Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Begitu tiba di lokasi, Tuan Muda Saksomo langsung berjalan menuju Zoya. Yang berarti dia memiliki orangnya disini, sehingga dengan cepat mengetahui berita ini.
Setelah memastikan Zoya baik-baik saja, barulah ia mengalihkan perhatiannya untuk menginterogasi orang lain.
Rahengga buru-buru menjelaskan dengan gugup, “Penata properti bilang dia sedang tidak berada di tempat saat kejadian. Dia tidak tahu siapa pelakunya.”
“Tidak tahu?”
Tuan Muda Saksomo mendengus dingin. Ia menoleh ke arah para pengawalnya dan berkata dengan suara rendah penuh tekanan,
“Selidiki untukku. Aku ingin tahu siapa yang punya nyali sebesar itu sampai berani menyentuh orang yang aku lindungi.”
Tatapannya berubah semakin dingin.
“Sepertinya ada yang sudah bosan hidup.”
Awalnya, Tuan Muda Saksomo memang berniat berpura-pura tidak saling mengenal dengan adiknya. Namun setelah melihat kejadian hari ini, pikirannya berubah.
Industri hiburan memang tampak glamor dari luar, tetapi di balik gemerlap itu tersembunyi dunia yang kacau dan penuh jebakan. Jika seseorang tidak pandai menjaga diri dan tidak memiliki koneksi kuat, ia bisa hancur kapan saja.
Saat adiknya lahir, usia Tuan Muda Saksomo baru sepuluh tahun… masa di mana ia masih gemar bermain dan berkumpul dengan teman-temannya. Namun sejak adik perempuannya lahir, kebiasaan favoritnya berubah.
Ia menjadi sangat suka memanjakan adiknya.
Tubuh bayi kecil itu begitu mungil dan lembut. Saat digendong, rasanya seperti memeluk segumpal kapas hangat dan wangi susu. Jemarinya sangat kecil, nyaris sepenuhnya tertutup dalam genggamannya.
Meski belum bisa berbicara, mata besarnya yang jernih selalu menatap ke arah nya seolah ingin mengatakan sesuatu. Kadang-kadang bayi itu bahkan menyeringai kecil, memperlihatkan gusi mungilnya yang masih belum ditumbuhi gigi.
Senyum kecil itu membuat Tuan Muda Saksomo begitu menyayanginya.
Di keluarga mereka, kelahiran seorang putri kecil adalah kebahagiaan yang sangat besar. Dan sejak usia sepuluh tahun itu, hobi baru Tuan Muda Saksomo adalah menggendong adiknya ke mana-mana.
Zoya adalah orang yang berada di bawah perlindungan keluarga mereka. Siapa pun yang berani menyentuhnya sama saja dengan menampar wajah nya.
Dan di negara ini, belum ada orang yang cukup berani melakukan hal itu. Namun, lihatlah apa yang terjadi sekarang.
Tuan Muda Saksomo berdiri di depan Zoya. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan bahu lebar menciptakan kesan perlindungan yang sangat kuat.
Karena insiden itu terjadi di lokasi syutingnya, Rahengga merasa sangat bersalah.
“Zoya,” katanya pelan, “bagaimana kalau kau pulang dulu dan istirahat beberapa hari?”
Kejadian tadi memang terlalu berbahaya. Jika reaksi Zoya terlambat sedikit saja, tubuhnya mungkin sudah hancur karena jatuh dengan ketinggian delapan lantai. Bahkan sekarang pun Rahengga masih merasa ngeri jika memikirkannya.
Zoya mengangguk kecil menyetujui saran Rahengga.
Tatapan Tuan Muda Saksomo menyapu seluruh orang di lokasi syuting, seperti mata elang yang mencari mangsa. Saat matanya jatuh pada Meilan, pandangannya langsung berhenti.
Ia mengangkat tangan dan menunjuk wanita itu.
“Seret dia ke sini.”
Ia menggunakan kata seret, bukan bawa.
Itu saja sudah cukup menunjukkan betapa besar rasa jijiknya terhadap Meilan.
Begitu tatapan Tuan Muda Saksomo tertuju padanya, Meilan langsung ingin kabur. Namun sebelum sempat bergerak, salah satu anak buah pria itu sudah mencengkram lengannya dan menyeretnya ke hadapan majikannya.
Meilan buru-buru memasang ekspresi menyedihkan. Ia mendongak dengan mata berkaca-kaca, berusaha terlihat rapuh dan tidak berdaya.
“Tuan Muda…” katanya lirih. “Ada apa?”
“Meilan.”
Suara Tuan Muda Saksomo sangat rendah dan datar, tanpa emosi sedikit pun.
“Apakah menampar wajahku terasa menyenangkan?”
Kalimat itu terdengar seperti petir di telinga Meilan.
Orang-orang mengira ledakan amarah Tuan Muda Saksomo adalah hal paling menakutkan. Padahal, selama ia masih marah dan membentak, artinya masalah itu belum benar-benar menyentuh batasnya. Yang paling menyeramkan justru ketika ia menjadi tenang dan tidak menunjukkan emosi sedikitpun pun.
Karena itu berarti seseorang telah benar-benar menyentuh batas kemarahannya yang sesungguhnya.
Sebenarnya tadi Tuan Muda Saksomo belum sepenuhnya yakin. Namun begitu melihat Meilan, ia langsung tahu bahwa kejadian ini pasti berkaitan dengan wanita ini.
Meilan terlihat penurut di permukaan, tetapi di balik sikap lembutnya tersembunyi rasa cemburu yang mengerikan… cemburu yang mampu mengikis orang lain seperti asam sulfat yang pekat.
Alasan Tuan Muda Saksomo mempertahankan wanita ini selama ini sangat sederhana: Meilan cukup penurut dan pandai melayaninya dengan gaya apapun.
Namun ia sama sekali tidak menyangka nyali wanita itu sebesar ini, sampai berani menyentuh Zoya adiknya.
Tuan Muda Saksomo adalah pria yang arogan dan keras kepala. Bahkan orang tuanya sendiri tidak terlalu ia hormati.
Satu-satunya titik lemah pria itu hanyalah adik perempuannya. Semua orang yang mengenal nya tahu itu.
Dan tindakan Meilan hari ini sama saja dengan membangunkan harimau yang sedang tidur.
Jika bukan karena masih berada di tempat umum yang dipenuhi mata dan kamera, Tuan Muda Saksomo mungkin sudah memotong-motong wanita ini dan melemparkannya sebagai umpan ikan sekarang.
Mendengar nada suara Tuan Muda Saksomo, mata Meilan langsung memerah. Ia menatap pria itu dengan pandangan memelas seolah ia adalah korban yang sangat terzalimi.
Meilan tidak habis pikir, saat ini belum ada bukti apa pun, kenapa Tuan Muda Saksomo bersikap seperti ini padanya?
Sebelum beraksi, Meilan sudah memerintahkan orang untuk menghancurkan semua bukti. Ia yakin bahkan jika Tuan Muda Saksomo menyelidikinya, dia tidak akan menemukan jejak sedikit pun. Meilan merasa selama tidak ada bukti, Tuan Muda Saksomo tidak bisa berbuat apa-apa padanya.
Namun, Meilan lupa. Sebagai tuan muda dari keluarga Saksomo ia bisa membuatnya menghilang dengan satu jari. Mencari bukti adalah hal kecil baginya, di negara ini ia bisa menutupi langit.
Meilan menutupi wajahnya, berlagak sangat teraniaya.
Melihat akting Meilan, Tuan Muda Saksomo mendengus dingin. Ia menuntun Zoya untuk duduk di kursi di sampingnya, lalu melangkah menuju Meilan. Langkah kakinya terasa ringan, namun suara sepatu kulitnya yang membentur lantai terdengar sangat tajam, seperti suara pisau yang menggores permukaan, membuat jantung semua orang berdegup kencang… terutama Meilan yang nafasnya mulai memburu.
Tuan Muda Saksomo berdiri tepat di depan Meilan. Wajahnya masih terlihat sangat tampan memikat, namun matanya dingin dan penuh kekejaman, menatap Meilan seolah-olah wanita itu sudah mati. Tuan Muda Saksomo melirik orang-orang di sekitarnya, dan anak buahnya segera mengusir mereka semua.
Setelah orang-orang pergi, Tuan Muda Saksomo langsung menendang dada Meilan dengan keras. Meilan terpental dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.