

Setelah kepergian orang-orang dari Sekte Awan Hitam, Wu Ye tahu bahwa waktu mereka semakin sempit. Desa Kapas mungkin aman untuk beberapa bulan atau tahun ke depan, tapi tidak selamanya. Jika Chen Si tidak menjadi kuat sebelum musuh datang kembali, maka nasib mereka tidak akan berbeda dengan penduduk Desa Batu yang telah tiada.

"Si, kemarilah," panggil Wu Ye. Ia duduk bersila di atas alas bambu, di depannya terbentang sebuah gulungan perkamen kuno yang terbuat dari kulit binatang langka. Kertas itu berwarna kekuningan, namun tulisan di atasnya masih sangat jelas, berkilauan samar seolah ada energi yang mengalir di dalamnya.

Liu Si berjalan mendekat dengan langkah mantap. Matanya yang hitam pekat memancarkan tekad yang bulat. Insiden di pasar siang tadi telah membuka matanya lebar-lebar. Kekuatan adalah segalanya. Tanpa kekuatan, ia hanyalah mainan di tangan orang lain.

"Kakek, ajari aku. Aku siap belajar apa saja," kata Liu Si tegas.

Wu Ye mengangguk pelan. Ia menepuk tempat di sebelahnya. "Duduklah. Hari ini, kau tidak akan belajar tentang tanaman atau cara memukul pohon. Hari ini, kau akan memasuki dunia yang sesungguhnya. Dunia di mana manusia bisa menyaingi langit dan bumi."

Ia menunjuk gulungan perkamen itu.

"Ini adalah kitab warisan leluhur klan Chen, bernama 'Teknik Roh Bumi'. Ini bukan sekadar ilmu bela diri, ini adalah cara untuk menyerap energi alam semesta ke dalam tubuhmu, mengubah daging dan tulangmu, hingga kau bisa hidup lebih lama dan memiliki kekuatan yang menghancurkan gunung dan mengeringkan sungai."

Liu Si menatap gulungan itu dengan takjub. Ia bisa merasakan aura yang megah dan kuno memancar darinya.

"Teknik Roh Bumi dibagi menjadi sembilan tingkatan," jelas Wu Ye. "Setiap kali kau naik satu tingkatan, tubuh dan jiwamu akan bertransformasi. Tingkatan pertama disebut 'Pijakan Tanah'. Di tahap ini, kau harus membuat tubuhmu sekeras batu, dan napasmu sepanjang sungai."

"Bagaimana caranya, Kek?"

"Dengarkan baik-baik. Tutup matamu. Rasakan tanah di bawahmu. Tanah itu menopang segalanya. Ia menerima segala hal, ia tidak pernah mengeluh. Kau harus menyatu dengan tanah itu. Biarkan energi dingin dan stabil dari bumi merambat naik melalui telapak kakimu, masuk ke tulang kering, punggung, hingga sampai ke Dantian (pusat energi) di perut bawahmu."

Wu Ye meletakkan telapak tangannya di punggung Liu Si. Bzzzt!

Sebuah aliran energi hangat namun sangat padat mengalir masuk ke tubuh Liu Si.

"Fokus! Salurkan semua pikiranmu ke sana! Jangan biarkan pikiranmu melayang!"

Liu Si memejamkan mata erat-erat. Ia mencoba mengikuti instruksi Wu Ye. Awalnya, ia hanya merasakan lantai bambu yang keras. Namun perlahan-lahan, sensasinya berubah.

Ia mulai merasa seolah-olah kakinya menancap ke dalam tanah, menjadi akar pohon yang besar. Ia bisa merasakan getaran bumi, aliran air bawah tanah, bahkan detak jantung makhluk-makhluk kecil yang bersembunyi di dalam tanah.

Hummmm...

Suara dengungan halus terdengar di dalam kepalanya. Tiba-tiba, sebuah gelombang energi dingin yang luar biasa besar menyambar kakinya!

"Ugh!" Liu Si mendengus. Energi itu sangat dingin dan kasar, menusuk-nusuk pembuluh darahnya seperti jarum besi. Rasanya sakit sekali, seolah-olah tubuhnya akan pecah berkeping-keping.

"Tahan! Jangan menolak! Terima dan cairkan! Itu adalah esensi bumi! Ubah rasa sakit itu menjadi kekuatan!" teriak Wu Ye.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Liu Si. Pakaiannya basah kuyup dalam sekejap. Tulang-tulangnya berderit nyaring, seolah sedang dipukul palu godam. Proses ini memang menyiksa. Mengubah tubuh manusia biasa menjadi wadah energi spiritual tidak akan pernah mudah.

Jam demi jam berlalu. Malam semakin larut.

Hingga akhirnya, saat ayam jantan mulai berkokok menandakan datangnya fajar, Liu Si tiba-tiba menghembuskan napas panjang.

WUSH!

Sebuah gumpalan uap putih tebal keluar dari mulutnya, menembus atap rumah dan membentuk awan kecil di langit! Tubuhnya bersinar samar dengan cahaya warna kuning kecokelatan, warna elemen tanah.

Ia membuka matanya. Matanya kini lebih jernih dari sebelumnya, dan ada kilatan cahaya yang membuat siapa saja yang menatapnya akan merasa gentar.

"Tingkatan Pertama... Pijakan Tanah... berhasil," bisik Liu Si. Ia mengepalkan tangannya, dan terdengar suara ledakan kecil di udara. Ia merasa tubuhnya ringan seperti kapas, namun saat menginjak tanah, ia merasa seberat gunung.

Wu Ye tersenyum lebar, matanya berbinar bangga. "Bagus! Luar biasa! Bakatmu melebihi perkiraanku. Orang biasa butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai tahap ini, tapi kau hanya butuh semalam!"

 

Latihan Fisik dan Alkemi

Setelah berhasil membuka jalur energi dalam, latihan Liu Si menjadi dua kali lipat lebih berat.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia harus berlari mengelilingi desa sambil membawa dua batu besar masing-masing seberat lima puluh kilogram di kedua tangannya. Lari menanjak, lari menuruni bukit, hingga kakinya berdarah-darah.

"Kau adalah Alkemis, Si! Tapi ingat, jika tubuhmu lemah, sehebat apa pun ramuan yang kau buat, kau tidak akan punya kesempatan untuk menggunakannya!" teriak Wu Ye sambil melempar batu-batu kecil ke arah Liu Si untuk melatih kecepatan reaksinya.

Siang harinya, latihan beralih ke tangan.

Wu Ye membawa Liu Si ke sebuah gua tersembunyi di balik air terjun. Di sana, terdapat tungku pembakaran tanah liat kuno yang sudah disiapkan Wu Ye sejak lama.

"Hari ini kita tidak hanya mencampur daun kering. Kita akan belajar memurnikan bahan."

Wu Ye mengeluarkan sepotong bijih besi hitam yang kasar dan kotor.

"Lihat baik-baik. Api Alkemis tidak berasal dari kayu bakar, tapi dari energi dalam tubuhmu."

Wu Ye mengangkat tangannya. Wush! Api berwarna biru menyala di telapak tangannya. Ia memasukkan bijih besi itu ke dalam api. Dalam waktu singkat, kotoran dan batu yang tidak berguna meleleh dan terpisah, meninggalkan logam murni yang berkilau indah.

"Api ini bisa memurnikan logam, mematangkan ramuan, dan juga... membakar musuh menjadi abu," kata Wu Ye dingin. "Sekarang giliranmu."

Liu Si mengulurkan tangannya. Ia fokuskan pikirannya, menggerakkan energi Roh Bumi ke telapak tangan.

Prit... prit...

Awalnya hanya keluar percikan api kecil dan asap putih. Namun ia tidak menyerah. Ia ingat rasa sakit saat dipermalukan di pasar. Ia ingat wajah orang-orang bertopeng itu.

NYALA!

Dengan teriakan batin, energi di tubuhnya meledak keluar. BRUK! Api berwarna kuning keemasan menyala besar di tangannya! Api itu tidak panas membakar seperti api biasa, tapi hangat dan menenangkan, namun memiliki daya hancur yang luar biasa.

"Wah! Api Kuning! Itu adalah tanda api dengan kemurnian tinggi!" seru Wu Ye takjub. "Kau memang terlahir untuk menjadi Raja Alkemis!"

Dengan apinya sendiri, Liu Si mencoba memurnikan ramuan obat. Ia mengambil beberapa jenis akar tanaman, memisahkan racunnya, dan menggabungkan sari-sari murninya. Tangannya bergerak lincah, cepat dan presisi. Setiap gerakannya mengalir indah, seolah ia sedang menari.

Ia menyadari bahwa setiap bahan yang ia pegang, ia bisa 'mendengar' suaranya. Ia tahu kapan api harus dikecilkan, kapan harus ditambah. Instingnya bekerja sempurna.

 

Ujian Kecil

Tiga bulan berlalu dengan cepat. Di bawah latihan gaya militer Wu Ye, Liu Si berubah total.

Tubuhnya lebih tinggi dan berotot padat. Kulitnya tampak bersinar sehat. Jika dulu ia bisa memecahkan batu bata dengan satu pukulan, sekarang satu tendangannya bisa membuat pohon kelapa tumbang hingga ke akar.

Suatu sore, saat Liu Si sedang berlatih menebang pohon dengan tangan kosong di hutan dekat desa, tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

AUMMMMM!

Seekor harimau besar berbulu belang emas keluar dari semak-semak. Hewan itu bukan harimau biasa, ia adalah Harimau Hutan Dalam yang memiliki sedikit energi binatang buas. Matanya merah menatap Liu Si dengan lapar.

Biasanya, penduduk desa akan lari ketakutan atau mati diterkam. Tapi hari ini, berbeda.

Liu Si berhenti bergerak. Ia tidak lari. Ia bahkan tidak mengambil senjata. Ia hanya berdiri tegak, menatap balik harimau itu.

"Grrrr..." Harimau itu menggeram, bulu-bulunya berdiri, siap menerkam.

Namun, saat ia melihat mata Liu Si, harimau itu tiba-tiba ragu. Di mata pemuda itu, ia tidak melihat ketakutan. Yang ada hanyalah ketenangan yang mendalam, seperti lautan yang gelap.

"Apakah kau ingin menjadi makananku, atau aku yang memakanmu?" batin Liu Si.

Tiba-tiba Liu Si menghentakkan kakinya ke tanah.

BUM!

Gelombang energi dari teknik Roh Bumi menyebar. Tanah di sekitar mereka bergetar hebat.

"PERGI!" teriak Liu Si. Suaranya ditenun dengan energi, meledak seperti guntur.

Harimau besar itu ketakutan setengah mati. Ia menjerit ketakutan, membalikkan tubuhnya dan lari tunggang langgang menjauh, seolah-olah yang dihadapinya bukan manusia, tapi seekor naga kuno yang baru bangun tidur.

Liu Si tersenyum tipis. Ia merasakan kekuatan baru mengalir di nadinya.

"Aku semakin kuat..." bisiknya.

Namun, saat ia hendak pulang, ia melihat sesuatu yang aneh di tanah tempat harimau tadi berdiri. Ada sebuah jejak kaki yang sangat besar, bukan jejak kaki harimau, tapi jejak kaki manusia yang besarnya dua kali ukuran normal, dan kuku-kukunya panjang dan tajam seperti cakar binatang.

Jejak kaki itu mengarah ke arah Desa Kapas.

Wajah Liu Si berubah serius.

'Ada apa ini? Binatang apa yang memiliki jejak seperti itu? Apakah ada hubungannya dengan orang-orang bertopeng itu?'

Ia segera berlari kembali ke desa dengan kecepatan tinggi, meninggalkan angin berderak di belakangnya. Ia harus memberitahu Kakek Wu Ye. Sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!