"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana jahat
Prawira, Kinanti dan Kaini segera menuju ke rumah Narno untuk undangan makan siang setelah mereka berpamitan pada keluarga Kaelan yang sebenarnya tidak merasa senang kalau anak anak itu ke tempat Narno, bahkan Kaelan meminta Parta untuk mengawasi ketiga adiknya itu supaya Kaelan tidak khawatir.
"Permisi" ucap Prawira di depan rumah Narno
Ceklek.
"Kalian sudah datang, ayo mari masuk, Mbah sudah meminta orang untuk memasak masakan yang enak" ucap Narno menyambut ketiganya dengan ramah.
"Maaf merepotkan Mbah, kami jadi tidak enak karena mampir hanya untuk makan" ucap Kinanti
"Tidak apa apa, ayo masuk karena Beno dan Asih juga sudah menunggu di dalam" jawab Narno merangkul Kinanti
"Asih?" tanya Prawira
"Iya, Asih anaknya Mbah Anto dari kampung Sukun, istrinya kan saudara Mbah" jawab Narno juga merangkul Prawira
"Oh.. Asih temannya Tama ya, yang sekolah kelas tujuh?" tanya Kaini
"Iya, kamu kenal? itu lebih bagus" tanya Narno
"Kenal Mbah, kan pernah ke rumah ayah juga sama Tama saat ada tugas sekolah" jawab Kaini membuat Narno tidak senang karena seharusnya Asih lebih mendekati Prawira, bukan anak laki laki lain.
Mereka masuk, ketiganya langsung di sambut senyuman ramah Beno dan Asih yang datang bersama ibunya atas undangan Narno karena dia juga mau Asih mengenal dekat Prawira.
"Banyak sekali Mbah hidangannya? seperti mau pesta" ucap Kaini saat melihat ruang tamu rumah Narno sudah penuh dengan hidangan daging, ikan bahkan sayuran.
"Sengaja karena Mbah tidak tahu apa yang kalian sukai" jawab Narno
"Kami makan apapun Mbah kecuali racun" jawab Kaini langsung di jewer Kinanti
"Sini Kaini duduk di sini" panggil Beno menepuk sisi tempat duduknya dan tanpa curiga Kaini duduk di samping Beno, Kinanti duduk di samping Narno dan Prawira duduk di samping Asih, tempatnya seperti sudah di atur dan itu membuat Prawira tidak bisa menolak lagi, bahkan Asih melayani Prawira makan seperti layaknya seorang istri melayani suaminya.
"Sudah cukup, terima kasih" ucap Prawira
"Ini buatan Asih kak, di coba ya" ucap Asih menyendokkan ikan pepes untuk Prawira
"Ayo kalian juga makan" ucap Narno dan mereka mengangguk.
"Sudah lama sekali sejak istri Mbah meninggal, rumah ini sepeti hidup lagi, iya kan Beno?" tanya Narno
"Iya pak, rasanya lebih hangat karena kita makan bersama dengan orang orang yang kita sayang" jawab Beno menatap Kaini yang hanya cuek makan setelah di persilahkan oleh Narno.
"Mbah kenapa tidak makan?" tanya Kinanti karena Narno belum menyentuh makanannya.
"Mbah masih belum percaya ada perempuan yang masuk lagi ke rumah ini, Mbah hanya ingat mendiang istri Mbah" jawab Narno menitikkan air mata buayanya.
"Kalau Ingat berarti Mbah harus sehat, jangan sampai sakit karena pasti orang orang yang menyayangi Mbah akan merasa sedih" ucap Kinanti mengisi air minum di gelas Narno yang masih kosong bahkan mengambilkan lauk ikan pepes juga untuk Narno, membuat Narno merasa begitu di perhatikan dan itu di sadari saudara perempuannya.
"Sepertinya kak Narno menyukai anak gadis haram itu" batin Nani, adik dari Narno
"Terima kasih" ucap Narno yang juga mulai ikut makan
Mereka juga mengobrol sebentar setelah makan, dan saat akan pulang Narno memberikan beberapa bungkus makanan yang dia pisahkan untuk Kinanti, di dalamnya ada pelet yang sudah dia masukkan dengan bantuan Malak, karena dia berniat membuat Kinanti yang mendatanginya lebih dulu supaya Karman dan Karna memberikan Kinanti dengan ikhlas.
"Maaf ya Mbah tidak bisa mengantar karena harus mengawasi warga yang memasang pagar pembatas di lahan Jamal" ucap Narno
"Iya Mbah tidak apa apa, terima kasih atas jamuannya nanti saat Mbah ke kampung Mahoni akan kami sambut juga dengan baik" ungkap Prawira
"Boleh, tapi Mbah mau mencoba masakan Kinanti" jawab Narno membuat Kaini tersenyum miring.
"Kak Kaelan tuh Mbah yang sering kenyang makan masakan kak Kinanti, soalnya kak Kinanti yang sering kirim makanan dan kue ke rumah paman Jamal" adu Kaini
"Benarkah? beruntung sekali Kaelan" ucap Narno mencoba tersenyum meskipun terlihat sekali dia tidak suka mendengar itu.
"Kinanti hanya membantu kak Aini saja Mbah" ucap Kinanti
"Mbah... ada perempuan pingsan di sungai, katanya Salbiah yang warga baru itu, mungkin Kunti Maryani yang menyakiti dia lagi" ucap seorang warga yang tiba tiba menghampiri Narno
"Salbiah...."
"Gufron, antarkan mereka dengan selamat ke kampung Mahoni, jangan sampai ada yang terluka" perintah Narno
"Baik Mbah" jawab Gufron seorang kusir delman dari kampung itu.
"Sekali lagi terima kasih Mbah" pamit Prawira dan Narno mengangguk.
"Ayo ke sungai dulu" ucap Narno setelah delman Kinanti sudah menjauh.
"Beno mau ke lahan paman Jamal ya pak" ucap Beno
"Iya, nanti setelah selesai mengurus Salbiah bapak akan ke sana" jawab Narno
"Kalau Kunti itu sudah berani melukai orang, kami takut nanti kami juga jadi korban Mbah" ucap warga itu.
"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi, bisa saja Salbiah terpeleset dan dia terjatuh, tapi kalau sampai ini karena Maryani, maka kita akan adakan persembahan pada leluhur supaya Maryani tidak berani lagi menyakiti orang orang di kampung ini" jawab Narno.
"Saya setuju Mbah" jawabnya
°°°°°°°°°°°°°
Di rumah Jamal.
"Jadi Salbiah terluka di sungai?" tanya Kaelan dan Parta mengangguk.
"Apa dia mencari korban semalam, bukankah korbannya adalah bayi dan juga anak dari Mbah Sadikin" ucap Kaelan heran
"Sepertinya ada alasan lain nak, lukanya begitu serius dan pastinya luka itu dia dapatkan karena berubah jadi kuyang, tapi dia akan kembali pulih setelah dua hari karena tubuhnya itu adalah kelemahan kuyang, selama tubuhnya aman, nyawa kuyang itu juga aman" jawab Parta
"Andai saja dia ke sini saat menjadi kuyang, dia akan segera hangus terbakar, tak hanya terbakar bahkan akan hancur" ucap Kaelan
"Kita hanya perlu tahu di mana tubuhnya, setelah itu kita bakar dan hancurkan Salbiah dengan rambut yang masih kamu simpan" ucap Parta
"Panglima, kemana Maryani? Apa ada masalah?" tanya Kaelan
"Tidak ada, Maryani hanya sedang menikmati masa masa menjadi janda" jawab Parta
"Tapi ini belum empat bulan Panglima, jangan dekati Maryani, kami masih dalam masa idah" ucap Kaelan kesal membuat Parta tertawa dan menghilang dari samping Kaelan.
"Kenapa dia tertawa, apa dia sedang mengejek ayah" kesal Kaelan bertanya pada bayi yang dia gendong.
"Tentu saja panglima Parta mengejek kamu, mana ada masa idah antara manusia dan hantu" gemas Jamal menjewer telinga Kaelan.