"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT
Anjani menatap lembaran kertas di tangannya, lalu beralih menatap Kepala Sekolah yang sibuk dengan laptopnya. Anjani kali ini mengambil keputusan seorang diri, tanpa membicarakannya lebih dahulu dengan Arya.
"Apa alasan kamu ingin berhenti sekolah, Anjani?" tanya Kepala Sekolah dengan menurunkan kaca mata yang bertengger di batang hidung.
Anjani tampak menghela napas dan menyimpan kertas tersebut, ia baru saja melunasi semua tunggakan sekolah, agar ijazahnya tidak di tahan. Ia memerlukan ijazah untuk mencari pekerjaan di kota nanti.
"Kakak saya sedang sakit dan harus dirawat lama di rumah sakit,"
Kepala sekolah tersebut mengangguk paham dan memberikan satu lembar kertas lagi kepada Anjani, "silahkan tandatangan, Nak."
Anjani membaca dengan teliti isi kertas tersebut dan langsung menandatanganinya tanpa ragu. Ia harus fokus dengan kesehatan Arya yang akan di rujuk hari ini juga, dan sangat berhutang budi kepada Pak Kades karena telah meminjamkan sejumlah uang yang cukup untuk perawatan Arya nantinya.
Ia tidak akan melupakan kebaikan pria itu, yang terlihat ketus dan galak, namun nyatanya tidak. Anjani tak hentinya tersenyum membayangkan sang Kakak akan sembuh dan bisa kumpul lagi dengannya di rumah.
"Padahal kamu akan ujian kelulusan loh, sayang sekali kalau kamu memutuskan untuk berhenti sekolah." celetuk Kepala Sekolah lagi dengan wajah lirih.
Anjani adalah siswi berprestasi di sekolahnya, sangat di sayangkan kalau gadis cantik itu berhenti sekolah. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun ataupun melarangnya. Anjani yang mendekati ucapan Kepala Sekolah hanya bisa tersenyum sebagai respon.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih, Pak. Berkat dukungan Bapak juga saya bisa berada di titik ini,"
Mendengar ucapan Anjani yang begitu tenang seperti biasanya membuat Kepala Sekolah tersebut tersenyum tipis dan memperhatikan Anjani yang keluar dari ruangannya. Anjani bernapas lega dan mengelus dadanya, ia harap bisa menempuh pendidikan kembali setelah semuanya selesai.
"Kasihan harus berhenti sekolah karena miskin,"
Anjani menoleh ke sumber suara, Fika, anak Kepala Desa yang tempo hari bersikap kasar kepadanya. Fika dan kedua temannya menatap penampilan Anjani yang sedikit fresh dari biasanya.
"Kalian tahu enggak, Anjani sampai berlutut loh di kaki Bapak ku cuma buat minjem duit."
"Seriusan, Ka?"
Anjani terdiam saat Fika dan kedua temannya menyudutkan dirinya di lorong dekat toilet, Anjani terkejut saat Fika menarik rambutnya dengan kasar.
"Fika, lepasin!" kata Anjani merintih. Fika tertawa pelan dan semakin menarik rambut panjang Anjani.
Murid yang melihatnya hanya berlalu lalang, cuek dengan apa yang Fika lakukan kepada Anjani, hal itu sudah biasa mereka lihat setiap hari. Tak ada yang membela atau berani memisahkan mereka berdua, mungkin karena status Fika adalah anak dari Pak Kades.
"Lepasin, sakit sekali, Fika!"
Fika tersenyum dan melirik temannya, "gunting dong."
Anjani melotot saat Fika memperlihatkan sebuah gunting tajam dari tas temannya. Anjani menyadari posisinya semakin di pojokkan, langsung memberontak membuat tarikan di rambutnya semakin keras.
"DIAM!"
Bentakan Fika kepada Anjani sangat menggema, Anjani mencoba melepaskan rambutnya dari cengkraman Fika yang sangat kuat.
"Fika tolong lepaskan, jangan lakukan ini kepadaku. Aku merasa tidak memiliki kesalahan apapun kepadamu, tapi kenapa kamu selalu bersikap seperti ini kepadaku?" suara Anjani semakin lirih saat kita tanpa segan memotong beberapa helai rambut panjangnya.
"Fika, aku mohon!"
Fika dan kedua sahabatnya tertawa nyaring saat rambut panjang milik Anjani terpotong tidak beraturan. Anjani menatap anak rambutnya yang berjatuhan ke lantai.
"Sudah selesai, gaya rambut ini sungguh cocok untukmu."
Fika langsung pergi setelah memotong rambut milik Anjani menjadi bentuk yang tidak beraturan. Anjani merosotkan tubuhnya, rambutnya gini hanya sampai bahu. ya sangat menyukai rambut panjang, maka dari itu Anjani tidak pernah memotong dan terus merawat rambutnya.
...****************...
Hampir lima jam perjalanan Anjani dan Arya tempuh menuju kota, di mana mereka akan melakukan perawatan untuk kesembuhan Arya. Pria itu yang sejak tadi memperhatikan sang Adik, terheran-heran melihat Anjani menggulung rambutnya ke dalam. Arya sangat mengenal Adiknya, Anjani sangat suka menggerai rambutnya dalam suasana apapun.
"Kamu tidak apa-apa, ada yang mengganggu pikiranmu sampai terdiam dari tadi?"
Anjani yang sedari tadi melamun hanya tersenyum sebagai respon. "Tidak apa-apa, Kak, aku baik-baik saja,"
Masih menjadi tanda tanya besar bagi Arya, di mana Anjani mendapatkan uang sebanyak ini untuk mendapatkan surat rujukan ke Rumah Sakit yang berada di kota.
"Kamu tidak membongkar tabunganmu untuk Kakak kan?"
Anjani menggeleng, "aku masih menyimpan tabungan itu dengan baik."
"Lalu di mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini untuk rujukan?"
Akhirnya pertanyaan yang Anjani tidak harapkan datang dari Arya, ia bingung harus memberitahu atau tidak kalau ia meminjam uang dari Pak Kades. Melihat gerak-gerik tidak biasa, Arya mulai curiga Anjani melakukan sesuatu yang tidak diharapkan.
"Jujur padaku, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu Anjani."
Di dalam mobil hanya ada Anjani, Arya, dan sopir dari pemilik mobil. Karena klinik kesehatan di desa mereka tidak memiliki angkutan kesehatan untuk mengantar mereka.
"Kakak tidak boleh memikirkan hal itu, Kakak harus fokus pada kesehatan agar kita bisa berkumpul kembali."
Melihat wajah kelelahan sang Adik, Arya mulai merasa bersalah untuk sekian kalinya. seharusnya ia yang merawat Anjani, bukan Anjani yang merawat dirinya.
"Maafkan Kakak karena selalu merepotkanmu."
Anjani tidak menjawab dan fokus pada perjalanan mereka yang hampir tiba di Rumah Sakit. Ia tidak mungkin terus-menerus menyembunyikan fakta kalau ia meminjam uang, karena Arya pasti akan marah besar kepadanya. Tak lama mereka tiba di Rumah Sakit, Anjani menatap bangunan warna hijau dan putih dengan gugup.
Ia memiliki banyak harapan pada Rumah Sakit di hadapannya, dengan di bantu beberapa perawat dan satu satpam, Arya akhirnya mendapatkan penanganan lebih lanjut. Ia harap Arya benar-benar baiknya saja.
Tak terasa hari semakin malam, Anjani yang sejak tadi menemani Arya menjalani pemeriksaan, kini memilih untuk keluar mencari angin segar. Ini pertama kalinya ia di kota dan tak ada yang menemaninya. Taman di Rumah Sakit cukup besar dan ramai, rasa takut yang menyelimuti Anjani sejak tadi seketika menghilang dan berubah menjadi rasa lega.
BRAK ....
Anjani dan beberapa orang di taman terkejut mendengar suara benturan yang keras dari luar Rumah Sakit, semua orang tergesa-gesa melihat apa yang terjadi, mengundang rasa penasaran dari gadis tersebut.
Kerumunan orang memenuhi depan Rumah Sakit, Anjani menutup mulutnya terkejut melihat seorang pria tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya. Kecelakaan tunggal sebuah sepeda yang menabrak pohon, itu yang bisa Anjani tangkap.
"Tolong menjauh, Bapak-bapak dan Ibu sekalian." Anjani berjinjit untuk melihat siapa yang mengalami kecelakaan, para perawat dan satpam menggotong tubuh pria kekar itu yang sudah tak sadarkan diri.
"Bukannya harus menunggu polisi dulu baru boleh di tangani?" gumam Anjani bingung, merasa bukan urusannya, Anjani memilih masuk dan terduduk di taman sembari bersenandung ria.
"Dengan Mbak Anjani ya?"
Anjani yang duduk di kursi taman, di kejutkan dengan perawat yang datang dengan senyuman manis. Anjani mengangguk bingung, "iya, ada apa ya?"
"Pak Arya mencari Anda sejak tadi,"
Karena keenakan mencari angin malam, Anjani sampai melupakan sang Kakak. Dengan langkah santai, gadis itu melewati banyak kamar menuju ruang rawat sang Kakak yang berada di lantai empat.
"Cepat hubungi keluarganya!"
Langkah gadis itu terhenti, keributan di salah satu ruangan menarik perhatiannya. Dengan rambut yang masih tergulung rapi, gadis itu sedikit mengintip di pintu, ia tidak berniat menguping apapun.
"Adik manis,"
Anjani tersentak saat seorang Dokter laki-laki mengejutkannya dari belakang, Anjani menjadi berkeringat dingin dan tersenyum tipis. Sepertinya akhirnya ketahuan mengintip.
"Maaf, Om Dokter."
Dokter laki-lakinya tersebut hanya tersenyum dan masuk ke dalam ruangan yang masih ribut itu, Anjani menghela napas panjang dan berpikir dirinya aman.
"Lagipula dia hanya lecet sedikit, kami tidak bisa menunggunya karena ada pekerjaan di UGD."
Anjani yang hendak pergi kembali di buat berhenti, sebenarnya apa yang para perawat ributkan di dalam ruangan tersebut. Gadis itu merasa ada yang tidak beres, menatap pintu ruangan yang terbuka cukup lebar.
"Hey, Adik."
DEG ...
Anjani menatap sekeliling yang sepi dan hanya ada dirinya saja di lorong, "Kakak memanggil saya?"
Perawat laki-laki tersebut mengangguk dan mengisyaratkan Anjani untuk mendekat, melihat penampilan Anjani dengan seksama dan tiba-tiba saja memberikan jempol kepadanya.
"Siapa nama kamu?"
"Anjani," jawab gadis itu dengan jantung berdetak kencang. Ia takut kalau akan di hukum karena ketahuan menguping.
"Siapa yang kamu ajak ... oh? Hai, Adik manis." sapa Perawat yang lain dengan ramah.
Anjani menjadi canggung karena ternyata Perawat di dalam ruangan kebanyakan laki-laki, gadis itu menjadi bingung harus melakukan apa. Pasti Kakaknya sudah menunggunya sangat lama, tetapi dirinya malah mengintip orang lain sedang bekerja.
"Bisakah kami meminta bantuan mu untuk menjadi relawan?" Anjani mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Tolong jaga pria di dalam sampai siuman saja, setelah itu panggil perawat yang jaga di sana."
"Aku? Tapi aku tidak mengerti," ungkap Anjani, ia takut kalau melakukan kesalahan fatal nantinya, karena ini pertama kalinya ia berada di rumah sakit di kota.
"Hanya menemani, karena kami harus turun ke UGD karena ada kecelakaan," kata Perawat laki-laki dengan gelisah dan khawatir, Anjani tampak terdiam sejenak dan melirik ke arah dalam ruangan.
"Baiklah, tapi hanya sebentar saja, karena aku harus menemani Kakak ku."
Para perawat mengangguk dan bergegas pergi setelah menjelaskan semuanya kepada Anjani, gadis itu memasuki ruang dan sedikit menurunkan volume AC sangat dingin itu. Memandangi ruangan rawat yang hanya ada dirinya dan korban kecelakaan tadi, menatap dengan seksama pria yang masih memejamkan matanya.
"Semoga kamu cepat sadar," gumam Anjani dengan mengelus pelan tangan kekar itu secara reflek.
"Kamu siapa?"
Anjani terkejut dan hampir saja terjungkal ke belakang karena pria di hadapannya yang tiba-tiba saja terbangun, gadis itu berkeringat dingin dan takut bila dirinya di salah artikan oleh pria itu.
"Maaf, Tuan. Saya hanya di minta menemani Anda." kata Anjani sedikit menjauh, pria itu memegangi dahinya yang terban. Anjani di buat melongo karena tidak ada reaksi seperti kesakitan yang di perlihatkan pria di depannya.
"Apakah ada yang sakit?" tanya Anjani ragu-ragu.
Pria tersebut melirik kembali dan memperhatikan penampilan Anjani yang seperti bukan gadis kota. Merasa diperhatikan, Anjani sontak memasang wajah waspada. Pria itu menggulung lengan kemejanya dan melepas infusenya dengan santai.
"Menikahlah dengan ku,"
Anjani membulatkan matanya dan reflek berlari keluar menuju meja jaga para perawat. "PRIA ITU SUDAH SADARKAN DIRI!" pekik Anjani dengan panik sekaligus takut.