NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-30

Setelah pertemuan yang tak disangka-sangka itu, kini Nara dan Arkan berada di dalam mobil menuju pulang. Keduanya terdiam, Nara sibuk dengan pikirannya sendiri yang masih terbayang kejadian tadi, sedangkan Arkan fokus menyetir namun wajahnya terlihat sedikit mendung.

Ada rasa penasaran yang mengganjal di hati Arkan. Ia ingin sekali bertanya sosok pria itu sebenarnya siapa, kenapa tatapan mereka begitu intens, dan kenapa Nara terlihat begitu canggung. Akhirnya, karena tak tahan lagi, Arkan pun membuka suara.

"Siapa pria tadi?" tanyanya pelan namun tegas, matanya tetap lurus menatap jalanan.

Nara tersentak sedikit, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab jujur.

"Itu... Farhan. Mantan suami pertama aku," jawab Nara pelan, berani mengakui kebenaran meski sedikit takut.

Suasana di dalam mobil seketika hening. Arkan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya yang memegang setir justru mengepal sedikit lebih kuat.

Jadi itu mantan suaminya pertamanya .. batin Arkan. Rasa cemburu langsung menyeruak di dada. Melihat mantan suami yang sudah punya keluarga bahagia, dan melihat Nara yang tadi terlihat syok dan malu... rasanya dada Arkan terasa sesak dan panas.

"Oh... mantan suami ya," ucap Arkan lambat, nadanya terdengar datar namun ada nada kesal yang terselip. "Ternyata ya... pantas saja tatapan kalian begitu aneh. Kirain masih ada rasa."

Nara langsung menoleh cepat, melihat profil wajah kekasihnya yang tampak cemburu buta. Ia tersenyum kecil, merasa gemas melihat Arkan seperti ini.

"Ih apaan sih... 'masih ada rasa' apanya?" bantah Nara lembut sambil mencubit pelan lengan baju Arkan. "Itu masa lalu banget,sebelum aku ketemu Raka, Aku aja malu dan bersalah banget ketemu dia, karena dulu aku ninggalin dia pas dia lagi susah. Sekarang dia udah bahagia kok sama keluarga barunya."

Arkan mendengus pelan, lalu melirik sekilas ke arah Nara.

"Bersalah boleh, tapi jangan sampe kangen atau apa ya. Aku gak terima," ucapnya sok ketus tapi sebenarnya manja. "Aku cemburu tau gak? Lihat dia mantan kamu, terus kalian tatap-tatapan gitu... rasanya pengen aku tabrak aja mobilnya tadi."

Nara tertawa renyah mendengarnya. Ia tahu Arkan cuma posesif dan sayang banget sama dia.

"Yahh... Bosku cemburu ya?" goda Nara sambil mendekatkan tubuhnya ke arah pria itu, menyandarkan kepala di bahu kokohnya. "Udah ah jangan mikir aneh-aneh. Sekarang dan selamanya yang ada di hati aku cuma kamu, Arkan Delvin. Cuma kamu."

Mendengar kalimat manis itu, bahu Arkan yang semula tegang perlahan mulai rileks. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Rasa cemburu itu perlahan hilang berganti rasa bangga.

"Yaudah sih... gitu juga harusnya. Kamu kan milikku sekarang," jawab Arkan sok gengsi, tapi tangannya langsung bergerak mencari tangan Nara dan menggenggamnya erat-erat, lalu mengecup punggung tangan wanita itu singkat.

"Lagipula... dia udah punya istri dan anak, berarti dia udah bahagia. Dan kamu... kamu punya aku yang bakal bikin kamu jauh lebih bahagia dari dia. Deal?"

Nara tersenyum lebar, "Deal!"

Suasana di dalam mobil pun kembali hangat dan santai. Lagu-lagu lembut mengalun, menyapu sisa-sisa kecanggungan tadi, digantikan oleh rasa sayang yang semakin kuat di antara mereka berdua.

____

Beberapa menit kemudian, mobil Arkan akhirnya tiba di depan rumah Nara. Pria itu turun lebih dulu, lalu dengan sigap memutari bagian depan mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya layaknya seorang gentleman.

"Terima kasih sayang!" ujar Nara sambil turun, wajahnya berseri-seri.

"Everything for you!" jawab Arkan lembut dengan senyum menggoda, kalimat singkat itu seketika mengundang senyum paling manis dan lebar di bibir Nara.

"Yaudah, gih kamu balik. Hati-hati di jalan ya!" pesan Nara sambil melambaikan tangan, siap berbalik masuk ke halaman rumahnya.

Namun, sebelum Nara sempat melangkah pergi, tangan kekar Arkan langsung menarik pergelangan tangan wanita itu pelan, membawanya kembali mendekat ke dada bidangnya.

Bugh!

Nara terpaku tepat di hadapan pria itu.

"Kamu ngapain sih... mau cabut gitu aja tanpa pamit yang bener?" bisik Arkan manja, matanya menatap tajam namun penuh cinta tepat ke manik mata Nara.

Nara terkekeh pelan, "Ih kan udah pamit tadi..."

"Kurang!" potong Arkan cepat.

Tanpa memberi waktu untuk Nara membantah, Arkan langsung menarik pinggang wanita itu dan mencium bibirnya lama dan lembut. Ciuman penutup hari yang manis, penuh rasa sayang dan rindu.

"Hhh... gini baru boleh," ucap Arkan puas setelah melepaskan ciuman itu, lalu mencubit gemas pipi Nara. "Masuk sana, langsung tidur. Jangan begadang. Aku kabari kalau sampai rumah nanti."

"Iya siap Bos!" jawab Nara sambil tertawa kecil, wajahnya memerah padam.

Nara pun berjalan menuju pintu rumahnya, sesekali menoleh ke belakang melihat Arkan yang masih berdiri di sana menunggunya masuk aman.

Tanpa mereka sadari, dari rumah yang hanya berjarak dua bangunan dari tempat Nara tinggal, seseorang berdiri diam di depan teras yang lampunya sudah dimatikan.

Hanya menyisakan cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menerangi separuh wajahnya. Mata itu menatap tajam ke arah pasangan kekasih yang sedang bermesraan itu, penuh dengan api dendam yang membara.

Jika tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Nara dan Arkan sudah mati berkali-kali lipat karena sinaran mematikan yang dikirimkan oleh sosok itu.

"Belum... belum saatnya kalian tahu..." gumamnya lirih, namun terdengar sangat mengerikan di tengah keheningan malam.

Kedua tangannya terkepal erat-erat, kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan hingga memutih, menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dada.

"Nikmati saja dulu kebahagiaan palsu kalian... karena sebentar lagi... segalanya akan hancur!"

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!