NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Sore itu suasana di gang kecil tempat kontrakan Clara mulai ramai. Suara anak-anak yang bermain terdengar bercampur dengan bunyi pedagang lewat dan suara televisi dari rumah-rumah warga. Clara yang sedang duduk di atas kasur tipis di kamarnya menatap kosong ke arah jendela. Sejak tinggal di kontrakan kecil itu hidupnya berubah total. Tidak ada lagi kamar luas, pendingin ruangan, atau pelayan yang selalu memenuhi keinginannya. Bahkan untuk membeli makan saja dia harus berpikir dua kali. Hidup memang lucu. Putri pemilik perusahaan besar sekarang menghitung sisa uang receh di dompet sambil berharap beras masih cukup untuk besok. Peradaban manusia benar-benar pencapaian luar biasa.

Saat Clara sedang melamun, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan kontrakannya.

Clara langsung berdiri.

Jantungnya sedikit berdebar karena dia yakin itu Desti. Gadis itu memang berjanji akan datang sore ini dan mengajak kakaknya menemui Clara. Sejujurnya Clara cukup penasaran dengan kakak Desti yang selama ini sering diceritakan oleh gadis itu.

Clara segera berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Kak Clara!” sapa Desti dengan senyum cerah.

Namun senyum Clara langsung menghilang.

Tubuhnya membeku seketika saat melihat pria yang berdiri di belakang Desti.

Doni.

Direktur pemasaran di perusahaan ayahnya.

Pria yang paling ingin dia hindari.

Doni tampak sama terkejutnya. Matanya sedikit melebar melihat Clara berdiri di depan kontrakan kecil dengan pakaian sederhana dan wajah pucat tanpa riasan mewah seperti biasanya.

Beberapa detik suasana menjadi sangat canggung.

Desti yang tidak memahami apa yang terjadi hanya melihat mereka bergantian.

“Kak, ini Clara yang aku ceritakan itu,” ucap Desti santai.

Clara refleks menundukkan kepala.

Dadanya terasa sesak. Ingatan tentang kejadian di kantor ayahnya langsung muncul di kepalanya. Saat itu dia menyiram kopi ke baju Doni di depan Ayahnya hanya karena merasa diabaikan. Clara yakin pria itu pasti membencinya sekarang.

Doni masih menatap Clara dengan tatapan sulit dijelaskan.

“Pak Agung…” gumam Doni pelan.

Clara langsung tahu apa yang dipikirkan pria itu.

Tidak ada yang tahu kalau putri bos besar seperti dirinya sekarang tinggal di kontrakan sempit. Ayahnya sengaja merahasiakan semuanya. Bahkan di perusahaan pun tidak ada yang tahu Clara dipaksa hidup mandiri.

Desti mulai mengernyit bingung.

“Kalian saling kenal?”

Clara semakin menunduk.

Sementara Doni akhirnya menghela napas pelan lalu berkata, “Desti, bicara yang sopan.”

Desti tampak heran.

“Memangnya kenapa?”

“Karena Clara adalah putri Pak Agung.”

Mata Desti langsung membesar.

“Hah?”

Dia menatap Clara tidak percaya.

“Putri pemilik perusahaan tempat Kak Doni kerja?”

Clara tidak sanggup mengangkat wajahnya.

Desti masih terlihat syok.

“Tunggu dulu… berarti Kak Clara ini wanita yang pernah diceritakan teman-teman kantor Kakak?” tanyanya pelan.

Doni langsung menatap adiknya memberi isyarat agar berhenti bicara. Namun Desti justru semakin penasaran.

“Yang marah-marah di kantor direktur utama itu?” lanjutnya.

Suasana kembali hening.

Clara menggigit bibirnya pelan.

Doni akhirnya menjawab dengan suara tenang, “Iya. Clara memang pernah melakukan itu.”

Desti langsung menatap Clara dengan ekspresi berbeda. Tidak lagi hangat seperti biasanya.

“Dan Kakak bilang dia menyiram kopi ke baju Kakak?”

Clara merasa wajahnya panas.

Dia berharap lantai kontrakan itu bisa terbuka lalu menelannya hidup-hidup.

Namun Doni malah tersenyum tipis.

“Sudahlah. Itu cuma kesalahpahaman.”

“Tapi dia mempermalukan Kakak di depan banyak orang.”

“Aku baik-baik saja.”

Doni mengatakan itu sambil membelai kepala adiknya pelan. Sikapnya tetap tenang seolah kejadian itu memang bukan masalah besar.

Namun Desti justru terlihat kecewa.

“Aku tidak menyangka,” ucapnya pelan.

Clara menegang.

Desti menatap Clara dengan tatapan rumit.

“Kak Clara tahu tidak waktu itu aku dan Ibu benar-benar khawatir melihat Kak Clara jalan sendirian malam-malam? Kak Clara kelihatan lemas dan hampir pingsan.”

Clara perlahan mengepalkan tangannya.

“Ibu bahkan memaksa mengantar Kak Clara pulang karena takut terjadi sesuatu.”

Desti menarik napas panjang.

“Tapi ternyata Kak Clara orang yang menyakiti Kak Doni.”

“Desti,” tegur Doni pelan.

Namun gadis itu tampaknya benar-benar kecewa.

“Aku menyesal sudah membantu.”

Kalimat itu terasa seperti hantaman keras bagi Clara.

Clara langsung menunduk semakin dalam.

Dadanya terasa nyeri.

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di kontrakan itu Clara benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri.

Dulu dia selalu merasa dirinya benar. Dia merasa semua orang harus memahaminya. Semua orang harus menuruti keinginannya. Namun sekarang ketika mendengar langsung ucapan Desti, Clara baru sadar betapa buruk dirinya di mata orang lain.

Doni langsung menatap adiknya serius.

“Desti.”

Nada suaranya kali ini lebih tegas.

“Kamu lupa apa yang selalu Ibu ajarkan?”

Desti terdiam.

“Kita membantu orang bukan karena ingin dipuji atau karena orang itu baik pada kita.”

Desti menunduk pelan.

“Tapi Kak…”

“Kalau kita hanya membantu orang yang kita suka, itu bukan ketulusan.”

Suasana menjadi sunyi.

Clara justru merasa semakin bersalah.

Dia perlahan mengangkat wajahnya sedikit lalu berkata lirih, “Desti benar.”

Doni dan Desti langsung menatapnya.

Clara tersenyum kecil pahit.

“Aku memang tidak pantas dibantu.”

“Clara…” gumam Doni.

“Aku sudah bersikap keterlaluan pada Pak Doni,” lanjut Clara pelan. “Aku sombong, kasar, dan selalu merasa paling benar.”

Desti mulai terlihat tidak enak.

Namun Clara melanjutkan ucapannya.

“Waktu itu aku bahkan tidak memikirkan perasaan Pak Doni sama sekali.”

Suara Clara mulai bergetar.

“Aku cuma marah karena merasa diabaikan.”

Doni memandang Clara diam-diam.

Dia baru menyadari ada banyak perubahan pada gadis itu. Clara yang dulu selalu bicara tinggi dan penuh emosi sekarang terlihat jauh lebih tenang. Bahkan tatapannya tidak lagi penuh kesombongan.

Clara menarik napas pelan.

“Jadi kalau Desti menyesal sudah menolongku… itu wajar.”

Desti langsung menggigit bibirnya pelan.

Entah kenapa melihat Clara seperti itu membuat rasa marahnya perlahan menghilang.

Kontrakan kecil itu mendadak terasa sempit oleh suasana canggung.

Doni akhirnya melangkah masuk.

“Boleh kami masuk?”

Clara langsung tersadar.

“Iya… maaf.”

Dia buru-buru mempersilakan mereka masuk.

Desti dan Doni masuk ke dalam kontrakan sederhana itu. Doni diam-diam memperhatikan isi ruangan yang sangat kecil. Hanya ada kasur tipis, kipas angin tua, meja plastik kecil, dan beberapa kardus di sudut ruangan.

Sulit dipercaya Clara bisa tinggal di tempat seperti itu.

Padahal selama ini gadis itu hidup dalam kemewahan.

Desti duduk di lantai sementara Doni memilih berdiri.

“Kak Clara tinggal sendiri di sini?” tanya Desti pelan.

Clara mengangguk.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa minggu.”

Desti tampak tidak percaya.

“Serius?”

Clara tersenyum kecil.

“Ayah ingin aku belajar hidup mandiri.”

Doni akhirnya memahami semuanya.

Pantas Clara berubah.

Hidup memang hobi sekali menghajar manusia dengan cara paling efektif. Kadang nasihat keluarga tidak mempan, tapi kamar sempit dan dompet kosong langsung mengubah kepribadian seseorang dalam hitungan minggu. Pendidikan karakter versi ekonomi.

Doni memandang Clara beberapa saat lalu berkata pelan, “Pak Agung pasti punya alasan.”

Clara tertawa kecil pahit.

“Dulu aku pikir Ayah membenciku.”

“Sekarang?”

Clara terdiam sebentar.

“Sekarang aku mulai sadar mungkin Ayah lelah menghadapi sikapku.”

Suasana kembali hening.

Desti perlahan menatap Clara lagi.

“Kak Clara benar-benar berubah.”

Clara tersenyum tipis.

“Aku belum berubah sepenuhnya.”

“Setidaknya Kak Clara sadar.”

Kalimat itu membuat Clara sedikit terkejut.

Desti lalu berkata pelan, “Aku tadi marah karena Kak Doni sangat baik sama aku dan Ibu. Jadi waktu tahu Kak Clara pernah mempermalukan Kakak… aku kesal.”

Clara mengangguk pelan.

“Aku mengerti.”

“Tapi…” Desti menunduk sebentar. “Aku juga tidak seharusnya bilang menyesal menolong Kak Clara.”

Clara langsung menggeleng cepat.

“Tidak apa-apa.”

“Tidak, itu salah.”

Doni akhirnya tersenyum kecil melihat adiknya mulai luluh.

“Kalian ini,” gumamnya pelan.

Desti mendecakkan bibir.

“Kakak diam saja dari tadi.”

“Aku sedang menonton dua orang keras kepala saling merasa bersalah.”

Clara refleks tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak Doni datang suasana mulai sedikit mencair.

Doni lalu menatap Clara.

“Bajuku waktu itu masih bisa dicuci.”

Clara langsung salah tingkah.

“Pak Doni…”

“Aku juga sudah lupa soal kejadian itu.”

Clara menatap pria itu tidak percaya.

“Kenapa?”

Doni mengangkat bahu santai.

“Karena kalau aku terus mengingat semua orang yang pernah menyebalkan di kantor, mungkin rambutku sudah putih semua.”

Desti langsung tertawa.

“Kakak memang tua.”

“Aku masih muda.”

“Wajah Kakak saja yang terlalu serius.”

Melihat mereka bercanda pelan membuat Clara merasa hangat.

Sudah lama dia tidak merasakan suasana keluarga sesederhana itu.

Tidak ada kepura-puraan.

Tidak ada orang yang mencoba mengambil keuntungan darinya karena status atau uang.

Hanya percakapan sederhana di kontrakan kecil saat sore mulai gelap.

Doni kemudian melihat jam tangannya.

“Kami sebenarnya membawa makanan.”

“Hah?” Clara tampak bingung.

Desti langsung tersenyum lagi seperti biasa.

“Ibu masak terlalu banyak.”

Clara tahu itu pasti alasan yang dibuat-buat.

Namun sebelum dia sempat menolak, Desti sudah membuka kantong makanan dan meletakkannya di meja kecil.

Aroma masakan hangat langsung memenuhi ruangan.

Perut Clara refleks berbunyi pelan.

Dan itu sukses membuat Desti tertawa keras.

Wajah Clara langsung merah malu.

Doni sampai menahan senyum.

“Sepertinya ada yang belum makan.”

Clara langsung menutupi wajahnya sebentar.

Desti masih tertawa kecil.

“Sudah, Kak Clara makan saja.”

Clara menatap makanan itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Terima kasih.”

Kali ini suaranya benar-benar tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!