Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PEDANG HITAM MELAWAN TANGAN IBLIS
"MATILAH KAU ANAK HARAM!!"
Jenderal Xiong mengamuk. Selama bertahun-tahun menjadi komandan, tidak ada satu pun orang di level yang sama yang berani menatap matanya dengan santai seperti ini.
Ia melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Tangan kanannya yang berwarna hitam pekat diayunkan ke arah leher Raymond dengan kecepatan kilat!
Jurus: Cengkraman Kematian!
Angin berdesir tajam. Serangan ini cukup untuk meremukkan batu giok menjadi debu!
Namun, di mata Raymond, gerakan itu terasa lambat. Berkat Darah Naga dan latihan intensifnya, ia bisa melihat aliran energi lawan dengan jelas.
Wush!
Raymond memiringkan kepalanya sedikit. Cakar Xiong nyaris menyentuh hidungnya, tapi meleset tipis! Udara panas menerpa wajahnya, tapi ia tak bergeming.
"Terlalu lambat," bisik Raymond.
TRANG!
Pedang Bayangan Naga ditarik keluar sepenuhnya. Cahaya hitam menyilaukan memancar dari bilah pedang. Tanpa jeda, Raymond membalas dengan tebasan horizontal yang mematikan!
Teknik Pedang: Gelombang Hitam Memutus Dunia!
SREETTT!!!
Sebuah sabit cahaya hitam sepanjang sepuluh meter melesat keluar dari ujung pedang!
Jenderal Xiong terkejut bukan main. Ia buru-buru menarik tangannya kembali untuk menangkis.
BAMMM!!!
Tangan besi Xiong bertemu dengan pedang hitam. Percikan api beterbangan seperti kembang api. Xiong merasa tulang-tulang di lengannya bergeser dan nyeri hebat menjalar hingga ke bahu. Ia terpaksa mundur lima langkah besar untuk menyeimbangkan tubuhnya!
"Gila... pedang ini... sungguh pedang legendaris..." Xiong menatap pedang di tangan Raymond dengan mata penuh keserakahan dan ketakutan. "Tapi itu tidak cukup! Lihat ini!!"
Xiong merogoh saku bajunya dan menelan sebuah pil merah menyala. Wajahnya langsung memerah, urat-uratnya menonjol keluar seperti cacing tanah. Aura energinya melonjak drastis!
Daya Ledak: Alam Asal Level 4 Sementara!
"HAHAHA! KAU PIKIR HANYA KAU YANG PUNYA TRIK?!" Xiong tertawa gila. "Sekarang aku akan menghancurkanmu! Jurus Pamungkas: Bencana Banjir Darah!"
Energi merah darah berkumpul di tangan Xiong, membentuk pusaran raksasa yang menyerupai ombak laut yang ganas. Ia mendorong kedua tangannya ke depan!
BOOOOOMMM!!!
Aliran energi padat meluncur menghantam Raymond dengan kekuatan yang bisa meratakan seluruh bangunan di sekitarnya! Tanah di depannya hancur, batu-batu terlempar ke udara.
"TERMAKANLAH!!" teriak Xiong yakin menang.
Namun, di tengah badai energi yang mengamuk itu...
Sebuah sosok kecil berdiri tegak tak tergoyahkan. Raymond memegang pedangnya dengan kedua tangan, menancapkannya ke tanah. Di depannya, sebuah perisai energi berbentuk kepala naga terbentuk sempurna!
Perisai Naga Abadi!
Ledakan dahsyat itu menghantam perisai itu, namun hanya menimbulkan bunyi denting logam yang keras. Tidak bisa menembus sedikitpun!
"Bagaimana mungkin... pertahanannya sekuat ini?!" Xiong tak percaya.
Raymond perlahan mengangkat kepalanya. Matanya bersinar merah menyala.
"Giliranmu merasakan," ucapnya pelan.
WUSH!
Raymond menghilang dari tempatnya. Kecepatannya sekarang melebihi batas penglihatan mata biasa!
"Di mana dia?!" Xiong panik memutar kepalanya.
Tiba-tiba, suara dingin terdengar tepat di telinganya.
"Di sini."
SRET!
Sebuah goresan tipis muncul di leher Xiong. Darah segar mulai menetes.
Xiong membeku. Ia perlahan menunduk melihat luka di lehernya, lalu menatap Raymond yang kini berdiri membelakanginya.
"Kau... kau..."
"Sudah selesai," kata Raymond sambil mengibaskan ujung pedangnya, membersihkan setetes darah.
Byur...
Kepala Jenderal Xiong terlepas dari tubuhnya dan menggelinding di tanah yang basah oleh darah. Tubuh tanpa kepala itu berdiri beberapa saat sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Komandan terkuat musuh... tewas hanya dalam hitungan menit!
Pasukan musuh yang masih hidup melihat pemandangan itu, semuanya terpaku ketakutan. Jenderal mereka mati?! Lawan mereka bukan manusia, itu adalah Dewa Kematian!
"GILA!!! LARI!!! SERIUS LARI!!!" teriak salah satu prajurit.
Dalam sekejap, ribuan pasukan yang tadinya gagah perkasa, kini berhamburan lari tunggang langgang meninggalkan senjata dan baju besi mereka. Mereka takut, sangat takut!
Raymond tidak mengejar. Ia hanya berdiri di tengah medan perang yang penuh mayat, membiarkan angin malam mengibaskan jubahnya yang berlumuran darah.