Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Curiga
"Kita kehilangan tiga puluh persen pasukan inti! Bagaimana kita akan menjelaskan ini kepada gubernur kota saat mereka datang menagih upeti bulan depan?" geram Tetua Ketiga, tangannya gemetar menahan amarah.
"Keamanan kita ditembus oleh seorang murid rendahan yang membawa parasit! Ini bukan sekadar kecelakaan, ini adalah sabotase!" sahut yang lain.
Tian Hao berdiri di bayang-bayang pilar luar aula, mendengarkan hiruk-pikuk itu dengan ketenangan seorang pengamat yang telah melihat keruntuhan imperium yang jauh lebih besar.
Baginya, kekacauan politik ini adalah instrumen yang indah. Saat para tetua sibuk mencari kambing hitam dan saling sikut untuk mengamankan posisi yang goyah, perhatian mereka terhadap "si sampah" di paviliun terpencil benar-benar mencapai titik nol.
Inilah keuntungan yang ia cari: Kebebasan dalam anarki.
Namun, di tengah keriuhan itu, ada sepasang mata yang tidak menatap ke arah panggung politik. Tian Mei berdiri di kejauhan, terpisah dari kerumunan.
Gadis itu tampak berbeda. Keceriaan yang biasanya terpancar dari wajahnya telah terkikis, digantikan oleh kedewasaan yang dipaksakan oleh trauma malam tadi.
Ia tidak melihat ke arah ayahnya yang sedang murka. Matanya terpaku pada sosok Tian Hao yang berdiri di kegelapan.
Tian Mei melangkah pelan, menjauh dari aula dan mendekati kakaknya. Ia tidak membawa keranjang makanan kali ini.
Tangannya kosong, namun tatapannya berat. Saat ia sampai di depan Tian Hao, ia tidak langsung bicara.
Ia mengamati detail terkecil pada jubah kakaknya, sebersit debu merah yang hanya ditemukan di dekat gua terdalam hutan, atau mungkin ketenangan yang terlalu "sempurna" di tengah duka keluarga.
"Kau tidak terlihat terkejut, Kak," suara Tian Mei rendah, hampir tertutup oleh suara debat dari dalam aula.
Tian Hao meliriknya sekilas. "Terkejut tidak akan menghidupkan mereka yang sudah menjadi tanah, Mei."
Tian Mei menarik napas tajam. "Malam tadi, saat semua orang berlarian menuju hutan dengan ketakutan... aku melihatmu. Kau tidak ada di barisan murid luar. Kau tidak ada di mana pun. Dan saat fajar tiba, kau kembali dengan tatapan yang seolah-olah semua ini hanyalah sebuah pertunjukan yang sudah kau ketahui akhirnya."
Tian Mei melangkah satu langkah lebih dekat, suaranya kini hanya berupa bisikan yang bergetar. "Anak itu... Zhao. Dia adalah salah satu yang selalu mengganggumu. Kenapa dia yang 'tidak sengaja' memicu kemarahan ular itu? Kenapa semuanya terasa begitu tepat untukmu?"
Tian Hao menatap adiknya dalam-dalam. Di kehidupan sebelumnya, Tian Mei adalah simbol kepolosan yang harus ia lindungi. Namun sekarang, ia melihat benih-benir kecurigaan yang cerdas mulai tumbuh.
Perkembangan Tian Mei bukan lagi tentang menjadi adik yang manis, melainkan menjadi individu yang mulai mempertanyakan realitas di sekitarnya.
"Dunia ini tidak bergerak berdasarkan keinginanmu, Tian Mei," ucap Tian Hao, suaranya sedalam sumur tua. "Dunia ini bergerak berdasarkan sebab dan akibat. Jika seseorang menanam duri, ia tidak bisa mengeluh saat kakinya berdarah. Apakah aku yang mengaturnya? Ataukah nasib yang akhirnya bosan melihat kesombongan mereka? Itu tidak relevan."
Tian Mei membelalak. Jawaban itu bukan sebuah penyangkalan, tapi juga bukan pengakuan. Itu adalah pernyataan filosofis yang menunjukkan betapa tidak berartinya moralitas di mata Tian Hao.
"Kau benar-benar tidak peduli..." Mei berbisik ngeri. "Banyak penjaga kita mati. Teman-teman kita... mereka hancur. Dan kau hanya berdiri di sini, menghitung keuntungan dari abu mereka?"