Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di tengah suasana ramah tamah yang hangat, Pak Gunawan kembali melangkah mendekati sofa tempat Jati dan Gayuh duduk bersanding. Namun kali ini, ia tidak datang sendiri.
Di belakangnya, beberapa perwakilan pelayan senior mansion ikut berbaris dengan rapi, masing-masing membawa senyuman tulus yang merekah di wajah mereka.
Pak Gunawan membawa sebuah kotak kayu jati berukir indah dengan nuansa tradisional yang kental, sementara seorang pelayan wanita di sampingnya memegang sebuah keranjang anyaman kecil yang dihias pita satin putih.
"Permisi, Tuan Jati, Nyonya Gayuh," ucap Pak Gunawan dengan nada suara yang bergetar haru.
"Kami semua di mansion ini ingin mempersembahkan sedikit hadiah kecil sebagai wujud rasa syukur dan suka cita kami atas pernikahan kalian."
Pak Gunawan perlahan membuka kotak kayu jati tersebut di hadapan Gayuh.
Di dalamnya, terletak sepasang cangkir teh keramik buatan tangan (handmade) dengan ukiran siluet sepasang kekasih yang sangat halus, lengkap dengan inisial nama Jati dan Gayuh yang dilapisi warna emas.
"Ini adalah simbol dari kami, Nyonya. Kami berharap, setiap pagi di mansion ini selalu diawali dengan kehangatan, sehangat teh yang diseduh di dalam cangkir ini," lanjut Pak Gunawan tersenyum tulus.
Gayuh menyentuh ukiran keramik itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ini indah sekali, Pak Gunawan. Terima kasih banyak."
Tak berhenti di situ, pelayan wanita senior kemudian melangkah maju dan menunjukkan isi keranjang anyamannya.
Begitu penutupnya dibuka, aroma harum kelapa sangrai dan gula merah langsung menguar, memanjakan indra penciuman.
Di dalamnya tersaji kue keranjang tradisional Jawa dan beberapa jajanan pasar yang ditata sangat cantik.
"Nyonya Gayuh, kami tahu Anda sangat menyukai kuliner tradisional," ucap pelayan wanita itu dengan takzim.
"Kami sengaja membuatkan kue hantaran tradisional ini di dapur bawah sejak subuh tadi. Ini simbol doa dari kami para pelayan agar kehidupan rumah tangga Tuan dan Nyonya selalu manis, lengket, dan harmonis selamanya."
Melihat perhatian yang begitu luar biasa dari orang-orang yang awalnya ia takuti, pertahanan Gayuh runtuh. Ia merasa sangat diterima dan dicintai di rumah ini.
Jati yang melihat binar kebahagiaan di mata istrinya langsung merangkul pinggang Gayuh lebih erat.
Ia menatap Pak Gunawan dan para pelayannya dengan senyuman tipis namun sarat akan rasa terima kasih.
"Terima kasih atas doa dan hadiah kalian. Saya sangat menghargainya. Pak Gunawan, pastikan semua pekerja di mansion ini menerima bonus tiga kali lipat bulan ini sebagai perayaan pernikahan kami," titah Jati tegas, membuat para pelayan seketika saling berpandangan dengan mata berbinar bahagia.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak!" jawab mereka serempak sembari membungkuk hormat, meninggalkan sepasang pengantin baru itu dengan hati yang penuh oleh kehangatan sejati.
Pak Gunawan tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua pengantin baru itu.
Menyadari bahwa Jati dan Gayuh belum sempat menyentuh hidangan berat sejak acara akad nikah selesai, pria paruh baya itu dengan sigap berbalik dan memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat meja prasmanan.
"Tolong ambilkan menu utama soto daging yang masih hangat, dan jangan lupa martabak telur premiumnya. Bawa langsung ke sini," titah Pak Gunawan dengan suara rendah namun cekatan.
Tidak butuh waktu lama, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua piring hidangan yang aromanya sangat menggugah selera.
Asap tipis masih mengepul dari nasi putih yang disiram kuah soto daging, berdampingan dengan potongan martabak telur premium yang tebal dengan kulit yang renyah dan isian daging yang melimpah.
"Silakan dinikmati, Tuan, Nyonya," ucap pelayan itu takzim sebelum meletakkan piring di meja rendah di depan sofa dan undur diri.
Gayuh baru saja hendak mengulurkan tangannya untuk meraih sendok, namun pergerakannya langsung didahului oleh Jati.
Pria itu dengan cekatan mengambil piring berisi nasi soto daging tersebut dan meletakkannya di pangkuannya sendiri.
"Jati, aku bisa makan sendiri..." bisik Gayuh pelan, merasa pipinya kembali menghangat karena mereka masih berada di ruang utama yang dihadiri beberapa staf dan pelayan.
"Tugasmu hari ini hanya duduk manis dan memulihkan tenagamu, Nyonya Aditama," potong Jati dengan nada baritonnya yang lembut namun mutlak, sama sekali tidak memedulikan tatapan haru dari Pak Gunawan di sudut ruangan.
Jati menyendok sedikit nasi hangat yang sudah diaduk rata dengan soto daging yang empuk.
Ia meniupnya perlahan dengan penuh kesabaran agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkan sendok itu ke depan bibir Gayuh.
"Ayo, buka mulutnya, Sayang."
Gayuh akhirnya pasrah dan menerima suapan itu dengan senyuman tipis yang teramat bahagia.
Cita rasa gurih soto daging berpadu sempurna dengan kehangatan pelukan Jati yang masih setia merangkul pinggangnya posesif.
Setelah beberapa suapan nasi, Jati berganti memotongkan bagian tengah martabak telur premium yang paling lembut, meniupnya, dan kembali menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang.
Di hadapan semua orang di mansion itu, sang CEO J-Corp yang biasanya ditakuti dan berwibawa tinggi, kini telah sepenuhnya menjelma menjadi seorang suami yang begitu memuja dan memanjakan istrinya tanpa batas.
Sementara suasana di dalam mansion Aditama diliputi oleh kehangatan dan kebahagiaan, atmosfer yang bertolak belakang justru terasa di dalam ruang kunjungan berspesifikasi khusus di rumah tahanan.
Ruangan yang pengap itu terasa begitu dingin dan mencekam.
Di sana, di balik pembatas kaca tebal, Papa Yudha duduk dengan guratan amarah dan frustrasi yang mendalam di wajahnya.
Di hadapannya, Tryas duduk dengan mengenakan seragam tahanan berwarna oranye. Wajah Tryas yang biasanya dipenuhi riasan mahal kini tampak pucat, kusam, dan rambutnya berantakan—sepenuhnya kehilangan aura wanita kelas atas yang selama ini ia banggakan.
Papa Yudha melemparkan sebuah tablet pintar ke atas meja kayu di depan mereka.
Layarnya menampilkan foto-foto eksklusif pernikahan tertutup Jati dan Gayuh yang sengaja dikirimkan oleh Pak Gunawan sebagai pesan peringatan dari J-Corp.
"Lihat ini!" bentak Papa Yudha dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar dadanya.
"Lihat wanita yang dulu kamu panggil pelayan itu! Andai saja kamu menurut, andai saja otakmu itu tidak dangkal dan membuang Jati saat dia menyamar, pasti kamu yang ada di sana saat ini!"
Tryas menatap layar tablet tersebut dengan mata yang perlahan membelalak sempurna. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan.
Di dalam foto itu, Gayuh tampak begitu anggun, bersinar, dan cantik luar biasa.
Ia mengenakan gaun pengantin brokat putih premium dengan potongan elegan dan mewah—sebuah gaun pengantin impian yang selama ini disimpan Tryas di dalam papan pencarian dan majalah mode terkenalnya, gaun yang selalu ia dambakan untuk hari pernikahannya sendiri.
Melihat kenyataan pahit itu, Tryas mencengkeram erat kedua tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat.
Rasa asih, iri, dan dendam bergejolak hebat di dalam dadanya sampai membuatnya merasa mual.
"Tidak mungkin! Itu harusnya tempatku! Gaun itu milikku!" jerit Tryas histeris, air matanya menetes merusak wajah pucatnya.
Ia memukul kaca pembatas dengan frustrasi. "Jati harusnya milikku, Papa! Kenapa penulis miskin itu yang mendapatkannya?!"
"Cukup, Tryas! Penyesalanmu sudah tidak ada gunanya lagi!" potong Papa Yudha dengan suara dingin yang mematikan harapan putrinya.
"Gara-gara kegilaanmu mencoba membunuh wanita itu, Jati telah menghancurkan seluruh saham dan aset perusahaan kita tanpa sisa. Kita hancur, Tryas. Dan kamu akan membusuk di sel ini melihat pernikahan impianmu dijalani oleh Gayuh sebagai Nyonya Aditama yang sah."
Tryas hanya bisa tertunduk lesu, meremas jemarinya sendiri dalam tangisan penyesalan yang terlambat, sementara di luar sana, takdir telah mengunci posisi Gayuh di tempat tertinggi yang tak akan pernah bisa ia gapai lagi.
Setelah seluruh rangkaian acara ramah tamah yang intim itu selesai, para tamu dan staf akhirnya undur diri, meninggalkan keheningan yang romantis di dalam mansion.
Jati menatap wajah Gayuh yang mulai menyiratkan rona kelelahan, meski binar kebahagiaan di matanya tidak bisa disembunyikan.
Tanpa aba-aba, Jati menyelipkan kedua lengan kokohnya di bawah lutut dan punggung Gayuh.
Ia membopong tubuh mungil istrinya itu dengan sangat hati-hati, memastikan gerakannya selembut mungkin agar tidak mengguncang luka di punggung sang istri.
Jati membawanya berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar utama mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Jati merebahkan tubuh Gayuh di atas ranjang yang kini telah ditaburi kelopak mawar merah yang harum.
Jati duduk di tepi ranjang, mengusap helai rambut Gayuh dengan penuh kasih.
"Bulan madu kita tunda dulu ya, Sayang. Karena luka kamu masih belum sembuh total," ucap Jati dengan nada suara yang penuh pengertian.
"Aku tidak mau perjalanan jauh membuatmu kelelahan dan kesakitan."
Gayuh menganggukkan kepalanya dengan lembut. Ia sama sekali tidak keberatan, karena baginya, berada di sisi Jati sudah lebih dari cukup dari bulan madu mana pun di dunia ini.
"Iya, tidak apa-apa."
"Dan sekarang, ayo ganti pakaianmu," ujar Jati, matanya menatap intens pada ritsleting gaun pengantin yang melekat di tubuh indah istrinya.
Wajah Gayuh seketika merona hebat sampai ke leher.
"A-aku bisa sendiri, Mas..." bisik Gayuh terbata-bata, reflek menyilangkan tangan di depan dadanya karena gugup.
Mendengar kata "Mas" mengalir begitu tulus dari bibir ranum Gayuh, senyuman tampan langsung merekah di wajah Jati.
Dadanya bergemuruh oleh rasa buncah yang tak terbendung.
"Kita sudah sah, Sayang. Panggil aku seperti itu lagi mulai sekarang," goda Jati dengan suara baritonnya yang merendah seketika.
Ia mencondongkan tubuhnya, mengunci tatapan mata Gayuh. "Dan jangan membantahku, oke? Aku hanya ingin membantumu agar punggungmu tidak kesakitan saat melepas gaun ini."
Gayuh merasakan jantungnya berdetak kencang bagai genderang yang bertalu-talu.
Setiap hembusan napas Jati yang menerpa kulit wajahnya membuat seluruh tubuhnya mendadak lemas tak berdaya.
Dengan gerakan yang teramat lembut dan presisi, Jati membalikkan tubuh Gayuh perlahan.
Jati membuka gaun pengantin istrinya, menurunkan ritsletingnya dengan sangat pelan seolah takut merusak kulit porselen di hadapannya.
Ia memastikan kain gaun itu tidak sedikit pun menggeser perban yang melindungi luka di punggung Gayuh.
Malam pertama mereka pun dimulai, dilewati dengan penuh kelembutan yang memabukkan.
Jati menundukkan kepalanya, memberikan ciuman khas Jati—sebuah kecupan yang awalnya lembut, menuntut, namun sarat akan aliran cinta dan gairah yang begitu mendalam, membuai Gayuh ke dalam pusaran rasa aman yang mutlak.
Jati benar-benar menjaga wanitanya malam itu. Jati tidak mau melukai punggung istrinya sedikit pun.
Setiap sentuhan, belaian, dan kecupan yang diberikannya dilakukan dengan penuh kehati-hatian yang luar biasa, memperlakukan Gayuh layaknya ratu yang paling diagungkan, mengikat jiwa dan raga mereka menjadi satu dalam balutan cinta yang suci hingga fajar menjelang.