NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Terakhir di Jakarta

“Benar-benar sial! Kenapa sih aku harus lihat mereka bercinta begitu? Padahal, kan, aku niat cuma mau menguping sedikit.” Christaly menggerutu kesal sambil dia mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. “Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, hebat juga detektif Sean itu di atas ranjang. Hem. Kira-kira aku akan dapat kesempatan tidak, ya, bercinta dengan pria itu di Malang nanti?”

Jika boleh jujur, sebenarnya Christaly langsung tertarik dengan Sean begitu dia melihat jika pria itu ternyata begitu tampan.

Apalagi, Sean juga merupakan seorang pria yang luar biasa piawai di atas ranjang. Dia merasa iri hati dengan kekasih Sean, Vera. Di mata Christaly gadis itu sangat beruntung bisa memiliki kekasih yang tampan dan tahu bagaimana caranya memuaskan.

“Astaga, Cristaly. Apa-apan sih kamu ini?! Jangan mikir yang aneh-aneh, deh! Kamu harus fokus bagaimana caranya melunasi hutang yang menumpuk setinggi gunung.” Christaly mengingatkan dirinya sendiri agar tidak lupa pada tujuan utamanya. “Kalau dipikir-pikir lagi, kira-kira aku bisa nggak, ya, kerja sama Sean? Bagaimana kalau nanti aku justru menghambat pekerjaan Sean karena aku sama sekali tidak punya pengalaman? Huh!”

Christaly menarik napas dan mengembuskannya dengan satu kali helaan panjang. “Sudahlah, aku tidur saja. Kalau terus memikirkan ini dan itu aku jadi tambah pusing,” keluh Christaly. “Aku nggak mau kalau besok aku sampai telat di hari pertamaku kerja.”

Saat kembali dari rumah Sean untuk mengusir bayangan ketika pria itu dan kekasihnya bercinta dari kepalanya Christaly pun langsung menyibukkan diri dengan mengemasi pakaian.

Bayang-bayang itu menyiksanya, membuat dia gelisah dan tidak fokus. Desahan, rintihan, dan erangan dari sepasang sejoli yang sedan memadu kasih itu terus menerus terngiang-ngiang di telinga Christaly, seolah-olah musik yang diputar secara berulang-ulang.

Hal itu membuat dia hampir gila karena tidak tahan. Hingga akhirnya setelah selesai mengamasi pakaian dia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk memuaskan dirinya sendiri.

“Sial! Kenapa aku masih nggak bisa usir bayang-bayang Sean dari mataku?!” geram Christaly sambil berguling ke kanan dan ke kiri. “Ah, kalau begini keadaannya aku nggak bakalan bisa tidur. Sial!”

Christaly mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Dia sama sekali tidak menyangka jika dampak dari dirinya mengintip Sean yang sedang bercumbu sampai begitu besar untuknya.

Meskipun dia sudah berusaha mengusir bayang-bayang itu dari kepalanya dengan susah payah, dan sudah juga mencoba memuaskan dirinya sendiri, akan tetapi, tetap saja semua itu sia-sia. Sama sekali tak ada gunanya. Jika dia belum bercumbu dengan seorang pria, maka dia tidak akan bisa benar-benar terpuaskan.

“Aku nggak bisa begini terus. Mau nggak mau aku harus pergi mencari Riko buat lepasin semuanya. Ya, aku harus cari Riko.”

Christaly mengulurkan tangan, mengambil ponsel genggamnya yang tergeletak di atas meja lalu bergegas menelepon Riko. Salah satu teman prianya sekaligus langganannya.

Menurut perhitungan Christaly, saat ini pasti pria berdarah campuran India itu masih belum tidur. Sedang berada di klub malam ataupun kalau sudah kembali ke rumahnya pasti sedang bermain video game.

Dan tentu saja dugaan Christaly itu benar. Karena tak lama kemudian Riko menjawab panggilannya dan dari latar belakang terdengar suara musik yang keras, dan khas tempat hiburan malam.

“Halo, Christaly sayang. Akhirnya kamu menelepon juga. Kamu lagi di mana, Sayang? Aku nungguin kamu,” kata Riko dari ujung sambungan langsung tanpa basa basi.

“Hem. Aku tadi kedatangan Pak Haris. Biasa, mau nagih hutang,” jawab Christaly. “Tadinya aku pikir aku bisa ngerayu Pak Haris dan membuat kesepakatan untuk membayar hutangku dengan cara yang lain. Tapi si pak tua keras kepala itu menolak mentah-mentah tawaranku. Huh!”

“Aku kan udah bilang, Christaly. Kalau Pak Haris itu mata duitan. Dia nggak akan pernah mau kalau hutang-hutangmu itu dibayar dengan tubuhmu,” sahut Riko. “Udah deh, daripada kamu pusing sama hutang-hutangmu, mending kamu ke sini nyusul aku. Kita bersenang-senang sampai pagi.”

“Gimana kalau kamu saja yang ke sini, Riko. Karena mungkin malam ini terakhir aku di Jakarta.” Christaly yang tidak mau menyusul Riko di klub malam pun memancingnya dengan sangat sempurna. “Besok aku harus pergi jauh. Dan aku nggak tahu aku akan pulang kapan. Bahkan aku nggak tahu apakah aku masih bisa pulang dalam kondisi hidup atau mungkin sudah mati.”

“Kamu ini ngomong apa sih, Christaly?! Jangan ngawur begitu deh,” sahut Riko panik. “Oke, sekarang juga aku ke sana. Tunggu aku.”

Christaly yang tahu kalau Riko sepertinya menduga dia akan melakukan bunuh diri baru saja mau menjelaskan situasinya. Akan tetapi panggilan telepon itu sudah lebih dulu ditutup oleh Riko.

“Astaga, pasti dia pikir kalau aku mau bunuh diri karena putus asa sama hutang-hutangku. Padahal aku telpon dia untuk mengajaknya bersenang-senang sebelum aku pergi ke Malang.”

Christaly kembali meletakan ponsel genggamnya di atas meja. Setelah itu dia turun dari atas tempat tidur menuju ruang tamu untuk menunggu kedatangan Riko.

Di ruang tamu Christaly menyalakan lampu lalu membuka baju tidur yang dikenakannya dengan sengaja hanya menyisakan pakaian dalam saja.

Tepat pada saat Christaly selesai menanggalkan pakaian itu terdengar suara mobil berhenti di depan. Riko sudah sampai. Pria itu pasti sedang berada di klub malam tempat biasa mereka yang memang letaknya tidak jauh dari rumah Christaly. Dengan segera dia pun membukakan pintu.

“Fiuh! Syukurlah kamu masih baik-baik saja,” kata Riko saat dia melihat Christaly membukkan pintu. “Awas kamu ya kalau berpikiran macam-macam. Aku nggak akan maafin kamu seumur hidupku kalau kamu sampai nekat mau bunuh diri.”

Christaly tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dituduhkan Riko kepadanya. “Kamu ini ngomong apa sih, Riko?! Siapa juga yang mau bunuh diri? Ayolah, kalau aku mau bunuh diri aku sudah lakuin itu dari lama,” kata Christaly di antara tawanya. “Aku tuh telepon kamu karena aku mau pamit pergi. Aku dapat kerjaan yang bagus. Tapi aku harus pergi ke Malang besok pagi.”

“Jadi kamu telepon aku karena mau pamitan pergi ke Malang?” ulang Riko yang merasa bodoh.

“Begitulah.”

“Tapi kenapa di telepon kamu bilang kalau kamu nggak tahu kapan akan balik lagi ke Jakarta, bahkan kamu nggak tahu apa kamu masih bisa  pulang dalam kondisi hidup atau nggak. Kan aku jadi panik,” protes Riko yang sekarang menjadi kesal sendiri.

“Ya memang begitu keadaannya. Sudahlah, lupakan saja dulu semua itu. Sekarang aku ingin bersenang-senang untuk yang terakhir kalinya denganmu. Aku janji aku akan cerita semuanya nanti. Cepat lepas pakaianmu sementara aku ambil es batu. Aku ingin menghabiskan sisa malam ini dengan bercinta bersamamu.”

“Tapi, Christaly ....”

“Shhh! Nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu menolak, aku akan membunuhmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!