Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. pangeran yang terpesona
( mohon maaf atas perubahan yang tiba-tiba, atau sedikit gak nyambung. bab secara tidak sengaja di hapus adik ku )
—
Arsen berdiri di balik pilar batu besar di sudut taman belakang Istana Kristal. Dia menarik napas dalam-dalam, memastikan jubahnya tidak tersangkut, dan matanya waspada terhadap setiap gerakan penjaga. Sebagai "tamu" Ratu Floren—sebuah eufemisme halus untuk tahanan berkelas—gerakannya dibatasi ketat di Sayap Timur. Namun, rasa ingin tahunya telah mengalahkan kehati-hatiannya.
Julian telah menyebutkan sesuatu tentang "Gudang Utara No. 4" dan "eksperimen sosial" dalam percakapan singkat mereka dua hari lalu. Kata-kata itu menggantung di pikiran Arsen seperti teka-teki yang belum terpecahkan. Di Aethelgard, gudang adalah tempat untuk menyimpan barang mati. Apa yang bisa disimpan di sana yang membutuhkan perhatian seorang penyihir secerdas Julian?
Dengan hati-hati, Arsen menyusuri koridor pelayanan, menghindari patroli utama Kaelia. Dia tahu Jenderal itu tajam; jika Kaelia menemukannya, dia tidak akan segan mematahkan kakinya sebelum menyeretnya kembali ke kamar. Tapi Arsen harus tahu. Dia harus memahami apa yang sedang dibangun Floren di kerajaannya.
Setelah sepuluh menit menyelinap, Arsen mencapai pintu belakang yang mengarah ke distrik bawah kota. Udara di sini lebih dingin, berbau tanah basah dan asap kayu bakar. Dia mengikuti petunjuk samar yang pernah didengarnya dari para pelayan: sebuah bangunan bata merah tua di ujung jalan buntu, jauh dari kemegahan istana.
Saat dia mendekat, suara tawa anak-anak terdengar. Bukan tawa main-main yang liar, tapi tawa yang disertai dengan diskusi, pertanyaan, dan kegembiraan intelektual.
Arsen mengintip melalui celah jendela yang pecah.
Di dalam, ruangan yang seharusnya gelap dan berdebu itu telah berubah total. Lantainya bersih. Ada lima meja kayu sederhana yang disusun melingkar. Di tengah-tengahnya, berdiri Julian, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, tanpa jubah sihirnya yang megah. Di depannya, duduk lima anak laki-laki berusia antara delapan hingga dua belas tahun. Mereka mengenakan pakaian kasar, bekas kemiskinan terlihat jelas, tetapi mata mereka bersinar dengan antusiasme yang membuat dada Arsen sesak.
"...jadi, jika kita memiliki sepuluh koin emas," kata Julian, suaranya tenang namun berwibawa, "dan harga roti naik menjadi dua koin per potong, berapa banyak roti yang bisa kita beli?"
"Lima!" seru seorang anak kecil bernama Lira dengan semangat.
"Benar," kata Julian, mengangguk. "Tapi, apa yang terjadi jika kita juga perlu membeli susu seharga tiga koin? Apakah sisa koin kita cukup?"
Anak-anak itu mulai berbisik, menghitung dengan jari-jari mereka. Arsen tertegun. Ini bukan pelajaran sihir. Ini bukan pelatihan pedang. Ini... matematika dasar. Ekonomi rumah tangga. Hal-hal yang dianggap remeh oleh bangsawan, namun vital bagi kelangsungan hidup rakyat jelata.
Di Aethelgard, pria diajarkan satu hal: bagaimana menjadi kuat secara fisik untuk melindungi wanita, atau bagaimana menjadi patuh agar tidak merepotkan. Pendidikan formal untuk pria hampir tidak ada, kecuali bagi mereka yang berdarah biru tinggi dan itu pun terbatas pada etiket dan sejarah perang.
Melihat Julian—salah satu penasihat tercanggih Mobelle—mengajarkan anak-anak yatim piatu cara berhitung, Arsen merasakan goncangan ideologis yang mendalam.
"Kenapa kau melakukan ini?" gumam Arsen pelan, tanpa sadar suaranya keluar.
Di dalam ruangan, Julian berhenti berbicara. Dia menoleh tajam ke arah jendela. Matanya yang tajam seolah menembus kaca, langsung menatap Arsen yang bersembunyi di kegelapan.
"Arsen," panggil Julian, suaranya datar namun terdengar jelas meski dinding. "Keluarlah. Bersembunyi seperti tikus tidak cocok untuk seorang Pangeran."
Arsen menelan ludah. Tertangkap. Dengan langkah gontai, dia berjalan mengelilingi bangunan dan masuk melalui pintu samping yang terbuka.
Kelima anak itu menatapnya dengan mata lebar. Mereka mengenali wajah Arsen dari berita-berita jalanan; Pangeran Buangan dari Aethelgard.
Julian tidak tampak marah. Dia hanya membersihkan kacamatanya dengan tenang, lalu memasangnya kembali. "Aku kira kau akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan tempat ini. Insting investigasi mu lebih baik daripada yang kuduga."
"Apa ini?" tanya Arsen, gesturnya mencakup seluruh ruangan. "Sekolah?"
"Eksperimen," koreksi Julian. "Ratu Floren percaya bahwa stabilitas negara tidak hanya dibangun di atas kekuatan militer, tapi juga di atas kesejahteraan rakyat. Dan kesejahteraan dimulai dari pendidikan. Pria-pria ini," Julian menunjuk anak-anak itu, "adalah generasi berikutnya. Jika mereka bisa berpikir logis, mereka tidak akan mudah dimanipulasi oleh demagog atau korupsi."
Arsen menatap Lira, anak yang tadi menjawab pertanyaan. "Mereka... mereka belajar?"
"Mereka belajar menjadi mandiri," jawab Julian. "Di Mobelle, kami sedang mengubah paradigma. Pria bukan sekadar alat perang atau hiasan. Mereka adalah mitra. Dan mitra harus cerdas."
Kata-kata itu menghantam Arsen seperti palu godam. Mitra. Di Aethelgard, ibunya, Ratu Isolde, selalu berkata bahwa pria adalah beban yang harus dikelola. Di sini, Floren dan Julian melihat mereka sebagai aset intelektual.
Arsen merasa dunianya yang sempit runtuh. Selama ini, dia membenci ibunya bukan karena dia jahat, tapi karena dia merasa terjebak dalam peran yang tidak dipilihnya. Di sini, dia melihat kemungkinan lain.
"Bolehkah..." Arsen ragu-ragu, suaranya serak. "Bolehkah aku... menonton?"
Julian menatapnya lama. Ada penilaian dalam tatapan itu. Lalu, sudut bibirnya mengangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang jarang terlihat.
"Duduk," kata Julian, menunjuk kursi kosong di belakang lingkaran. "Tapi jangan mengganggu. Dan jika kau ketahuan Kaelia, jangan katakan aku yang membiarkanmu masuk."
Arsen tersenyum, rasa lega yang aneh memenuhi dadanya. Dia duduk, mendengarkan Julian melanjutkan pelajaran tentang aritmatika dasar. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Mobelle, Arsen tidak merasa sebagai tawanan. Dia merasa sebagai siswa. Dan dalam keheningan gudang tua itu, benih perubahan mulai tumbuh di hatinya—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua pria di benua yang selama ini dibungkam.
Dia terpesona. Bukan oleh keindahan istana, atau kekuasaan Floren, tapi oleh ide sederhana yang revolusioner: bahwa setiap orang, terlepas dari gender atau status, berhak untuk mengerti dunia tempat mereka hidup.