Maura, seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan seorang pengusaha muda yang ternyata adalah bos tempat dimana dia mencari nafkah.
semua berawal dari minuman, Maura yang saat itu sedang memergoki ke kasihnya sedang berselingkuh dan bercinta dengan sahabatnya sendiri sungguh sangat frustasi dan memutuskan untuk pergi ke club dan meminum alkohol di sana.
tetapi sayangnya itu justru membawa pengaruh buruk untuknya, akibat mabuk dia salah masuk apartemen.
Bukannya melakukan hubungan terlarang, Maura justru menghajar pria tersebut hingga dia berakhir di penjara.
untuk bisa keluar dari sel tahanan tersebut, Jo memberikan syarat, yaitu harus menjadi kekasih sekaligus calon istri penggantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon na4vR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 5. Akibat salah Room
Ucapan Joe sontak membuat darah Maura mendidih, karena rasa marah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Maura tanpa ampun langsung menjambak rambut Joe dengan kuat, membuat Joe sontak berteriak kesakitan.
"Sakit bodoh!!" maki Joe berusaha melepaskan tangan Maura, tetapi kekuatan Maura seolah-olah dua kali lipat dari tenaganya sekarang ini.
Plak!
Plak!
"Cih.. Lebih sakit mana dengan aku, brengsek!!"
Sungguh, tamparan Maura benar-benar kuat sehingga membuat kedua pipi Joe membiru, apa lagi sudut bibirnya kini sedikit mengeluarkan darah.
Setelah itu,tiba-tiba saja Maura merasa ingin muntah.
"Uwek.."Maura memuntahkan isi perutnya, dan sialnya itu tepat mengenai tubuh Joe. Membuat pria itu melotot seketika.
"Apa yang kau lakukan wanita sialan!!" teriak Joe yang saat ini benar-benar murka. Sungguh, Joe memandang jijik dirinya sendiri. Padahal baru saja ia membersihkan tubuhnya, tapi kini tubuhnya kembali kotor bahkan lebih kotor.
"Kau tenang saja!! Kalau pun aku hamil, akan ku pastikan ini bukan anakmu!!"teriak Maura yang merasa kesal di teriakin. Saat ini ia juga berpikir mungkin dirinya hamil, padahal berhubungan badan saja tidak pernah. Sungguh, akal sehatnya benar-benar sudah koslet karena alkohol.
"Arrhhhh!! Kau penkhianat, Kev!!"
Bughh
Bughh
Maura langsung melempar Joe dengan kuat, membuat pria itu seketika jatuh dari tempat tidur dan sialnya. Keningnya langsung terbentur pinggiran nakas, sehingga cairan kental berwarna merah itu merembes keluar.
"Sshhh.. Gila, badan gue berasa remuk semua,"gumam Joe yang merasakan sakit di seluruh tubuhnya terutama di wajahnya. Wajar saja sakit, mengingat ia jatuh ke lantai yang dingin dan keras.
Sementara Maura, setelah muntah tadi malah langsung tertidur dengan pulas. Sama sekali tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Joe menggeram kesal dan marah, ia menatap wanita itu dengan tatapan nyalang. Seolah ia ingin rasanya menghabisi wanita itu, tetapi di saat emosinya sedang memuncak. Maura justru mendengkur, membuatnya semakin frustasi.
"Akan ku pastikan membawa Anda ke kantor polisi!!" gumam Joe sambil menunjuk-nunjuk pipi wanita di depannya.
Pagi harinya..........
Maura berdecak kesal saat merasakan ada yang berusaha membangunkannya dengan menepuk pipinya secara pelan.
"Ckk..apaan sih? Lima menit lagi!!"gumam gadis itu yang semakin membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya. Saat ini ia sadar jika dirinya tidur dalam keadaan duduk.
"Maaf, Nona.. Jika Anda tidak bangun, maka kami terpaksa akan melakukan tindakan," jawab seseorang secara formal.
Maura yang mendengarnya mengeram kesal, bisa-bisanya ada yang beranu mengancamnya. Langsung saja ia mengadahkan kepalanya, mulutnya sudah terbuka hendak memaki orang yang berani membangunkan dirinya.
Tetapi saat melihat seragam yang di gunakan, secara perlahan mulutnya kembali tertutup.
Maura menatap kesekeliling, terdapat dua pria yang menggunakan seragam polisi sedang duduk di hadapannya. Lalu ada seorang pria tampan yang duduk di sebelahnya, sedang menatap tajam dan terdapat tempelan perban di kening pria itu.
"Kenapa pria ini menatapku seperti ada dendam saja denganku?"gumamnya dalam hati, ia sedikit merinding dengan tatapan yang di berikan pria di sampingnya.
"Aku di mana?" tanya Maura saat melihat tempat yang sepertinya sedikit asing baginya, apa lagi melihat para polisi yang lalu lalang.
"Anda sedang berada di kantor polisi, Nona,"jawab salah satu polisi itu dengan ramah tapi terkesan tegas.
Maura melotot, kenapa bisa ia nyasar ke tempat yang salah. Seingatnya semalam ia pulang ke apartemennya, hanya saja. Ia ingatnya di antar pulang oleh seorang bartender, setelahnya ia sudah tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi.
"Bagaimana bisa? Perasaan aku ngga ada kesalahan?" pekik Maura yang langsung membuat Joe mengeram marah.
"Tentu saja!! Anda memang pantas untuk di bawa ke kantor polisi!! akibat ulah Anda, wajah tampan saya babak belur begini!!" protes Joe sambil matanya menatap tajam.
"Hah?"Maura menatap polos pria yang di sampingnya, memangnya apa yang terjadi? Pikir Maura, "Emang, apa yang aku lakukan padamu?"
"Anda masuk ke apartemen saya..."
Belum selesai Joe menyelesaikan ucapannya, Maura lebih dulu meraba-raba tubuhnya. Memastikan tidak ada yang terjadi semalam.
Apa lagi tiba-tiba kejadian semalam terlintas di pikirannya, tetapi hanya saat dia mengukung pria itu. Setelahnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
"TUNGGU JANGAN BILANG KALO GUE MEMPERKOSA LU SEMALAM?" pekik Maura dalam hati, lalu menatap pria di sampingnya dengan tatapan sulit di artikan.
Jangan bilang pria itu ingin melaporkannya ke kantor polisi karena kasus pemerkosaan? Tidak boleh!! Dimana harga dirinya nanti sebagai seorang perempuan. Jika sampai masuk penjara karena kasus memperkosa pria, seketika Muara menggelengkan kepalanya.
Joe yang melihatnya seketika merasa gemas, boro-boro di grape grepe. Malahan dirinya yang di habisi.
"Tidak usah geer!! Saya bahkan tidak melakukan apa pun pada Anda!! Anda masuk ke dalam apartemen saya.. Lalu langsung main hajar saja, padahal saya bahkan tidak kenal Anda, Nona!" Joe semakin menatap tajam pada gadis di sampingnya itu.
Maura menghembuskan napas lega, tetapi sedetik kemudian ia melotot. Merasa tidak terima di tuduh oleh pria yang ada di sebelahnya itu.
Seingatnya ia memang masuk ke dalam apartemennya dan kalau pun ia salah masuk, tidak mungkin kan saat dirinya menekan pin malah berhasil bisa terbuka.
"Anda jangan sembarangan ya!! Jelas-jelas saya masuk ke dalam apartemen saya sendiri, nomor 1606" sanggah Maura.. "oh, jangan bilang ternyata anda mengikuti saya dan masuk ke dalam apartemen saya!! Ayo ngaku aja Tuan!" paksa Maura dengan tatapan yanh mengintrogasi.
"Cukup!! Karena tidak mau melihat perdebatan panjang, salah satu polisi segera menghentikan perdebatan mereka.
"Memang anda yang salah, Nona.. An..."
"Bagaimana mungkin?"Pekik Maura yang kembali memotong ucapan orang lain.
Kedua polisi itu hanya bisa menghela napas, menghadapi gadis seperti Muara. Tidak mau berlama-lama, segera saja salah satu dari mereka menunjukkan layar komputer. Yang memperlihatkan kejadian semalam ke hadapan Maura.
Maura membekap mulutnya seolah ia kaget, sekaligus tidak percaya. Saat melihat dirinya yang terlihat seperti orang gila sedang berjalan sembari melihat-lihat semua nomor yang ada di lantai 16.
Ketika dirinya sudah berhasil berada di depan pintu apartemen, polisi tersebut mempause. Lalu memperbesar gambar tersebut, di sana terlihat jelas jika nomor kamar apartemennya adalah 1609 seketika wajah Maura berubah pias.
"Bagaimana mungkin? "pekiknya dalam hati, sumpah demi apa pun. Sekarang ia merasa sangat malu sekali.
"Ta-Tapi.. Kenapa pin-nya benar?"tanya Maura yang masih berusaha mengelak jika itu dirinya.
"Ckk..yang seharusnya bertanya itu aku!! Dari mana kau tau pin apartemen ku?" Joe semakin menajamkan netranya.
Ia berpikir jika wanita yang ada di depannya itu mungkin sama saja seperti wanita lainnya yang selalu mencari celah untuk mendekatinya.
..."...