Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Seminggu telah berlalu sejak perjamuan hangat di mansion keluarga Emerson, dan dunia Faelynn terasa seperti telah bergeser dari porosnya. Jika dulu ia terbiasa dengan suara bising jalanan dari apartemen lamanya yang sempit, kini ia disambut oleh kesunyian yang elegan di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit di jantung Los Angeles.
Apartemen penthouse milik Kingsley bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah sebuah mahakarya arsitektur yang didominasi oleh kaca-kaca setinggi langit-langit, memberikan pemandangan 360 derajat ke arah gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur.
Faelynn berdiri di dekat jendela besar, menatap ke bawah. Mobil-mobil di jalanan tampak seperti semut-semut kecil yang bercahaya. Di sini, di ketinggian ini, ia merasa aman. Tidak akan ada tetangga yang berbisik-bisik di koridor. Di sini, privasi adalah kemewahan yang dibeli Kingsley dengan harga yang tak terbayangkan.
Faelynn menarik napas dalam, jemarinya secara refleks meraba lehernya, menyentuh permukaan dingin sebuah kalung kompas yang melingkar di sana. Saat itu, Faelynn mengira kompas ini adalah satu-satunya benda yang akan tersisa dari Kingsley jika pria itu menghilang dalam misi berbahaya.
"Masih belum terbiasa dengan ketinggiannya?"
Suara bariton yang tenang itu memecah keheningan. Faelynn merasakan lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menarik punggungnya untuk bersandar pada dada bidang yang kini telah menjadi tempat favoritnya untuk beristirahat. Kingsley mencium puncak kepalanya, menghirup aroma rambut Faelynn yang menenangkan.
"Aku hanya masih terkejut," aku Faelynn jujur. Ia membalikkan tubuh dalam dekapan Kingsley, menatap mata cokelat gelap suaminya. "Semua ini... uang yang kau miliki, apartemen ini, dan ketenangan yang kau berikan. Kadang aku merasa ini terlalu indah untuk menjadi nyata, Ay."
Kingsley tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya ia tunjukkan pada Faelynn. "Kau pantas mendapatkan setiap inci dari kedamaian ini, Lyn. Selama bertahun-tahun aku hidup dalam bayang-bayang, mengumpulkan semua ini hanya untuk satu tujuan: memastikan bahwa saat aku menemukan alasan untuk berhenti, aku bisa menjaganya dengan baik."
Suasana mendadak menjadi sedikit lebih serius. Faelynn memainkan kerah kaus hitam yang dikenakan Kingsley. Pertanyaan yang sejak seminggu lalu menghantuinya akhirnya keluar juga.
"King... soal pekerjaanmu," suara Faelynn sedikit merendah. "Kapan kau akan bertugas untuk misi berbahaya lagi? Kapan kau harus pergi menghilang berbulan-bulan tanpa kabar?"
Ada sedikit getaran dalam nada bicaranya. Ketakutan terbesar Faelynn bukanlah kemiskinan atau kesepian, melainkan ketidakpastian apakah suaminya akan pulang dalam keadaan bernapas atau di dalam kantong mayat.
Kingsley terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak cemas. Ia menangkup pipi Faelynn dengan kedua tangannya yang besar, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi gadis itu.
"Aku sudah bicara dengan Angel," ucap Kingsley pelan. "Aku memberi tahu mereka bahwa Roger—kode namaku—ingin mengundurkan diri dari garis depan."
Mata Faelynn membelalak. "Apa maksudmu?"
"Aku meminta pindah ke bagian perkantoran, sebagai analis atau pelatih taktis. Aku tidak akan lagi mengambil misi lapangan. Tidak ada lagi infiltrasi, tidak ada lagi persembunyian di negara konflik, dan tidak ada lagi baku tembak di tengah malam."
Faelynn cukup terkejut hingga ia harus memegang lengan Kingsley untuk menopang tubuhnya. "Benarkah? Kau meninggalkan semua itu? Bukankah itu adalah duniamu selama hampir satu dekade?"
Kingsley mengangguk tanpa ragu. Ia menarik Faelynn menuju sofa beludru besar di tengah ruangan, mendudukkan gadis itu di pangkuannya, memeluknya seolah Faelynn adalah jangkar yang menahannya agar tetap berada di daratan.
"Aku tidak akan bisa membuatmu khawatir setiap hari, Sayang. Aku tidak bisa," bisik Kingsley tepat di telinga Faelynn. "Dulu, aku tidak punya alasan untuk takut mati. Bagiku, misi adalah segalanya. Tapi sekarang? Setiap kali aku membayangkan diriku berada di hutan atau bunker musuh, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caraku pulang untuk melihatmu sedang mengetik di meja kerjamu."
Hati Faelynn berdesir hebat. Pengorbanan Kingsley bukan hanya soal uang atau kenyamanan, tapi soal identitasnya. Kingsley Emerson, sang agen lapangan yang ditakuti, rela menukar senjatanya dengan pena dan komputer kantor demi ketenangan hati istrinya.
"Kau yakin tidak akan menyesal?" tanya Faelynn lembut. "Maksudku, ayahmu pengusaha tekstil, ibumu punya toko kue, dan adikmu mengelola Petals & Prose. Mereka semua memiliki gairah dalam pekerjaan mereka. Aku tidak ingin kau merasa terjebak hanya karena aku."
Kingsley tertawa kecil, suara yang hangat dan tulus. "Lyn, mengawasi bisnis Nazela, membantu administrasi Petals & Prose, dan pulang ke pelukanmu setiap jam lima sore adalah definisi 'gairah' yang baru bagiku. Aku ingin melihat Daisy tumbuh besar, aku ingin mencicipi resep baru mommy, dan aku ingin menjadi orang pertama yang membaca setiap bab baru dari novelmu."
Faelynn tersenyum, air mata haru sedikit menggenang di sudut matanya. Ia memeluk leher Kingsley erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. "Terima kasih, Ay. Terima kasih karena telah memilihku di atas segalanya."
"Selalu, Faelynn. Selalu kau," balas Kingsley.
Malam itu, di bawah langit Los Angeles yang bertabur bintang, apartemen mewah itu menjadi saksi bisu berakhirnya era seorang agen rahasia yang dingin.
Kompas yang melingkar di leher Faelynn tidak lagi menunjuk ke arah misi yang jauh, melainkan menunjuk ke arah satu tempat di mana Kingsley Emerson akan selalu pulang.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang masa depan. Kingsley menceritakan rencananya untuk merenovasi salah satu sudut apartemen menjadi perpustakaan pribadi dengan rak buku yang mencapai langit-langit, khusus untuk koleksi buku-buku Faelynn.
Sementara Faelynn bercerita tentang idenya untuk menulis kisah baru—bukan tentang agen rahasia yang mati di medan perang, melainkan tentang seorang pria yang menemukan rumahnya dalam pelukan seorang penulis.
Di tempat yang tenang ini, tidak ada musuh yang mengintai. Tidak ada rahasia yang mematikan. Hanya ada Kingsley dan Faelynn, memulai bab paling damai dalam hidup mereka, di mana cinta adalah satu-satunya misi yang harus mereka selesaikan setiap harinya.