Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pembatalan perjodohan sia sia
Suara deru mobil SUV milik keluarga Haryo yang meninggalkan pelataran rumah terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Maya. Begitu pintu depan tertutup rapat, sunyi yang mencekam sempat menyelimuti ruang tamu yang luas itu. Namun, itu hanya ketenangan sebelum badai.
Maya berdiri di tengah ruangan, masih dengan blazer kantor yang kini terasa mencekik lehernya. Ia menoleh ke arah ayahnya, Baskoro, yang sedang menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke sofa jati.
"Papa pasti bercanda, kan?" suara Maya gemetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mendidih di ubun-ubun.
Baskoro tidak menoleh. Ia memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. "Papa tidak pernah seserius ini, Maya. Arka adalah pilihan terbaik."
"Terbaik dari mana, Pa?!" Maya meledak. Ia melempar tas tangannya ke kursi hingga menimbulkan suara dentum yang keras. "Dia itu masih anak kecil! Dia baru lulus, Pa. Dunia kerjanya masih bau kencur. Dia belum mapan, belum punya apa-apa atas namanya sendiri kecuali warisan Om Haryo. Bagaimana bisa Papa menyerahkan aku pada pria yang bahkan mungkin masih hobi main game sampai pagi?"
Baskoro membuka matanya, menatap putrinya dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan.
"Dia sudah memegang kendali di dua perusahaan ayahnya, Maya. Dan dia melakukannya dengan sangat baik. Kedewasaan tidak selalu diukur dari angka di KTP, tapi dari cara seseorang memikul tanggung jawab. Papa melihat itu pada Arka."
"Aku tidak peduli!" Maya berteriak, air mata frustrasi mulai menggenang. "Dia itu adik tingkatku! Lima tahun lebih muda! Aku yang mengospek dia, aku yang menghukum dia.
Sekarang Papa mau aku mencium tangannya setiap pagi sebagai suamiku? Ini penghinaan, Pa!"
Maya mondar-mandir di depan ayahnya, langkah kakinya yang menghentak lantai marmer menimbulkan gema yang memekakkan telinga.
"Aku sudah bekerja keras untuk perusahaan kita. Aku membangun karierku dari nol, tanpa bantuan nama besar Papa secara langsung di agensi. Aku mandiri, aku mapan. Aku tidak butuh dijaga oleh seorang brondong yang bahkan belum tahu cara memakai dasi dengan benar!"
Baskoro berdiri perlahan. Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, wibawanya masih mampu membungkam ruangan. Ia berjalan mendekati Maya, menatap putrinya lekat-lekat.
"Mandiri, katamu?" suara Baskoro merendah, namun setiap katanya terasa seperti sembilu.
"Kamu merasa begitu berkuasa karena posisimu saat ini? Kamu lupa siapa yang memegang saham mayoritas di perusahaan tempatmu bekerja?"
Maya tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Maksud Papa apa?"
"Maya, Papa sudah memberikanmu kebebasan terlalu lama. Kamu pikir Papa tidak tahu betapa kamu mengabaikan kesehatanmu demi ambisi? Kamu pikir Papa tidak tahu bahwa kamu menolak setiap pria yang mendekat hanya karena mereka tidak sesuai dengan standar 'perfeksionismu' yang mustahil itu?"
Baskoro menarik napas panjang sebelum memberikan pukulan telak.
"Dengarkan baik-baik, Maya. Perjodohan ini akan tetap berjalan. Bulan depan, kalian akan menikah. Jika kamu mencoba melarikan diri, atau sengaja menyabotase pernikahan ini... Papa akan meninjau ulang posisimu sebagai Account Director. Papa akan memutus semua aksesmu di perusahaan keluarga, mencabut semua fasilitasmu, dan membiarkanmu membuktikan seberapa 'mandiri' kamu tanpa sokongan nama Baskoro di belakangmu."
Maya membeku. Wajahnya memucat seketika. "Papa... mengancamku dengan karierku sendiri?"
"Papa menyebutnya sebagai pengingat," ujar Baskoro dingin. "Bahwa keluarga adalah prioritas. Arka adalah jalan untuk mengamankan masa depan perusahaan dan masa depanmu. Pilihannya ada di tanganmu: menikah dengan Arka, atau keluar dari perusahaan dengan tangan hampa dan mulai semuanya benar-benar dari nol di jalanan."
Tanpa menunggu jawaban, Baskoro melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Maya yang berdiri terpaku seperti patung di tengah ruang tamu yang mendadak terasa sangat asing.
Satu jam kemudian, Maya berada di kamarnya. Ia tidak mengganti baju, tidak membersihkan riasan, bahkan tidak melepas sepatunya. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponselnya yang menyala.
Ia memiliki nomor Arka. Tentu saja, sebagai senior dan mantan panitia kampus, nomor kontak adik tingkatnya tersimpan di arsip lama grup alumni. Dengan tangan gemetar, ia mencari nama itu.
Arka Pradipta.
Maya menekan tombol hijau. Ia harus melakukan ini. Ia harus meyakinkan bocah itu untuk membatalkan kegilaan ini. Arka masih muda, dia tampan, dia kaya—pasti dia punya banyak pacar atau setidaknya tidak ingin terikat pernikahan secepat ini.
Panggilan tersambung. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara bariton yang menyebalkan itu menyapa.
"Halo, Kak Maya? Wah, baru sejam pisah sudah rindu ya?"
Maya memejamkan mata, berusaha menahan keinginan untuk melempar ponselnya ke dinding.
"Jangan bercanda, Arka. Kita perlu bicara serius."
"Sangat serius, Kak? Sampai meneleponku jam sebelas malam begini?" Terdengar suara tawa kecil di seberang sana, diikuti bunyi gemerisik seprai—seolah Arka sedang berbaring santai.
"Ada apa? Mau bahas konsep pelaminan? Aku sih suka yang minimalis, biar wajah cantik Kakak makin menonjol."
"Diam kamu!" bentak Maya. "Arka, dengarkan aku. Perjodohan ini... ini konyol. Kamu masih sangat muda. Kamu punya masa depan yang panjang, kamu bisa mendapatkan gadis mana pun yang seusia denganmu. Jangan hancurkan hidupmu—dan hidupku—dengan menuruti kemauan orang tua kita. Kamu harus batalkan ini. Bilang pada ayahmu kalau kamu tidak mau."
Hening sejenak di seberang sana. Maya menarik napas, berharap logikanya masuk ke otak Arka.
"Kenapa aku harus membatalkannya?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya kini terdengar lebih tenang, namun ada nada menantang di sana.
"Karena kita tidak saling cinta! Karena aku lebih tua darimu! Karena aku ini seniormu, Arka! Kita tidak cocok!"
"Siapa bilang tidak cocok?" Arka terkekeh. "Kakak saja yang terlalu kaku. Menurutku, dinamika kita ini menarik. Kakak yang galak, dan aku yang... yah, sedikit nakal. Bukankah kutub yang berbeda itu saling tarik-menarik?"
"Arka, aku serius!" Maya berteriak frustrasi. "Karierku sedang dipertaruhkan. Ayahku mengancamku. Tolong, jadilah pria yang baik untuk sekali saja dalam hidupmu. Batalkan perjodohan ini."
"Hmm... kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Apa?"
"Aku sih mau-mau saja menikah dengan Kakak," ujar Arka, kali ini suaranya terdengar sangat dekat di lubang suara, seolah dia sedang berbisik langsung di telinga Maya. "Lagipula, Kakak kan tipe ideal aku. Dulu waktu ospek, saat Kakak menghukumku berdiri di lapangan, aku bukannya kesal. Aku justru berpikir, 'Wah, wanita ini cantik sekali kalau lagi marah.'"
Maya ternganga. Jantungnya berdegup kencang karena marah dan tidak percaya. "Kamu... kamu sudah gila ya?"
"Mungkin," jawab Arka santai. "Jadi, persiapkan dirimu, Kak Istri. Aku tidak akan membatalkan apa pun. Justru aku sedang mencari toko jas terbaik sekarang. Oh ya, jangan lupa pakai krim malammu, aku tidak mau pengantin wanitaku punya kantung mata saat di pelaminan nanti. Sleep tight, Senior."
Klik.
Sambungan terputus. Maya menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Dunianya baru saja jungkir balik. Arka bukan hanya sekadar brondong yang dipaksa menikah; dia adalah brondong yang memang berniat menjadikannya "mangsa".
Maya melempar ponselnya ke bantal dan berteriak sekeras-kerasnya ke dalam bungkaman guling.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡