NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18: Di Balik Sebuah Kebetulan

Suasana kedai Thalassa Coffee pagi itu masih terhitung lengang. Denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen di meja sudut pojok menjadi satu-satunya ritme yang memecah keheningan. Di balik meja bar, Sila menyenggol lengan Savya dengan gerakan menyuruh yang sangat tidak sabar.

"Mbak, mumpung kedai belum ramai, buruan samperin. Tanya langsung, jangan dipendam sendiri," bisik Sila dengan mata yang terus melirik ke arah meja sudut.

"Iya, Mbak Bos," Arka ikut menimpali, kepalanya ikut condong ke depan. "Cowok misterius kayak Mas Valerius itu kalau enggak langsung ditanya, nanti keburu hilang ditelan bumi lagi."

Savya menghela napas pelan, menatap kain lap di tangannya sebelum beralih menatap Farel yang hanya diam menyilangkan dada sembari memperhatikan dari jauh. Setelah memantapkan hatinya, Savya mengambil sebuah teko kaca berisi air putih hangat dan satu gelas kosong, lalu melangkah keluar dari area bar.

Langkah kakinya terasa sedikit berat saat mendekati meja sudut. Di sana, Valerius tampak sedang menatap keluar jendela kaca besar, namun begitu mendeteksi kehadiran Savya, pria itu langsung menoleh. Tatapan matanya yang kelam dan tenang seketika mengunci pergerakan Savya.

"Boleh aku duduk di sini sebentar, Vale?" tanya Savya dengan nada selembut mungkin.

Valerius menarik sedikit cangkir kopinya yang tinggal setengah, memberikan ruang kosong di atas meja kayu. "Silakan, Savya. Duduklah."

Savya meletakkan teko kaca dan gelas yang dibawanya, lalu perlahan menarik kursi kayu di hadapan Valerius. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara. Savya mendadak bingung harus memulai dari mana, sementara Valerius hanya diam menanti dengan pembawaannya yang selalu tenang tanpa cela.

"Mengenai kejadian kemarin di supermarket..." Savya akhirnya membuka suara, memecah kecanggungan di antara mereka. "Aku benar-benar belum sempat mengucapkan terima kasih dengan cara yang benar. Jadi, terima kasih banyak ya, Vale. Kalau tidak ada kamu kemarin, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Katya padaku."

Valerius mengangguk pelan sekali. "Tidak perlu terus-menerus berterima kasih, Savya. Aku hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan saat melihat seseorang dalam bahaya."

Savya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ia menghirup napas sedalam mungkin, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki sejak semalam. Matanya bergerak menatap lurus ke dalam manik mata Valerius.

"Tapi, Vale... sebenarnya ada satu hal yang terus mengganjal di pikiranku sejak kemarin," ucap Savya, suaranya sedikit merendah, menahan getaran gugup.

"Apa itu?" tanya Valerius datar.

"Supermarket tempat kita bertemu kemarin... letaknya kan tepat di area belakang komplek kedai ini," Savya menjeda kalimatnya, berhati-hati menyusun kata. "Setahuku kamu jarang berada di area komplek ini sepagi itu kalau bukan untuk mampir ke kedai. Tapi kemarin, kamu tiba-tiba muncul di dalam supermarket, di jam yang sepi, dan tepat di detik saat Katya mengacau. Jadi... apakah semua itu murni sebuah kebetulan yang tidak sengaja, Vale?"

Valerius tidak langsung menjawab. Pria itu meraih cangkir kopinya kembali, menyesapnya perlahan seolah sengaja membiarkan pertanyaan Savya menggantung di udara kedai. Setelah meletakkan kembali cangkirnya dengan ketukan pelan, ia menatap Savya dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.

"Kemarin pagi saya memang ada keperluan mendadak untuk membeli sesuatu yang hanya ada di supermarket area ini sebelum berangkat ke kantor, Savya. Jadi secara fisik, saya berada di sana murni karena urusan pribadi saya," jawab Valerius dengan nada suara yang sangat logis, mementahkan dugaan kalau dia sengaja mengikuti Savya.

Savya mengangguk pelan, merasa jawaban itu masuk akal, namun ia masih merasa ada sesuatu yang kurang. "Lalu... momen saat kamu menahan tangan Katya tepat sebelum dia menamparku? Waktunya benar-benar presisi seolah kamu sudah tahu."

Valerius menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, senyum tipis yang sarat akan misteri tersembunyi melintas sangat cepat di wajahnya.

"Dunia ini berjalan dengan rumusnya sendiri, Savya. Terkadang, sesuatu yang kita lihat sebagai kebetulan murni di permukaan, sebenarnya memiliki benang merah tersembunyi yang belum saatnya terlihat," ucap Valerius, kalimatnya terdengar berbobot dan menyimpan rahasia besar di balik plot twist yang belum terungkap. "Kamu tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara kerja kebetulan itu. Yang terpenting, benturan itu bisa dicegah."

Savya terdiam, terpaku menatap Valerius. Jawaban pria itu sangat logis di awal, namun penutupnya justru meninggalkan rasa penasaran yang menggelitik di dada Savya. Ada misteri besar di balik ketenangan pria ini, sesuatu yang entah apa, tapi rasanya sangat penting.

Sebelum Savya sempat mengulik lebih jauh, ekspresi Valerius tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih serius dan dingin.

"Namun, ada hal lain yang lebih nyata dan perlu kamu waspadai sekarang, Savya," kata Valerius dengan nada memperingatkan.

Savya mengerutkan keningnya, ikut terbawa suasana serius. "Tentang apa?"

"Wanita kemarin. Kau bilang namanya adalah Katya," sebut Valerius, membuat nama itu terdengar seperti sebuah ancaman di dalam kedai. "Saya melihat tatapan matanya sebelum dia pergi dari supermarket. Itu bukan tatapan dari seseorang yang akan menyerah begitu saja setelah urusannya digagalkan."

"Katya... dia memang selalu penuh kebencian padaku, Vale," bisik Savya lirih, bayangan kemurungan masa lalu kembali berputar di kepalanya.

"Saya tahu. Karena itu, kamu dan timmu harus mulai lebih waspada," potong Valerius cepat, suaranya terdengar tegas. "Dia sudah tahu kamu beraktivitas di sekitar komplek ini. Pesan saya, pastikan orang-orang mu di kedai selalu mengunci pintu dengan benar, terutama saat menjelang malam atau saat kondisi kedai sedang sepi. Mengerti?"

Savya menatap Valerius dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa cemas yang kembali merayap karena ancaman Katya, namun di saat yang sama, ada rasa aman yang aneh karena pria misterius di hadapannya ini begitu peduli pada keselamatannya.

"Iya, Vale. Aku akan memberitahu anak-anak nanti," jawab Savya dengan seulas senyum tipis. "Terima kasih karena sudah mengingatkanku."

Valerius melirik jam tangan peraknya, lalu perlahan menegakkan tubuhnya dan merapikan setelan formalnya. "Saya harus segera pergi sekarang. Kuenya tadi sangat enak, terima kasih atas traktirannya, Savya."

"Sama-sama, Vale. Hati-hati di jalan," sahut Savya ikut berdiri untuk mengantarkan pelanggan pertamanya itu sampai ke depan meja bar.

Valerius hanya mengangguk tipis sebagai salam perpisahan, lalu membalikkan badannya dan melangkah lebar menuju pintu keluar. Begitu lonceng di atas pintu berdenting menandakan kepergian Valerius, dalam hitungan detik, Arka dan Sila sudah melompat dari balik meja bar dan langsung menyergap Savya dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran tingkat tinggi.

"Gimana, Mbak?! Gimana?!" cerocos Arka heboh sampai lupa mengecilkan suaranya. "Dia sengaja ngikutin Mbak Bos karena cinta, atau murni kebetulan lewat kayak tukang somay?!"

"Ih, Arka, pelan-pelan dong suaranya!" Sila menepuk bahu Arka gemas, lalu beralih menatap Savya dengan mata berbinar. "Tapi benar, Mbak, dia jawab apa tadi? Kok mukanya serius banget, terus tadi pakai acara tatap-tatapan lama banget lagi!"

Savya hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, wajahnya yang sempat tegang kini sepenuhnya merona merah akibat godaan kedua karyawannya yang luar biasa kompak itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!