Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - I'm Home
Tap
Tap
Langkah kaki keluar dari area terminal bandara.
“I'm back Indonesia. Welcome for me!!” teriaknya
Nala tidak menghiraukan orang-orang yang melihatnya. Dirinya merasa senang karena akhirnya kembali ke tanah air setelah 2 tahun tak pulang.
Rindu?
Tentu saja ia rindu. Dia merindukan kakaknya dan sahabatnya. Dia rindu masakan khas Indonesia. Dirinya tak sabar untuk kembali bertemu dengan mereka semua.
Melihat jam di tangannya, Nala menyadari bahwa mereka sudah datang menjemputnya. Menggeret kopernya menelusuri area bandara. Mencari keberadaan sahabatnya yang telah berjanji akan menjemputnya.
“Dimana sih mereka? Masa lupa?”
Nala berusaha menghubungi kembali, namun nihil. Tak ada respon. Hanya dering operator yang ia dengar. Melihat ada kafe yang tampak menarik, Nala memilih singgah sebentar sembari menunggu.
...****************...
Tap
Tap
Brak!!
Langkah kaki yang tergesa-gesa dan sebuah dobrakan pintu mampu membuat siapapun yang berada disana menjadi terkejut.
“SIAPA YANG—?!”
“Aku! Kenapa?”
Munculah tiga wanita cantik memasuki ruangan. Langkah tegas mengandung kemarahan menguar begitu kuat. Dewi Zara Arawinda, seorang aktris dan model ternama melangkah mendekati calon suaminya. Diikuti Citra Adhisti Aarunya dan Maya Ira Gantari.
“Sayang! Kenapa kemari tiba-tiba?” heran Arsyad yang melihat tunangan sekaligus calon istrinya datang dengan emosi.
“Kau masih bertanya aku kenapa?!”
Arsyad Kaivan Wijaya, dikenal sebagai CEO dari sebuah agensi hiburan besar yang dingin dan tegas, namun akan takluk dengan kekasihnya. Ingat, hanya takluk dan luluh pada seorang Dewi Zara Arawinda.
“Aku tak akan tau jika tidak dijelaskan, sayang. Jadi ada apa, hm?” Arsyad berjalan mendekati Zara yang sedang tersulut emosi. Citra dan Maya yang ikut datang menjadi pengawal Zara. Mereka akan membantu Zara melampiaskan amarahnya.
“Lo nggak lihat media pagi ini?” tanya Maya yang mencoba berkepala dingin. Dia memang ikut marah saat melihat berita itu. Namun, melihat respon Arsyad seperti tak tau apa-apa membuat Maya kembali berpikir.
“Berita apa?” Arsyad memang tak sempat melihat ponselnya pagi ini. Sejak kemarin ia sibuk bekerja. Dirinya tak ingin selama acara pernikahannya nanti dirinya diganggu pekerjaan.
Citra mengambil ponselnya dan membuka berita yang beredar. Apalagi berita itu berasal media tempatnya bekerja. Apalagi yang mengunggah berita itu adalah rekan saingannya di tempat kerja. Hal itulah yang membuatnya ikut terpancing emosi.
Arsyad membaca berita itu dengan seksama. Foto yang beredar itu pun dirinya tau bahwa itu foto yang disengaja. Dirinya ingat memang mengikuti acara tersebut karena itu adalah pertemuan antar pebisnis, tentu saja dirinya ikut bersama kakak sepupunya. Arsyad sangat mengingat bahwa dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita, namun dirinya tak mengenal orang tersebut.
“Huh!”
Helaan nafas itu terdengar oleh Zara. Zara yang masih tersulut emosi semakin geram melihat sikap Arsyad. Menatap tak percaya Arsyad. Dirinya tak menyangka dengan apa yang dilihatnya kini.
“Jadi— kamu—“
“Buang pikiran negatifmu itu, sayang. Aku jelaskan, ya. Foto dan berita uni tak benar.”
“Tunggu, gue rekam dulu!” Citra menyiapkan ponselnya dan siap merekam. Dia akan membantu mengklarifikasi berita ini. Arsyad pun mengangguk setuju. Adanya Citra sungguh sangat membantu dirinya.
Arsyad mulai menjelaskan tujuannya datang ke acara amal antar pebisnis itu bersama sekretaris dan kakak sepupunya. Bahkan kembarannya, Agastya pun turut hadir atas perintah ayah mereka. Selama acara berlangsung semuanya baik-baik saja. Kemudian, di tengah acara memang ada seseorang yang menabraknya. Secara refleks, tentu saja dia menopangnya agar tak terjatuh. Dan hal itu tanpa disadarinya ada yang memfotonya. Dan foto itulah yang beredar sekarang.
“Begitu sayang, kalau tidak percaya kau tanyakan saja Agas. Agas sebentar lagi sampai kemari,”
“Ada apa nih? Baru juga nyampe udah denger nama gue kesebut aja.” ujar Agas yang baru saja datang
“Eh ada ayang. Tumben kemari, lagi wawancara Adit kah?”
“Syukur lo datang. Sini-sini bantu gue buat jelasin acara tadi malam.” Arsyad menyeret Agas agar membantu menjelaskan
Agas yang mulai paham kondisi dan situasi, ia pun mengangguk. Kemudian menggelengkan kepalanya saat membaca berita yang beredar.
“Dari sudut mana foto ini terlihat romantis? Yang ada kaku banget. Lihat ekspresi kaget Arsyad terlihat kentara banget!” komen Agas saat melihat foto yang beredar.
Zara kembali memperhatikan foto tersebut. Memang terlihat sekali bahwa Arsyad berekspresi terkejut, bukan ekspresi ramah ataupun nuansa romantis.
Menyadari hal tersebut, Zara memandang Arsyad dengan rasa bersalah. Dirinya dibutakan rasa cemburu karena membaca berita yang belum jelas kebenarannya. Zara memegang tangan Arsyad.
“Maaf, beb. Aku salah paham!”
Arsyad yang tak tega melihat calon istrinya sedih segera memeluknya. Mana tega dirinya untuk memarahi Zara. Dirinya sangat mencintai Zara. Melihat setetas air mata Zara yang jatuh membuatnya ikut merasa sedih.
“Tak apa. Tapi lain kali jangan langsung marah-marah seperti ini, ya. Tanyakan dulu ke aku konfirmasi ke yang bersangkutan, mengerti?”
“Iya, maaf!” lirih Zara yang tenggelam dalam pelukan Arsyad.
Drrt...
Drrt....
Dering ponsel Maya membuyarkan suasana haru itu. Maya yang melihat nama suaminya lah yang menghubungi, dengan segera ia mengangkatnya.
“Halo, bang! Ada apa? Tumben telepon jam segini?”
“Halo! Kamu dimana, dek?”
“Adek di kantornya Adit, bang. Ada apa? Mau lunch bareng?”
“Nggak, abang cuma nanya aja.”
“Tumben, bang?”
Maya heran, tak biasanya suaminya menanyakan hal itu kepadanya. Apalagi di jam makan siang. Jika tak ingin makan siang bersama, mana mungkin suaminya ini menanyakan keberadaannya seperti ini.
“Siapa, May?” tanya Citra
“Bang Dipta.”
“Suruh kesini aja!” ujar Arsyad dan Maya mengangguk
Namun sebelum mengatakannya, Dipta sudah memintanya.
“Adek, tunggu abang disana ya. Abang bawa kejutan buat adek sama yang lain. Jangan kabur dan siapkan mental kalian. Oke?”
“Eh, apa maksud abang?”
“Sudah, tunggu abang aja.”
Tutt... Tuut...
Panggilan terputus, namun meninggalkan teka-teki bagi Maya. Maya masih bingung dengan pernyataan dari suaminya. Jika ini sebuah kejutan, maka bukankah itu membahagiakan. Namun, kenapa harus siapkan mental? Itulah tanya dalam benaknya.
Zara dan Citra yang melihat raut kebingungan Maya saling pandang.
Puk!
Citra menepuk pundak Maya agar tersadar dari lamunannya.
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Seharusnya yang nanya itu kita, lo kenapa?” ujar Zara
Maya menggelengkan kepalanya. “Gue cuma bingung maksud perkataan bang Dipta apa,”
“Emang dia bilang apa?”
“Ada kejutan tapi katanya kita harus siapkan mental. Gitu!” ujar Maya sambil mengerutkan dahinya.
Zara dan Citra yang mendengar itu juga ikut kebingungan. Berdasarkan kalimat itu, kejutan itu bukan hanya untuk Maya seorang tapi juga untuk mereka juga. Namun, kenapa sampai harus menyiapkan mental?
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Bang Dipta kan mau kesini, pasti nanti kita bakal tau kejutannya apa kan?” ujar santai Agas
“Iya, jadi dibuat santai aja.” Arsyad mencoba menenangkan Zara, begitu juga dengan Agas yang menenangkan Citra.
Maya tak terpengaruh kalimat penenang si kembar. Malahan semakin merasa janggal. Hatinya merasa bahwa dirinya telah melupakan sesuatu yang penting.
“Daripada mikir yang belum pasti, mending kalian pesan makanan. Kita makan siang bareng aja, disini. Gimana?” tawar Arsyad
“Boleh, tapi aku yang pilih pesan apa ya sayang?” ujar Zara
“Sok atuh, silahkan!” Arsyad memberikan ponselnya ke Zara. Zara segera memanggil Citra dan Maya untuk memilih makanan bersama dan melupakan kejutan yang dimaksud Dipta. Namun, tanpa mereka sadari mereka melupakan seseorang yang telah mereka janjikan untuk mereka jemput.