NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH SATU

Setelah makan selesai, Adelia langsung berdiri.

"Terima kasih semuanya, saya mau ke kamar dulu."

Namun sebelum ia sempat melangkah, tangan Bastian menahan pergelangan tangannya pelan tapi kuat.

"Del, tunggu dulu!" ucap Bastian.

Adelia langsung mematung. "Pa... saya mau istirahat."

"Ayo ikut Papa sebentar!" kata Bastian sambil berdiri. "Papa mau ajak kamu lihat sesuatu."

"Apa...?" tanya Adelia, suara kecil.

"Sedikit saja, Papa mau ngomong berdua sama kamu," jawab Bastian.

Adelia ingin menolak, sangat ingin. Tapi, para pelayan sedang membereskan meja dan menatap mereka, dan ia tidak ingin membuat suasana ribut. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil.

Mereka berjalan ke ruang tengah. Bastian berjalan di sampingnya, tidak lagi memegang tangannya, tapi jarak mereka sangat dekat.

"Del," kata Bastian ketika mereka sudah duduk, "Papa tuh cuma ingin lebih kenal kamu. Kamu kan istri Lukas. Keluarga Papa juga."

Adelia menunduk. "Saya... saya mengerti, Pa."

"Ayo cerita tentang keluarga kamu! Tentang Mama kamu. Tentang adik kamu, Althaf. Papa belum banyak tahu soal mereka," ujar Bastian.

Adelia tidak suka arah pembicaraan ini, tapi ia menjawab seadanya. "Keluarga saya baik, Pa."

"Teman kamu gimana? Banyak?" tanya Bastian lagi dengan nada seolah ia sedang menginterogasi sambil tersenyum.

Adelia menggeleng. "Tidak banyak."

"Papa punya beberapa bisnis. Kalau kamu mau, Papa bisa ajak kamu ikut ngurus satu. Biar kamu nggak bosan di rumah," lanjut Bastian sambil memiringkan tubuh, mendekat sedikit.

Adelia langsung menegakkan punggung. "Terima kasih, Pa. Tapi, saya belum... belum kepikiran kerja."

Bastian mengangguk pelan, tapi tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak menyerah.

Ia tersenyum tipis. "Kita bisa lebih dekat, Del. Pelan-pelan aja."

Jantung Adelia berdegup semakin cepat. Ia hanya ingin kabur ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat

Adelia merasakan kepalanya berdenyut pelan, entah benar-benar pusing atau hanya alasan agar ia bisa kabur dari ruang tengah. Namun, wajah Bastian yang terus mengawasinya membuat dada Adel terasa sesak. Ia harus pergi. Harus menjauh dari pria itu.

"Pa... saya ke kamar dulu ya? Kepala saya agak pusing rasanya," ucap Adelia sambil berdiri perlahan.

Bastian langsung terkejut.

"Pusing? Kamu kenapa? Dari tadi Papa lihat kamu agak pucat, Del," tanya Bastian cemas.

Adelia menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Pa. Saya cuma mau tiduran sebentar."

Namun, bukannya membiarkan Adelia pergi sendiri, Bastian malah berdiri dan mendekat dengan tergesa.

"Papa anter kamu, ya? Tangga kan curam, kamu bisa jatuh nanti kalo jalan sendiri," ujar Bastian.

"Pa, nggak usah, saya bisa jalan-"

Bastian sudah lebih dulu merangkul pinggulnya, menahan tubuh Adelia seolah wanita itu tidak mampu berdiri tegak. Adelia langsung menegang, jari-jarinya mencengkeram sisi bajunya sendiri.

"Pa, saya baik-baik saja," ulang Adelia dengan suara

lirih.

"Papa nggak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Bastian.

"Lukas kan udah titip kamu ke Papa."

Mendengar nama suaminya justru membuat Adelia semakin ingin menyingkir. Tetapi posisinya sulit, ia tidak ingin membuat Bastian marah atau tersinggung.

Mereka berjalan pelan menuju tangga. Bastian menjaga tubuh Adelia terlalu dekat, seakan ia takut kehilangan kesempatan memegangnya. Adelia menelan rasa tidak nyaman yang terus menampar dinding batinnya, berharap perjalanan singkat menuju kamar terasa lebih cepat.

Setibanya di depan kamar, Adelia langsung melepaskan diri halus.

"Pa, saya masuk dulu ya? Saya mau rebahan," ucap Adelia.

"Papa temenin sampai kamu benar-benar duduk," jawab Bastian.

"Tidak perlu, Pa. Serius!" tolak Adelia.

Bastian masih berdiri, tidak bergeser.

"Papa beneran bisa panggil dokter, kalau kamu mau.

Atau Papa yang cek dulu, soalnya kamu pucat banget, Del," ucap Bastian.

Adelia menarik napas panjang.

"Saya cuma butuh tidur, Pa. Tolong... biarkan saya

istirahat!" pinta Adelia.

Bastian menatapnya beberapa detik, seakan sedang memikirkan sesuatu. Namun, akhirnya ia mengangguk.

"Kalau gitu, Papa pergi dulu. Tapi kalau ada apa-apa, panggil Papa. Jangan sungkan!" ucap Bastian.

"Iya, Pa."

Bastian mundur perlahan, lalu menutup pintu kamar.

Suara pintu yang tertutup itu menjadi napas lega pertama yang Adelia rasakan sejak pagi.

Ia berjalan ke ranjang, tenggelam dalam selimut,

mencoba menenangkan diri. Setelah menenangkan napas, ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Lukas.

Tetapi layar menunjukkan hal yang membuat hatinya tenggelam.

Nomor tidak dapat dihubungi.

"Mungkin Mas Lukas lagi di perjalanan... atau ketiduran," gumam Adelia, mencoba menenangkan diri.

Ia tetap mencoba menelepon beberapa kali lagi, namun hasilnya sama.

Adelia memeluk bantal, menatap langit-langit kamar.

Tidak ada yang bisa membuatnya lebih gelisah dari ini, sendirian di rumah bersama papa mertuanya yang bersikap semakin tak wajar.

Sementara Adelia berusaha tidur, di bawah sana Bastian melangkah masuk ke dapur. Bik Vivi dan Mbak Sisil yang sedang mencuci piring langsung berdiri tegak dengan ekspresi kaget.

"Eh Pak... ada perlu?" tanya Bik Vivi hati-hati.

Bastian mendekat tanpa senyum.

"Tolong siapkan minuman herbal untuk Adelia! Biar dia bisa tidur nyenyak," seru Bastian.

Mbak Sisil mengangguk cepat. "Baik, Pak."

"Dan satu lagi," tambah Bastian. "Kalau Adelia keluar kamar, langsung kabari saya! Apa pun alasannya."

Keduanya saling pandang, tidak berani bertanya. "Iya, Pak," jawab Bik Vivi pelan.

Bastian tersenyum samar.

"Bagus."

Di kota lain, Lukas akhirnya tiba di penginapan bersama Sean dan Ririn. Perjalanan panjang dan rangkaian rapat membuat mereka kelelahan. Pihak hotel menyambut mereka dengan pelayanan cepat, lalu memberikan tiga kunci kamar.

Lobi hotel cukup mewah dan pencahayaannya hangat. Sean menguap besar.

"Capek banget saya, Pak!" katanya.

Lukas tertawa kecil. "Sama, ayo kita istirahat dulu sebelum ketemu klien nanti sore."

Ririn ikut berjalan di belakang mereka sambil menunduk sedikit. "Setuju, Pak. Rasanya kaki saya udah nggak kerasa."

Mereka masuk lift. Setiap dari mereka memegang koper masing-masing. Sean turun lebih dulu di lantai lima, sedangkan Lukas dan Ririn naik ke lantai enam.

Begitu mencapai lantai enam, Ririn melirik Lukas

beberapa kali, namun tidak berkata apa-apa sampai mereka tiba di depan kamar masing-masing.

"Pak Lukas... terima kasih sudah ajak saya ikut," ucap Ririn sambil tersenyum malu.

Lukas mengangguk. "Kamu kerja bagus kok, Rin.

Istirahat ya!"

"Iya, Pak."

Mereka masuk kamar masing-masing. Lukas melempar badannya ke ranjang dan menghela napas panjang. Tubuhnya sangat lelah, bahkan matanya terasa pedih.

Ia melepaskan kemeja, meninggalkan tubuhnya hanya dengan celana panjang.

Ia hendak berbaring ketika suara bel pintu berbunyi.

Ding-dong.

Lukas mengerutkan dahi. "Siapa?"

Ia berjalan ke pintu tanpa mengenakan kaus, dan membuka pintu.

Ririn berdiri di sana.

Mata wanita itu langsung membesar melihat tubuh Lukas yang telanjang dada. Ia terpaku beberapa detik, bahkan lupa bernapas.

"Oh... Pak... saya-"

Lukas menyandarkan tangan di pintu. "Ada apa? Kamu cari saya?"

Ririn memaksa dirinya fokus. "Iya, Pak. Saya cuma...

khawatir Bapak capek. Saya bawa minyak pijat. Saya pikir kalau Bapak pegal, saya bisa bantu pijatin sedikit."

Lukas memandangnya sebentar.

"Hmm... sebenarnya iya, punggung saya kerasa pegal

banget daritadi," katanya jujur.

Ririn menelan ludah, gugup. "Kalau bapak nggak keberatan, saya bisa bantu pijat."

Lukas membuka pintu lebih lebar. "Ya sudah, masuk saja!"

Ririn melangkah masuk dengan hati berdebar.

Saat Lukas duduk di tepi ranjang, Ririn mengambil posisi di belakangnya. Ia membuka tutup minyak pijat dengan tangan sedikit gemetar.

"Maaf ya, Pak?" ucapnya gugup.

"Nggak apa," jawab Lukas santai.

Ririn meneteskan sedikit minyak ke telapak tangannya, lalu mulai memijat bahu Lukas. Gerakannya pelan, hati-hati. Ia sangat profesional-tidak ada yang melampaui batas. Tapi, sulit bagi Ririn untuk menyembunyikan kekagumannya pada tubuh bosnya.

Lukas menghela napas. "Enak, Rin! Kamu jago juga ya mijatnya."

"Terima kasih, Pak," jawabnya dengan suara lembut.

Ririn terus memijat, fokus dengan tekanan yang tepat.

Lukas hampir tertidur saking lelahnya. Wajahnya menurun, matanya tertutup perlahan.

"Kamu capek banget ya, Pak?" tanya Ririn pelan.

"Capek karena perjalanan yang jauh," jawab Lukas setengah mengantuk.

Ririn tersenyum kecil, meski Lukas tak melihatnya.

"Istirahat saja, Pak! Saya pijatin sampai Bapak benar-benar rileks."

Lukas mengangguk pelan, dan suara napasnya mulai berat.

Ririn berhenti sebentar, menatap wajah Lukas yang semakin tenang.

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya melanjutkan memijat bahunya dengan profesional, seperti seorang asisten yang memperhatikan bosnya.

Namun, di dalam dirinya... ada perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

Sementara itu di rumah, Adelia masih berbaring dengan ponsel di dadanya. Matanya terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur.

Dan di luar kamar, langkah kaki Bastian terdengar pelan.

Seolah pria itu masih berjaga.

Masih mengawasi.

Masih menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!