Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperkenalkan si Bidadari berhati iblis
Alvaro memutuskan untuk kembali ke Jakarta seorang diri dengan dalih harus mengurus beberapa proyek mendesak di Sanjaya Group. Ia sengaja membiarkan Hanum tetap di Singapura untuk menjaga Tuan Sanjaya. Baginya, ini adalah strategi terbaik. Hanum akan aman dari jangkauan Johan, sementara ia bisa lebih leluasa membakar hidup pria itu tanpa perlu membuat Hanum cemas.
Setibanya di Jakarta, Alvaro langsung menuju sebuah ruangan rahasia di lantai teratas gedung Sanjaya Group. Di sana, Asisten Adam, orang kepercayaannya, sudah menunggu dengan tumpukan dokumen dan rekaman bukti.
"Tuan Alvaro, semuanya sudah siap," ujar Adam serius. "Saya menemukan fakta baru. Keterlibatan Tuan Jason ternyata bukan hanya sekedar meminjamkan apartemennya. Jason adalah kerabat dekat Johan. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, dan Jason lah yang menyusun skenario hukum agar Nyonya Hanum tidak bisa menggugat apa pun."
Mendengar hal itu, Alvaro menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, lalu tersenyum licik. "Pantas saja si bedebah Johan begitu beraninya melakukan hal menjijikkan seperti ini terhadap Hanum. Rupanya bekingan nya seorang pengacara hebat."
Alvaro menyesap kopinya perlahan, matanya berkilat tajam. "Tapi justru ini akan menjadi bumerang untuknya. Aku harus menemui Jason dan memaksanya berbalik arah."
"Tapi Tuan harus hati-hati. Pengacara Jason bukanlah pria sembarangan. Dia punya banyak koneksi di kepolisian dan kejaksaan," Adam berusaha memperingatkan.
"Kau tenang saja, Adam. Aku akan lebih hati-hati. Jason mungkin hebat, tapi dia juga seorang pebisnis. Dan di dunia bisnis, tidak ada kesetiaan yang abadi jika ditukar dengan kehancuran total. Aku yakin dia akan berbalik mendukungku begitu dia tahu siapa lawan yang sebenarnya," jawab Alvaro dengan nada penuh percaya diri.
*
*
Perusahaan Go Green
Sementara itu, di kantor Go Green, suasana sudah berubah total. Johan dan Monica tidak lagi merasa perlu bersembunyi. Pintu ruang CEO terkunci rapat selama berjam-jam, sementara para staf di luar hanya bisa saling berbisik penuh kecurigaan.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Monica duduk di sofa sembari merapikan kancing kemejanya yang berantakan. Wajahnya tampak segar dan penuh kemenangan.
"Mas, kapan sidang perceraian kamu dan mantan istrimu itu digelar?" tanya Monica manja.
"Sebentar lagi, Sayang. Pengacara Jason sedang mengatur jadwalnya agar semuanya berjalan cepat dan lancar tanpa drama pembagian harta. Kenapa? Kau sudah tidak sabar ya menjadi Nyonya Johan, hemmm?" jawab Johan sembari memasang dasinya di depan cermin.
Monica bangkit, mendekati Johan, dan membantu merapikan simpul dasi pria itu. "Tentu saja, Mas. Aku ingin segera menjadi Nyonya Johan yang sah dan mendampingi mu sampai maut memisahkan."
Johan merasa dadanya membusung bangga. Ia merasa cintanya pada Monica adalah hal paling nyata, jauh lebih berharga daripada pengabdian Hanum selama lima belas tahun.
"Oh iya, Sayang," Johan mengelus pipi Monica. "Nanti malam aku akan mengadakan acara makan malam resmi di rumah. Aku akan memperkenalkan mu dengan kedua putriku secara formal. Kebetulan Ibuku juga sudah tidak sabar bertemu dengan calon menantunya yang cantik ini."
Mata Monica berbinar. Ini adalah langkah besar yang ia tunggu-tunggu. Menyingkirkan Hanum dari rumah adalah satu hal, tapi menggantikannya di depan keluarga besar adalah kemenangan mutlak.
"Akhirnya Mas.... Kau memperkenalkanku dengan keluargamu. Terima kasih, Sayang!" ujar Monica penuh haru yang dibuat-buat.
Ia kembali mem4gut bibir Johan dengan mesra, dan Johan membalasnya dengan gemas. Mereka merayakan kebahagiaan itu, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, Alvaro Sanjaya sudah menyiapkan badai yang akan meratakan rumah tangga khayalan mereka dalam sekejap mata.
*
*
Di ruangan rumah sakit yang mulai hangat oleh sinar matahari Singapura, Hanum akhirnya memberanikan diri membuka seluruh masalah rumah tangganya. Ia menceritakan setiap detail pengkhianatan Johan, penghinaan ibu mertuanya, hingga skenario busuk yang membuatnya terusir.
Mendengar itu, wajah Tuan Sanjaya memerah padam. Tangan tuanya yang masih tertancap infus mengepal kuat hingga urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meluap.
"Num... andai waktu itu kau mau menerima Alvaro sebagai suamimu, Papah yakin hidupmu tidak akan semenyakitkan ini!" ucap Tuan Sanjaya dengan suara bergetar.
Hanum tertunduk dalam, air matanya menetes membasahi jemarinya sendiri. "Pah... Kak Al adalah kakakku. Aku tidak mungkin menikah dengannya," jawabnya, masih bersikukuh pada prinsip yang ia pegang selama lima belas tahun.
Tuan Sanjaya menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh. "Tapi kau dan Alvaro tidak memiliki ikatan darah sedikit pun, Hanum. Papah sudah merencanakan ini sejak kau lahir. Papah tidak percaya pada pria lain selain Alvaro. Dia putra kebanggaan Papah yang Papah siapkan untuk membimbing mu."
Beliau terbatuk kecil, namun tetap melanjutkan, "Seluruh aset keluarga Sanjaya akan jatuh ke tanganmu, Nak. Papah ingin kau dan Alvaro yang mengelola perusahaan yang Papah rintis dari nol ini bersama-sama."
Hanum mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pah... apakah Papah memang ingin sekali aku menikah dengan Kak Al?"
"Tentu saja, Putriku. Hanya Alvaro yang Papah percaya. Bukalah mata dan hatimu, pertimbangkan kembali permintaan Papah ini. Ini impian terakhir Papah. Soal cinta, lambat laun kau pasti akan merasakannya karena Alvaro adalah pria yang tulus."
Hanum memilih bungkam. Pikirannya saat ini terlalu penuh dengan bayangan sidang perceraian dan bagaimana cara merebut kembali anak-anaknya dari tangan pria durjana seperti Johan.
*
*
Sementara itu, di Jakarta, kediaman Johan tampak sangat sibuk. Aliya dan Adiba hanya bisa memandang heran dari lantai atas saat melihat nenek mereka, Bu Anita, begitu repot mengatur para ART dari atas kursi rodanya. Aroma masakan mewah menusuk hidung, dan meja makan sudah dihias dengan lilin serta alat makan perak terbaik.
Bu Anita mendongak, menatap kedua cucunya dengan senyum penuh kemenangan. "Persiapkan diri kalian nanti malam! Akan ada tamu agung yang datang untuk makan malam di rumah ini!"
Aliya dan Adiba hanya mengangguk patuh lalu bergegas masuk ke dalam kamar.
"Apakah Bunda kembali ke rumah ini, Kak?" tanya Adiba penuh harap, matanya berbinar sekilas.
Aliya menggeleng pelan, wajahnya tampak muram. "Mana mungkin, Adiba. Aku yakin ini ada kaitannya dengan Ayah. Sebaiknya kita lihat saja nanti, tapi yang jelas... orang itu pastinya bukan Bunda Hanum."
Adiba menghela napas berat, rasa rindunya pada Hanum semakin menyesakkan dada.
Menjelang malam, suasana rumah sudah begitu formal. Bu Anita, Aliya, dan Adiba sudah menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, suara deru mobil Johan terdengar di halaman, disusul suara pintu mobil yang tertutup.
Saat pintu utama dibuka oleh pelayan, Johan melangkah masuk dengan dada membusung bangga. Di sampingnya, berdiri sosok wanita yang mengenakan gaun berwarna merah maroon yang sangat mencolok. Rambutnya tergerai indah, wajahnya dipoles riasan sempurna layaknya boneka Barbie hidup.
Johan menatap wanita itu dengan binar pemujaan, seolah sedang membawa bidadari ke dalam rumahnya. Namun bagi Aliya dan Adiba, kehadiran wanita itu adalah mimpi buruk yang nyata.
Kedua putri kembar itu spontan menutup mulut mereka, terkejut setengah mati mengenali sosok tersebut sebagai sekretaris ayah mereka yang sering terlihat terlalu akrab di kantor. Sementara itu, Bu Anita justru tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kecantikan Monica yang dianggapnya jauh lebih berkelas dibandingkan Hanum.
"Ibu.... perkenalkan," ujar Johan dengan nada sombong. "Ini Monica, calon istriku, dan calon ibu baru bagi anak-anak."
Ruangan itu seketika menjadi dingin. Aliya menggenggam tangan Adiba dengan sangat erat, merasakan gelombang amarah dan kebencian yang mulai membara terhadap sosok pelakor yang kini tersenyum manis di depan mereka.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔