"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan Para Pecundang
Lampu sorot helikopter klan Wijaya masih membelah kegelapan Jakarta Timur saat tubuh Arka diangkat masuk ke dalam kabin medis. Clarissa duduk di sampingnya, jemarinya yang gemetar tak sedetik pun melepas genggaman dari tangan Arka yang masih terasa panas seperti besi yang baru ditempa. Di luar sana, sisa-sisa pertarungan melawan Ki Ageng meninggalkan kawah menganga di aspal, bukti bahwa seorang pemuda yang dianggap "sampah" baru saja menumbangkan salah satu pilar kekuatan kota ini.
Arka tidak benar-benar pingsan. Dia hanya sedang tersesat di dalam labirin kesadarannya sendiri. Di balik kelopak matanya yang terpejam, Mata Sakti itu terus berdenyut, memproses sisa-sisa ingatan Ki Ageng yang ia serap secara paksa. Ia melihat pengkhianatan, ia melihat bagaimana Konsorsium Pusat menumpuk kekayaan di atas gunung mayat, dan ia melihat satu wajah yang paling ia benci: Kakeknya sendiri, berdiri di sebuah menara tinggi, menatap dunia seperti pion catur.
"Tuan Muda, denyut nadinya tidak stabil! Energi di meridiannya terlalu liar!" teriak salah satu petugas medis klan Wijaya.
"Diam dan teruskan tugasmu!" Clarissa membentak, matanya merah karena tangis dan amarah. "Jika terjadi sesuatu padanya, aku pastikan lisensi medis kalian dibakar bersama seluruh rumah sakit kalian!"
Hitam, bukan pula emas. Hanya ada gumpalan kabut merah yang menyala sesaat sebelum perlahan kembali normal. Ia mencengkeram lengan Clarissa, membuat gadis itu meringis.
"Jangan ke rumah sakit," bisik Arka, suaranya serak seperti gesekan amplas. "Bawa aku ke Gedung Pilar. Sekarang."
"Tapi Arka, tubuhmu—"
"Bawa aku ke sana, Clarissa! Aku ingin melihat wajah-wajah ketakutan mereka sebelum fajar tiba."
Gedung Konsorsium Pusat berdiri angkuh di jantung Jakarta, sebuah menara kaca 100 lantai yang melambangkan dominasi ekonomi dan politik. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang dikenal sebagai Aula Tujuh Pilar, suasana mencekam terasa begitu kental.
Lima orang tetua dari berbagai klan besar duduk di kursi tinggi mereka yang terbuat dari kayu jati berukir emas. Nyai Ratih dan Ki Sadewa sudah ada di sana, wajah mereka masih pucat meski mencoba tampil tenang.
"Ki Ageng tewas. Oleh seorang bocah yang bahkan belum genap setahun berkultivasi," suara berat datang dari kursi tengah. Itu adalah Tuan Liem, pemimpin pilar pertama yang pengaruhnya mengakar hingga ke kursi pemerintahan. "Ini bukan lagi masalah keluarga Wijaya. Ini adalah ancaman bagi tatanan kita."
"Dia bukan manusia biasa, Tuan Liem," Nyai Ratih menimpali, suaranya sedikit bergetar. "Matanya... dia memiliki Mata Langit yang legendaris itu. Dia bisa melahap kultivasi kita seolah itu hanya camilan sore."
Tiba-tiba, pintu aula yang beratnya berton-ton itu berdentum keras. Bukan dibuka dengan sopan, tapi dihantam hingga engsel bajanya mengerang.
Langkah kaki terdengar menggema di atas lantai marmer yang dingin. Tuk. Tuk. Tuk.
Arka berjalan masuk. Ia masih mengenakan kemeja hitam yang robek di bagian bahu, memperlihatkan luka bakar yang mulai menutup secara ajaib. Darah kering masih mengotori wajahnya, tapi aura yang ia pancarkan membuat udara di ruangan itu mendadak jadi berat. Oksigen seolah tersedot keluar, menyisakan sesak bagi siapa pun yang bernapas di sana.
Clarissa berjalan di belakangnya, wajahnya tegak meski ia tahu ia sedang menantang seluruh dunia.
"Berani sekali kau menginjakkan kaki di sini tanpa borgol, Arka!" bentak seorang tetua bertubuh tambun dari klan Mahesa. "Kau adalah tersangka pembunuhan pilar ketujuh! Kau harus berlutut!"
Arka berhenti tepat di tengah ruangan. Ia tidak menatap tetua itu. Ia justru merogoh saku celananya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya dengan percikan api kecil yang muncul dari ujung jarinya.
Fuuu... Asap tipis mengepul ke udara, menantang kemegahan aula itu.
"Berlutut?" Arka tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan menusuk tulang. "Aku datang ke sini bukan untuk diadili oleh sekumpulan anjing tua yang sedang menggigil ketakutan. Aku datang untuk memberikan penawaran."
"Penawaran apa?" Tuan Liem bertanya, matanya menyipit tajam.
Arka menjentikkan abu rokoknya ke lantai marmer yang berkilau. "Hapus semua status buronanku. Kembalikan semua aset ibuku yang kalian bekukan dalam waktu 24 jam. Jika tidak..."
Arka mengangkat kepalanya. Saat itu juga, Mata Saktinya menyala terang. Pupil matanya membelah menjadi dua, menciptakan ilusi visual yang mengerikan bagi siapa pun yang menatapnya. Di mata para tetua, ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi lautan darah. Mereka merasa leher mereka seperti dicekik oleh tangan-tangan tak terlihat.
"Jika tidak, aku akan menjadikan gedung ini sebagai pemakaman masal pertama di Jakarta Selatan," lanjut Arka dengan nada datar namun mematikan.
"Kurang ajar! Penjaga! Tangkap dia!" teriak Tetua Mahesa.
Dua puluh prajurit elit Shadow Guard muncul dari balik pilar-pilar besar. Mereka adalah manusia-manusia yang telah dimodifikasi secara genetik dan dilatih dengan teknik pembunuh tingkat tinggi. Mereka bergerak seperti bayangan, mengepung Arka dengan pedang plasma yang berdenging.
Arka bahkan tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menghentakkan kakinya ke lantai.
BOOM!
Gelombang kejut berwarna emas gelap meledak dari titik Arka berdiri. Lantai marmer hancur berkeping-keping. Para Shadow Guard yang baru saja hendak melompat, terlempar menghantam dinding hingga tulang rusuk mereka terdengar patah serentak. Tak satu pun dari mereka yang bisa kembali berdiri. Hanya dalam satu detik, pasukan paling elit Konsorsium dilumpuhkan tanpa Arka perlu menggerakkan tangannya.
Ruangan itu mendadak hening. Bau darah dan energi yang terbakar memenuhi udara.
"Kalian pikir, setelah aku melahap energi lima puluh tahun milik Ki Ageng, aku masih bocah yang bisa kalian tindas?" Arka berjalan mendekat ke arah kursi Tuan Liem. Langkahnya tenang, tapi setiap pijakannya meninggalkan retakan di lantai.
Tuan Liem mencoba mempertahankan wibawanya, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Arka, kau mungkin kuat. Tapi kau tidak punya uang. Kau tidak punya koneksi. Tanpa Konsorsium, kau hanyalah monster yang akan diburu oleh militer dunia."
Arka sampai di depan meja Tuan Liem. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata orang paling kuat di Jakarta itu.
"Uang? Koneksi?" Arka tersenyum miring. "Tuan Liem, dalam duniaku yang baru, kekuatan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku. Jika aku bisa membunuh kalian semua malam ini, maka akulah yang memegang kendali atas semua koneksi yang kalian banggakan."
Arka kemudian mengeluarkan sebuah surat dari sakunya—surat dengan cap darah dari kakeknya yang ia temukan di ruang medis tadi. Ia meletakkannya di atas meja.
"Sampaikan pada kakekku," bisik Arka tepat di telinga Tuan Liem. "Permainan 'kucing dan tikus' ini sudah selesai. Aku tahu dia sedang menonton lewat kamera rahasia di sudut ruangan ini. Katakan padanya... jika ada satu helai rambut ibuku yang rontok karena ulahnya, aku akan merobek langit hanya untuk menyeretnya turun ke neraka."
Arka berbalik, memberi isyarat pada Clarissa untuk pergi.
"Tunggu!" Nyai Ratih berteriak. "Besok adalah Persidangan Tujuh Pilar yang sesungguhnya. Seluruh klan akan datang. Apa kau benar-benar akan datang sendirian?"
Arka berhenti di ambang pintu yang hancur. Ia menoleh sedikit, memperlihatkan siluet wajahnya yang tajam di bawah cahaya lampu koridor.
"Sendirian?" Arka menyeringai, memperlihatkan taring kecilnya. "Tidak. Aku akan datang membawa seluruh dosa yang kalian buat di masa lalu sebagai saksi. Siapkan peti mati kalian, karena besok... aku tidak akan datang sebagai terdakwa. Aku akan datang sebagai hakim, jaksa, sekaligus algojo kalian."
Arka melangkah pergi, meninggalkan para tetua dalam ketakutan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di dalam hatinya, Arka tahu pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai. Kekuatan Mata Saktinya terus bergolak, menuntut lebih banyak mangsa.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tujuh klan besar Jakarta merasa bahwa kekuasaan mereka yang selama ini absolut, hanyalah istana pasir yang siap disapu oleh badai bernama Arka.
semangat kak👍