NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandera Cinta dan Batas yang Terjaga

Kinanti merasa dunianya seakan berhenti berputar. Sejauh mata memandang, yang ia lihat hanyalah kemewahan yang menyesakkan napas. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang berkilau di atas sana justru terasa seperti jeruji besi yang mengurungnya. Ia tak pernah menyangka bahwa pria yang lamarannya baru saja ia tolak, akan senekat ini membawanya pergi secara paksa ke rumahnya.

Di dalam kamar luas yang didominasi warna emas dan putih itu, Kinanti terduduk di tepi ranjang berukuran king size. Jemarinya yang gemetar meremas ujung sprei sutra yang terasa dingin di kulitnya. Pikirannya melayang jauh ke rumah sederhananya yang berlantai semen. Ia membayangkan Pak Wisnu ayahnya pasti sedang kebingungan mencarinya di sepanjang jalan desa. Hatinya perih, membayangkan sang ayah menatap pintu rumah yang kosong.

"Aku sudah siapkan makan malam untukmu. Makanlah selagi hangat. Baju ganti juga sudah tersedia di dalam tas itu, jangan lupa bersihkan dirimu."

Suara berat Aditya memecah keheningan yang mencekam. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatap Kinanti dengan tatapan yang sulit diartikan ada obsesi, namun ada juga kerinduan yang mendalam di sana.

"Saya mau pulang, Juragan. Tolong kasihanilah Bapak saya... Beliau pasti sangat khawatir mencari saya," lirih Kinanti dengan suara yang nyaris hilang karena tercekik isak tangis.

"Setelah kamu makan," sahut Aditya singkat. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan menutup pintu dengan suara dentuman pelan namun tegas, meninggalkan Kinanti kembali dalam kesunyian yang menyiksa.

Kinanti menatap nanar ke arah meja kayu jati di sudut ruangan. Sebuah piring berisi makanan lezat yang biasanya hanya bisa ia lihat di televisi, kini tersaji di depannya. Namun, bagi Kinanti, aroma makanan itu justru terasa hambar. Ia merasa seperti seekor burung pipit yang sayapnya dipatahkan lalu dimasukkan ke dalam sangkar emas.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Aditya masuk dengan membawa segelas air minum langkah kaki yang tenang namun mengintimidasi. Ia melihat piring itu masih utuh.

"Kenapa belum disentuh?" tanya Aditya, suaranya sedikit meninggi.

"Saya mau pulang, Juragan... Tolong lepaskan saya," Kinanti memberanikan diri menatap mata elang pria di depannya.

"Aku sudah bilang, SETELAH KAMU MAKAN! Sekarang duduk dan habiskan makananmu!" gertak Aditya.

Kinanti yang ketakutan akhirnya memakan makanannya sambil menangis. Semua yang ia telan terasa hambar. Makanan itu pun habis.

"Mandilah. Ganti bajumu."

"Tapi, Juragan, saya sudah menghabiskan makanannya. Saya mau pulang, Juragan. Kasihan Bapak saya—" ucap Kinanti, menatap Aditya dengan mata memohon.

"KAMU TIDAK AKAN KELUAR DARI RUMAH INI SEBELUM MENIKAH DENGANKU!" potong Aditya telak.

DEG!!!

Mata Kinanti membulat. Ia tak menyangka Aditya senekat ini.

"Saya tidak bisa menikah, Ju—"

"MAKA SELAMANYA KAMU AKAN TETAP DIRUMAH INI!" gertak Aditya, memotong ucapan Kinanti, membuat Kinanti gemetar ketakutan.

"Juragan, saya mohon, biarkan saya pulang," Kinanti menangis, memohon agar Aditya melepaskannya.

"Tidak akan. Tidak akan pernah aku melepaskan kamu, Kinan. Sekarang kamu mandi," tegas Aditya.

Melihat Kinanti masih berdiam dan menangis, Aditya mengangkat Kinanti dengan gaya 'bridal style' menuju kamar mandi. Kinanti terkejut dan takut.

"Mandi! Apa perlu aku mandikan?!" ancam Aditya.

Kinanti yang masih menangis sontak menggeleng kepala sambil menunduk. Aditya menutup pintu kamar mandi, membiarkan Kinanti membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa saat, Kinanti keluar hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pelan-pelan ia keluar untuk mengambil pakaiannya dan segera mengenakannya. Untung saja Aditya keluar dari kamar itu untuk mengembalikan piring kotor.

Aditya telah kembali ke kamar. Ia membuka pintu dan melihat Kinanti sudah berganti pakaian. Aditya mendekati Kinanti.

"Ayo kita ke bawah," ucap Aditya sambil menggandeng Kinanti.

Sesampainya di lantai bawah, Kinanti hanya diam dengan tatapan kosong. Aditya memeluk Kinanti dari samping, seakan ingin menunjukkan bahwa gadis itu miliknya.

"Jangan sedih, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Bapakmu sudah aku beritahu. Kamu di sini aman denganku, jadi kamu tenang saja," ucap Aditya, melihat Kinanti yang tampak tak nyaman di sampingnya.

Memang benar, saat Aditya keluar dari kamar Kinanti tadi, dia segera menghubungi Pak Wisnu. Ia berkata bahwa Kinanti ada bersamanya dan meminta Pak Wisnu untuk tidak khawatir. Aditya juga meminta agar Kinanti tetap bersamanya sampai dia bisa meyakinkan Kinanti untuk menikah dengannya.

"Kenapa Juragan melakukan ini?" lirih Kinanti.

"Karena aku mencintaimu, Kinanti. Aku sudah berusaha meyakinkanmu, tapi kamu tetap menolak. Untuk itu, aku memilih jalan lain untuk mendapatkanmu," tegas Aditya.

"Tapi tidak seperti ini, Juragan. Ini namanya penculikan! Saya sudah berulang kali mengatakan saya tidak bisa menikah dengan Anda," tegas Kinanti, kini berani menatap Aditya.

"Kenapa?! Kenapa kamu tidak ingin menikah denganku! Apa yang kurang dariku?!" hardik Aditya.

"Karena saya tidak mencintai Anda Juragan! Tidak akan pernah!!" Ucapan Kinanti membuat Aditya gelap mata. Ia segera mengangkat Kinanti dengan posisi ala karung beras dan membawanya ke lantai dua, ke kamar pribadinya.

"Juragan, turunkan aku!!" jerit Kinanti.

Aditya menjatuhkan Kinanti ke atas tempat tidur yang empuk.

"Kalau kamu tidak bisa mencintai saya, akan saya buat kamu mencintai saya," kata Aditya, kini berada di atas Kinanti.

Kinanti mencoba meronta, takut Aditya berbuat lebih jauh. Namun, Aditya tak kehabisan akal. Dia mengikat kedua tangan Kinanti, lalu menahannya di atas kepala Kinanti. Aditya menatap Kinanti yang terlihat berantakan dengan lekat.

CUP!

Aditya mencium kening, hidung, dan kedua pipi Kinanti, hingga akhirnya mendarat di bibir Kinanti. Tangan Aditya yang menganggur menyentuh paha Kinanti yang terlihat karena bajunya sedikit tersingkap ke atas. Kinanti hanya bisa menangis dan memohon pada Aditya.

"Juragan, tolong jangan!!" teriak Kinanti sambil menggelengkan kepala.

Tangan Aditya semakin naik, dan Kinanti hanya bisa berdoa di dalam hati. Kinanti menggelengkan kepala, takut Aditya melecehkannya.

"Tidak, Juragan, saya mohon jangan!!!" jerit Kinanti.

BRUK!!

Aditya tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahu Kinanti.

"Aku tidak bisa, Kinan. Bukan sekarang waktunya. Aku tidak ingin merusak orang yang aku cintai," lirih Aditya, sambil mencium bahu Kinanti lembut.

Kinanti yang mendengar itu terdiam membeku. Aditya bangkit dan pergi meninggalkan Kinanti sendirian di kamar. Aditya pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuh dan menyegarkan pikirannya. Beberapa menit kemudian, Aditya membaringkan dirinya di atas kasur dengan pikiran melayang.

Di tempat lain, Kinanti bangkit dari kasur, berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Namun, usahanya sia-sia. Menyerah, ia pun keluar kamar, bermaksud meminta tolong Aditya untuk melepaskan ikatannya. Ia ingin mengetuk pintu, tapi ragu.

"Bagaimana kalau Juragan marah lagi?" lirih Kinanti.

Lama berpikir, tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Aditya yang terkejut melihat Kinanti di depannya. Kinanti yang menyadari kehadiran Aditya langsung menundukkan kepalanya.

"Ju-Juragan, to-tolong lepaskan ikatannya," ucap Kinanti terbata-bata.

Aditya segera melepaskan ikatan di tangan Kinanti. Terlihat bekas kemerahan yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan itu.

"Ayo, tidur. Sudah malam," ucap Aditya, mengajak Kinanti tidur di kamarnya.

Kinanti membaringkan diri, membelakangi Aditya. Tubuhnya masih bergetar, takut Aditya akan lepas kendali lagi. Sebuah tangan hinggap di pinggang Kinanti. Aditya membaringkan dirinya di belakang Kinanti, memeluknya dari belakang.

"Maaf membuatmu takut. Tidurlah. Aku tidak akan macam-macam," bisik Aditya.

Kinanti yang mendengar itu pun perlahan merasa lega, dan akhirnya tertidur dalam pelukan Aditya.

Di bawah rembulan yang mengintip dari balik tirai kamar, dua insan yang sedang berkonflik itu akhirnya terlelap dalam satu selimut yang satu dalam pelukan obsesi, dan yang satu dalam kepasrahan yang menyedihkan.

Bersambung__

____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!