Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^19
Walau mengukir kisah bahagian sangat membebani benak, karena pilihan paling berisiko adalah bertahan dengan seseorang yang hanya melihatnya dengan sorot mata tidak suka.
Dan lebih parahnya lagi, sosok gadis kecil yang terlahir dari rahimnya pun mulai mengeluarkan kalimat-kalimat sarkas yang tidak seharusnya gadis itu lontarkan saat bersama ibunya sendiri.
"Bisakah kau menjaga ucapanmu saat berada didalam rumah?" Penuh penekanan Diandra mengatakannya saat berada di dalam kamar putrinya.
"Tidak seharusnya ibu menarikku seperti ini. Ayah akan memarahi ibu jika melihat perlakukan buruk ibu padaku." Kesal Yuna, dengan kedua mata yang sedikit melotot.
"Kau membantah?" Sungguh Diandra tidak menyangka akan sikap Yuna yang semakin hari semakin berani melawannya.
"Aku hanya memberi jawaban. Jika aku diam, ibu juga akan menyuruhku untuk bicara." Sebenarnya Yuna tidak merasa kesal terhadap Diandra. Hanya saja sebuah kejadian yang tidak ingin Yuna lihat dengan senang terpampang begitu jelas dikedua matanya tadi.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini?" Seru Diandra yang masih belum mengerti dengan putrinya sendiri.
"Apa belajar membuamu lelah?" Imbuh Diandra.
"Oh, jika ibu tahu belajar membuaku lelah. Kenapa ibu selalu menyuruhku untuk belajar? Karena hal itu aku kehilangan apa yang aku punya." Semakin meninggikan suaranya, yang membuat pria dewasa di lantai bawah sanggup mendengar seruan dari Yuna. Walau itu tidak begitu jelas di pendengarannya.
Diam sejenak, menatap Yuna dengan sorot mata yang masih sama. Heran, tidak menyangka. "Kau, kehilangan apa?" Rendah Diandra, sekilas menunjuk Anna dengan dagunya.
"Jika aku mengatakannya, apa yang akan ibu lakukan?"
Suara ketukan yang membuat Diandra menoleh ke arah pintu, langsung mendapati sosok pria dewasa penuh ke dermawan itu. Tapi tidak dengan Yuna, yang memilih melepas tas punggungnya. Kini di letakkan di kursi belajarnya, sebelum berjalan ke arah kamar mandi berada. Karena begitu malas jika berdebat dengan ayahnya. Apalagi suasana hatinya saat ini benar-benar buruk.
Sebentar melihat pintu kamar mandi yang baru saja Anna tutup, sebelum mencetuskan perkataanya kepada Diandra. "Apa yang kau bicarakan dengannya? Hingga dia beteriak seperti di dalam hutan. Kau tahu, jika ibuku ada di rumah ini? Jika dia sampai mendengar cucunya beteriak seperti itu, dia akan menyalahkanmu."
"I-ibu ada disini?" Tanya Diandra dengan khawatir.
"Kau tidak membaca pesan dari ku?" Tidak begitu cepat sang pria balik bertanya.
"Itu_"
"Aku bisa memaklumi mu malam ini karena ibu ada disini. Apalagi kau membawa-bawa Yuna akan kebohonganmu." Diam sejenak, sebentar menunjuk Diandra dengan jari telunjuknya. "Jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan tinggal diam."
Diandra terseyum kecil tapi sangat masam. "Jika aku mengatakannya dengan jujur, kau tidak akan pernah mengijinkan ku keluar rumah. Karena kau begitu takut aku membuat ulah. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun."
"Memangnya apa gang kau lakukan di luar rumah?" Tanya sang pria yang berusaha untuk tidak membuat keributan.
"Aku harus menemui ibumu untuk menyapanya. Karena aku tidak ingin dia merendahkan ku sebagai menantunya. Padahal dia sendiri gang memaksaku untuk menerima pernikahan itu." Sangat pelan, tapi terselip penekanan di setiap kata yang terlontar.
Enyah dari hadapan sang pria, dengan perasaan yang begitu kesal. Kenapa suaminya tidak bisa berada di pihaknya sekali saja? Dan kenapa suaminya selalu mengijinkan wanita tua itu berada di rumahnya? Apa hanya ada suaminya saja yang menjadi anak wanita tua itu? Kenapa harus suaminya?
...ʚɞ...
Satu tamparan keras mendarat begitu saja pada pipi mulus milik sang gadis yang hanya bisa diam menahan rasa perih dan air matanya, agar tidak keluar. Karena itu akan semakin membuat orang dihadapannya murka.
"Kau berada di posisi kelima, dan kau malah menyia-nyiakan waktu belajarmu. Apa kau sudah kehilangan kewarasan mu?" Lontar sang wanita setengah paruh baya yang menatap putrinya dengan napas memburu.
"Tidak hanya satu kali kau bolos dalam belajar tambahan yang di berikan pihak sekolah. Dan untuk saat ini ibu masih bisa memaklumi itu. Tapi, kau terus saja menyepelekannya." Diam sejenak untuk mengatur napasnya. "Jika kau tidak bisa mendengar apa yang ibu katakan, ibu akan mengiri mu. Agar kau tahu, hidup dengan ayahmu itu jauh lebih menderita."
"Kau tidak menjawab?" Desak sang wanita.
"Iya, aku akan menuruti apa yang ibu katakan." Rendah sang gadis yang terlihat sangat terpaksa memberi jawaban seperti itu.
Kepala wanita itu mengangguk kecil, dengan pandangan melihat sekitar. Walau sesaat. Sebelum membuka suaranya kembali. "Jangan pernah kau datang ketempat itu lagi. Dan mulailah fokus pada pendidikan mu. Karena ibu tidak ingin mereka meremehkanmu."
"Satu lagi, kau harus bisa menggeser gadis beasiswa itu. Lakukan apapun yang membuatnya jera, dan memberikan peringkat itu padamu. Jikapun, namamu tidak berada di posisi pertama. setidaknya, kau masih bisa masuk ketiga besar. Kau mengerti?"
"Beri aku alasan, kenapa ibu sangat terobsesi pada nilaiku?" Tanya sang gadis. Menutup sebentar mulutnya untuk menelan ludah getirnya.
"Bukankah hidupku akan baik-baik saja tanpa harus mendapat nilai yang sempurna?" Sambung sang gadis. Dia, Austyn.
"Harga diri." Padat dan sangat jelas, dua kata tercetus dari mulut sang wanita.
"Harga diri? hidupku tidak akan jatuh dengan nilaiku yang buruk. Toh, mau bagaimanapun aku juga akan tetap menjadi pemegang utama perusahaan yang ayah kelola." Papar Austyn. Merasa lelah dengan sikap ibunya yang terus saja mendesak dirinya agar mendapat nilai sempurna.
"Kau tahu, jika perusahaan itu bukan milik ayahmu seutuhnya." Sedikit penekanan wanita itu melontarkannya.
"Apa?" Gumam Austyn secara spontan.
"Jika kau ingin mengambil hak perusahaan itu, dapatkan nilai yang bagus, agar pria tua itu melihat ke arah mu." Menahan suaranya agar tidak meninggi. Karena wanita itu juga merasa lelah jika harus berdebat dengan Austyn seperti ini.
"Jika kau tidak bisa melakukannya, ibu ataupun ayahmu tidak akan sanggup membantumu untuk mengambil alih perusahaan itu. Karena, sepupu sialan mu itu jauh lebih unggul darimu." Tambahnya dengan senyum miris.
Diam sejenak, sebelum memberi tanggapan. "Dia tidak akan bisa mengambilnya dariku, karena paman tidak pernah sekalipun membantu mengelola perusahaan kakek. Bagaimana ceritanya dia menjadi alih waris kakek? Itu tida masuk akal sama sekali." Kesal Austyn, yang mulai terpengaruh dengan ibunya sendiri.
"Benar, itu tidak masuk akal sama sekali. Jadi, kau harus merebut posisinya. Agar kau tidak menyesalinya nanti." Sang wanita terus saja memberi pengaruh negatif pada Austyn. Tanpa peduli jika hal itu akan menjadikan Austyn seperti monster.