NovelToon NovelToon
Antagonis Cantik Tawanan Mafia Kejam

Antagonis Cantik Tawanan Mafia Kejam

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Mafia / Obsesi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: MTMH18

Lala mengalami kecelakaan yang membuat jiwanya terjebak di dalam raga seorang antagonis di dalam novel dark romance, ia menjadi Clara Shamora yang akan mati di tangan seorang mafia kejam yang mencintai protagonis wanita secara diam-diam.

Untuk menghindari nasib yang sama dengan Clara di dalam novel, Lala bertekad untuk tidak mengganggu sang protagonis wanita. Namun, ternyata ia salah langkah dan membuatnya diincar oleh malaikat mautnya sendiri—Sean Verren Dominic.

“Sekalinya milik Grey, maka hanya Grey yang bisa memilikinya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian dua puluh empat

Joan mengikuti mobil yang ditumpangi Clara, ia melakukan ini hanya untuk bisa mengetahui di mana sang adik tinggal.

Joan sangat yakin kalau sang adik masih marah kepadanya, makanya tidak mau pulang bersamanya. Nanti kalau amarah Clara sudah reda, Joan akan menemui sang adik dan mengajaknya untuk pulang ke Mansion Lexander.

“Aku belum pernah memasuki kawasan ini,” gumam Joan yang masih membuntuti mobil putih yang membawa adiknya.

Mata hijaunya menatap mobil putih itu memasuki sebuah gerbang tinggi berwarna hitam, lagi-lagi Joan dibuat terkejut saat melihat Mansion yang besarnya tiga kali lipat dari Mansion Lexander.

“Jadi Clara tinggal di sini?” Joan memelankan laju mobilnya untuk menatap bangunan mewah yang sedikit menyeramkan itu, karena warnanya yang dominan dengan warna hitam.

“Clara?” Joan dapat melihat adiknya yang baru keluar dari mobil.

Mata hijaunya terus memperhatikan Clara yang mulai memasuki pintu utama Mansion, dan Joan tidak menemukan sosok pria yang sempat ia lihat waktu itu. Elios yang dicarinya.

“Kau sedang apa?” Suara ketukan di kaca mobilnya membuat Joan terkejut.

Dua pria berbadan besar menghampirinya, mereka adalah penjaga yang membukakan gerbang. Keduanya sejak tadi memperhatikan mobil Joan yang terlihat mencurigakan.

Joan menurunkan kaca mobilnya, lelaki itu menampilkan senyuman anehnya. “Aku sedang mencari rumah temanku, katanya di kawasan ini. Tapi saat dia dihubungi, nomornya tidak aktif,” bohongnya.

Kedua penjaga itu salin bertatapan, mereka tidak langsung mempercayai Joan yang terlihat semakin mencurigakan.

“Siapa nama temanmu?” Tanya salah satu penjaga.

“Namanya Alex,” jawab Joan dengan asal.

Lagi-lagi kedua penjaga tersebut saling bertatapan, kemudian salah satu dari mereka menodongkan pistol ke arah Joan yang kini memucat.

“Tidak ada yang bernama Alex di kawasan ini. Cepat katakan apa tujuanmu!”

Joan terperanjat kaget saat ponselnya berdering, tanpa melihat siapa nama si penelepon, lelaki itu langsung mengangkatnya.

“Oh Alex, akhirnya nomormu aktif lagi. Sebenarnya di mana rumahmu? Sejak tadi aku tidak… oh, berarti aku melewati rumahmu. Oke, aku akan putar balik!” Joan mematikan ponselnya, sebelum si penelepon mengucapkan sesuatu.

“Ternyata aku salah jalan, permisi,” cengir Joan yang memundurkan mobilnya.

Setelah cukup jauh, barulah Joan memutar mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lelaki itu benar-benar takut saat melihat senjata yang dipegang oleh penjaga tadi.

“Clara, sebenarnya pria seperti apa yang bersamamu?” Joan mulai tidak tenang.

Melihat dua penjaga tadi, ia sudah ketakutan. Bisa-bisanya sang adik tinggal di tempat yang menyeramkan?

“Apa jangan-jangan yang dikatakan Kak El itu benar?” Joan kembali mengingat perkataan sang kakak yang mengatakan kalau Clara diancam oleh pria yang namanya Joan tidak tahu.

“Jika benar Clara diancam olehnya, aku tidak akan diam saja!” Joan tidak akan membiarkan adiknya berada dalam bahaya.

“Aku harus segera menyelamatkan Clara—”

Brak!

Mobil hitam Joan dihantam dari belakang, membuatnya menabrak pembatas jalan. Sedangkan sang empu, langsung tidak sadarkan diri, karena benturan keras di kepalanya.

Orang-orang yang melihat kecelakaan tersebut, langsung menghubungi ambulans dan ada yang mencoba mengeluarkan Joan, karena bagian mesin mobil mulai mengeluarkan asap.

Tak lama setelah mereka berhasil mengeluarkan Joan, mobil lelaki itu meledak dengan suara yang sangat keras.

Salah satu dari saksi mata, terlihat menekan benda kecil di telinganya.

“Tuan, dia berhasil diselamatkan. Tetapi keadaannya sangat parah,” lapornya kepada seseorang.

...*** ...

“Tidak Clara!” Tolak Sean yang kembali disuruh beristirahat.

“Tapi luka Kak Sean—”

“Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku janji akan pulang tanpa membawa luka sekecil apapun. Jadi, kau bisa tidur lebih awal!” Pria itu memotong ucapan Clara.

Gadis itu tidak bisa memaksa Sean, terlebih lagi tatapan pria itu kian menajam.

“Kembali ke kamarmu!” Titah Sean, sebelum berlalu keluar dari Mansion.

Clara membalikkan tubuhnya, gadis itu akan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun ada sesuatu yang mengganjal, sejak tadi sore Clara merasa tidak tenang.

“Sebenarnya perasaan apa ini?” Bingung Clara yang tidak bisa menenangkan perasaannya.

Gadis itu menatap kamar yang di tempatinya, entah sudah berapa lama ia tidur di dalam kamar yang sangat luas ini.

“Sangat luas, tetapi tidak bisa membuatku nyaman,” Clara memejamkan matanya sejenak.

Ia merasa bosan berada di dalam kamar ini, begitupun dengan Mansion milik Sean. Clara tidak diizinkan keluar, apalagi mencari apartemen lain sambil menunggu apartemennya selesai direnovasi.

“Aku seperti terkurung.”

Gadis itu merasa dirinya dikurung oleh Sean, ia tidak bisa bergerak dengan bebas.

“Tapi ini jalan satu-satunya untukku bisa tetap hidup,” Clara tidak memiliki pilihan lain.

Sikap Sean masih sama, pria itu memperlakukan dengan baik, meskipun nada suaranya terdengar membentak kalau merasa tidak suka atau kesal.

“Apa usahaku masih belum membuahkan hasil?” Clara merasa pusing, karena ia belum bisa sepenuhnya menarik hati Sean.

Gadis itu tidak bodoh, ia mengerti arti tatapan Sean kepadanya. Pria itu tidak benar-benar mencintainya, Sean hanya terobsesi kepadanya.

Dan satu lagi yang membuat pria itu tidak benar-benar bisa mencintai Clara, yaitu sesuatu yang sampai sekarang tidak diketahui oleh Clara.

“Dia selalu menatap rambutku, sebenarnya ada apa dengan rambutku?” Gadis itu tidak bisa menebaknya.

Clara merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, mata hijaunya terlihat lelah, tetapi masih belum mengantuk.

‘Apa aku harus berpura-pura sudah mencintainya?’ Tanya Clara di dalam hati.

Gadis itu tersenyum tipis, sepertinya ide tersebut terdengar tidak buruk. Clara akan mencobanya, siapa tahu dirinya bisa menemukan teka-teki yang terus mengganjal di hatinya.

Gadis itu mencoba memejamkan matanya, ia ingin tidur. Namun perasaannya masih belum tenang, Clara merubah posisinya menjadi duduk dan meraih ponselnya yang diletakkan di atas nakas.

“Nomor baru lagi?” Clara melihat ada nomor baru yang mengirim pesan kepadanya.

Gadis itu hendak memblokir nomor tersebut, tetapi saat matanya tidak sengaja membaca dua kata yang terdapat dalam pesan tersebut… ia langsung membukanya dan jantungnya berdetak kencang saat membaca isi pesan tersebut.

“Joan kecelakaan dan saat ini dia sedang kritis?” Clara tidak menyangka kalau Joan mengalami kecelakaan.

Gadis itu mengingat kejadian tadi sore di minimarket, “Sial, ini bukan perasaanku! Kenapa tubuh ini bereaksi lain?”

Pantas saja Clara merasa tidak tenang, dan sekarang gadis itu sudah tahu alasannya. Juga dengan tubuhnya yang masih menyisakan perasaan Clara yang asli.

“Mereka sudah jahat kepadamu, untuk apa kau masih peduli kepada mereka?” Makinya kepada dirinya sendiri atau lebih tepatnya, kepada raga yang di tempatinya.

Clara langsung memblokir nomor baru yang ia yakini adalah milik Gabriel, karena ia tidak ingin salah satu dari keluarga Lexander masih mengganggunya.

“Ini terdengar jahat, tetapi sikap mereka sudah keterlaluan. Jadi, hilangkan rasa simpati ini!” Clara menekan dadanya yang terasa sesak.

Raga yang di tempatinya, masih peduli dengan keluarga Lexander yang sudah menyakitinya berkali-kali.

Clara meringis pelan, kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat dan pandangan gadis itu menjadi buram.

Bersambung.

1
Hariyanti
thanks Thor 🥰🥰🙏 ceritanya penuh warna
Erna Masliana
Elios cinta Clara tapi dia diam tidak obsesi tidak pula ngobrol berlebihan atau so akrab..soal cinta mana bisa diatur hati milih sendiri kok
Erna Masliana
Clara tidak beruntung Clara asli tetap mati...ini jiwa Lavanya jadi hasilnya beda bisa bales dendam
Erna Masliana
satukan dg napi yang guy
Erna Masliana
makanya kudu dibunuh
Erna Masliana
eta paehan heula s Joan..sok dagorkn huluna nepi ka bocor.. minimal hiji biang masalah paeh
Erna Masliana
nya salah s Olivia anj.. pelakor gak tau diri.. sakit jiwa
Erna Masliana
atuh bikin pingsan dulu s Joan nya atau langsung bunuh kalo bisa baru megang pintu
Erna Masliana
bawa mobil tabrak mereka
Erna Masliana
udah ketebak
Erna Masliana
oh gitu... memang keluarga Lexander harus hancur sehancur hancurnya kalo gitu
Erna Masliana
itu pasti salah satu pegawai rumah mu .. tidak mungkin batu terbang dari lingkungan luar..rumahmu berupa Mansion kan pasti dikelilingi halaman
Erna Masliana
heh .. nanti ketemu anak aslimu disana Jes
Erna Masliana
ngeunah ngomong kesempatan kedua..nyeri hate 10th masa iya poho kitu bae.. mana maraneh kan geus ngusir
Erna Masliana
belom 10th.. Clara aja sanggup sampe 10th dihina diabaikan ditampar difitnah kalian..
Erna Masliana
pengkhianat kah
Erna Masliana
memang Grey yang cinta Clara bukan Sean kayaknya.. otaknya Sean isinya Luna 😛
Erna Masliana
betul sangat tidak masuk akal
Erna Masliana
hoax banget... terlalu berlebihan hanya karena Laluna mati semuanya harus mati aneh
Erna Masliana
di belokin nya kejauhan nih kayaknya penulis pro banget ke Sean masa iya Laluna adiknya.. mana ada pelepasan naninu ngebayangin adik sendiri kecuali memang Sean cinta adik sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!