Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Undangan dari Dunia yang Salah
Pukul 05.17.
Jam dinding itu kembali berhenti.
Tidak berdetak.
Tidak bergerak.
Seolah waktu… menolak berjalan.
Kinasih berdiri di depan cermin.
Napasnya pelan.
Namun dadanya terasa berat.
Pantulan dirinya tampak normal.
Rambut terurai.
Wajah pucat.
Mata lelah.
Tapi—
Ia tahu.
Ia tidak sendirian.
Perlahan…
Di belakang pantulannya—
Sesuatu bergerak.
Tidak terlihat jelas.
Namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
Kinasih menelan ludah.
“Kalau kamu ada…” bisiknya pelan, “…tunjukkan saja.”
Sunyi.
Lalu—
Cermin itu berembun.
Padahal kamar tidak dingin.
Kabut tipis muncul… dari dalam cermin.
Bukan dari udara.
Dari… dalam.
Tulisan mulai terbentuk.
Pelan.
Seperti jari tak kasat mata yang menulis di permukaan kaca.
Huruf demi huruf.
“U N D A N G A N”
Kinasih mundur satu langkah.
Tangannya gemetar.
Tulisan itu belum selesai.
Baris kedua muncul.
“P E R N I K A H A N”
Air mata mulai menggenang.
“Tidak…” bisiknya.
Namun tulisan terakhir membuatnya membeku.
“K I N A S I H”
Cermin retak.
Pelan.
Garis tipis muncul dari tengah.
Menyebar seperti urat.
Dan dari celah retakan itu—
Sesuatu mengintip.
Satu mata.
Hitam.
Kosong.
Dan… tersenyum.
“AAAH!”
Kinasih menjatuhkan sisir di tangannya.
Cermin kembali normal.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada retakan.
Tidak ada mata.
Namun—
Di tangannya…
Ada sesuatu.
Sebuah kertas.
Kuning.
Kusam.
Seperti sudah lama terkubur.
Dengan napas gemetar, Kinasih membukanya.
Tulisan tangan.
Hitam.
Namun tintanya seperti basah.
Seperti… baru ditulis.
“Undangan Pernikahan”
Kinasih menutup mulutnya.
Di bawah tulisan itu—
Ada dua nama.
Nama pertama:
Kinasih
Nama kedua—
Kosong.
Hanya noda hitam.
Seperti sengaja dihapus.
Tiba-tiba—
Suara ketukan terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Dari dalam lemari.
Kinasih membeku.
Pelan-pelan… ia menoleh.
Lemari itu tertutup rapat.
Namun pintunya…
Bergetar sedikit.
Seolah ada sesuatu di dalamnya.
Menunggu.
Tok.
Tok.
Tok.
Lebih keras.
“Kinasih…”
Suara itu.
Lirih.
Dari dalam.
“Aku sudah siap…”
Kinasih mundur perlahan.
Namun langkahnya terhenti saat punggungnya menyentuh dinding.
Ia terjebak.
Tidak bisa ke mana-mana.
“Buka…” bisik suara itu.
“Buka… aku mau keluar…”
Tiba-tiba—
Ponselnya bergetar.
Kinasih langsung meraihnya.
Nama di layar:
Bima.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat.
“Bim…”
“Kamu kenapa?! Aku mimpi buruk lagi!”
“Aku juga… Bim…”
Di ujung sana, suara Bima terdengar panik.
“Aku lihat kamu… pakai gaun putih… berdiri di dalam peti…”
Kinasih menutup mata.
Air matanya jatuh.
“…itu bukan mimpi.”
BRAK!
Pintu lemari terbuka sendiri.
Dengan keras.
Kinasih menjerit.
Di dalam—
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Namun bau tanah basah langsung menyebar ke seluruh ruangan.
Dan di dasar lemari—
Ada jejak kaki.
Basah.
Mengarah keluar.
Jejak itu berhenti… tepat di belakang Kinasih.
“Jangan… balik…”
Suara Bima terdengar dari ponsel.
Namun—
Terlambat.
Kinasih sudah menoleh.
Di sana—
Perempuan itu berdiri.
Lebih dekat dari sebelumnya.
Lebih jelas.
Lebih… nyata.
Gaun putihnya kini terlihat seperti gaun pengantin.
Namun kotor.
Penuh tanah.
Dan di bagian bawah—
Kosong.
Tidak ada kaki.
Hanya gelap.
“Undangannya sudah kamu terima…” katanya pelan.
Suara itu… lebih lembut.
Lebih tenang.
Namun justru lebih mengerikan.
“Kamu tidak bisa menolak…”
Kinasih menggeleng.
“Ini bukan dunia kamu…”
Perempuan itu tersenyum.
“Sebentar lagi… jadi milikku.”
Ponsel jatuh dari tangan Kinasih.
Suara Bima masih terdengar samar.
“KINASIH! JAWAB!”
Namun suara itu perlahan… tenggelam.
Perempuan itu mendekat.
Tangannya dingin.
Menyentuh pipi Kinasih.
Sekejap—
Semua berubah.
Kinasih berdiri di tempat yang berbeda.
Bukan kamar.
Bukan rumah.
Melainkan…
Tempat pemakaman.
Kabut tebal.
Tanah basah.
Dan bau yang menusuk.
Di depannya—
Deretan keranda.
Banyak.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Semua tertutup kain putih.
Dan di setiap kain—
Ada nama.
Kinasih berjalan pelan.
Matanya membaca satu per satu.
Nama-nama yang tidak ia kenal.
Namun…
Semakin ke dalam—
Nama-nama itu mulai familiar.
Tetangga.
Teman sekolah.
Dan—
Bima.
“Tidak…”
Kinasih berlari.
Mencari.
Dan akhirnya—
Ia menemukannya.
Satu keranda.
Dengan namanya.
Kinasih
Tangannya gemetar saat membuka kain itu.
Perlahan…
Ia mengangkatnya.
Dan—
Kosong.
Tidak ada tubuh.
Hanya ruang.
Menunggu.
“Tempatmu…” suara itu terdengar lagi.
Kinasih menoleh.
Perempuan itu berdiri di antara kabut.
Kini lebih terang.
Wajahnya tidak lagi menyeramkan.
Justru… cantik.
Sangat cantik.
Namun terlalu sempurna.
Terlalu… tidak manusia.
“Aku dulu juga seperti kamu…” katanya pelan.
“Dipilih… tanpa tahu kenapa…”
“Dipaksa… tanpa bisa lari…”
Kinasih menatapnya.
“Kenapa aku…?”
Perempuan itu tersenyum.
“Karena kamu melihatku…”
Angin bertiup kencang.
Kabut bergerak.
Dan dari dalam kabut—
Muncul sosok lain.
Satu.
Dua.
Tiga.
Banyak.
Semua perempuan.
Semua memakai gaun putih.
Semua… tidak punya kaki.
“Mereka… sebelum kamu…” bisik suara itu.
“Pengantin-pengantin yang gagal…”
Mereka mendekat.
Perlahan.
Mengelilingi Kinasih.
Wajah mereka kosong.
Namun mata mereka…
Penuh penderitaan.
“Tolong…” salah satu dari mereka berbisik.
“Gantikan aku…”
Yang lain ikut.
“Tolong…”
“Tolong…”
“Tolong…”
Suara itu bertumpuk.
Menjadi satu.
Menjadi tekanan.
Masuk ke kepala.
Menghancurkan.
“BERHENTI!!!”
Kinasih menutup telinganya.
Namun suara itu tidak hilang.
Karena itu bukan suara biasa.
Itu…
Dari dalam.
Tiba-tiba—
Tanah di bawahnya terbuka.
Perlahan.
Seperti mulut.
Gelap.
Dalam.
Dan dari dalamnya—
Tangan-tangan muncul.
Banyak.
Pucat.
Mencengkeram.
“Mereka ingin keluar…” kata perempuan itu.
“Dan kamu… pintunya.”
Tangan-tangan itu meraih kaki Kinasih.
Menarik.
“Tidak!!!”
Ia berusaha melawan.
Namun semakin kuat ia melawan—
Semakin banyak tangan yang muncul.
“Terima saja…” bisik suara itu.
“Lebih cepat… lebih mudah…”
Kinasih menatap keranda di depannya.
Kosong.
Menunggu.
Dan untuk sesaat—
Ia merasa lelah.
Sangat lelah.
Seolah ini… tak bisa dilawan.
Namun—
Tiba-tiba—
Suara lain terdengar.
“KINASIH!!!”
Bima.
Kabut terbelah.
Dan Bima muncul.
Terengah.
Pucat.
Namun… nyata.“Kamu harus keluar dari sini!”
“Bim…” air mata Kinasih jatuh.
“Ini bukan dunia kita…”
“Aku tahu! Tapi kamu masih hidup!”
Perempuan itu menatap Bima.
Ekspresinya berubah.
Tidak senang.
“Kamu tidak diundang…”
Bima berdiri di depan Kinasih.
“Aku nggak peduli!”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Kalau begitu… kamu juga bisa tinggal…”
Tanah di bawah Bima mulai bergerak.
Tangan-tangan muncul.
Menarik.
Namun Bima tetap berdiri.
Menahan.
Melawan.
“Kinasih! Dengar aku!” teriaknya.
“Koin itu! Itu kuncinya!”
Kinasih teringat.
Koin.
Namun—
Ia tidak melihatnya di mana pun.
Perempuan itu mengangkat tangan.
Dan—
Koin itu muncul.
Melayang di udara.
Di antara mereka.
“Ini?” katanya pelan.
“Kamu mau ini?”
Kinasih menatapnya.
Dalam.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak takut.
“Kalau aku ambil…” katanya pelan, “…semua ini berhenti?”
Perempuan itu diam sejenak.
Lalu tersenyum.
“Ya…”
Bima langsung berteriak.
“JANGAN PERCAYA!”
Namun—
Kinasih sudah melangkah.
Mendekati koin itu.
Tangannya terangkat.
Perlahan.
Saat ujung jarinya hampir menyentuh—
Ia berhenti.
Matanya berubah.
Dari takut…
Menjadi… sadar.
“Kamu bohong…”
Perempuan itu terdiam.
“Kalau ini berhenti…” lanjut Kinasih, “…kamu juga harus hilang.”
Senyum itu perlahan…
memudar.
“Kamu nggak mau itu, kan?”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya—
Perempuan itu terlihat… goyah.
Kinasih menggenggam koin itu.
Kuat.
Dan dalam sekejap—
Semua berubah lagi.
Suara jeritan.
Kabut pecah.
Tanah retak.
Dan dunia itu…
Mulai runtuh.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?!” teriak perempuan itu.
Kinasih menatapnya.
“Balikin ke tempat asalnya.”
Dan untuk pertama kalinya—
Perempuan itu… menjerit.
Benar-benar menjerit.
Dengan suara yang tidak manusia.
“AKU TIDAK MAU KEMBALI!!!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Cahaya muncul.
Terang.
Menusuk.
Dan dalam satu detik—
Semuanya hilang.
Kinasih terbangun.
Di kamarnya.
Pukul 05.17.
Namun kali ini—
Jam itu bergerak.
Pelan.
Detik pertama.
Detik kedua.
Ia bernapas.
Masih hidup.
Namun—
Di tangannya—
Koin itu… retak.
Dan dari dalam retakan—
Terdengar suara.
Pelan.
Lemah.
Namun masih ada.
“Aku… belum selesai…”