Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam itu rumah terasa sama seperti biasanya. Tenang di permukaan. Tapi tidak bagi Adinda.
Ia keluar dari gudang dengan langkah yang sudah jauh lebih stabil. Foto itu sudah ia simpan kembali ke dalam map, bukan karena ingin melupakan—tapi justru karena ia ingin menyimpannya sebagai bukti. Wajahnya datar saat melewati ruang tamu. Sintia masih di sana, duduk seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.
Adinda tidak berhenti, tidak juga menyapa, bahkan sekedar melihat pun enggan. Ia hanya berjalan melewati wanita itu… dan naik ke kamarnya.
Pintu tertutup pelan. Dan di balik pintu itu, semua yang ia tahan sejak tadi… runtuh.
Adinda bersandar di balik pintu, napasnya berat. Tangannya gemetar saat perlahan menutup wajahnya. Ingatan itu masih berputar di kepalanya—foto, suara Sintia, hujan, benturan, dan… kalimat itu.
“Jangan bilang dulu ya sama suamimu…”
“Kenapa…” bisiknya lirih.
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak membiarkan dirinya larut terlalu lama. Tangannya mengepal pelan, seolah mencoba menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tangis.
"Aku tidak boleh diam. Semua bukti akan aku kumpulkan satu persatu." ucapnya penuh tekad.
Ia berjalan cepat ke arah meja, mengambil ponselnya. Nama itu langsung ia cari.
Naya.
Telepon berdering beberapa detik sebelum akhirnya diangkat.
“Din?” suara di seberang terdengar waspada. “Kamu gak apa-apa?”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya.
“Nay…” panggilnya pelan.
“Iya, aku di sini.”
Beberapa detik hening.
“Aku… ingat.”
Kalimat itu membuat Naya langsung terdiam.
“Ingat apa?” tanyanya cepat.
Adinda menutup matanya sejenak. “Aku… pernah hamil.”
Suasana mendadak sunyi. Benar-benar sunyi di ujung sana. Naya tidak langsung menjawab, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu serius?”
Adinda mengangguk, meski Naya tidak bisa melihatnya. “Aku nemu foto… di gudang. Itu aku. Perutku… jelas.”
Napasnya sedikit bergetar.
“Dan aku ingat sedikit… mertuaku bilang jangan kasih tahu suamiku.”
Kali ini Naya langsung berdiri dari duduknya. Suara gesekan kursi terdengar samar dari seberang.
“Din, ini bukan sekadar ingatan biasa,” ucapnya serius.
“Aku tahu,” jawab Adinda pelan.
“Ini sudah masuk ke kondisi medis.”
Adinda terdiam. “Nay… sebenarnya aku kenapa?” tanyanya lirih.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi berat.
Naya menghela napas panjang. “Aku bukan dokter, Din. Tapi dari yang aku lihat… ini bukan lupa biasa.”
Adinda masih mencerna apa yang diucap oleh temannya itu. Lalu Naya mulai melanjutkan.
“Besok kita ke dokter, ya,” lanjut Naya tegas.
Adinda sempat ragu. Tangannya menggenggam ujung bajunya pelan. “Kalau… aku gak siap?”
“Kamu harus siap,” potong Naya lembut tapi pasti. “Karena ini bukan cuma soal ingatan. Ini soal hidup kamu yang diambil orang lain.”
Kalimat itu menancap, sampai ke dasar hati. Adinda menutup matanya lagi. Lalu perlahan—
“Iya… aku mau.”
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya.
Udara masih terasa segar saat mobil yang ditumpangi Adinda berhenti di depan sebuah klinik spesialis saraf dan psikologi. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi dan tenang.
Berbeda dengan rumah sakit kemarin. Lebih personal. Adinda turun perlahan. Langkahnya tidak seberat kemarin, tapi tetap terasa hati-hati.
Naya sudah menunggunya di depan.
“Siap?” tanya Naya pelan.
Adinda menatap bangunan itu sebentar. Lalu mengangguk.
“Iya.”
Ruang konsultasi terasa hangat. Tidak terlalu formal, tidak juga menekan. Dindingnya berwarna netral, dengan beberapa rak buku dan tanaman kecil di sudut ruangan.
Seorang dokter pria paruh baya duduk di hadapan mereka. Tatapannya tenang, tidak menghakimi.
Setelah mendengar penjelasan panjang dari Naya dan Adinda, dokter itu mengangguk pelan.
“Jadi… Anda tidak mengingat kejadian sekitar lima tahun lalu, khususnya saat kehamilan dan persalinan?” tanyanya.
Adinda mengangguk. “Iya, Dok. Seolah… bagian itu hilang.”
Dokter itu mencatat sesuatu.
“Dan ingatan lain? Sebelum dan sesudah itu masih ada?”
“Ada,” jawab Adinda. “Saya masih ingat suami saya kerja di luar negeri… setelah itu kosong… lalu saya ingat lagi kehidupan setelahnya.”
Dokter itu menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu berkata pelan—
“Ini bukan amnesia biasa.”
Naya langsung fokus. “Maksudnya, Dok?”
Dokter itu menyandarkan tubuhnya sedikit. “Dari yang Anda ceritakan, kemungkinan besar Anda mengalami dissociative amnesia,” jelasnya.
Adinda mengernyit pelan. “Itu apa, Dok?”
Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menjelaskan dengan sederhana.
“Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan ingatan pada bagian tertentu dalam hidupnya… biasanya terkait kejadian traumatis.”
Deg!
Adinda menelan ludah, matanya benar-benar kosong seolah tidak percaya. Tapi kembali lagi. Kenyataan justru menamparnya untuk sadar. Jika yang sedang ia alami bukanlah mimpi semata.
“Trauma?” ulangnya pelan.
Dokter mengangguk. “Bisa karena kecelakaan, tekanan mental, atau kejadian yang sangat berat secara emosional.”
Naya langsung menyambung, “Jadi ingatannya bukan hilang permanen?”
“Tidak,” jawab dokter. “Ingatan itu masih ada di otak. Hanya… terkunci.”
Adinda terdiam sejenak. “Terkunci…” bisiknya.
“Dan biasanya,” lanjut dokter, “akan muncul kembali secara bertahap. Bisa dipicu oleh tempat, benda, atau emosi tertentu.”
Seperti kemarin.
Rumah sakit.
Foto.
Gelang bayi.
Daster cokelat.
Adinda langsung menggenggam tangannya sendiri.
“Berarti… aku bisa ingat semuanya?” tanyanya pelan.
Dokter mengangguk. “Kemungkinan besar, iya. Tapi…”
Ia berhenti sejenak.
“…prosesnya tidak selalu nyaman.”
Naya mengernyit. “Maksudnya?”
“Karena saat ingatan itu kembali, emosi yang menyertainya juga ikut muncul,” jelas dokter. “Rasa sakit, takut, bahkan marah.”
Adinda terdiam. Perlahan ia mulai memahami, apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Ini bukan sekadar “lupa”. Ini… sesuatu yang lebih dalam.
“Dok…” suaranya melemah. “Kalau ingatan itu… sengaja disembunyikan orang lain?”
Pertanyaan itu membuat dokter terdiam sesaat. Lalu ia menjawab hati-hati.
“Secara medis, amnesia ini terjadi dari dalam diri Anda sendiri. Tapi… bukan berarti tidak ada faktor luar yang memperkuat atau memanfaatkannya.”
Naya langsung menoleh ke Adinda. Dan Adinda… sudah mengerti, seseorang— tidak hanya tahu ia lupa. Tapi sengaja memanfaatkan itu.
Dokter melanjutkan dengan lebih lembut, “Yang penting sekarang, Anda tidak memaksakan diri. Biarkan ingatan itu muncul perlahan.”
Adinda mengangguk pelan, Namun di dalam dirinya—sesuatu sudah berubah. Ia tidak lagi hanya ingin ingat bahkan ingin tahu.
Dan lebih dari itu— ia ingin mengungkap. Karena sekarang bukan lagi sekadar hilang ingatan.
Tapi tentang? Siapa yang membuatnya kehilangan, dan setelah Konsultasi itu keduanya keluar dengan sedikit kelegaan di hati.
Mereka berjalan menuju pintu keluar, sedari tadi Naya melirik ke Adinda, tatapan wanita itu seolah sedang memendam sesuatu.
"Din kalau ada yang mau di sampaikan sampaikan saja," ucap Naya memotong langkah mereka.
Adinda menghentikan langkahnya. Dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. Di dalam pikirannya terlintas ingin memaki seseorang itu dengan perkataan yang lebih kasar dari apapun.
Karena kejadian ini benar-benar sangat tidak adil untuk dirinya yang sudah menganggap seperti keluarga layaknya ibu kandung.
"Nay, boleh gak aku membenci seseorang, padahal keduanya sudah ku anggap keluarga sendiri."
Naya yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Adinda. Memberinya semangat agar semakin tegar.
"Sabar ya, kamu boleh membenci... tapi ingat jangan sampai hatimu terus menerus dikotori dengan kebencianmu itu. Alangkah lebih baik jika kamu mencoba untuk ikhlas meskipun sulit."
"Dia sudah keterlaluan Din ...." ucap Adinda menggantung.
Namun di sela-sela ucapannya itu Adinda teringat akan sesuatu, yang membuat ibu tiri dan keluarganya melakukan itu.
Bersambung ....