"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mendarat di Suatu Pulau
Sisa-sisa malam yang mencekam perlahan mulai terkikis oleh garis tipis cahaya keunguan di ufuk timur. Setelah menembus badai peluru dan ledakan roket di perairan bebas, The Obsidian akhirnya sampai di titik koordinat yang dituju. Di depan mereka, sebuah pulau misterius bernama Pulau Karang Hitam berdiri menjulang di tengah samudra luas. Pulau itu tampak sangat sunyi dan menyeramkan, dikelilingi oleh kabut laut yang tebal dan dinding tebing batu yang curam tanpa ada tanda-tangan kehidupan dari luar.
Sesuai dengan rencana taktis yang sudah disepakati, Adrian tidak mengarahkan kapal besarnya menuju dermaga barat yang dijaga ketat oleh tentara bayaran bersenjata lengkap milik Syndicate. Sebagai gantinya, The Obsidian berhenti mendadak di jarak dua mil laut di sisi timur pulau, bersembunyi di balik bayang-bayang dari batu karang besar agar tidak tertangkap oleh sistem pertahanan udara atau kamera pemantau musuh.
Di dek bawah, sebuah perahu karet taktis senyap berwarna hitam legam yang tidak mengeluarkan suara mesin sama sekali sudah diturunkan ke permukaan air yang tenang.
Adrian melangkah masuk ke dalam perahu karet tersebut dengan gerakan yang sangat lincah meskipun lengan kanannya sudah dibalut oleh kain kasa putih bersih di balik jaket taktisnya akibat luka tembak semalam.
Di belakangnya, Elena menyusulnya. Sabuk perlengkapan ringan di pinggang ramping Elena bergoyang pelan, beradu dengan holster pistol yang kini terpasang kokoh di paha kanannya. Hendra dan dua orang prajurit elit Arsa Group ikut bergabung, masing-masing memegang senapan serbu otomatis dengan peredam suara yang panjang.
"Dayung perlahan, jangan sampai ada cipratan air yang terlalu tinggi," perintah Adrian dengan suara baritonnya yang merendah, nyaris menyerupai bisikan di antara deru halus angin pagi.
Perahu karet hitam itu bergerak membelah air laut yang dingin, merayap pelan menembus kabut tebal hingga akhirnya hidung perahu itu membentur tepian batu karang yang tajam di kaki tebing sebelah timur pulau.
Begitu mereka menapakkan kaki di atas batu karang yang licin dan berlumut, Elena mendongak ke atas. Di hadapannya, dinding tebing batu hitam vertikal berdiri menjulang setinggi hampir lima puluh meter, tampak sangat curam dengan sudut kemiringan yang ekstrem. Di beberapa bagian tebing, ombak laut yang besar sesekali menghantam keras, menciptakan cipratan air yang bikin suasana makin berbahaya. Di puncak tebing itulah, sebuah celah ventilasi udara darurat menuju fasilitas penyimpanan data fisik milik Syndicate berada.
Adrian berjalan mendekati Elena, menatap wajah istrinya di atas kertas tersebut untuk memastikan kondisi mental wanita itu. "Masih ada waktu buat mundur dan menunggu di perahu bersama Hendra, Elena. Memanjat tebing ini dalam kondisi setengah gelap bukan perkara mudah. Satu kesalahan pijakan... dan kamu bakal jatuh ke dasar batu karang di bawah sana."
Elena menoleh, menatap Adrian dengan sepasang mata indahnya yang memancarkan kilatan harga diri yang terluka. Ia langsung meraih seutas tali karmantel taktis yang dibawa oleh Hendra, lalu mengaitkan karabiner besi ke sabuk pengamannya dengan sentakan klik yang keras.
"Aku sudah bilang padamu di kabin semalam, Tuan Arsa. Jangan pernah meremehkan cakar seorang Alexander," desis Elena sambil tersenyum menantang. "Simpan saja rasa cemasmu itu untuk dirimu sendiri. Ingat, lengan kananmu sedang terluka. Jangan sampai kamu yang menyusahkan aku di atas sana."
Adrian sempat melotot kaget melihat kekerasan kepala Elena, namun sedetik kemudian tawa rendah yang sangat tipis keluar dari bibirnya. "Bagus. Kita lihat siapa yang bakal sampai di atas lebih dulu, Putri Kecil."
Adrian langsung bergerak memimpin di depan. Dengan menggunakan sarung tangan taktisnya yang tebal, ia mencengkeram celah batuan pertama dan mulai menarik tubuh tegapnya naik ke atas dengan kekuatan otot lengan dan kakinya yang luar biasa, seolah luka di lengannya sama sekali tidak terasa.
Elena tidak mau kalah. Ia menarik napas dalam-dalam untuk memfokuskan pikirannya, lalu mulai menempatkan ujung sepatu bot anti-selipnya pada ceruk batu karang yang kokoh. Insting rock climbing yang sering ia lakukan di akhir pekan sebelum disibukkan oleh urusan kantor langsung aktif seketika.
Gerakan tubuh ramping Elena kelihatan sangat anggun namun bertenaga. Ia berpindah dari satu rekahan batu ke rekahan lain dengan presisi yang tinggi, menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak goyah oleh embusan angin laut yang bertiup kencang dari arah belakang.
Hendra dan dua prajurit lainnya berjaga di posisi bawah dan tengah, mengamankan jalur tali pengaman terikat jika terjadi keadaan darurat.
Ketegangan makin memuncak saat mereka sudah mencapai ketinggian sekitar tiga puluh meter dari permukaan laut. Langit pagi mulai berubah menjadi terang, mempermudah jarak pandang namun di sisi lain juga memperbesar risiko mereka terlihat oleh patroli musuh. Tiba-tiba, sebuah batu karang kecil yang menjadi tumpuan kaki kiri Elena mendadak retak dan hancur karena rapuh akibat kikisan air laut.
KRAK!
"Ah!" Elena memekik pendek saat kaki kirinya tergelincir bebas di udara. Tubuhnya mendadak kehilangan keseimbangan dan berayun ke arah kanan, hanya bertumpu pada cengkeraman tangan kanannya yang mulai menegang keras menahan beban tubuh. Tali pengaman taktisnya mendadak menegang, menahan tubuh Elena agar tidak merosot jatuh ke bawah.
"Elena! Pegang tanganku!"
Suara bariton Adrian terdengar sangat menggelegar dari arah atas kanan. Pria bertubuh tinggi besar itu ternyata dengan sangat cepat menurunkan posisinya, berpegangan pada sebuah bongkahan batu besar dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang terluka diulurkan lurus ke bawah, berusaha menjangkau jemari Elena. Darah segar mulai terlihat merembes tipis di balik kain kasa lengan Adrian karena ototnya dipaksa bekerja keras di luar batas.
Elena mendongak dengan napas yang tersengal-sengal, melihat wajah tegas Adrian yang dipenuhi oleh urat-urat yang menegang dan tatapan mata yang teramat panik sekaligus protektif. Elena membuang semua egonya. Ia menjulurkan tangan kirinya ke atas dengan sekuat tenaga.
Tangan besar Adrian yang hangat dan kasar langsung mencengkeram pergelangan tangan Elena dengan sangat erat dan kuat, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. Dengan satu sentakan otot bahunya yang luar biasa, Adrian menarik tubuh Elena naik ke atas hingga wanita itu berhasil mendapatkan kembali pijakan kaki yang kokoh di ceruk batu yang lebih aman.
Jarak tubuh mereka sekarang sangat dekat, menempel rapat di dinding tebing batu yang dingin. Elena bisa merasakan dada bidang Adrian yang naik-turun karena napas yang memburu tepat di depan wajahnya.
"Aku sudah bilang... jangan pernah lepas dari pengawasanku, Elena," bisik Adrian tepat di depan pelipis Elena, suaranya terdengar agak serak karena menahan perih di lengannya namun tetap dipenuhi oleh nada posesif yang sangat kental.
Elena menatap noda darah yang makin melebar di lengan baju taktis Adrian, merasa hatinya mendadak bergetar hebat oleh rasa bersalah bercampur haru. "Tanganmu... darahnya keluar lagi karena menyelamatkan aku, Adrian."
"Luka sekecil ini tidak ada artinya dibanding melihatmu jatuh di depan mataku," sahut Adrian dingin tanpa berkedip. Ia melepaskan cengkeramannya perlahan setelah memastikan posisi Elena sudah benar-benar stabil. "Celah ventilasi udara darurat tinggal lima meter lagi di atas kita. Ayo selesaikan ini."
Elena mengangguk cepat penuh determinasi. Mereka kembali bergerak naik berdampingan dengan tingkat kewaspadaan yang berlipat ganda. Kurang dari sepuluh menit kemudian, Adrian berhasil mencapai sebuah pelataran batu kecil yang tersembunyi di balik semak-semak liar puncak tebing. Di sana, sebuah penutup besi bulat berdiameter satu meter dengan logo Syndicate yang samar terpasang di tanah. Itulah gerbang masuk menuju ruang penyimpanan data fisik musuh.
Adrian membuka paksa penutup besi tersebut menggunakan alat dongkrak taktis kecil yang dibawa Hendra hingga terdengar suara dentuman besi yang pelan. Di bawah sana, sebuah lorong gelap yang dipenuhi oleh kabel-kabel jalur komunikasi membentang luas menuju jantung fasilitas pulau.
Di bawah cahaya matahari pagi yang mulai menerangi Pulau Karang Hitam, Adrian menatap Elena dalam-dalam, lalu mencabut pistol berperedam suaranya dari holster. "Kita sudah berada di dalam sarang serigala, Nyonya Arsa. Begitu kita turun ke bawah sana... tidak ada jalan untuk kembali pulang sebelum semua data itu berada di tangan kita."
Elena ikut mencabut senjata apinya, berdiri tegak di samping suaminya di atas kertas tersebut dengan senyuman tipis yang sarat akan keberanian sejati. "Aku tidak pernah berniat untuk mundur, Adrian. Mari kita ambil kembali hak ayahku dan hancurkan organisasi ini sampai ke akarnya."
......BERSAMBUNG......