Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hujan yang Menghapus Luka dan Mentari di Tahun Terakhir
Di atas atap beton yang dingin itu, waktu seolah berhenti berdetak. Badai yang mengamuk di langit perlahan mulai kehabisan tenaga, menyisakan rintik-rintik hujan yang jatuh membasuh dua siluet remaja yang masih berpelukan erat. Tangisan Anandara yang awalnya meledak-ledak penuh keputusasaan, kini berangsur-angsur mereda menjadi isakan pelan yang menenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak malam kehancuran keluarganya bertahun-tahun silam, Anandara merasa beban berton-ton batu yang menghimpit dadanya terangkat. Air mata yang tumpah hari ini telah mencuci bersih karat-karat trauma yang menyumbat aliran perasaannya. Ia tidak mati, dan ia menyadari bahwa ia tidak ingin mati. Keputusasaannya telah dikalahkan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari pada ketakutannya terhadap masa lalu: cinta seorang sahabat.
Sinta masih mendekapnya, mengayunkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan dengan ritme yang pelan, seolah sedang meninabobokan anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Seragam putih abu-abu mereka kotor oleh debu atap yang bercampur air, menempel mencetak tubuh yang menggigil kedinginan.
"Udah lega?" bisik Sinta dengan suara seraknya. Matanya bengkak, namun ada kelegaan yang luar biasa di sana. Ia melonggarkan pelukannya sedikit untuk menatap wajah Anandara.
Anandara mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin yang basah memenuhi paru-parunya yang kini terasa jauh lebih lapang. "Lega, Sin. Sangat lega."
"Bagus," Sinta memaksakan sebuah senyuman, meski bibirnya gemetar karena suhu udara. "Sekarang, lo utang nyawa sama gue. Kalau sampai lo berani-berani mikir buat loncat lagi, gue yang bakal dorong lo duluan biar lo nggak usah capek-capek mikir. Ngerti?"
Mendengar ancaman konyol di tengah situasi dramatis itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Ujung bibir Anandara berkedut. Alih-alih merespons dengan kalimat logis dan kaku seperti biasanya, sebuah tawa kecil lolos dari bibir gadis yang dijuluki Nyonya Es itu. Tawa yang sangat pelan, serak, namun murni. Tawa pertama yang ia keluarkan setelah bertahun-tahun mengurung diri dalam cangkang kebekuan.
"Kau bodoh sekali, Sinta," ucap Anandara sambil menghapus sisa air mata di pipi Sinta dengan ibu jarinya. "Terima kasih. Terima kasih karena sudah menjadi orang bodoh yang mau melompat bersamaku."
"Sama-sama, Nyonya Es," Sinta terkekeh, lalu bersin dengan cukup keras. "Aduh, fiks ini besok gue flu berat. Ayo turun. Kalau kita mati kedinginan di sini, percuma aja tadi adegan drama nangis-nangisnya."
Mereka bangkit berdiri dengan susah payah, saling menopang satu sama lain. Saat berjalan menuruni tangga rooftop dalam diam, ada sebuah resolusi besar yang terukir di dalam benak Anandara. Sinta benar. Mengapa ia harus menghukum dirinya sendiri dan menjauhi dunia hanya karena satu monster yang kebetulan melahirkannya? Jika ia terus menutup diri, bersikap dingin dan kaku, ia justru membiarkan ibunya menang. Ia membiarkan trauma itu mendikte hidupnya.
Di setiap anak tangga yang ia turuni sore itu, Anandara melepaskan satu persatu kepingan es yang menyelimuti hatinya. Ia memutuskan untuk hidup. Hidup yang sesungguhnya. Ia ingin ayahnya melihatnya tersenyum, bukan sekadar melihat rapot dengan nilai sempurna. Ia ingin membalas kebaikan Sinta dengan menjadi teman yang menyenangkan, bukan robot tanpa emosi yang terus-terusan harus dijaga.
Namun, satu pintu tetap ia gembok rapat-rapat, dikunci dengan baja titanium di dasar hatinya: pintu asmara. Ia akan membuka diri untuk berteman, tertawa, dan bergaul, tetapi ia tidak akan pernah menyerahkan hatinya kepada laki-laki mana pun. Cinta romantis adalah zona merah yang tidak akan pernah ia sentuh. Persahabatan dan keluarga adalah segalanya.
Kesadaran itu membawa kedamaian yang luar biasa bagi Anandara. Sore itu, di bawah sisa gerimis, Nyonya Es yang melegenda di SMA Negeri 1 itu perlahan-lahan mulai mencair.
Waktu adalah arsitek ajaib yang mampu merombak bangunan jiwa. Hari berganti minggu, bulan berganti tahun. Musim kemarau dan musim penghujan datang silih berganti, menyapu kenangan kelam di atap sekolah itu hingga tak berbekas bagi dunia luar. Hanya Anandara dan Sinta yang menyimpannya sebagai rahasia suci mereka.
Setahun lebih telah berlalu sejak insiden badai itu.
Pagi itu, sinar matahari musim kemarau bersinar cerah, menerobos melalui celah-celah dedaunan pohon mahoni yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju gerbang SMA Negeri 1. Suasana sekolah sangat riuh. Hari ini adalah hari pertama ajaran baru bagi siswa-siswi kelas dua belas—tahun terakhir mereka di masa putih abu-abu. Tahun penentuan.
Di depan papan mading sekolah yang besar, puluhan siswa berkerumun, berdesak-desakan seperti kawanan semut untuk melihat daftar pembagian kelas. Suara teriakan kecewa karena terpisah dari geng bermainnya bercampur dengan pekikan bahagia mereka yang bisa satu kelas dengan crush atau sahabatnya.
Dari arah kerumunan, seorang gadis dengan jepit rambut berbentuk stroberi kecil yang melanggar aturan menyembul keluar sambil melompat-lompat kegirangan.
"Yeeaaaay! Hahaha! Semesta emang selalu di pihak gue!" teriak Sinta sambil membelah kerumunan. Ia berlari ke arah koridor utama.
Di ujung koridor, bersandar dengan santai di pilar besar, berdirilah Anandara. Jika seseorang yang sudah setahun tidak melihatnya kembali menatapnya hari ini, mereka pasti akan mengira Anandara digantikan oleh orang lain yang memiliki wajah yang sama persis.
Posturnya tidak lagi kaku seperti prajurit yang sedang bersiaga. Ia berdiri dengan santai, salah satu kakinya disilangkan ke depan. Seragamnya tetap rapi, namun auranya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi awan mendung dan hawa dingin minus derajat yang selalu mengelilinginya. Sebagai gantinya, wajah cantiknya kini dihiasi oleh senyum tipis yang hangat dan sepasang mata legam yang berbinar penuh kehidupan.
"Nandaaa!" Sinta berlari menabrak Anandara, memeluknya dengan erat. "Kita sekelas lagi! Kelas 12 IPA 1! Ya ampun, gue udah takut banget bakal dipisah sama guru BK gara-gara nilai fisika gue yang bentuknya kayak perosotan TK!"
Anandara tertawa. Tawa yang renyah dan lepas. Suaranya tidak lagi datar dan monoton, melainkan penuh melodi dan kehangatan. Ia membalas pelukan Sinta, menepuk punggung sahabatnya itu dengan akrab.
"Udah dong, Sin, jangan teriak-teriak di koridor, diliatin adik kelas tuh. Nanti wibawa lo sebagai kakak kelas senior luntur," goda Anandara.
Bahasa kaku dan super formal yang dulu selalu menjadi tameng Anandara telah lenyap tak berbekas. Interaksinya yang intens dengan Sinta dan keputusannya untuk membuka diri telah membuatnya menyerap cara bicara remaja pada umumnya. Ia mengganti kata 'saya' dan 'aku' yang kaku menjadi 'gue' dan 'lo' saat bersama teman sebayanya, dan nadanya jauh lebih luwes. Ia bukan lagi ensiklopedia berjalan yang mengintimidasi; ia adalah remaja perempuan yang hidup.
Sinta melepaskan pelukannya dan mencibir, pura-pura menyisir rambutnya dengan jari. "Biarin aja, yang penting kan gue tetap cantik. Eh, lo bawa bekal apa hari ini? Gue sengaja nggak sarapan nih biar bisa ngerampok bekal lo yang dibikinin Bi Inah."
"Dasar rakus," Anandara terkekeh sambil menyentil dahi Sinta pelan. "Gue bawa sandwich daging. Tapi tenang, gue udah suruh Bi Inah bikin porsi dobel khusus buat anak pungut yang kelaparan."
"Asyik! Hidup Bi Inah! Hidup Nanda!"
Mereka berdua berjalan bersisian menuju kelas baru mereka di lantai dua. Sepanjang koridor, perubahan Anandara menjadi pemandangan yang menyegarkan sekaligus mengejutkan bagi banyak orang. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya menatap dengan mulut setengah terbuka.
"Pagi, Nan!" sapa Rehan, salah satu teman sekelas mereka di kelas sebelas dulu, dengan sedikit ragu-ragu. Dulu, menyapa Anandara sama saja dengan meminta diabaikan atau ditatap dengan pandangan tajam yang membuat nyali ciut.
Tanpa diduga, Anandara menoleh, tersenyum cerah hingga lesung pipi kecilnya terlihat, dan melambaikan tangannya. "Pagi juga, Rehan! Gimana liburan lo? Sukses nge-game sampai begadang tiap malam?"
Rehan tersentak, wajahnya langsung merona merah karena kaget sekaligus salah tingkah melihat senyum manis itu. "Eh... i-iya, Nan. Lumayan naik rank," jawabnya tergagap.
"Awas loh, kelas dua belas jangan kebanyakan main game, nanti nilai try out lo jeblok lagi kayak semester lalu," pesan Anandara dengan nada bercanda sebelum kembali melangkah bersama Sinta.
Rehan dan beberapa temannya yang melihat kejadian itu saling pandang dengan tatapan tak percaya. Nyonya Es baru saja bercanda?!
Begitu masuk ke kelas 12 IPA 1, suasana yang awalnya riuh mendadak sedikit hening saat Anandara masuk. Reputasi lamanya masih melekat di ingatan mereka. Namun, Anandara menghancurkan kecanggungan itu dengan mudah. Ia berjalan menuju deretan bangku tengah—bukan lagi mojok di sudut belakang seperti anti-sosial—lalu meletakkan tasnya.
"Hai, Ami! Wah, potongan rambut lo baru ya? Kelihatan lebih fresh dan cocok banget sama bentuk muka lo," puji Anandara saat melihat Ami, teman sekelasnya dulu yang juga masuk ke kelas ini, sedang duduk tak jauh darinya.
Ami yang biasanya takut pada Anandara, mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Senyum canggung perlahan mengembang di wajahnya. "Eh? Makasih, Nan. Iya nih, dipaksa nyokap potong pendek biar nggak gerah pas belajar."
"Bagus kok," Anandara mengacungkan jempolnya. Ia lalu berbalik menatap seisi kelas. "Tahun ini kita bareng-bareng lagi ya. Kalau ada yang kesusahan bahas soal matematika atau fisika buat persiapan ujian nasional nanti, jangan sungkan tanya gue. Kita bikin kelompok belajar bareng juga boleh. Nanti kita jadwalkan sesinya."
Seketika, kelas 12 IPA 1 meledak dalam sorak-sorai kebahagiaan. Memiliki murid paling jenius satu sekolah yang dengan sukarela menawarkan bantuan tanpa dibayar adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Anandara yang dulu memandang teman-temannya sebagai sekumpulan individu yang diatur oleh hormon primitif, kini melihat mereka sebagai manusia-manusia biasa yang sedang sama-sama berjuang untuk masa depan.
Sinta yang duduk di sebelah Anandara hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum bangga. Transformasi sahabatnya ini benar-benar luar biasa. Setelah malam hujan deras di atap itu, Anandara benar-benar memenuhi janjinya untuk berubah. Ia mulai ikut kumpul-kumpul di kantin, sesekali ikut Sinta menonton pertandingan basket sekolah (meski tetap sibuk membaca novel, tapi setidaknya ia hadir), dan tidak pernah lagi menolak sapaan orang lain.
Hati Anandara tidak lagi hampa karena trauma masa kecil. Ia telah mengisi ruang-ruang kosong di dadanya dengan tawa teman-temannya, obrolan ringan di koridor, dan kehangatan persahabatannya dengan Sinta. Anandara menyadari bahwa hidup menjadi gadis yang ceria jauh lebih tidak melelahkan daripada harus terus-menerus membangun dinding pertahanan setiap menit.
Di jam istirahat, meja mereka di kantin menjadi pusat perhatian. Jika dulu hanya ada Sinta yang ngoceh sendirian di depan Anandara yang makan dengan tenang, kini meja mereka dipenuhi oleh Kiera, Ami, Rehan, dan beberapa teman lainnya.
"Nan, lo tahu nggak? Tadi anak-anak kelas IPS 2 pada heboh ngomongin lo," celetuk Kiera sambil menyedot es jeruknya. Ya, Kiera yang dulu bermusuhan dengan Anandara perlahan-lahan luluh dan justru menjadi teman mengobrol yang cukup asyik setelah Anandara secara proaktif membantunya lolos dari ujian remedial kimia semester lalu. "Katanya, lo itu kayak bidadari yang baru turun dari kahyangan. Cakep, pintar, dan sekarang murah senyum. Peringkat most wanted cewek di sekolah langsung lo sabet lagi."
Anandara hanya tertawa pelan, menyuapkan sepotong siomay ke mulutnya. "Lebay banget sih kalian. Gue kan dari dulu juga makan nasi, sama kayak mereka. Cuma dulu mode hemat baterai aja, makanya jarang ngomong."
"Hemat baterai apaan, dulu lo mah mode pesawat! Nggak bisa dihubungi sama sekali!" ledek Sinta yang langsung disambut tawa riuh teman-teman di meja itu.
Anandara ikut tertawa, sebuah tawa lepas yang membuat matanya menyipit bahagia. Ia menatap wajah teman-temannya satu per satu. Ia bersyukur bisa merasakan momen masa muda yang normal seperti ini. Di sudut hatinya, ia membisikkan rasa terima kasih kepada ayah dan sahabatnya yang telah bersabar menghadapinya.
Namun, meskipun ia kini ramah kepada semua orang, Anandara tetap konsisten dengan satu aturannya. Sore itu, saat pulang sekolah dan berjalan menuju gerbang, seorang kakak kelas yang pernah ditolaknya dulu (dan kini kuliah di universitas sebelah) mencoba peruntungannya kembali dengan mencegat Anandara dan memberikan sekotak cokelat.
"Nanda... kamu kelihatan makin ceria sekarang. Mungkin sekarang kamu mau ngasih kesempatan buat kita kenal lebih jauh?" tanya laki-laki itu penuh harap.
Senyum ceria di wajah Anandara tidak luntur, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah. Alih-alih membantainya dengan data statistik menyakitkan seperti yang ia lakukan saat kelas satu dulu, Anandara kini menolaknya dengan keanggunan yang elegan.
"Makasih ya, Kak, cokelatnya. Tapi maaf banget, gue nggak lagi nyari pasangan dan nggak akan pernah berminat buat pacaran. Gue lebih suka fokus sama teman-teman dan masa depan gue. Cokelatnya mending dikasih ke cewek yang lebih pantas nerima perasaan Kakak. Duluan ya, Kak!"
Anandara menepuk bahu laki-laki itu dengan bersahabat, lalu berjalan menjauh, meninggalkan laki-laki itu yang mematung dengan perasaan tertolak namun tidak merasa dipermalukan.
Sinta yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa tersenyum. Sahabatnya memang sudah berubah menjadi gadis yang sangat ceria dan pandai bergaul, hangat seperti mentari musim kemarau. Ia bukan lagi robot tanpa emosi. Tetapi pintu untuk cinta asmara tetap terkunci mati dari dalam. Dan bagi Anandara dan Sinta saat ini, itu sama sekali tidak menjadi masalah. Selama mereka bersama, masa-masa akhir SMA ini terasa begitu sempurna dan bebas dari air mata.
Bersambung...!
pengamat Senja_