NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Akan Menjadi Wali

Menuju beberapa bulan sebelum pernikahan, Riyani dan Hanif mulai sibuk mengurus semuanya. Apalagi Riyani, yang mengurus lebih banyak dibanding Hanif—yang memang terhalang dengan jadwal kerja dan padatnya.

1 bulan setelah lamaran berlangsung, Riyani kini termenung pada bangku di depan rumah kakeknya. Dengan catatan yang ia genggam—penuh dengan tulisan, dari mulai bahan untuk makanan sampai beberapa vendor yang sudah ia hubungi sebelumnya. Belum lagi urusan ke KUA.

Kakek menghampirinya. Ia duduk di samping cucunya itu.

"Kamu masih mikirin bapak kamu datang atau enggak?"

Riyani mengangguk.

"Neng..... anak durhaka ya, Kek?"

"Kok bilang begitu?"

"Ya kan katanya kalau anak banyak salah, orang tuanya gak bakal peduli sama anaknya."

Kakek menghela napasnya.

"Kakek jarang bicara dan peduli sama anak-anak kakek. Mereka juga yang pada tinggal jauh dan jarang ke sini, malah anak-anaknya yang sering ke sini."

"Oh iya Kek. Nanti Neng mau minta Pak Imran buat antar ke rumah sakit ya, boleh?"

"Kenapa kamu? Sakit? Atau Hanif yang sakit?"

Riyani menggeleng.

"Neng sama Aa mau periksa kesehatan, Kek. Sekalian mau suntik gitu."

"Oh.... kirain kakek salah satu dari kalian sakit. Ya udah, nanti hati-hati ya!" Riyani mengangguk mengiyakan.

...----------------...

Setibanya di rumah sakit, Hanif sudah menunggunya di lobi. Riyani tersenyum padanya, ia menggandeng tangan hanif lebih santai dibanding sebelumnya.

Tidak butuh waktu lama untuk pemeriksaan kesehatan, hanya menunggu hasil lab-nya yang cukup lama.

Riyani mengajak calon suaminya untuk makan lebih dulu di kantin. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya pun Riyani merasa kurang menjaga dirinya.

Hanif memilih menu yang sama dengan kesukaan Riyani—ayam balado dengan tempe orek ditambah nasi uduk, yang memang favorit di kantinnya ini.

Lelaki itu menoleh pada Riyani yang masih terlihat sibuk memilih beberapa kue basah dan gorengan.

"Neng udah belum?"

Riyani menoleh. Ia mengangguk lalu membawa beberapa belanjaannya untuk dihitung bersama dengan masakannya.

Hanif terkekeh melihat calon istrinya sudah seperti anak kecil jika jajan.

"Udah semua yang mau dibelinya?"

Riyani mengangguk.

Sembari makan siang, mereka membicarakan tentang pernikahannya. Hanif menatap calon istrinya itu dengan sendu.

"Maaf ya kalau Aa bantunya sedikit!"

Riyani terkekeh pelan.

"Aa gak bantu sedikit. Kan semua biaya ditanggung Aa, lagian aku ngurus beberapa vendor sama nenek, terus nyicil beli seserahan juga sama ibu kemarin. Jadi gak sendirian, tenang aja."

Hanif menggenggam tangan riyani.

"Kalau ada apa-apa, cerita sama Aa ya! Jangan sampe Aa gak tau apa-apa."

Riyani mengangguk dengan senyumannya.

...----------------...

Hanif merasa sedikit lega, setelah melihat hasil pemeriksaan keduanya. Begitupun dengan Riyani yang sudah selesai dengan pemeriksaan catin lainnya.

Sebelum kembali, Riyani memilih untuk melakukan pemeriksaan gigi. Ia merasa harus konsultasi pada giginya yang sedikit terasa nyeri beberapa waktu lalu.

Namanya terpanggil setelah beberapa waktu menunggu. Dokter wanita itu tersenyum pada Riyani, begitupun sebaliknya.

"Selamat siang, Teh," ucapnya, "silahkan duduk dulu!"

Riyani duduk berhadapan dengannya.

"Makasih, Dok."

"Ada keluhan apa, Teh?"

Riyani mengeluhkan semuanya. Perihal giginya yang nyeri setelah memakan keripik yang cukup keras beberapa hari lalu.

"Coba kita periksa dulu ya!" ucap dokternya.

Riyani mengangguk mengiyakan.

Setelah melakukan pemeriksaan, Riyani merasa tenang. Pasalnya gigi yang sakit itu tidak terlalu masalah untuk saat ini. Ia hanya perlu meminum obat untuk mengurangi rasa sakitnya.

Baru saja ia keluar dari ruang pemeriksaan, Hanif sudah berdiri di depan ruangan itu.

"Loh Aa kok di sini?"

"Gigi kamu kenapa? Kok gak kasih tau Aa kalau mau periksa?"

Riyani tersenyum. Ia bawa Hanif untuk duduk lebih dulu.

"Neng tadinya gak mau periksa. Cuman iseng tadi tanya kalau yang daftar ke dokter gigi ada berapa, eh ternyata cuman satu. Jadi periksa aja."

"Kenapa emangnya?" tanya Hanif.

"Kemarin habis makan keripik singkong, terus ada yang keras mungkin. Jadi sakit gigi aku, makanya periksa," jelas Riyani, "tapi kata dokter velia gak parah kok. Cuman beberapa hari ke depan gak boleh makan yang keras dulu."

Hanif menghela napasnya.

"Alhamdulillah kalau gitu."

"Aa tau darimana kalau aku di sini?"

"Dari Velia, katanya calon istri aku berobat ke dokter gigi tapi calon suaminya gak nemenin."

Riyani terkekeh pelan mendengarnya.

"Sekarang udah gak cemburu lagi?" tanya Hanif sembari menahan senyumnya.

Riyani mengedarkan pandangannya.

"Apaan sih. Emangnya siapa yang cemburu? Neng gak cemburu tuh."

Hanif terkekeh. Ia mengangguk mengejek calon istrinya.

"Ih Aa!!" protes Riyani sembari mencubit lengan hanif.

Setelah selesai mengambil obat, Hanif yang mengantarnya ke parkiran. Ia meminta Pak Imron untuk menjaga calon istrinya hingga sampai ke rumah kembali.

...----------------...

Setibanya di rumah, Riyani menautkan alisnya. Ada mobil yang terparkir di halaman rumah kakek. Belum lagi, suara lantang kakek yang terdengar hingga keluar.

Riyani masuk, langkahnya terhenti saat ia lihat bapak dan keluarganya sedang ada di ruang tamu bersama dengan kakek.

"Ada apa kalian ke sini?" tanya Riyani.

Riyani duduk di samping kakeknya.

"Kakek gak apa-apa? Tadi Neng denger kakek marah-marah."

"Mereka.... mau ajak kamu pulang!" ucap kakek.

Riyani menoleh pada bapaknya.

"Neng gak mau pulang. Untuk saat ini, ini rumah neng, tempat keluh dan kesah neng."

"Silahkan kalian pergi dari sini!"

Bang Ardi menggebrak meja. Dengan amarahnya ia menatap adiknya dengan murka.

"Pulang atau Abang seret kamu!"

Mamah menahan lengan anak sulungnya. Memintanya untuk sabar dan bicara baik-baik dengan Riyani.

"Neng, mamah tau kalau kamu kecewa sama kita. Tapi seenggaknya kalau kamu mau menikah, menikah di rumah kamu jangan numpang di sini," ucap mamah.

"Neng gak numpang di sini. Kakek dan nenek juga tempat dia untuk pulang kalau gak punya rumah," sela kakek.

"Bukan begitu masalahnya, Kek. Tapi mamah sama bapak bisa malu kalau dia gak menikah di rumah. Apa kata tetangga nanti," timpal Abang.

"Ya itu masalah kalian. Bukan masalah aku," ucap Riyani.

"Neng, kalau kamu menikah di sini. Bapak gak akan datang sebagai wali kamu, toh bapak juga belum kasih restu ke Hanif untuk menikahi kamu," ancam bapak.

Riyani mengepalkan tangannya kuat.

"Maksud bapak, Neng gak perlu anggap bapak masih hidup?"

"Neng.... kamu—"

Bapak memegang dada kirinya. Ia jatuh ke sofa hingga membuat semuanya panik termasuk dengan Riyani.

Bapak dilarikan ke rumah sakit, diantar Pak Imran. Begitupun dengan Riyani yang diseret oleh abangnya untuk ikut seolah ini semua kesalahannya.

Di depan ruang IGD, Bang Ardi murka pada adiknya itu.

"PUAS KAMU BUAT BAPAK BEGINI?"

Semua pandangan tertuju pada keduanya. Tangan riyani gemetar, ia juga tidak bermaksud berbicara seperti itu tadi—tapi rasanya semua orang menyudutkannya.

Bang Ardi menunjuknya.

"Awas kamu ya! Kalau sampai bapak kenapa-napa. Kamu yang Abang masukan ke penjara duluan!"

"Kenapa Abang meminta pertanggung jawaban sama orang yang disudutkan sama keluarganya sendiri?"

Riyani menoleh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!