Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Balas Budi Keluarga De Arther
Evelyn memandang Rachael cukup lama setelah cerita itu selesai.
Tatapannya lembut. Namun di balik itu jelas ada rasa bersalah yang sudah disimpan bertahun-tahun.
Ruangan kembali hening pelan.
Hanya suara samar pendingin ruangan dan dentingan kecil sendok dari para pelayan yang masih terdengar.
Rachael sendiri duduk diam.
Tatapannya turun ke cake strawberry yang mulai habis di piring kecilnya.
Pikirannya terasa sedikit penuh sekarang.
Karena malam ini, ia mendengar terlalu banyak hal tentang ibunya yang bahkan tidak pernah diceritakan langsung padanya.
Evelyn akhirnya tersenyum kecil lagi. “Aku selalu ingin membalas budi pada Eve.”
“Tapi dia selalu menghilang sebelum aku sempat melakukan apa pun.”
Sebastian terkekeh samar kecil. “Itu memang gaya keluarga Velencia.”
Arthur diam.
Sementara Leon masih memperhatikan Rachael sejak tadi. Ia sadar gadis itu mulai kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tatapannya perlahan kosong sedikit. Jemarinya kembali memainkan sendok kecil pelan tanpa sadar.
Evelyn lalu melanjutkan lembut, “Karena itu...” wanita itu menatap langsung ke arah Rachael, “sekarang aku ingin membalasnya padamu.”
Rachael langsung sedikit tersadar. “Hm?”
“Kamu boleh datang ke mansion ini kapan saja.”
Kalimat itu membuat Rachael membeku kecil.
Evelyn tersenyum hangat. “Kalau kamu butuh tempat istirahat, datang saja.”
“Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Keluarga de Arther akan membantumu.” Nada suaranya tenang.
Namun terdengar sangat serius. Bukan basa-basi. Bukan hanya formalitas.
Dan justru itu yang membuat Rachael terlihat semakin bingung. Karena ia tidak terbiasa menerima sesuatu tanpa syarat.
Tatapannya perlahan bergerak ke Arthur. Lalu ke Sebastian, ke Leon, dan kembali ke Evelyn lagi.
“Apa...” suara Rachael pelan, “boleh begitu?”
Pertanyaan itu terdengar sangat hati-hati. Seolah ia benar-benar tidak yakin dirinya diperbolehkan menerima semua itu.
Evelyn langsung mengernyit kecil sedih. “Tentu saja boleh. Kamu masih anak-anak. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Kalimat itu membuat Rachael diam lagi.
Leon memperhatikan perubahan kecil di wajahnya.
Rachael tampak seperti seseorang yang sedang berusaha memahami sesuatu yang asing hangat, peduli, dan perhatian yang tidak dipaksakan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena seumur hidupnya, orang-orang selalu memberinya uang, barang, obat, bukan tempat untuk kembali.
Akhirnya Rachael hanya menunduk kecil sambil memegang sendoknya pelan. “...Aku bingung harus jawab apa.” Suaranya pelan, jujur.
Evelyn tersenyum lembut lalu mengusap pelan kepala Rachael. “Kamu tidak perlu jawab sekarang.”
Sentuhan lembut itu membuat Rachael sedikit membeku lagi. Ia tidak menghindarinya, hanya diam sambil menunduk kecil.
Sementara di sisi lain meja, Leon diam-diam memperhatikan semuanya dengan tatapan yang semakin sulit dijelaskan.
Ruang makan kembali tenang setelah itu. Tidak ada yang langsung melanjutkan percakapan.
Kesunyiannya terasa berbeda.
Rachael masih duduk diam sambil menatap pelan cake strawberry yang tinggal sedikit di piringnya. Jemarinya memainkan sendok kecil perlahan, kebiasaan kecil yang selalu muncul saat pikirannya mulai penuh.
Evelyn perlahan menarik tangannya kembali dari kepala Rachael. Tatapannya masih sangat lembut.
“Aku serius, Rachael. Tempat ini terbuka untukmu.”
Rachael perlahan mengangkat kepala. Matanya berkedip pelan beberapa kali sebelum bertanya dengan suara kecil, “Walaupun aku aneh?”
Hening.
Pertanyaan itu keluar terlalu alami. Seolah memang itulah yang selalu ada di pikirannya.
Axel langsung mengangkat alis. “Aneh apanya?”
Rachael terlihat berpikir sebentar. "Ya, seperti yang kau tahu."
Kalimat itu membuat dada Leon terasa semakin sesak.
Cara Rachael mengatakannya terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu sering terjadi.
Evelyn langsung menjawab tanpa ragu sedikit pun.
“Kalau begitu tinggal biasakan saja.”
Rachael langsung menoleh kecil bingung.
Sebastian terkekeh pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Keluarga ini juga tidak normal.”
Axel langsung mengangguk cepat. “Nah itu bener.”
Bahkan Arthur akhirnya bicara datar dari ujung meja, “Kamu jauh lebih normal dibanding sebagian orang di mansion ini.”
Axel langsung menunjuk dirinya sendiri protes. “Kenapa aku merasa tersindir?”
“Itu karena memang iya,” jawab Leon dingin.
Axel langsung terdiam dramatis.
Sementara itu, Rachael perlahan melihat satu per satu wajah orang di meja makan itu.
Evelyn tersenyum hangat. Sebastian terlihat santai. Axel mulai ribut sendiri dengan Leon. Bahkan Arthur tidak terlihat keberatan dirinya ada di sana.
Suasana itu terasa aneh.
Dan tanpa sadar sesuatu di dalam diri Rachael perlahan mulai melunak sedikit. Hal yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Rasa ingin tinggal lebih lama di suatu tempat.
Namun karena tidak terbiasa dengan perasaan hangat seperti itu, Rachael justru jadi bingung sendiri. Ia akhirnya mengambil gelas tehnya buru-buru lalu meminumnya sedikit terlalu cepat.
Leon langsung menyadari perubahan kecil itu. “Kamu gugup?”
Rachael langsung refleks menjawab cepat, “Nggak.”
“Terus kenapa minumnya kayak orang panik?”
Rachael membeku kecil. "Bukan begitu."
Axel langsung tertawa keras. “ANJIR KENA.”
“Aku cuma haus,” bela Rachael cepat sambil menghindari tatapan mereka, telinganya kembali memerah. "Mau ke toilet, dimana toiletnya?"
Membuat Evelyn tersenyum semakin lembut. Karena untuk pertama kalinya, Rachael Valencia mulai terlihat seperti gadis seusianya.
Evelyn langsung tersenyum kecil sambil menunjuk ke arah lorong panjang di samping ruang makan.
“Belok kanan, lalu lurus saja. Ada pelayan di sana kalau kamu bingung.”
Rachael mengangguk cepat kecil. “Terimakasih.”
Lalu ia buru-buru berdiri dari kursinya sambil membawa sedikit rasa malu yang jelas terlihat dari ujung telinganya yang masih merah.
Axel langsung menahan tawa lagi saat melihat cara Rachael hampir terlalu cepat berjalan keluar dari ruang makan. “Dia kabur.”
“Aku nggak kabur,” balas Rachael refleks tanpa menoleh.
“Itu jelas kabur.”
“Enggak kok.” Beberapa detik kemudian, Rachael benar-benar menghilang masuk ke lorong mansion.
Suasana ruang makan langsung sedikit berubah setelah kepergiannya.
Sekarang justru semua orang tanpa sadar memperhatikan ke arah lorong tempat gadis itu pergi tadi.
Axel akhirnya bersandar ke kursinya sambil menghela napas kecil. “Jujur aja...” gumamnya pelan, “Aku baru pertama lihat dia kayak gitu.”
Sebastian tersenyum samar. “Lebih hidup?”
“Iya.”
Leon diam. Namun ia tahu Axel benar. Biasanya Rachael selalu terlihat menjaga jarak dengan semua orang. Sulit ditebak.
Namun malam ini, gadis itu beberapa kali terlihat malu, bingung, bahkan gugup.
Hal-hal kecil yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dibanding biasanya.
Evelyn menopang dagunya sambil tersenyum lembut. “Dia sebenarnya manis sekali.”
Arthur yang sejak tadi diam akhirnya bicara pendek, “Hanya terlalu terbiasa bertahan sendiri.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit hening lagi.
Leon menurunkan pandangannya pelan. Itu memang benar.
Semakin lama ia mengenal Rachael, semakin jelas kalau semua sikap aneh gadis itu sebenarnya hanyalah cara bertahan hidup.
Sementara itu, di sisi lain mansion.
Rachael berjalan mengikuti lorong besar bernuansa hitam elegan dengan langkah cukup cepat.
Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer mengilap.
Mansion keluarga de Arther benar-benar besar.
Terlalu besar bahkan. Dan jujur saja, Rachael mulai sedikit bingung sendiri.
“Belok kanan tadi...” Ia berhenti sebentar di persimpangan lorong. Tatapannya bergerak cepat memperhatikan sekitar.
Sunyi.
Rachael langsung menggigit kecil bagian dalam pipinya sendiri refleks.
Karena meskipun tadi ia terlihat lebih santai, ia tetap tidak terlalu suka lorong besar yang sepi.
Apalagi pencahayaan mansion malam hari terasa sedikit redup dan tenang.
Pikirannya mulai bergerak lagi terlalu cepat. “Aneh banget kalau nyasar sekarang...”
“Kalau tiba-tiba ada orang lewat gimana...”
“Kalau salah masuk ruangan orang...”
Rachael langsung menggeleng kecil sendiri. “Fokus.”
Ia akhirnya kembali berjalan. Namun beberapa langkah kemudian, suara langkah kaki samar terdengar dari belakang.
Rachael langsung berhenti refleks. Tatapannya berubah waspada sangat cepat.
Ia perlahan menoleh ke belakang, dan tepat di sana, Leon berdiri sambil memasukkan satu tangan ke saku celananya.
Ekspresinya tetap datar seperti biasa. “Ayah nyuruh aku nunjukin jalan.”
Rachael membeku sepersekian detik. Lalu langsung menghela napas panjang kecil. “Bikin kaget saja.”
Leon memperhatikan reaksi itu beberapa detik. “Kamu takut?”
Rachael buru-buru menggeleng cepat. “Nggak.”
“Terus kenapa mukamu tegang?”
Rachael langsung diam sejenak sebelum menjawabnya. "Kan kaget doang tadi."
Leon berjalan mendekat sedikit sambil tetap tenang.
“Kalau takut lorong sepi bilang aja.”
“Aku nggak takut.”
“Hmm.”
“Nggak usah hmm.”
Sudut bibir Leon akhirnya naik tipis samar.
Dan itu membuat Rachael langsung mengalihkan pandangan cepat lagi karena entah kenapa, jantungnya mulai terasa aneh sekarang.
"Sudahlah." Rachael masuk ke toilet.
Leon mengikuti dengan senyum tipis.
Rachael menoleh dan hendak menutup pintunya, "Jangan mengintip, itu tidak sopan."
Leon yang sudah berdiri di depan pintu toilet langsung mengangkat alis kecil. Sudut bibirnya masih naik tipis samar. “Aku nggak bilang mau ngintip.”
Rachael memegang gagang pintu sambil menatap Leon penuh curiga. “Kamu senyum.”
“Itu bukan bukti.”
“Tapi senyum mu itu mencurigakan.”
Leon hampir tertawa kecil mendengarnya.
Tapi sebelum ia sempat membalas, Rachael sudah buru-buru masuk ke dalam toilet dan hendak menutup pintu. “Jangan nguping juga,” tambahnya cepat.
Leon langsung menahan pintu sepersekian detik sebelum benar-benar tertutup. “Aku cuma nunggu di luar.”
Rachael langsung menyipitkan mata kecil. “Itu lebih mencurigakan.”
“Kalau kamu nyasar lagi nanti?”
Rachael membeku kecil. Karena itu memang mungkin terjadi.
Leon melihat reaksi itu dan sudut bibirnya kembali naik samar. “Kena.”
Rachael langsung memalingkan wajah cepat. Lalu pintu toilet akhirnya tertutup pelan.
Leon berdiri diam beberapa detik di depan pintu itu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
Ekspresinya tetap tenang, tapi jelas suasana hatinya jauh lebih ringan sekarang.
Karena ia melihat Rachael benar-benar bereaksi spontan seperti gadis normal seusianya. Bukan terus-menerus memasang wajah datar atau berpura-pura baik-baik saja.
Sementara itu, di dalam toilet.
Rachael langsung berdiri diam di depan wastafel sambil memegang dadanya sendiri pelan.
Jantungnya berdetak terlalu cepat. “Kenapa jadi aneh begini sih...” Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Pipinya sedikit merah. Dan yang paling membuatnya bingung, ia sadar dirinya sedang senang.
Padahal biasanya Rachael paling tidak nyaman berada terlalu lama dekat orang lain.
Tapi malam ini berbeda suasana hangat di ruang makan tadi.
Evelyn yang mengusap kepalanya. Axel yang ribut seperti biasa. Sebastian yang santai. Arthur yang meskipun dingin tidak menolaknya.
Dan Leon... Rachael langsung menutup wajahnya sendiri cepat dengan kedua tangan.
“Kenapa dia senyum terus sih...” gumamnya pelan malu sendiri.
Beberapa detik kemudian, ia buru-buru membuka keran air lalu mencuci wajahnya pelan.
Berusaha menenangkan pikirannya sendiri yang mulai terlalu ramai lagi. Dalam pikirannya, "Astaga, ini menyenangkan. Duh Gusti... tapi mau pulang."
Rachael karena kebanyakan makan manis-manis, ia jadi sangat senang. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kepada siapapun saat stress seperti ini.
Stress karena kebanyakan gula manis-manis, membuat pikirannya kacau. Kacaunya untuk hal-hal senang seperti main-main. Bukan kacau, stress yang depresi.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe