Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
Amelia tidak menyangka akan bertemu dengan Andrew dan Emma lagi, terutama di pesta pernikahannya. Amelia tidak merasa mengundang mereka walaupun dua orang itu masih punya hubungan keluarga dengannya. Andrew merupakan adik laki-laki ibu Amelia dan Emma adalah istri Andrew.
Namun, Amelia sudah lama tidak berhubungan dengan Andrew, bahkan hubungan mereka sudah buruk sebelum kedua orangtua Amelia meninggal. Hubungan Andrea, Ibu Amelia, dengan Andrew memang tidak terlalu baik, terutama setelah orangtua mereka meninggal. Keduanya bersitegang karena masalah pembagian harta. Andrew mendapatkan kebun tomat seluas satu hektar beserta pabrik saos tomat, sedangkan Andrea mendapatkan sebuah rumah yang kini ditempati Amelia.
Pembagian warisan yang tidak adil itu membuat Andrea kesal, dan menjadi lebih marah ketika Andrew menjual kebun dan pabrik. Andrea berhenti berhubungan dengan Andrew setelahnya, dan Amelia tidak pernah melihat pamannya itu hingga pemakaman orangtuanya.
Alih-alih datang untuk berbela sungkawa, Andrew justru meminta rumah yang Amelia tinggali dijual kemudian uang penjualannya harus dibagi dua. Tentu saja, Amelia tidak menyetujuinya dan berhasil mengusir Andrew.
Sudah bertahun-tahun semenjak kejadian itu, dan Amelia hampir melupakan keberadaan Andrew hingga sekarang pria itu muncul di depannya.
Simon yang menyadari Amelia menegang, menepuk bahu Amelia, mengingatkan bahwa Amelia tidak sendirian.
“Amelia, kau terlihat kaget melihat kami datang,” Andrew kembali bersuara. “Tentu saja, kaget, karena kau tidak mengundang kami.”
Wajah Amelia memucat. Untung saja, Simon membuka mulut sebab Amelia tidak tahu harus berkata apa.
“Dan Anda adalah?” tanya Simon.
“Perkenalkan, saya Andrew, adik dari ibunya Amelia,” jawab Andrew. “Seorang paman yang tidak diundang ke pernikahan keponakannya sendiri.” Andrew mengatakan dengan penuh penekanan bahwa dirinya tidak diundang. Namun, tetap berinisiatif datang.
“Pasti ada alasan mengapa Amelia tidak mengundang Anda,” sahut Simon, memberikan pembelaan pada Amelia.
“Kurasa dia lupa.” Tatapan Andrew begitu tajam pada Amelia, mengisyaratkan agar Amelia mengiyakan alasan yang diberikan pria itu.
Namun, Amelia tidak berniat seperti itu, ia akan mengakui dengan jelas bahwa Andrew memang tidak diterima di pesta hari ini. “Aku memang tidak mengundang Paman,” sahutnya.
Andrew terdiam sesaat, kaget dengan jawaban Amelia. Namun, pria itu dengan mudah mengendalikan diri, dan kembali berkata, “Aku mengerti kenapa kau tidak mengundangku, Amelia. Kau pasti malu karena menikah dengan pria yang jauh lebih tua.” Andrew melirik Simon, mengira Simon adalah suami Amelia. “Tenang saja, aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku mengerti dengan kondisimu sekarang, menikah karena uang memang pilihan terbaik. Apalagi ada anak yang harus dibiayai.”
Amelia mengerjap beberapa kali, ia ingin tertawa, tapi berusaha ditahannya tawa itu. Kesalahpahaman Andrew memang cukup menggelikan. Akan tetapi, rasa geli itu hanya bertahan, karena kalimat berikutnya membuat Amelia naik pitam.
“Karena kau sudah menikah dengan orang kaya, aku rasa kau bisa memberikan bagianku atas rumah yang kau tinggali itu.”
Jemari Amelia mencengkeram erat buket bunga di tangan. Ingin dipukulnya wajah Andrew dengan buket bunga. Alih-alih melakukan niatnya, Amelia membalas dengan nada dingin, “Paman sama sekali tidak berhak atas rumah itu.”
Andrew berdecak. “Rumah itu adalah milik orangtuaku, jadi aku memiliki hak atas rumah itu setelah mereka meninggal. Paling tidak separuh dari rumah itu adalah milikku.”
“Rumah itu adalah milikku, warisan dari ibuku,” sahut Amelia.
“Kau bisa memilikinya,” kata Andrew. “Hanya perlu membayar separuh harga rumah itu padaku.”
Amelia berusaha menahan diri agar tidak berteriak pada Andrew. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab. “Tidak, aku tidak akan membayarmu, karena kau tidak berhak.”
“Tentu kau tidak akan membayarku, karena kau tidak punya uang.”
Andai tidak ada banyak tamu, Amelia pasti sudah menendang Andrew keluar.
“Tapi suamimu punya.” Andrew beralih pada Simon, mengambil satu langkah mendekat dan berkata, “Kau tentu tidak keberatan membayar hutang Amelia padaku, kan?”
Simon menoleh pada Amelia. “Apa kau berhutang padanya?”
“Tidak. Tidak ada hutang sedikit pun. Rumah yang kutempati adalah warisan ibuku dari orangtunya. Sedangkan orang ini,” Amelia menunjuk Adrew dengan dagunya, “Sudah mewarisi kebun dan pabrik, yang tidak bisa dijaganya dengan baik sehingga sudah habis terjual. Jadi, apa yang dikatakannya adalah bohong. Dia tidak punya hak atas rumahku dan aku tidak punya hutang padanya.”
“Nah, kalau Amelia berkata demikian, maka tidak ada yang bisa kita bicarakan,” ujar Simon. “Kami tidak menerima kalian sebagai tamu. Jadi, sebaiknya kalian segera pergi sebelum kupanggil petugas keamanan.”
“Kalian tidak bisa mengusir kami begitu saja!” Andrew bersuara nyaring, menarik perhatian banyak tamu. Caelan juga melihat kejadian itu dan langsung menghampiri. Tepat saat Andrew berteriak, Caelan sudah ada di sisi Amelia.
“Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan uangku!”
Caelan menatapa Andrew sekilas, lalu bertanya pada Amelia, “Apa yang terjadi?”
Amelia tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Ia kebingungan sementara Andrew kembali berteriak, membuat keadaan makin kacau.
“Orang ini pamannya Amelia,” kata Simon. “Dia datang untuk meminta uang.”
“Dan kau tidak memberikannya, padahal yang kuminta bukan jumlah besar,” sahut Andrew. Pria itu bicara pada Simon, karena masih beranggapan Simon lah suami Amelia. “Kau tentunya tahu kalau memperistri wanita yang jauh lebih muda harus mengeluarkan banyak uang. Anggap saja, kau memberi mahar kepada keluarga istrimu.” Tangan Andrew terulur untuk menyentuh kerah jas Simon, tapi langsung ditepis Caelan.
Amelia bergerak meraih lengan Andrew. “Paman.” Amelia menarik lengan Andrew agar menjauh. “Kita bicara di tempat lain.” Amelia tidak ingin Andrew makin merusak suasana sehingga berinisiatif membawa Andrew menjauh.
“Tidak perlu bicara dengannya,” ujar Caelan. Pria itu memberi isyarat pada dua orang pria bagian dari EO untuk mendekat. “Bawa dua orang ini pergi dari sini.”
“Kalian tidak bisa mengusir kami!” Emma yang dari tadi diam, kini memprotes.
“Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan yang kuinginkan!” Andrew dan Emma berusaha memberontak ketika ditarik ke arah luar, tapi keduanya tidak bisa banyak melakukan perlawanan. Sebab beberapa staf EO datang membantu mengusir Andrew dan Emma.
Teriakan Andrew dan Emma terdengar selama beberapa menit, kemudian tidak lagi terdengar. Keduanya sudah dikeluarkan dari tempat acara. Dengan adanya staf EO yang berjaga di luar, dua orang pengganggu itu tidak bisa kembali ke tempat acara lagi.
“Kau baik-baik saja?” tanya Caelan pada Amelia.
Amelia menggeleng. Masih terkejut dengan kejadian tadi. “Maaf,” ucapnya.
“Bukan salahmu,” ujar Caelan sambil membimbing Amelia untuk duduk dan memberinya segelas air putih. Sementara Simon menenangkan para tamu.
“Dia pamanku, Andrew, adik ibuku. Sudah sejak lama hubungan kami buruk, makanya aku tidak mengundangnya. Aku tidak tahu dari mana dia tahu tentang pernikahan kita,” Amelia menjelaskan setelah meneguk setengah isi gelas yang disodorkan Caelan. “Aku benar-benar minta maaf, kedatangannya mengacaukan pesta dan membuat kalian malu.”
“Tidak, bukan salahmu,” ujar Caelan. “Dia tidak akan bisa masuk lagi. Sudah ada yang berjaga di luar.”
“Dia pasti akan datang lagi,” kata Amelia. “Dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan uang.” Amelia khawatir Andrew akan datang lagi untuk meminta uang.
“Jangan khawatir, aku akan mengurusnya,” ujar Caelan menenangkan Amelia.
“Tapi, bagaimana kau akan mengurusnya? Kau akan memberinya uang?” tanya Amelia. “Jangan. Kau tidak boleh memberinya sepeser pun. Dia tidak berhak.”
“Tenang, Sayang. Dia tidak akan mendapatkan apa yang bukan haknya,” ucap Caelan. “Sekarang, tenangkan dirimu. Masih banyak tamu yang harus kita sapa.”