NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain di Balik Debu

Perjalanan di dalam angkot sore itu terasa jauh lebih seru daripada yang Aruna bayangkan. Biasanya, jam-jam seperti ini ia habiskan dengan duduk kaku di perpustakaan sambil membahas latihan soal.

Namun sekarang, ia tertawa lepas mendengar Sasha yang mengomel tentang mahalnya harga seblak di dekat toko buku, sementara Jelita sibuk mengomentari gaya rambut orang-orang yang mereka temui.

"Gila ya, ternyata keluar dari zona nyaman itu asyik juga," gumam Aruna saat mereka turun di depan mal kecil tempat mereka akan mencari referensi buku.

"Tuh kan, gue bilang juga apa! Hidup lo tuh jangan isinya angka mulu, Na. Sekali-kali isi sama drama-drama dikit lah," sahut Sasha sambil menarik tangan Aruna masuk.

Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dalam toko buku. Aruna akhirnya membeli sebuah novel sastra yang sudah lama ia incar, bukan buku kumpulan soal olimpiade seperti biasanya.

Saat mereka keluar dari toko buku, matahari sudah mulai terbenam, menciptakan semburat warna oranye yang cantik di langit Jakarta yang biasanya abu-abu.

"Eh, liat deh itu bukannya motor si Aska?" Jelita menunjuk ke arah parkiran motor di pinggir jalan, dekat sebuah bengkel kecil yang masih buka.

Aruna menyipitkan mata. Benar saja, motor hitam besar yang tadi melesat di depan sekolah terparkir di sana. Namun, pemandangan di sampingnya membuat Aruna terpaku. Aska tidak sedang berpose keren atau mengganggu orang.

Cowok itu memakai kaos dalam hitam yang penuh noda oli, tangannya yang kekar belepotan minyak hitam saat ia tampak serius membantu seorang montir tua membongkar mesin motor lain.

"Lho, si jagoan basket nyambi jadi montir?" Sasha berbisik, suaranya terdengar tidak percaya.

"Bukannya dia anak orang kaya ya?" tambah Jelita bingung.

Aruna diam. Ia memperhatikan bagaimana Aska dengan telaten membersihkan onderdil mesin, sesekali ia mengusap dahi dengan lengannya, meninggalkan coretan oli di wajahnya yang tajam. Tidak ada seringai menyebalkan, tidak ada tatapan meremehkan. Yang ada hanyalah raut wajah fokus yang sangat dalam.

"Ternyata dugaan gue bener," gumam Aruna pelan.

"Dugaan apa, Na?" tanya Sasha.

"Dia nggak seburuk yang dia tunjukin di sekolah. Dia cuma... punya dunia yang nggak semua orang tahu," jawab Aruna tanpa sadar matanya masih terkunci pada sosok Aska di kejauhan.

Sesaat kemudian, Aska mendongak. Mungkin ia merasa sedang diperhatikan. Matanya menangkap sosok tiga gadis berseragam sekolah yang berdiri di seberang jalan. Ia sempat mematung sebentar, menyadari bahwa itu adalah Aruna dan teman-temannya.

Seringai tipisnya muncul kembali, tapi kali ini terasa berbeda. Ia hanya memberikan anggukan singkat ke arah Aruna—sebuah pengakuan bisu—sebelum kembali sibuk dengan mesin di depannya.

"Ayo balik, udah makin gelap," ajak Aruna tiba-tiba, memutus kontak mata itu.

Di dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing, Aruna menjadi lebih banyak diam. Ia teringat kembali kata-kata Aska di koridor: *“Jangan terlalu percaya sama apa yang lu liat di permukaan.”* Ternyata, variabel Askara jauh lebih kompleks daripada yang Aruna duga.

Dan saat ia sampai di depan rumahnya, Aruna menyadari satu hal; ia mulai berhenti melihat Aska sebagai sekadar pengganggu. Aska adalah sebuah teka-teki, dan Aruna, sebagai seorang pecinta sains, tahu bahwa teka-teki adalah sesuatu yang paling sulit untuk diabaikan.

Malam itu, sebelum tidur, Aruna melihat botol susu cokelat dari Adrian yang masih tersisa setengah di meja belajarnya. Ia meminumnya sampai habis, lalu mematikan lampu kamar. Besok, ia yakin SMA Cakrawala Bangsa akan terasa berbeda lagi baginya.

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!