“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi Besar yang Haus Kasih Sayang
Pintu kamar itu tertutup rapat setelah ditendang pelan oleh kaki Aditya. Suara riuh keluarga di luar sana seketika meredup, digantikan oleh kesunyian yang sarat akan ketegangan manis. Aroma parfum maskulin Aditya dan sisa wangi melati dari rambut Kinanti memenuhi ruangan kamar pengantin itu.
Aditya masih belum menurunkan Kinanti. Ia justru semakin mengeratkan gendongannya, menatap wajah istrinya yang nampak begitu cantik dan pasrah dalam dekapannya.
"Mas... turunin aku, berat," pinta Kinanti pelan, tangannya masih mengalungkan di leher kokoh Aditya.
Aditya tak mengindahkan. Baginya, tubuh Kinanti adalah candu yang tidak akan pernah terasa berat. Ia melangkah mantap menuju ranjang, lalu merebahkan tubuh istrinya dengan sangat lembut, seolah Kinanti adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.
"Sebentar, Sayang," bisik Aditya, suaranya berat dan serak karena hasrat yang sudah ia tahan sejak di meja makan tadi.
GLEK!
Kinanti menelan ludah dengan susah payah. Belum sempat ia bangkit untuk merapikan dress brokatnya, Aditya sudah menyusul, mengungkung tubuh moleknya dari atas.
"Ma-mas—" baru saja Kinanti ingin memanggil, napasnya tertahan.
"Wangi banget sih, Sayang," gumam Aditya. Wajahnya mendusel mesra di ceruk leher Kinanti, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil membuatnya pening. Pelukan itu semakin mengerat, membuat Kinanti bisa merasakan detak jantung Aditya yang berdegup kencang di balik kemeja putihnya.
"Ahh... ahh!!" Kinanti tersentak kaget. Matanya membulat saat tangan besar Aditya tiba-tiba bergerak sensual, meremas pelan aset berharganya yang terbungkus dress brokat.
"Mas! Jangan gitu..." omel Kinanti sambil menampar pelan punggung tangan Aditya. Wajahnya memerah padam, panas hingga ke telinga.
"Kenapa?" tanya Aditya mesra, menatap mata Kinanti dengan pandangan memuja.
"Malu, Mas..." cicit Kinanti pelan.
"Malu sama siapa? Kita sudah sah, Sayang," tanya Aditya dengan nada mesra yang penuh goda.
Perlahan, ketakutan Kinanti luruh. Ia menatap wajah tampan di hadapannya. Kemeja putih Aditya yang sedikit terbuka di bagian kerah membuatnya nampak begitu maskulin. Tangan Kinanti terangkat, membelai lembut rambut hitam legam suaminya, lalu turun menyentuh rahang tegas yang selalu ia kagumi diam-diam.
"Mas Adi ganteng banget ya," gumam Kinanti spontan, tanpa sadar menyuarakan isi hatinya.
DEG!
Aditya tertegun. Senyum kemenangan terukir di bibirnya. Ia merasa melayang hanya dengan pujian sederhana itu. "Oh ya? Karena Mas ganteng, kamu jadi mau nerima Mas?" goda Aditya sambil mendekatkan wajahnya ke leher Kinanti.
"Emmhh, bukan gitu..." jawab Kinanti malu-malu.
Aditya tersenyum miring. Ia menyukai reaksi malu-malu ini. "Kamu tahu? Mas lebih dari sekadar menyukaimu, Sayang!" bisiknya tepat di telinga Kinanti. *Bahkan Mas sudah gila karena menginginkanmu,* lanjutnya dalam hati.
CUP!
Tanpa aba-aba, Aditya mencium pipi Kinanti hingga nyaris menyentuh sudut bibir. Kinanti terpaku, napasnya memburu saat melihat wajah Aditya kembali mendekat. Hasrat yang terpancar dari mata tajam itu seolah memberikan perintah yang tak bisa ditolak.
Akhirnya, kedua bibir itu bertemu. Awalnya pelan, sebuah pagutan manis yang saling menyesuaikan, namun lama-kelamaan menjadi semakin menggebu. Kinanti kewalahan mengimbangi ciuman suaminya. Tangannya menjambak kecil rambut hitam Aditya, menyalurkan rasa aneh yang menggelitik perutnya.
"Emmmhh... muachhh..."
Bunyi kecupan dan decakan terdengar jelas di kamar itu. Aditya memiringkan wajahnya, memperdalam ciuman yang terasa begitu adiktif. "Manis, Sayang," bisiknya di sela-sela tautan mereka.
"Mmhh! Maass..." Merasa pasokan oksigen Kinanti mulai menipis, Aditya melepaskan pagutannya.
"Hah... Hahh..." napas Kinanti tersengal. Bibir ranumnya kini nampak sedikit membengkak dan merah merekah, membuat gairah Aditya kembali naik.
Untuk menyembunyikan rasa gugupnya karena aksi panas tadi, Kinanti segera memeluk erat leher Aditya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Aditya tersenyum dan menenggelamkan kepalanya di dada Kinanti, merasa sangat damai setelah perjuangan panjang mendapatkan gadis ini.
"Suka dielusin gini," celetuk Aditya saat merasakan jemari Kinanti bermain di rambutnya.
"Iya, aku elusin rambutnya ya," ucap Kinanti lembut. Ia membubuhkan kecupan di puncak kepala suaminya.
"Sayang, Mas ngantuk," lirih Aditya dengan suara manja yang kontras dengan tubuh kekarnya.
"Yaudah tidur, aku peluk." sahut Kinanti.
Pelukan Aditya terasa semakin posesif. "Tapi mau nen," gumamnya pelan.
"Ha?! Mas ngomong apa?" tanya Kinanti yang merasa salah dengar.
"Ndak jadi."
"Ngomong aja, Mas mau apa tadi?" paksa Kinanti penasaran.
Aditya mendongak dengan raut wajah memelas yang tak mungkin ditolak. "Mas mau nen, Sayang."
DEG!!
Tubuh Kinanti mendadak tegang. Permintaan yang luar biasa jujur itu membuatnya membeku. "Aku... aku ambilin susu kotak di kulkas ya?" tawar Kinanti berusaha mengalihkan.
"Ndak mau!" Aditya menggeleng manja seperti anak kecil. "Ini aja..." Tangannya kembali meremas lembut aset berharga Kinanti yang terbungkus rapi. "Nen, yaa?"
Menatap wajah suaminya yang nampak memelas seperti bayi besar kelaparan, Kinanti dibuat bimbang. Ingatannya kembali pada Abyan yang tadi mencoba merayunya. Mungkin Aditya sedang merasa sangat posesif.
"Sayang," lirih Aditya merayu.
"Em, aku... Mas, ini masih siang, malu kalau ada yang dengar," ucap Kinanti memberi pengertian.
"Kan di kamar, ndak ada yang bakal ganggu." Sahut Aditya.
"Tapi pintunya belum dikunci?" cicit Kinanti teringat sesuatu.
Aditya tersenyum miring. Ia segera bangkit, memastikan gerendel pintu terkunci rapat.
CEKLEK!
"Udah Mas kunci. Sekarang ndak ada alasan lagi, Mas mau nen!" ujar Aditya mutlak. "Buka! Mas mau nen, Sayang."
Kinanti menelan ludah. Dengan tangan gemetar, ia mulai menarik resleting dress brokatnya di bagian belakang. Aditya yang tak sabaran kembali menyambar bibir manis istrinya, menciumnya dalam sambil tangannya ikut membantu membuka pakaian itu.
"Mas pengen itu sekarang?" tanya Kinanti saat melihat mata Aditya yang sudah menggelap.
"Tidak sekarang. Mas tahu kamu lelah. Tapi Mas mau nen, Sayang. Boleh kan? Sudah sah loh ini," rengek Aditya lagi.
CUP!
Kinanti mengecup bibir suaminya sekilas. "Yaudah boleh, nen aja ya. Tapi habis itu tidur, TIdak boleh aneh-aneh loh Mas."
Aditya langsung tersenyum senang. Ia lekas menggulingkan badan kekarnya di samping Kinanti yang kini sudah melepaskan pakaian bagian atasnya.
"Bentar dong mas Mas, Tidak sabaran banget," omel Kinanti malu-malu.
"Copot aja toh sekalian biar lega," seloroh Aditya santai, membuat Kinanti melotot sewot.
Begitu aset berharganya terbebas, Aditya segera merapat.
MBUL!
"Ahh! Mass ahh!"
Kejadiannya secepat itu. Aditya menjawil ujung mungil berwarna pink di tengah gunung kembar istrinya. "Udah ndak sabar, lucunya Sayang," bisiknya sebelum mulutnya menyambar aset Kinanti dengan rakus.
"Mas Adiiihhh..." Kinanti mendesah pasrah. Sensasi hisapan yang intens dan jentikan lidah Aditya membuat kakinya melingkar di pinggang suaminya. Ia membiarkan suaminya menikmati jatah nyusunya sampai pria itu nampak mulai tenang dan terlelap.
Dengan kaki yang membelit kaki istrinya, Aditya mendekap pinggang Kinanti dengan sangat posesif.
"Jangan digigit, Masshh..."
PLOP!
Aditya melepaskan sejenak. "Bobok siang sama Mas ya? Sambil nen, Sayang."
"He'em boleh, udah bobok ya," jawab Kinanti lembut.
Kinanti memandangi wajah tampan itu dalam diam. Aditya saat tertidur seperti ini nampak sangat damai dan menggemaskan. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia benar-benar sudah menjadi milik Aditya Sakti Wijaya seutuhnya.
CUP!
Kinanti mencium lembut kening suaminya sebelum akhirnya ikut menyusul ke alam mimpi.
Bersambung__
---