Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Pilihan
# Bab 19 — Pilihan
**POV: Reiki**
---
Mahkota itu hancur. Gerbang mulai tertutup. Tapi aku bisa merasakan bahwa harga yang harus kubayar belum lunas.
Energi di dalam diriku mulai surut—bukan hilang, tapi berkurang drastis. Seperti air yang mengalir keluar dari tubuhku. Aku bisa merasakan kekuatanku memudar, meninggalkan kehampaan yang dingin.
"Reiki?" Hime memegang lenganku. "Kau baik-baik saja?"
Aku ingin menjawab, tapi tubuhku terasa sangat berat. Lututku lemas. Aku jatuh ke lantai.
"Reiki!"
Hime berlutut di sampingku, memegang wajahku. Wajahnya—cantik, penuh kekhawatiran—adalah hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya menjadi gelap.
---
Aku terbangun di tempat yang asing.
Langit-langit kayu. Bau obat. Suara orang berbisik di kejauhan. Aku mencoba duduk, tapi tubuhku terasa seperti kehilangan semua tenaganya.
"Hei, jangan bergerak dulu."
Suara Hime. Ia duduk di kursi di samping tempat tidurku, wajahnya lelah tapi lega.
"Di mana aku?"
"Laboratorium. Kau sudah pingsan selama dua hari."
Dua hari? Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Mahkota. Gerbang. Keputusanku.
"Gerbangnya?"
"Tertutup. Penjaga Gerbang sudah pergi. Mereka bilang kau melakukan hal yang benar."
Aku menghela napas lega. Tapi kemudian aku merasakan sesuatu yang aneh. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang hilang.
Kekuatanku.
Aku mencoba merasakan energi di dalam diriku—seperti yang biasa kulakukan. Tapi yang kurasakan hanyalah kehampaan. Seperti ada ruang kosong di dalam dadaku.
"Kekuatanku..." bisikku.
Hime menunduk. "Kau kehilangan sebagian besar kekuatanmu. Itu efek dari menolak mahkota."
Aku diam. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Tapi tetap saja, rasanya berat.
"Kau menyesal?" tanya Hime.
Aku menatapnya. "Tidak."
"Benarkah?"
"Aku memilih menjadi manusia. Dan manusia tidak butuh kekuatan dewa untuk hidup."
Hime tersenyum. Air mata mengalir di pipinya. "Kau benar-benar berbeda dari dulu."
"Aku bukan dia. Aku adalah diriku sendiri."
Ia meraih tanganku. "Aku tahu. Dan aku mencintaimu apa adanya."
Untuk pertama kalinya\, aku mendengar kata itu darinya. *Cinta.* Bukan tentang Dewa Psikis di masa lalu\, tapi tentang aku—Reiki.
Aku tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Hime."
---
Beberapa jam kemudian, teman-temanku datang menjenguk.
KSAN masuk dengan senyum lebar. "Kau sudah bangun! Aku pikir kau akan tidur seminggu."
"Maaf mengecewakanmu."
Ia tertawa. "Bercanda. Syukurlah kau baik-baik saja."
Dila masuk berikutnya, membawa sketsa di tangannya. "Aku menggambar ini untukmu."
Aku mengambil sketsa itu. Itu adalah gambar kami semua—aku, Hime, KSAN, Dila, Hubble, bahkan Karmas dan Tigap 1. Kami berdiri bersama di depan gerbang yang tertutup.
"Terima kasih," kataku. "Ini indah."
Hubble masuk paling akhir. Ia berdiri di pintu, ragu-ragu.
"Boleh aku bicara sebentar?" tanyanya.
Aku mengangguk. Yang lain keluar, meninggalkan kami berdua.
Hubble duduk di kursi yang tadi diduduki Hime. Ia diam beberapa saat, lalu berkata, "Aku melihat ayahku di Ruang Raja."
Aku terkejut. "Apa?"
"Ia muncul. Berbicara padaku. Menyuruhku untuk tidak terus hidup dalam dendam."
Aku diam, menunggu.
"Aku tidak bisa memaafkan Dewa yang dulu," lanjut Hubble. "Tapi aku bisa memaafkanmu. Karena kau bukan dia."
Aku merasakan dadaku hangat. "Terima kasih, Hubble."
"Aku tidak mengatakan ini karena aku baik. Aku mengatakan ini karena aku lelah membenci."
Aku tersenyum. "Itu sudah lebih dari cukup."
Hubble mengangguk. Lalu ia berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Kau anak yang baik, Reiki. Jangan pernah berubah."
---
Malam harinya, aku dan Hime duduk di atap laboratorium, menatap bintang. Desa di bawah kami tenang. Lampu-lampu rumah berkedip. Suara jangkrik terdengar dari sawah.
"Aku tidak percaya semua ini sudah berakhir," kataku.
"Belum berakhir," kata Hime. "Hanya babak ini yang selesai."
"Maksudmu masih ada babak selanjutnya?"
Ia tersenyum misterius. "Siapa tahu."
Aku tertawa. "Kau selalu punya rencana, ya?"
"Bukan rencana. Hanya harapan."
Kami diam, menikmati malam.
"Hime."
"Hm?"
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku kehilangan kekuatanku. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan sekarang."
Hime meraih tanganku. "Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu hidup."
"Hidup?"
"Ya. Hidup. Menikmati hari-harimu. Bersekolah. Berteman. Mungkin suatu hari nanti bekerja." Ia tersenyum. "Menjadi manusia biasa."
Aku menatapnya. "Kedengarannya... indah."
"Memang."
Kami duduk di atap, menatap bintang, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa aku tidak perlu menjadi dewa untuk merasa utuh.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
---
## PAGI YANG BARU
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Tubuhku masih lemah, tapi pikiranku terasa jernih. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku tidak mendengar bisikan dari dalam diriku.
Aku berjalan ke laboratorium. Hime sedang sibuk dengan perangkatnya, tapi ia tersenyum ketika melihatku.
"Selamat pagi. Tidur nyenyak?"
"Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ya."
Aku duduk di kursiku. Di depanku, ada secangkir kopi yang masih hangat. Hime sudah menyiapkannya.
"Kau baik padaku," kataku.
"Kau pantas mendapatkannya."
Aku tersenyum. Kami diam sejenak, menikmati pagi yang tenang.
"Hime."
"Ya?"
"Aku sudah memikirkan masa depanku."
Ia menatapku. "Dan?"
"Aku ingin tetap di sini. Di desa ini. Aku ingin menyelesaikan sekolah, lalu mungkin kuliah. Atau mungkin bekerja. Yang penting, aku ingin menjalani hidup yang normal."
Hime tersenyum. "Kedengarannya sempurna."
"Tapi ada satu hal yang kurang."
"Apa?"
Aku meraih tangannya. "Kau. Aku ingin kau tetap di sini. Bersamaku."
Air mata menggenang di matanya. "Aku tidak punya rencana untuk pergi."
Aku tersenyum. "Bagus."
---
## KEHIDUPAN BARU
Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku kembali ke sekolah, meskipun beberapa guru masih curiga dengan ketidakhadiranku selama berminggu-minggu. Tapi KSAN membantuku dengan alasan yang masuk akal—"sakit keras," katanya.
Ival dan Niki, teman-teman sekelasku, menyambutku dengan hangat. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan itu tidak masalah. Yang penting, aku kembali.
"Reiki! Kau sudah sembuh?" Ival menghampiriku di koridor.
"Sudah. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Kami khawatir."
Aku tersenyum. "Terima kasih."
Di luar jendela, aku bisa melihat Hime berjalan melintasi halaman sekolah. Ia sedang memegang perangkatnya, mungkin merekam data energi. Tapi ia tersenyum padaku, dan aku membalas senyumnya.
Inilah hidup yang kuinginkan. Sederhana. Tenang. Normal.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu menjadi dewa untuk merasa utuh.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
---
## PERCAKAPAN MALAM
Malam itu, aku dan Hime duduk di atap laboratorium, menatap bintang. Angin malam berdesir pelan, membawa bau tanah dan rumput.
"Hime. "
"Ya? "
"Aku ingin bertanya sesuatu. "
Ia menatapku. "Apa? "
"Apa kau tidak menyesal? Meninggalkan petualanganmu? Berhenti mencari? "
Hime diam sejenak. Lalu ia berkata, "Aku sudah mencari selama 38 tahun. Dan sekarang aku menemukan apa yang kucari. Tidak ada yang perlu disesali. "
"Tapi kau menghancurkan mesin waktumu. "
"Karena aku tidak membutuhkannya lagi. Masa depanku sudah ada di sini. "
Aku meraih tangannya. "Aku tidak akan mengecewakanmu. "
"Aku tahu. "
Kami duduk di atap, menatap bintang, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang indah.
---
## HIDUP BARU HIME
Keesokan paginya, aku melihat Hime sedang duduk di beranda laboratorium, memegang secangkir kopi. Wajahnya tenang—lebih tenang dari yang pernah kulihat.
"Selamat pagi, " sapaku.
"Selamat pagi. "
Aku duduk di sampingnya. "Kau tidur nyenyak? "
"Untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, ya. "
Aku tersenyum. "Bagus. "
Kami diam, menikmati pagi yang cerah. Burung-burung berkicau di pohon dekat laboratorium. Angin pagi membawa bau embun dan tanah.
"Hime. "
"Ya? "
"Aku ingin kau tahu sesuatu. "
Ia menatapku.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi aku tahu satu hal: aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku. Selamanya. "
Air mata menggenang di matanya. "Kau serius? "
"Aku serius. "
Ia tersenyum. "Aku juga ingin itu. "
Kami berpelukan di beranda, di bawah sinar matahari pagi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang cerah.
---
## KEHIDUPAN BARU REIKI
Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku kembali ke sekolah, dan untuk pertama kalinya, aku menikmatinya. Pelajaran-pelajaran yang dulu terasa membosankan kini terasa ringan. Teman-teman yang dulu hanya kukenal sekarang menjadi lebih dekat.
Ival dan Niki sering mengajakku makan siang bersama. Mereka bertanya tentang ketidakhadiranku, dan aku hanya menjawab dengan senyuman. "Aku sakit, " kataku. Mereka tidak mendesak.
KSAN, yang kini menjadi ketua kelas, sering menggodaku tentang Hime. "Kapan kalian menikah? " tanyanya suatu hari.
Aku tertawa. "Kami masih SMA, KSAN. "
"Itu tidak pernah menghentikan orang untuk jatuh cinta. "
Aku tersenyum. Ia benar. Aku jatuh cinta pada Hime. Bukan karena ia adalah seseorang dari masa laluku, tapi karena ia adalah seseorang yang memilih untuk menungguku.
Dan itu adalah perasaan yang tidak akan pernah aku tukar dengan apa pun.
---
## PERCAKAPAN DENGAN DILA
Suatu sore, Dila menemuiku di laboratorium. Ia membawa sketsa baru—gambar diriku dan Hime, duduk di atap laboratorium, menatap bintang.
"Ini untukmu, " katanya.
Aku mengambil sketsa itu. Detailnya luar biasa—setiap garis, setiap bayangan, sempurna.
"Terima kasih, Dila. Ini indah. "
Ia tersenyum. "Aku senang kau suka. "
Kami duduk di beranda, menikmati sore yang tenang.
"Dila. "
"Ya? "
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Setelah semua ini selesai? "
Ia menatap langit. "Aku akan terus menggambar. Mungkin suatu hari nanti aku akan membuka pameran. "
"Itu ide yang bagus. "
"Ya. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku punya masa depan. "
Aku meraih tangannya. "Kau pantas mendapatkannya. "
Ia tersenyum. "Terima kasih, Reiki. "
---
## MALAM TERAKHIR
Malam itu adalah malam terakhir sebelum semuanya benar-benar kembali normal. Besok, sekolah akan dimulai seperti biasa. Hime akan sibuk dengan penelitiannya. KSAN akan bekerja di balai desa. Dila akan menggambar.
Tapi malam ini, kami semua berkumpul di laboratorium untuk makan malam bersama. KSAN membawa pizza. Dila membuat kue. Hime menyeduh teh.
Kami duduk di lantai, makan bersama, tertawa, bercerita. Untuk sesaat, semua beban terasa hilang.
"Untuk persahabatan, " kata KSAN, mengangkat gelasnya.
"Untuk persahabatan, " jawab kami semua.
Aku menatap mereka satu per satu—Hime, KSAN, Dila. Mereka adalah keluarga yang tidak pernah kumiliki.
Dan aku bersyukur untuk itu.
---
## REFLEKSI
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku duduk sendirian di kamarku. Aku membuka jendela dan menatap langit malam yang penuh bintang.
Pikiranku melayang pada semua yang telah terjadi. Pada Hime, yang menungguku selama 38 tahun. Pada KSAN, yang memilih untuk bergabung denganku. Pada Dila, yang berani keluar dari persembunyiannya. Pada Hubble, yang mampu memaafkan.
Aku bukan lagi anak SMA biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku bukan lagi Dewa Psikis yang penuh kekuatan. Aku adalah Reiki. Manusia. Dengan segala kelebihan dan kekuranganku.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa itu sudah cukup.
Aku mematikan lampu dan berbaring. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi, tanpa bisikan, tanpa ketakutan.
Karena aku tahu, besok adalah hari yang baru. Dan aku siap menghadapinya.
---
## PAGI BARU
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan segar. Matahari bersinar cerah di luar jendela. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa bahwa hidup ini indah.
Aku berjalan ke laboratorium. Hime sudah ada di sana, tersenyum melihatku.
"Selamat pagi, " katanya.
"Selamat pagi. "
Aku duduk di sampingnya. "Hime, aku ingin kau tahu sesuatu. "
"Apa? "
"Aku bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar bahagia. "
Ia meraih tanganku. "Aku juga. "
Kami duduk di beranda, menikmati pagi yang cerah. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang indah.
---
## REFLEKSI AKHIR
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku duduk sendirian di kamarku. Aku membuka jendela dan menatap langit malam yang penuh bintang.
Pikiranku melayang pada semua yang telah terjadi. Pada Hime, yang menungguku selama 38 tahun. Pada KSAN, yang memilih untuk bergabung denganku. Pada Dila, yang berani keluar dari persembunyiannya. Pada Hubble, yang mampu memaafkan.
Aku bukan lagi anak SMA biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku bukan lagi Dewa Psikis yang penuh kekuatan. Aku adalah Reiki. Manusia. Dengan segala kelebihan dan kekuranganku.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa itu sudah cukup.
Aku mematikan lampu dan berbaring. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, aku tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi, tanpa bisikan, tanpa ketakutan.
Karena aku tahu, besok adalah hari yang baru. Dan aku siap menghadapinya.
---
** Bersambung **
## CATATAN UNTUK MASA DEPAN
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan ringan. Aku berjalan ke laboratorium dan menemukan Hime sedang duduk di beranda, memegang secangkir kopi. Wajahnya tenang, matanya memandang jauh ke sawah yang menghijau.
"Selamat pagi," sapaku.
"Selamat pagi."
Aku duduk di sampingnya. "Ada yang kau pikirkan?"
"Tentang masa depan," jawabnya. "Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Dan apa kesimpulanmu?"
Ia menatapku. "Bahwa aku tidak perlu tahu semuanya. Yang penting, aku menjalaninya bersama orang yang tepat."
Aku tersenyum. "Setuju."
Kami duduk di beranda, menikmati pagi yang cerah. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang indah.
Dan aku bersyukur untuk itu.