Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Mencari sarapan
Panji, ia baru saja kembali dari patroli. Kini unit lain telah bergabung, membawa serta para awak kapal ke dermaga untuk kemudian mereka melapor dan menyerahkannya pada pusat serta koarmada.
Tugas investigasi bukan lagi tugas Panji, ia turun dari kapal setelah kapten Samudra serah terima tugas, barang bukti dan para tersangka.
Masih gelap, ia melirik arlojinya dimana panahnya menunjukan angka pukul 2 dini hari. Entahlah...yang teringat olehnya justru--- sedang apa gadis sombong itu sekarang, apakah ia bisa tertidur malam ini?
Ah ya, kemarin...ia menyerahkan sekotak obat nyamuk bakar dan menyarankan Kelana memberi Raudhah itu untuk dipasang di kamar.
Tujuannya tidak lain tidak bukan agar Ivy juga merasakan manfaatnya dan bisa tertidur setelah mendengar ocehannya dan Gege yang mengeluh jika nyamuk disana sebesar besar gajah. Panji menggeleng mendengus dengan apa yang ia lakukan itu, jika sampai para sepupunya tau....habis sudah reputasi abinya.
Sesuatu yang simpel dibuat ribet sendiri. Biar apa? Tentu saja ia sudah tau jika memberikan itu secara langsung pada Ivy akan bagaimana ujungnya.
Bukan apa-apa, ia hanya hitung-hitung balas budi saja pada Ivy atas apa yang dilakukannya waktu lalu, sebagai pengganti treatment salon, setidaknya Ivy sedikit merasa nyaman tinggal disini selama KKN.
Ngomong-ngomong tentang kenyamanan Ivy, sudah pasti ada kaitannya dengan air, apakah bisa gadis itu membawa air untuk kebutuhannya sendiri? Terbayang sudah di kepala Panji bagaimana aksi Ivy yang terkadang di luar nalar itu, mengomeli ember mungkin nantinya, mengeluh, menangis dan marah-marah.
Arghhh! Ivy---Ivy---dan Ivy. Ini baru pertemuannya dan Ivy yang kedua kali, tapi gadis itu sudah berhasil memenuhi otaknya dengan seluruh tingkah yang mampu memancing sebagian atensinya, tentang angkuh tapi di sisi lain ia memiliki jiwa penyayang, tentang manja tapi ia berusaha untuk membuat dirinya nyaman dan berguna. Tentang sisi galaknya tapi di satu sisi ia begitu, cantik luar dalam. Usia memang tak bisa menipu, ia sudah matang pohon sehingga melihat wanita sebegitunya.
Seperti sebuah magnet yang memiliki daya tarik, dimana salah satu sisi kutubnya menarik ia begitu kuat.
Sosok Pravita Ayudisa, seperti siapa jika ia menjabarkan? Clemira? Bukan...Zea, no-no. Gala? Apalagi. Kak Dina? Tidak, Ivy tidak oon. Ia hanya manja dan gengsi tinggi.
Tidak ada sedikit pun bayangan Mayra di otak Panji, terhapus oleh sosok kawannya...bisa begitu! Ia mendengus.
Ia sudah kembali ke kesatuan, belum sempat tidur namun perut yang keroncongan tak bisa dibiarkan begitu saja, maka yang dilakukannya pagi ini mencari sarapan.
"Bang, balik lagi?" Bara yang baru saja mandi menyadari kedatangannya tapi kemudian mengernyit.
"Laper gue! Sebelum istirahat makan dulu lah!" Panji mengambil motor inventaris, ya seadanya...hanya motor bebek biasa tapi ia mengapa.
"Nitip bang!" Ujar Bara yang dibalas lambaian tangan dan anggukan Panji.
Gilasan ban motornya mengukur jalanan, sebenarnya cukup banyak pedagang sarapan yang ada di pinggiran jalan, bahkan di dekat pangkalan saja berjejer pedagang makanan mulai dari yang ringan sampai makanan berat. Tapi yang dilakukan Panji justru mengarahkan sepeda motor ke arah lain....
Angin membawanya, really? Bukankah hati dan pikiran yang menuntun arah kemudi.
/
Ivy, bukan lagi suara sayup-sayup macam orang berbisik, tapi sudah berupa teriakan.
"Girls bangun---bangun! Tugas masak bagian siapa?! Beres-beres?! Cowok kan udah dapet bagiannya sendiri buat ngambil air, jadi tolong pas kita udah selesai, sarapan juga harus udah siap..."
"Ba cot. Berisik banget deh..." gerutu Gege yang masih memejamkan mata bersama dengan penutup mata yang menempel.
"Subuh girls. Kalaupun ngga ke surau ya disini..." suara lembut Raudhah lebih manusiawi daripada suara cempreng Gabriel, dimana ia ditinggal tentu saja sementara yang lain telah dipaksa Arsa untuk melaksanakan subuh berjamaah demi berbaur.
Cukup sulit untuk membuka matanya, terlebih malam ini Ivy dapat tertidur nyenyak setelah kemarin tak bisa tidur dan siangnya dipush untuk melakukan kesibukan.
"Vy..." colek Raudhah, "Imel udah mau selesai tuh mandinya. Masih ada seember buat mandi. Gabriel sama Nanda lagi ambilin lagi air."
"Duh Ra, seember mah cuma pake bokerr doang. Kurang lah..." ucapnya parau.
"Makanya bangun dulu, coba ngomong sama Gab sama Nanda."
"Lah yang lain kemana?" kini Gege mau membuka penutup matanya, menggeser sedikit ke atas jidat dengan mata yang masih menyipit karena silau lampu, "yang lain subuh dulu, Ge...lagian tadi yang ambil air Arsa sama yang lain."
Lalu Raudhah keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan untuk kesepuluh anggota KKN.
Bau sabun telah menguar masuk, Imel masuk ke dalam kamar sementara Ivy masih mencoba keluar dari kantung tidurnya dengan malas-malasan.
Benar, satu ember hanya cukup untuk Ivy buang hajat rutinnya saja, sementara Gabriel dan Nanda belum jua sampai...
"Loh, belum mandi?" tanya Raudhah yang telah dibantu Imel beres-beres sambil mengukus beberapa umbi-umbian hasil pemberian warga kemarin.
Ivy hanya duduk di undakan lantai kayu diantara gawang dapur, "airnya abis."
"Ya udah tunggu anak-anak cowok berarti."
Gege terlihat menguap, tapi kemudian ia terlihat heboh melewati Ivy sampai melompatinya, "awas--awas!! Ngga kuat gue kebelet!" ujarnya panik.
"Ge...airnya abis!"
Gege menoleh dengan wajah meringis mengenaskan, "haaaaa! Pengen pipis ngga kuat!"
Imel tertawa, dari luar terdengar suara Gabriel dan Nanda yang ho--ha--ho--ha.
"Gabbbb! Nannn! Air buru aerrr gue ngga kuat kebelet!" teriaknya kembali melompati Ivy, "woyyy ihhh!"
Dan perdebatan Gabriel serta Gege tak terelakan, berisik dan memancing atensi. Keriuhan pagi basecamp masih tentang rebutan air, jika kemarin antara Ivy dan Bumi, sekarang Gabriel dan Gege.
Niat Ivy yang kini sudah mencomot singkong panas itu ingin melihat perdebatan ramai di luar yang seru jika dilewatkan sambil nyemil singkong.
"Paling enak nonton orang berantem sambil nyemil singkong!" Ucapnya justru memancing tawa Nanda, "saravv."
Elah Lo pelit Gab, kuburan Lo sempit ntar!
Ngga apa-apa, gue ngga butuh kuburan gede, toh nanti pas mati gue dikremasi, cuma bentuk abu!
Dan Ivy tertawa di gawang pintu dengan singkong di tangan, badan belum mandi, rambutnya bahkan masih tergulung dan dijepit jedai seadanya, cukup rendah dan menggelayut sedikit di atas tengkuk.
Begitupun Nanda yang menggeleng seolah tak aneh lagi dengan pertengkaran dengan topik air ini, ia justru berlalu masuk sejenak ke dalam basecamp untuk minum dan melakukan hal yang sama dengan Ivy, "udah Mateng emang? Katanya mau dibikin urap?"
Ivy menggidikan bahunya acuh, "mungkin, soalnya aku nyomot pas baru mateng banget, emang mau dibikin urap, soalnya tadi ada kelapa yang diparut Imel."
Diantara perdebatan Gege yang sudah menahan bagian intinya sejak tadi dan meminta Gabriel membawa ember berisi air ke dalam kamar mandi juga Nanda yang bersiap masuk, suara seseorang memecah suasana.
Ivy melotot dan mematung, hampir tersedak singkong.
"Kenapa belum dibawa masuk? Di dalam kamar mandi ada bak penampungan airnya kan?"
"Oh ada bang. Tapi masih kosong."
Ia dengan kaos ketat berwarna abu sepaket emblem kesatuan di dada sebelah kirinya. Keringat terlihat membasahi bagian dadanya meski belum begitu kentara.
"Aduh bang jadi merepotkan."
Kini tatapan Ivy bertemu dengannya yang hanya menyunggingkan senyuman tipis.
"Nih untung ada bang Panji, yang lain pada subuh, yang ada Lo berdua ngga bisa boker sama mandi..."
.
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati