NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Senja di kediaman Widjaja terasa lebih mencekam dari biasanya. Langit Jakarta yang berwarna jingga kemerahan tampak seperti tumpahan cat yang kontras dengan suasana dingin di halaman mansion. Mobil SUV putih yang membawa Aurora berhenti tepat di depan lobi.

Aurora turun lebih dulu sebelum Pak Bambang sempat membukakan pintu. Ia segera memakai kembali kacamata hitamnya—bukan untuk gaya, tapi untuk menyembunyikan matanya yang sembab dan bengkak. Langkahnya yang biasanya ringan dan penuh semangat, kini terasa berat dan lurus menuju pintu utama, seolah ia sedang berjalan menuju medan perang sendirian.

Pak Bambang yang berdiri di dekat pintu masuk mencoba menyapa dengan nada hangat seperti biasa. "Selamat sore, Non Aurora. Sudah selesai pemotretannya?"

Aurora hanya memberikan anggukan kecil tanpa suara, bahkan tanpa menoleh. Ia terus melangkah masuk, meninggalkan keheningan yang janggal di belakangnya.

Bintang, si ajudan baru yang sedang merapikan jadwal patroli, memperhatikan dari kejauhan dengan dahi berkerut. "Non Aurora kenapa, Pak? Kok kayak... beda banget? Biasanya kan dia yang paling rame, minimal nanya Mas Langit di mana gitu," bisik Bintang heran.

Pak Bambang menghela napas panjang, matanya menatap punggung Aurora yang perlahan menghilang di balik pintu besar. "Biasalah, Bin. Lagi... ya itulah pokoknya. Badai lagi lewat di kepalanya. Mending kamu jangan banyak tanya dulu."

Di dalam lobi utama, Anggara Widjaja sedang berdiri di dekat meja marmer besar. Di sampingnya, Langit berdiri tegap dengan buku catatan kecil di tangan, tampaknya mereka baru saja selesai membahas agenda untuk malam ini.

Begitu mendengar suara langkah kaki, Anggara menoleh. "Aurora! Kamu baru pulang?"

Aurora menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat Langit berdiri di sana—sedekat itu, namun terasa ribuan kilometer jauhnya. Langit tetap dalam posisi tegak, matanya lurus ke depan, tidak memberikan sedikit pun tatapan atau isyarat bahwa mereka baru saja bicara di telepon dengan penuh ketegangan.

"Hmmm," jawab Aurora singkat dari balik kacamata hitamnya.

Anggara yang menyadari perubahan nada suara putrinya mendekat satu langkah. "Gimana Bogor? Capek? Makan dulu, Nak. Mama sudah minta koki masak makanan kesukaanmu."

"Udah. Di jalan," dusta Aurora. Suaranya terdengar datar dan parau. "Aku ke kamar dulu, Pa. Capek. Mau tidur."

"Ra, Papa belum selesai bicara—"

Aurora tidak peduli. Ia berjalan melewati mereka begitu saja. Aroma parfumnya yang manis sempat menyapa indra penciuman Langit sesaat, namun pria itu tetap bergeming seperti patung batu. Aurora sengaja menaikkan langkahnya di tangga dengan cepat, ingin segera menghilang dari pandangan mata tajam ayahnya dan tatapan dingin pria yang baru saja memblokirnya itu.

BRAK!

Suara pintu kamar yang dibanting keras di lantai dua bergema hingga ke seluruh penjuru rumah, disusul suara kunci yang diputar dua kali dari dalam.

Haura, yang baru saja keluar dari ruang perpustakaan dengan beberapa buku di tangan, tersentak kaget. Ia memegangi dadanya, menatap pintu kamar kakaknya yang kini tertutup rapat.

"Astaga! Kak Aurora kenapa sih, Pa? Aneh banget," keluh Haura sambil menuruni tangga menuju ayahnya. "Tadi pagi aja senyam-senyum nggak jelas, godain Mas Langit sampai telinga Mas Langit merah. Kok sekarang pulang-pulang kayak mau ngajak perang?"

Anggara tidak menjawab. Ia justru melirik ke arah Langit yang masih berdiri diam. Ada sebuah pemahaman rahasia di antara kedua pria itu. "Langit, kamu kembali ke paviliun. Istirahat. Kita berangkat ke pertemuan jam delapan malam."

"Siap, Bapak," jawab Langit. Ia memberi hormat, lalu berbalik pergi dengan langkah yang sangat teratur, meski hatinya terasa seperti dihantam palu godam berkali-kali.

Di dalam kamar yang luas itu, kegelapan langsung menyambut. Aurora tidak menyalakan lampu satu pun. Ia melemparkan tas mahalnya ke sembarang arah, kacamata hitamnya ia letakkan di atas meja rias dengan tangan bergetar.

Ia tidak menuju ke tempat tidur. Aurora justru merosot, terduduk di lantai yang dingin, bersandar pada kaki kasur besarnya. Ia memeluk lututnya erat, menyembunyikan wajahnya di sana.

"Katanya mau longgarin protokol..." bisik Aurora lirih. Isakannya kembali pecah di kesunyian kamar. "Katanya mau jagain aku... Mas Langit pembohong."

Setiap kata-kata Langit di telepon tadi kembali terngiang, menusuk-nusuk benaknya. 'Tugas saya adalah menjaga keamanan Anda, bukan menjadi teman Anda.' Kalimat itu terasa sangat kejam, seolah-olah semua percakapan manis, susu cokelat di teras, dan perhatian kecil kemarin hanyalah bagian dari prosedur kerja standar, bukan karena rasa.

"Aku cuma mau dianggap manusia, Mas," tangis Aurora pecah. "Bukan pajangan, bukan anak bos, bukan model... Aku cuma mau jadi Aurora di depan kamu."

Di luar, Haura sempat mengetuk pintu kamar Aurora beberapa kali. "Kak? Kak Aurora? Kak Mayang bilang tadi Kakak belum makan beneran di Bogor. Mau aku bawain martabak manis nggak?"

"PERGI, HAURA! JANGAN GANGGU AKU!" teriak Aurora dari dalam, suaranya pecah oleh tangis.

Haura tersentak mundur. Ia menghela napas, menyerah. "Oke, oke. Galak banget sih. Aku taruh di depan pintu ya kalau Kakak laper."

Setelah langkah Haura menjauh, Aurora kembali dalam kesunyiannya. Ia meraih ponselnya, berniat menghapus nomor Langit karena sakit hati, namun jemarinya berhenti di atas tombol hapus. Ia melihat nama "Mas Masa Depan 🔒❤️" yang masih tersimpan di sana.

Meskipun fotonya hilang, meskipun pesannya hanya centang satu, Aurora tidak sanggup menghapusnya. Ia justru melempar ponsel itu ke atas kasur dengan perasaan frustrasi.

"Papa pasti ngomong sesuatu sama dia," gumam Aurora sambil menghapus air matanya dengan kasar. "Papa nggak pernah mau aku bahagia sama pilihanku sendiri."

Aurora menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Rasa sakit di perutnya kembali berdenyut, namun kali ini ia tidak punya botol air panas dari Langit. Ia hanya punya dirinya sendiri dan kegelapan kamar yang seolah menelan keceriaannya bulat-bulat.

Malam itu, di kediaman Widjaja yang megah, sang primadona yang biasanya menjadi pusat perhatian justru meringkuk di lantai gelap, menyadari bahwa kasta yang selama ini ia anggap remeh ternyata adalah tembok raksasa yang bisa menghancurkan hatinya hanya dalam satu hari.

Sementara itu, di paviliun ajudan, Langit Ardiansyah duduk di pinggir tempat tidurnya dalam kegelapan yang sama. Ia menatap layar ponselnya, pada pesan-pesan Aurora yang sengaja tidak ia baca, namun sudah ia hafal di luar kepala.

"Maaf, Aurora," bisik Langit ke arah jendela yang menghadap ke kamar utama. "Ini satu-satunya cara agar kamu tetap aman. Meski harganya adalah aku harus jadi orang paling jahat di matamu."

Tembok itu kini benar-benar berdiri kokoh kembali, lebih tebal dari sebelumnya, memisahkan dua hati yang baru saja mencoba untuk saling menyapa.

1
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!