Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Pagi di mansion keluarga Vane berubah jauh lebih tegang dibanding biasanya.
Dan semua itu terjadi hanya karena satu kereta kerajaan hitam-perak yang baru saja berhenti di depan gerbang utama mansion.
Freya berdiri di dekat tangga aula depan sambil mengalami krisis sosial secara perlahan. "...Aku masih merasa ini terlalu cepat."
Crimson Valkyrie melayang santai di dekat bahunya. "Kau sudah mengeluh soal itu sejak satu jam lalu."
"Karena ini memang mencurigakan."
"Atau mungkin seseorang hanya ingin bertemu denganmu."
Freya langsung menunjuk artefak itu dengan wajah merah. "JANGAN IKUT-IKUTAN."
Namun sebelum ia sempat mempertahankan harga dirinya lebih jauh...
BRAK.
Pintu utama mansion terbuka.
Dan udara di aula langsung terasa sedikit berubah.
Para ksatria kerajaan berdiri rapi di luar mansion. Mantel hitam dengan lambang kerajaan berkibar pelan diterpa angin pagi. Di depan mereka, Cain berjalan lebih dulu dengan ekspresi profesional seperti biasa.
Lalu... Zevian turun dari kereta.
DEG.
Freya langsung membeku sepersekian detik.
Mantel hitam panjang dengan aksen silver membuat aura dingin pria itu terasa makin jelas. Rambut hitamnya sedikit bergerak tertiup angin, sementara mata biru gelap itu terlihat tenang seperti biasa.
Dan masalah terbesar Freya sekarang adalah... 'Kenapa dia tampan sekali sih?'
Crimson Valkyrie langsung menjawab datar, "Kau benar-benar tidak punya harapan."
Freya mengabaikannya secara spiritual.
Sementara itu Cassius dan Silas sudah berdiri di depan untuk menyambut putra mahkota secara formal.
"Yang Mulia," ucap Cassius tenang sambil sedikit membungkuk.
" Duke Vane. Duke Blackwood."
Aura tiga pria itu langsung terasa seperti rapat politik tingkat tinggi kerajaan.
Freya yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung berkeringat karena serangan mental. 'Kenapa suasananya seperti mau deklarasi perang?'
Ares yang berdiri santai di sampingnya menggigit apel kecil. "Kalau mereka mulai bicara politik, kita kabur."
"Itu ide bagus."
Namun sebelum Freya sempat benar-benar mempertimbangkan kabur, Zevian mengangkat pandangan.
Dan tatapannya langsung jatuh tepat padanya.
DEG.
Freya refleks menegang. Hening kecil muncul sepersekian detik terlalu lama. Lalu semua orang perlahan mulai sadar...Putra mahkota belum mengalihkan pandangannya.
Ares perlahan mulai tersenyum seperti iblis sosial.
Felix menyipitkan mata kecil.
Ophelia terlihat mulai mendapatkan hiburan hidup.
Sedangkan Freya... 'ASTAGA KENAPA DIA MELIHAT KE SINI TERUS?'
Freya buru-buru membungkuk kecil. "S-Salam hormat, Yang Mulia."
Dan Zevian akhirnya berkata pelan, "Kau terlihat lebih sehat."
DEG.
Freya langsung loading. "...Hah?"
"Mana-mu lebih stabil dibanding kemarin."
"Oh."
Jawaban itu seharusnya normal. Namun entah kenapa suara rendah Zevian tetap membuat jantung Freya berdetak aneh lagi.
Dan yang lebih buruk, semua orang sekarang melihat mereka bergantian.
Freya langsung mulai panik. 'KENAPA SUASANANYA JADI BEGINI?'
Crimson Valkyrie mendengus kecil. "Karena kalian terdengar seperti pasangan suami istri yang baru bertemu lagi."
'AKU AKAN MEMBUANGMU KE GUNUNG BERAPI.'
"Ancamanmu makin kreatif."
Ophelia akhirnya membuka mulut dengan senyum tipis. "Wah... Yang Mulia ternyata sangat perhatian."
DEG.
Freya langsung merasa hampir mati.
Silas menutup wajahnya perlahan. "Ophelia."
"Apa? Aku hanya observasi."
"Itu observasi yang tidak diperlukan."
Ares sekarang benar-benar menikmati hidup.
Sedangkan Zevian... Ia etap diam. Dan entah kenapa justru itu lebih berbahaya.
Beberapa menit kemudian seluruh penghuni mansion berkumpul di ruang teh utama.
Ruangan besar bernuansa putih-keemasan itu terasa jauh lebih formal sekarang. Para pelayan sibuk menuangkan teh dan menyiapkan makanan ringan sementara Cassius mulai membahas tujuan resmi kunjungan kerajaan.
Atau lebih tepatnya...berusaha membahasnya.
"Retakan abyss di wilayah utara mulai meningkat," kata Cassius tenang sambil membuka beberapa dokumen.
Silas mengangguk kecil. "Night Vanguard juga menemukan jejak monster tingkat tinggi dekat perbatasan timur."
Felix yang duduk tak jauh dari sana ikut menambahkan, "Segel tua di area Black Hollow mulai melemah."
Zevian mendengarkan dengan serius. Benar-benar serius.
Berbeda dengan Freya yang sekarang sedang mengalami penderitaan sosial sambil memegang cangkir teh terlalu erat.
Karena masalahnya adalah... Zevian duduk tepat di depannya.
Dan setiap kali Freya mencoba mengangkat kepala sedikit, tatapan mereka bertemu lagi.
DEG.
Freya langsung buru-buru menunduk.
Crimson Valkyrie memperhatikan semuanya sambil menghela napas panjang. "Kau terlihat seperti rusa kecil yang sedang dikejar predator."
'*ITU ANALOGI YANG MENYERAMKAN*.'
"Dan sangat akurat."
Freya mencoba fokus pada pembicaraan. "...Jadi retakan gerbang makin banyak?"
Felix mengangguk kecil. "Monster abyss mulai lebih aktif beberapa bulan terakhir."
"Itu sebabnya Night Vanguard diperluas," tambah Silas.
Freya perlahan mulai serius mendengarnya.
Dunia ini memang terlihat damai di permukaan. Namun kenyataannya, para bangsawan besar kerajaan masih terus menjaga perbatasan abyss agar monster tidak keluar ke wilayah manusia.
Dan keluarga Vane...berdiri tepat di garis depan semuanya.
Freya diam beberapa detik. Lalu tanpa sadar melirik Felix. Kakaknya terlihat tenang seperti biasa. Namun sekarang Freya tahu pria itu hidup di medan yang benar-benar berbahaya.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit berat. Dan tepat saat itu... "Apa ada masalah?"
DEG.
Freya langsung tersentak kecil karena Zevian sedang menatapnya sekarang.
"...Eh?"
"Kau terlihat berpikir terlalu keras."
Freya buru-buru menggeleng cepat. "T-Tidak."
Namun Zevian tetap memperhatikannya beberapa detik lebih lama. Dan itu membuat Freya makin tidak tenang.
Karena dulu...Zevian tidak pernah melihatnya seperti itu.
Tanpa sadar, sebuah memori lama muncul di kepalanya.
Pesta kerajaan.
Lampu kristal besar memenuhi aula istana dengan cahaya keemasan. Musik dansa terdengar lembut di udara.
Dan Freya lama...berdiri di depan Zevian sambil mencoba mencari perhatian seperti biasa.
"Yang Mulia, apakah Anda mau berdansa denganku?"
Namun Zevian saat itu hanya menatapnya dingin. Tidak marah dan juga tdak kesal. Tapi justru itu yang lebih menyakitkan. Tatapan seseorang yang benar-benar lelah.
"...Jangan mendekat lagi."
Simple. Pendek. Namun cukup membuat Freya lama membeku di tempat.
Freya refleks menggenggam cangkir tehnya sedikit lebih erat.
DEG.
"...Freya?" Aria yang duduk di sampingnya langsung terlihat khawatir kecil.
Freya buru-buru tersadar. "Ah-aku tidak apa-apa."
Namun jujur saja... Ia masih belum benar-benar terbiasa. Karena Zevian sekarang berbeda. Dulu pria itu bahkan tidak mau berbicara lebih dari seperlunya padanya.
Sedangkan sekarang...ia datang langsung ke mansion Vane. Dan itu membuat Freya bingung sendiri.
Di sisi lain ruangan, Zevian memperhatikan Freya diam-diam.
Dan semakin ia melihatnya...semakin aneh rasanya.
Freya sekarang selalu menjaga jarak, terlihat gugup di dekatnya, tidak mencari perhatian, bahkan kadang menghindari tatapannya. Berbeda total dari yang dulu. Dan perubahan itu terlalu besar untuk diabaikan.
Cain yang berdiri di belakang Zevian mulai menyadari sesuatu secara perlahan. Dan itu sangat menarik.
Suasana ruang teh masih cukup tenang...sampai Ophelia membuka mulut.
"Yang Mulia tampaknya cukup sering memikirkan Freya akhir-akhir ini."
HENING TOTAL.
Freya langsung hampir tersedak teh. "DUCHESS BLACKWOOD?"
Silas perlahan memijat pelipisnya seperti pria yang kehilangan energi hidup.
Cassius mengangkat kepala pelan.
Felix langsung menyipitkan mata tajam.
Ares sekarang benar-benar bahagia secara spiritual.
Sedangkan Zevian...membeku sepersekian detik kecil. Dan itu cukup membuat seluruh ruangan makin curiga.
Ophelia tersenyum puas. "Apa? Aku hanya observasi."
"Itu observasi yang tidak diperlukan," gumam Silas lelah.
Freya sekarang benar-benar ingin pindah dimensi. "AKU SERIUS, KENAPA SEMUA ORANG SUKA MEMBUAT SUASANA JADI ANEH?"
Crimson Valkyrie menjawab tenang, "Karena reaksimu lucu."
'PENGKHIANAT.'
Untungnya Seraphina akhirnya menyelamatkan situasi.
"Yang Mulia," katanya lembut, "bagaimana kondisi Crimson Flame menurut Anda?"
Suasana langsung sedikit lebih serius. Zevian mengalihkan pandangan dari Freya.
"Mana-nya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya."
Freya sedikit terdiam. Nada suara Zevian berubah. Lebih serius, lebih fokus. Dan entah kenapa...terdengar benar-benar khawatir.
"Meskipun begitu," lanjut Zevian pelan, "kau tetap tidak boleh memaksakan mana terlalu jauh."
DEG.
Freya perlahan berkedip kecil. "...Aku tahu."
Untuk sesaat suasana terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Dan itu justru membuat jantung Freya makin tidak kooperatif.
Beberapa saat kemudian Freya akhirnya menyerah secara sosial. Ia kabur - secara harfiah.
Taman belakang mansion Vane jauh lebih tenang dibanding ruang teh utama yang dipenuhi monster sosial berkekuatan tinggi.
Angin sore bertiup lembut melewati taman bunga luas. Air mancur mana biru di tengah taman memantulkan cahaya matahari dengan indah.
Freya duduk di bangku taman sambil memegangi wajahnya sendiri. "...Aku tidak akan selamat."
Crimson Valkyrie melayang santai di dekat pohon.v"Padahal mereka hanya menggoda sedikit."
"ITU BUKAN SEDIKIT."
"Kau terlalu lemah."
Freya mendesah panjang.
Jujur saja... Ia bingung sendiri.
Karena semakin Zevian bersikap baik padanya...semakin ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Dulu semuanya jauh lebih mudah. Freya lama itu obsesif sedangkan Zevian itu dingin. Selesai.
Namun sekarang...segalanya berubah.
TOK.
Suara langkah kaki terdengar pelan. Freya langsung menoleh. Dan jantungnya kembali berdetak aneh. Zevian berjalan mendekat perlahan.
DEG.
"...Yang Mulia."
"Aku mengganggu?"
"T-Tidak."
Jawabannya terlalu cepat.
Zevian duduk di bangku taman tak jauh darinya. Dan suasana langsung jadi awkward.
Freya sekarang benar-benar sadar mereka sedang sendirian.
SENDIRIAN.
Crimson Valkyrie langsung menghilang begitu saja.
'*HEI KENAPA KAU MALAH PERGI*?'
"Aku tidak ingin melihat drama remaja."
'*PENGKHIANAT*.'
Hening kecil muncul.
Lalu Freya buru-buru mencoba bicara. "Yang Mulia tidak ikut diskusi?"
"Aku bosan."
Freya bengong. "...Putra mahkota ternyata bisa bosan juga?"
Untuk pertama kalinya hari itu...sudut bibir Zevian bergerak sedikit. Sangat tipis namun jelas ada. Dan Freya langsung terkena critical damage.
DEG.
'*ASTAGA DIA SENYUM SEDIKIT*.'
"Kau benar-benar payah," komentar Crimson Valkyrie dari jauh.
Freya mengabaikannya dengan susah payah.
Hening kecil kembali muncul. Namun kali ini tidak terlalu canggung.
Angin sore bertiup pelan di antara mereka. Lalu tiba-tiba Zevian berkata,
"...Kau masih takut padaku?"
DEG.
Freya langsung membeku. Karena pertanyaan itu terlalu tepat. Memori lama kembali muncul: tatapan dingin Zevian, penolakan, rasa muak, dan Freya lama yang terus mengejarnya.
Freya buru-buru menggeleng. "T-Tidak." Dan kebohongan itu buruk sekali.
Zevian memperhatikannya diam beberapa detik. "...Kau selalu tegang saat berada di dekatku."
Freya langsung panik internal. '*KARENA AKU GUGUP OKE*?'
Namun tentu saja ia tidak mungkin mengatakan itu. "Aku hanya... tidak terbiasa."
"Padahal dulu kau tidak seperti itu."
DEG.
Freya langsung diam. Karena itu benar. Dulu Freya asli bahkan terlalu berani mendekatinya.
Sedangkan sekarang...ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Hening kecil muncul lagi. Lalu Zevian akhirnya berkata pelan, "...Aku tidak membencimu."
DEG.
Freya membeku total. Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa langsung menghantam dadanya keras.
Karena selama ini...meskipun semuanya berubah...sebagai pembaca novel aslinya, dirinya tetap percaya Zevian masih muak padanya.
Namun tatapan pria itu sekarang berbeda. Tidak dingin dan tidak menjauh. Justru terlalu lembut. Dan itu jauh lebih berbahaya.
Freya perlahan menunduk kecil. "...Oh."
Jantungnya sekarang benar-benar kacau. Namun tepat saat suasana mulai berubah lebih tenang...
"Oh." Suara santai penuh dosa terdengar dari belakang.
Freya langsung membeku.
Ares berdiri beberapa meter dari mereka sambil menggigit apel seperti iblis sosial yang baru menemukan hiburan baru. "Jadi kalian di sini."
Freya langsung hampir mati mental. "ARES."
"Ya?"
"Itu nada suara orang yang sengaja mengganggu."
"Aku memang sengaja."
Zevian perlahan menoleh. Dan atmosfer dingin tipis langsung muncul.
Ares menyadarinya. Dan justru terlihat makin terhibur.
"Silakan lanjutkan. Anggap aku tidak ada."
"Itu mustahil," jawab Freya cepat.
"Kejam sekali."
Namun seringai Ares jelas mengatakan pria itu sedang menikmati penderitaan mereka.
Dan Freya mulai mempertimbangkan tindak kriminal.
Malam harinya... Suasana makan malam terasa jauh lebih aneh dibanding biasanya.
Karena sekarang:
Zevian lebih sering melihat Freya
Freya makin salah tingkah
Felix mulai curiga penuh
Ophelia terlihat sangat hidup
Seraphina tersenyum lembut penuh makna
Cassius mulai mode ayah protektif tipis-tipis
Silas kehilangan harapan hidup perlahan
Sementara itu Ares justru menikmati semuanya secara spiritual.
Freya yang duduk di meja makan sekarang bahkan tidak berani mengangkat kepala terlalu sering.
Karena setiap kali ia melakukannya...mata biru gelap Zevian selalu bertemu dengannya lagi.
DEG.
'KENAPA DIA MELIHAT KE SINI TERUS?'
Crimson Valkyrie menjawab santai, "Mungkin karena dia suka."
'DIAM.'
Di ujung meja, Ophelia perlahan menyesap teh sambil tersenyum tipis. "Lucu sekali."
Silas langsung lelah. "Tolong jangan mulai lagi."
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Itu justru yang menakutkan."
Freya sekarang benar-benar ingin menghilang.
Malam semakin larut. Dan akhirnya Freya berhasil kabur kembali ke kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup... Ia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. "...Astaga."
Crimson Valkyrie muncul lagi di dekat jendela. "Kau terlihat seperti baru selamat dari perang."
"Ini lebih buruk."
"Drama sekali."
Freya memegangi dadanya pelan.
DEG. DEG. DEG.
Jantungnya masih berdetak aneh.
Dan sekarang... ia mulai sadar sesuatu yang sangat berbahaya.
Dulu ia yang sebagai jiwa baru pengganti Freya asli merasa sangat takut pada Zevian.
Namun sekarang...rasa takut itu perlahan menghilang.
Dan justru itu masalahnya. Karena semakin ia berhenti takut...semakin ia mulai menyukai berada di dekat pria itu.
Freya menutup wajahnya sendiri dengan bantal. "...Ini buruk."
Crimson Valkyrie menyeringai kecil. "Sangat buruk."
Freya memejamkan mata rapat-rapat. Lalu bergumam pelan dengan wajah merah total, "...Astaga. Jangan-jangan aku benar-benar mulai menyukai dia?"